Laporan Puskesmas Prambanan

Click here to load reader

  • date post

    10-Apr-2016
  • Category

    Documents

  • view

    91
  • download

    7

Embed Size (px)

description

Laporan Puskesmas Prambanan

Transcript of Laporan Puskesmas Prambanan

Laporan PKPA Puskesmas Prambanan Sleman,

Program Studi Profesi Apoteker, Angkatan XXX

Fakultas Farmasi, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta

BAB I

PENGANTAR

A. Latar Belakang

Kesehatan merupakan hak asasi manusia dan kebutuhan utama manusia agar aktivitas kehidupan manusia tidak terganggu. Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan, bahwa kesehatan adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spiritual maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis.

Dalam upaya mewujudkan masyarkat yang sehat, pemerintah membuat instalasi kesehatan yang salah satunya adalah Pusat Kesehatan Masyrakat (Puskemas). Menurut Permenkes RI No. 75 tahun 2014 tentang Pusat Kesehatan Masyarakat, Pusat Kesehatan Masyarakat yang selanjutnya disebut Puskesmas adalah fasilitas pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat dan upaya kesehatan perseorangan tingkat pertama, dengan lebih mengutamakan upaya promotif dan preventif, untuk mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya di wilayah kerjanya.

Setiap Puskesmas memiliki unit perbekalan farmasi yang bertugas untuk menyalurkan obat kepada pasien. Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 2009 menyatakan bahwa setiap bentuk fasilitas pelayanan kefarmasian wajib dikelola Apoteker.

Berdasarkan uraian di atas, Program Studi Profesi Apoteker Univesitas Sanata Dharma bekerjasama dengan Puskesmas Prambanan memberikan kesempatan kepada mahasiswa profesi apoteker untuk mempelajari secara langsung aplikasi ilmu kesehatan di Puskesmas sehingga mahasiswa calon apoteker nantinya memiliki kesiapan diri untuk memasuki dunia kerja.

B. TUJUAN

1. Meningkatkan pemahaman tentang peran, fungsi, dan tanggung jawab Apoteker dalam pelayanan kefarmasian di Puskesmas.

2. Membekali agar memiliki wawasan, pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman praktis untuk melakukan pekerjaan kefarmasian di Puskesmas.

3. Memberikan kesempatan kepada untuk melihat dan mempelajari strategi dan pengembangan di Puskesmas.

4. Mempersiapkan dalam memasuki dunia kerja.

5. Memberikan gambaran nyata tentang permasalahan pekerjaan kefarmasian di Puskesmas.C. MANFAAT1. Mahasiswa dapat mengetahui dan memahami tugas dan tanggung jawab Apoteker dalam menjalankan pekerjaan kefarmasian di Puskesmas.

2. Mahasiswa mendapatkan pengalaman praktis mengenai pekerjaan kefarmasian di Puskesmas.

3. Mahasiswa mendapatkan pengetahuan manajemen praktis di Puskesmas.

4. Mahasiswa dapat meningkatkan rasa percaya diri untuk menjadi Apoteker yang profesional di Puskesmas.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKAA. Aspek Manajemen Persediaan Obat dan AdministrasiMenurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 30 Tahun 2014 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas, Puskesmas merupakan unit pelaksanaan teknis dinas kesehatan kabupaten atau kota yang bertanggung jawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan di suatu wilayah kerja. Kegiatan pengelolaan obat dan bahan medis habis pakai di Puskesmas meliputi: 1. Perencanaan Kebutuhan Obat dan Bahan Medis Habis PakaiPerencanaan merupakan proses kegiatan seleksi obat dan bahan medis habis pakai untuk menentukan jenis dan jumlah obat dalam rangka pemenuhan kebutuhan Puskesmas. Perencanaan kebutuhan obat dan bahan medis habis pakai dilaksanakan setiap periode oleh Ruang Farmasi di Puskesmas. Tujuan perencanaan adalah untuk mendapatkan:

a. Perkiraan jenis dan jumlah obat dan bahan medis habis pakai yang mendekati kebutuhan.

b. Meningkatkan penggunaan obat secara rasional.

c. Meningkatkan efisiensi penggunaan obat.

Proses seleksi obat dan bahan medis habis pakai dilakukan dengan mempertimbangkan pola penyakit, pola konsumsi obat periode sebelumnya, data mutasi obat, dan rencana pengembangan. Proses seleksi obat dan bahan medis habis pakai juga harus mengacu pada Daftar Obat Esensial Nasional (DOEN) dan Formularium Nasional. Proses seleksi ini harus melibatkan tenaga kesehatan yang ada di Puskesmas seperti dokter, dokter gigi, bidan, dan perawat, serta pengelola program yang berkaitan dengan pengobatan.

Proses perencanaan kebutuhan obat per tahun dilakukan secara berjenjang (bottom-up). Puskesmas diminta menyediakan data pemakaian obat dengan menggunakan Laporan Pemakaian dan Lembar Permintaan Obat (LPLPO). Selanjutnya Instalasi Farmasi Kabupaten/Kota akan melakukan kompilasi dan analisa terhadap kebutuhan obat Puskesmas di wilayah kerjanya, menyesuaikan pada anggaran yang tersedia dan memperhitungkan waktu kekosongan obat, buffer stock, serta menghindari stok berlebih. 2. Permintaan Obat dan Bahan Medis Habis PakaiTujuan permintaan obat dan bahan medis habis pakai adalah memenuhi kebutuhan obat dan bahan medis habis pakai di Puskesmas, sesuai dengan perencanaan kebutuhan yang telah dibuat. Permintaan diajukan kepada Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan dan kebijakan pemerintah daerah setempat. 3. Penerimaan Obat dan Bahan Medis Habis PakaiPenerimaan obat dan bahan medis habis pakai adalah suatu kegiatan dalam menerima obat dan bahan medis habis pakai dari Instalasi Farmasi Kabupaten/Kota sesuai dengan permintaan yang telah diajukan. Tujuannya adalah agar obat yang diterima sesuai dengan kebutuhan berdasarkan permintaan yang diajukan oleh Puskesmas. Semua petugas yang terlibat dalam kegiatan pengelolaan bertanggung jawab atas ketertiban penyimpanan, pemindahan, pemeliharaan dan penggunaan obat dan bahan medis habis pakai berikut kelengkapan catatan yang menyertainya.

Petugas penerimaan wajib melakukan pengecekan terhadap obat dan bahan medis habis pakai yang diserahkan, mencakup jumlah kemasan/peti, jenis dan jumlah obat, bentuk obat sesuai dengan isi dokumen (LPLPO), ditandatangani oleh petugas penerima, dan diketahui oleh Kepala Puskesmas. Bila tidak memenuhi syarat, maka petugas penerima dapat mengajukan keberatan. Masa kedaluwarsa minimal dari obat yang diterima disesuaikan dengan periode pengelolaan di Puskesmas ditambah satu bulan. 4. Penyimpanan Obat dan Bahan Medis Habis Pakai

Penyimpanan obat dan bahan medis habis pakai merupakan suatu kegiatan pengaturan terhadap obat yang diterima agar aman (tidak hilang), terhindar dari kerusakan fisik maupun kimia dan mutunya tetap terjamin, sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan. Tujuannya adalah agar mutu obat yang tersedia di Puskesmas dapat dipertahankan sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan. Penyimpanan obat dan bahan medis habis pakai dengan mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut: a. Bentuk dan jenis sediaan.

b. Stabilitas (suhu, cahaya, kelembaban).

c. Mudah atau tidaknya meledak/terbakar.

d. Narkotika dan psikotropika disimpan dalam lemari khusus.B. Aspek Distribusi Sediaan FarmasiMenurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 30 tahun 2014, Pendistribusian Obat dan Bahan Medis Habis Pakai merupakan kegiatan pengeluaran dan penyerahan obat dan bahan medis habis pakai secara merata dan teratur untuk memenuhi kebutuhan sub unit/satelit farmasi Puskesmas dan jaringannya. Sub-sub unit di Puskesmas dan jaringannya antara lain: a. Sub unit pelayanan kesehatan di dalam lingkungan Puskesmas;

b. Puskesmas Pembantu;

c. Puskesmas Keliling;

d. Posyandu; dan

e. Polindes.

Tujuan distribusi sediaan farmasi adalah untuk memenuhi kebutuhan obat sub unit pelayanan kesehatan yang ada di wilayah kerja Puskesmas dengan jenis, mutu, jumlah dan waktu yang tepat. Pendistribusian ke sub unit (ruang rawat inap, UGD, dan lain-lain) dilakukan dengan cara pemberian obat sesuai resep yang diterima (floor stock), pemberian obat per sekali minum (dispensing dosis unit) atau kombinasi, sedangkan pendistribusian ke jaringan Puskesmas dilakukan dengan cara penyerahan obat sesuai dengan kebutuhan (floor stock).C. Pemeriksaan dan Pencatatan Obat Masuk-KeluarBeberapa hal yang dilakukan pada unit farmasi di Puskesmas diantaranya adalah pemeriksaan dan pencatatan obat masuk-keluar. Petugas penerimaan obat wajib melakukan pemeriksaan terhadap obat-obat yang diserahkan. Pemeriksaan yang dilakukan mencakup jumlah kemasan, jenis dan jumlah obat, kesesuaian dengan isi dokumen (LPLPO) dan ditandatangani oleh petugas penerima atau diketahui Kepala Puskesmas. Bila tidak memenuhi syarat, petugas penerima dapat mengajukan keberatan (Depkes RI, 2001).

Pencatatan dan pelaporan data obat di Puskesmas adalah suatu usaha yang dilakukan untuk memonitor dan mendokumentasikan kegiatan pengelolaan obat dan perbekalan farmasi di Puskesmas. Adanya monitoring dan dokumentasi dapat membuktikan bahwa kegiatan pengelolaan obat dan perbekalan farmasi telah dilakukan dan ada dokumentasinya yang dapat digunakan sebagai sumber data (Anonim, 2010).1. Sasaran pokok pencatatan obat di Puskesmas:

a. Terlaksananya tertib administrasi dan pengelolaan obatb. Tersedianya data yang akurat dan tepat waktuc. Tersedianya data untuk melakukan pengaturan dan pengendalian oleh unit yang lebih tinggi.2. Macam-macam format pencatatan dan pelaporan obat di Puskesmas dan sub unit pelayanan kesehatan:

a. Kartu stok obat

b. Laporan pemakaian dan lembar permintaan obat (LPLPO)

c. Buku catatan harian penerimaan dan pemakaian obat

d. Buku catatan harian penerimaan resep

e. Laporan obat rusak/daluarsa

f. Surat pernyataan obat hilang.

D. EvaluasiUntuk menjamin mutu Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas, harus dilakukan pengendalian mutu yang meliputi monitoring dan evaluasi. Monitoring merupakan kegiatan pemantauan selama proses berlangsung untuk memastikan bahwa aktivitas berlangsung sesuai dengan yang direncanakan. Monitoring dapat dilakukan oleh tenaga kefarmasian yang melakukan proses. Aktivitas monit