Lupa Dan Tranfer Dalam Belajar

Click here to load reader

  • date post

    27-Apr-2017
  • Category

    Documents

  • view

    233
  • download

    9

Embed Size (px)

Transcript of Lupa Dan Tranfer Dalam Belajar

BAB IPENDAHULUANA. LATAR BELAKANGIngatan memberikan bermacam-macam arti bagi para ahli. Pada umumnya memandang ingatan sebagai hubungan pengalaman dengan masa lampau. Dengan adanya kemampuan untuk mengingat pada manusia, menunjukkan bahwa manusia mampu untuk menyimpan dan menimbulkan kembali apa yang pernah dialaminya. Apa yang telah pernah dialami oleh manusia tidak seluruhnya hilang, tetapi disimpan dalam jiwanya; dan bila suatu waktu dibutuhkan hal-hal yang disimpan itu dapat ditimbulkan kembali. Tetapi ini pun tidak berarti bahwa semua yang telah pernah dialami itu akan tetap tinggal seluruhnya dalam ingatan dan dapat seluruhnya ditimbulkan kembali atau dengan kata lain ada yang dilupakan.Istilah Transfer belajar berarti pemindahan atau pengalihan hasil belajar dari mata pelajaran yang satu ke mata pelajaran yang lain atau ke kehidupan sehari-hari diluar lingkungan sekolah. Adanya pemindahan atau pengalihan ini menunjukkan bahwa ada hasil belajar yang bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam memahami materi pelajaran yang lain. Hasil belajar yang diperoleh dan dapat dipindahkan tersebut dapat berupa pengetahuan,kemahiran intelektual, keterampilan motorik atau afektif dan sebagainya. Sehubungan dengan pentingnya transfer belajar maka guru dalam proses pembelajaran harus membekali si pelajar dengan kemampuan-kemampuan yang nantinya akan bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari.Peristiwa kelupaan ini dapat terjadi karena kemampuan ingatan yang terbatas, cepat lambat orang dalam memasukkan (mendispersi) apa yang ia pelajari, ataupun karena problem psikologis yang ada pada dirinya. Sehingga diperlukan teknik-teknik tertentu untuk mengatasi kelupaan yang terjadi pada diri siswa. Banyak kiat-kiat yang dapat dicoba untuk meningkatkan kemampuan siswa untuk mengingat, seperti yang dikemukakan oleh Barlow, Reber, dan Anderson yang akan Penulis bahas dalam makalah ini. Selain megenai lupa, penulis juga akan membahas tentang transfer dalam belajar (trasfer of learning) yang merupakan pemindahan keterampilan hasil belajar dari satu situasi ke situasi lainnya. Hal ini akan dibahas lebih lanjut dalam makalah ini.B. RUMUSAN MASALAH1. Bagaimanakah definisi lupa dan hilang ingatan?2. Apakah faktor yang menyebabkan lupa?3. Bagaimanakah kiat-kiat megurangi lupa?4. Apakah transfer belajar itu?5. Apa saja teori-teori mengenai trasfer belajar?6. Apa saja ragam dalam transfer belajar?7. Faktor-faktor apa sajakah penyebab trasfer belajar?BAB IIPEMBAHASANA. DEFINISI LUPA DAN HILANG INGATANIngatan memberikan kemampuan manusia untuk dapat mengingat suatu hal. Hal tersebut juga menunjukan bahwa manusia mampu untuk menyimpan dan menimbulkan kembali apa yang telah pernah dialaminya. Hal yang pernah dialaminya tersebut tidak sepenuhnya hilang, tetapi tetap tersimpan dalam jiwanya dan pada suatu waktu tertentu jika dibutuhkan dapat ditimbulkan kembali. Tetapi bukan berarti semua yang telah pernah dialaminya itu akan tetap tersimpan seutuhnya dalam ingatan kita dan dapat ditimbulkan kembali saat dibutuhkan.Terkadang ada hal-hal yang tidak dapat ditimbulkan kembali atau yang dilupakan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa lupa merupakan ketidakmampuan untuk mengingat atau menimbulkan kembali hal-hal tertentu yang telah pernah dialaminya. Lupa (forgetting) ialah hilangnya kemampuan untuk menyebut atau mereproduksi kembali apa-apa yang sebelumnya telah kita pelajari. Secara sederhana, Gulo (1982) dan Reber (1988) mendefinisikan lupa sebagai ketidakmampuan mengenal atau mengingat sesuatu yang pernah dipelajari atau dialami.Sedangkan hilang ingatan adalah hilangnya kemampuan untuk mengingat atau menimbulkan kembali yang disebabkan oleh hilangnya item informasi dan pengetahuan dari akal kita. Dibandingkan dengan hilang ingatan, lupa memiliki cakupan yang lebih sempit yaitu hanya pada hal-hal tertentu saja. Dalam hal lupa, item informasi dan pengetahuan yang tersimpan di dalam ingatan tidak hilang (masih ada) tetapi hanya disebabkan lemahnya item tersebut untuk ditimbulkan kembali. Sedangkan dalam hal hilang ingatan, item tersebut hilang dari ingatan kita.Lupa tidak dapat diukur secara langsung (Wittig: 1981). Sering terjadi, apa yang dinyatakan telah terlupakan oleh seseorang siswa justru ia katakan. Sebagai contoh, ketika seorang pengajar menanyakan kepada anak didiknya tetang hal-hal apa yang telah mereka lupakan mengenai materi yang telah ia berikan. Salah seorang peserta didik menjawabnya dengan mengatakan sebagian besar materi yang telah diajarkan kepadanya. Apakah peserta didik tersebut juga masih dikatakan lupa? Tentu, tidak. Materi-materi yang dikatakannya tersebut merupakan hal-hal yang mereka ingat dan hanya sebagian kecil yang tidak dikatakannya merupakan yang dilupakan. Sehingga dapat disimpulkan lupa merupakan kegagalan untuk mereproduksi kembali hal-hal yang sebelumnya telah terjadi yang disebabkan oleh lemahnya item informasi untuk ditimbulkan ulang saat informasi tersebut dibutuhkan.B. FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB LUPASeseorang dapat mengingat suatu kejadian, berarti kejadian yang diingat tersebut pernah dialami atau dengan kata lain pernah dimasukkan dalam kesadaran, kemudian disimpan dan pada suatu ketika kejadian itu ditimbulkan kembali diatas kesadaran. Dengan demikian ingatan itu merupakan kemampuan jiwa untuk menerima dan memasukkan (learning), menyimpan (retention) dan menimbulkan kembali (remembering) hal-hal yang sudah lampau. Yang secara skematis dapat dikemukakan sebagai berikut: Sehingga dapat dikatakan ketiga faktor utama diataslah yang menjadi penyebab lupa. Ketidakmampuan individu (siawa) untuk mengingat disebabkan oleh beberapa hal diantaranya:1. Gangguan Konflik Antara Item-Item InformasiDalam interference theory (teoti mengenai gangguan), gangguan konflik terbagi menjadi dua yaitu proactive interverence dan retroactive interverence (Reber 1988; Best 1989; Anderson 1990). Gangguan proaktif terjadi jika materi pelajaran lama yang sudah tersimpan dalam subsistem akal permanen mengganggu masuknya materi pelajaran baru. Hal ini bisa terjadi apabila seorang siswa mempelajari materi baru yang hampir mirip dengan materi yang sudah dikuasainya dalam waktu yang singkat. Hal ini akan membuat materi baru akan sulit diingat kembali. Sedangkan gangguan retroaktif terjadi apabila masuknya materi baru membuat konflik dan gangguan terhadap pemanggilan materi lama yang tersimpan di subsistem akal permanen siswa tersebut. Dalam hal ini materi pelajara lama akan sulit sekali untuk diingat dan akan terlupakan.2. Tekanan Terhadap Item-Item Yang Sudah Ada, Baik Disengaja Atupun TidakBerdasarkan repression theory (teori represi / penekanan) oleh Reber dan Sigmund Freud, penekanan ini terjadi karena beberapa kemungkinan seperti:a. Karena item informasi (berupa pengetahuan, tanggapan, kesan, dan sebagainya) yang diterima siswa kurang menyenangkan, sehingga ia dengan sengaja menekannya hingga kealam ketidaksadarannya.b. Karena item informasi yang baru secara otomatis menekan item informasi yang sudah ada.c. Karena item informasi yang akan direproduksi itu tertekan kealam bawah sadar dengan sendirinya lantaran tidak pernah dipergunakan.3. Perubahan Situasi Lingkungan Antara Waktu Belajar Dengan Waktu Mengingat KembaliPerubahan situasi lingkungan yang dimaksud adalah perubahan keadaaan obyek belajar saat dipelajari dengan lama waktu belajar terhadap keadaan realnya. Sebagai contoh, ketika seorang guru mengajarkan tentang pengenalan nama-nama hewan melalui gambar yang ada disekolah, maka kemungkinan, ia akan lupa menyebutkan nama hewan tadi saat ia melihatnya dikebun binatang.4. Perubahan Sikap dan Minat Siswa Terhadap Proses Dan Situasi Belajar TertentuMinat dan sikap siswa dalam mengikuti proses belajar akan sangat mempengaruhi besarnya pemahaman siswa terhadap materi yang disampaikan. Ketika sikap dan minat siswa sudah tidak ada, misal karena tidak senang terhadap guru, maka materi yang diajarkan akan mudah dilupakan.5. Tidak Pernah Digunakannya Materi Pelajaran Yang Sudah DikuasaiMenurut buku Law Of Disuse oleh Hilgard dan Bower (1975), lupa dapat terjadi karena materi pelajaran yang telah dikuasai tidak pernah digunakan atau dihafalkan siswa. Para ahli mengasumsikan, materi yang diperlakukan demikian dengan sendirinya akan masuk ke alam bawah sadar atau mungkin juga bercampur aduk dengan materi pelajaran baru.6. Perubahan Urat Syaraf OtakPerubahan urat syaraf otak tersebut dapat disebabakan oleh penyakit tertentu seperti keracunan, kecanduan alkohol, dan gegar otak sehingga kita mengalami kehilangan ingatan yang ada dalam memori permanennya. Meskipun faktor penyebab lupa banyak sekali seperti kekurangan asupan makanan, terlalu fokusnya perhatian dan pemikiran seperti memforsirkan diri, dan kurangnya olahraga, tetapi yang paling penting untuk diperhatikan adalah faktor pertama yang meliputi gangguan proaktif dan retroaktif. Kecuali hal tesebut, lupa dapat dikarenakan item informasi yang mereka serap rusak sebelum masuk ke memori permanennya.Item yang rusak (decay) itu tidak hilang dan tetap terproses oleh memori siswa, tetapi terlalu lemah untuk dipanggil kembali. Kerusakan item informasi tersebut disebabkan karena tenggang waktu antara saat diserapnya item informasi dengan saat proses pengkodean dan transformasi dalam memori jangka pendek. Kemampuan cepat atau tidaknya setiap siswa dalam memasukkan apa yang dipelajarinya berbeda-beda. Semakin cepat ia memasukkan materi yang dipelajarinya, makin besar kemungkinan ia akan mengingatnya. Materi yang lemah itu dapat diperkuat lagi dengan melakukan relearning (belajar lagi) atau mengikuti remidial teaching (pengajaran perbaikan) ternyata dapat menunjukan kinerja akademik yang lebih memuaskan dari pada kinerja akademik sebelumnya. Hal ini bermakna bahwa relearning dan remidial teaching berfungsi memperbaiki atau menguatkan item-item informasi yang rusak dalam memori siswa.C. KIAT-KIAT MENGURANGI LUPASebagai seorang pengajar yang profesional, seorang guru harus dapat mencegah peristiwa