LAMPIRAN A: Kartu Bimbingan Tugas · PDF fileAseng berjalan dan menghampiri sebuah toko yang...

Click here to load reader

  • date post

    19-May-2019
  • Category

    Documents

  • view

    213
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of LAMPIRAN A: Kartu Bimbingan Tugas · PDF fileAseng berjalan dan menghampiri sebuah toko yang...

Teamproject2017DonyPratidanaS.Hum|BimaAgusSetyawanS.IIP

Hak cipta dan penggunaan kembali: Lisensi ini mengizinkan setiap orang untuk menggubah, memperbaiki, dan membuat ciptaan turunan bukan untuk kepentingan komersial, selama anda mencantumkan nama penulis dan melisensikan ciptaan turunan dengan syarat yang serupa dengan ciptaan asli.

Copyright and reuse: This license lets you remix, tweak, and build upon work non-commercially, as long as you credit the origin creator and license it on your new creations under the identical terms.

xvii

LAMPIRAN A: Kartu Bimbingan Tugas Akhir

Tradisi Tionghoa...,Jessica Nevina Anggadibrata,FSD UMN,2017

Tradisi Tionghoa...,Jessica Nevina Anggadibrata,FSD UMN,2017

xviii

LAMPIRAN B: Transkrip Wawancara

Setianingsih Purnomo (Dosen East Art History, Universitas

Multimedia Nusantara)

Apakah perayaan Ceng Beng dirayakan dengan cara berbeda pada setiap

suku-suku Tionghoa, atau apakah mereka merayakannya dengan tradisi

sesuai Konghucu?

Garis besarnya, perayaan Ceng Beng sama karena intinya adalah pemujaan

leluhur. Nah, kalau terjadi perbedaan, itu mungkin ada dan tergantung kepada

kesejahteraan suku atau kesejahteraan keluarga tertentu. Jadi kalau mereka sedang

dalam posisi panen besar (kaya), ya, perayaannya akan lebih meriah. Dan itu

biasanya, kalau suatu waktu ada keluarga yang terpandang di dalam suku itu, pas

hasilnya adalah berlimpah, mereka akan melakukan banyak detail. Itu biasanya

mereka akan catat. Nanti kalau beda generasi, sekian generasi kemudian, suku

atau sub suku ini mengalami sedikit resesi, otomatis mereka akan mengambil

prioritas yang penting-penting saja. Tapi akan berulang lagi jika mereka sedang

berkelimpahan, maka akan terjadi perayaan yang lebih besar, detail, dsb.

Namun Ceng Beng adalah ritual yang baku, intinya adalah pemujaan leluhur, ada

aturannya, yang dilakukan adalah ke kuburan, membersihkan, memberikan

persembahan, memberikan makanan, minum segala sesuatu uang-uangan, untuk

bekal kuburan (S. Purnomo, wawancara pribadi, Desember 1, 2016).

Tradisi Tionghoa...,Jessica Nevina Anggadibrata,FSD UMN,2017

xix

LAMPIRAN C: Skenario Ideal Wa Teng

Tradisi Tionghoa...,Jessica Nevina Anggadibrata,FSD UMN,2017

INT. KLUB MAHJONG, ALAM BAKA - DAY 1 1

Bertaruhan dan bermain dengan empat teman arwah (60), di sebuah klub Mahjong gelap dan remang-remang, ASENG (60) sedang bermain Mahjong dengan serius. Ia melirik ke keping-keping Mahjongnya. Terlihat, ia sudah memiliki tiga set dan satu pasangan, namun satu set lagi hanya ada dua keping bertulisan naga dalam bahasa Mandarin. Aseng melirik ke teman di sebelahnya, ACAI (60), yang sedang berkontemplasi untuk membuang sebuah keping. Acai pun melirik ke Aseng, dan mulai melirik kembali ke kepingnya. Acai mengerutkan raut wajahnya, dan Aseng hanya menatap Acai. Acai pun dengan ragu-ragu, mengeluarkan kepingnya dan menaruhnya di tumpukan keping. Aseng, dan arwah lainnya menanti tangan Acai melepaskan keping. Saat Acai melepaskan keping, terungkaplah bahwa keping adalah keping bertulisan naga. Aseng dengan cepat mengambil keping tersebut, sebelum direbut oleh ABENG (60), arwah yang sedang bermain di depannya.

ASENGPong!

Aseng menunjukkan set naganya, lalu ia menunjukkan sisa set yang tertutup.

ASENG (CONTD)Dan Mahjong!

ACAIDuh! Wa salah buang keping! Hoki lu Seng!

Aseng tertawa-tawa, lalu terdiam sejenak.

ASENGWa beneran menang nih?

ABENGIya!

Dengan mengambek, Abeng mengeluarkan uang dan memberinya kepada seorang AGEN (40), yang sedang mengelilingi meja dengan KALENG BERISI UANG, setelah melihat kemenangan Aseng. Agen tersebut berhenti di depan Aseng.

AGENBerhasil juga lu, Seng. Udah berapa kali lu main gak pernah menang-menang.

Aseng tertawa, lalu mengulurkan kedua tangannya.

ASENGMana hadiah wa? Mana tiket wa?

Tradisi Tionghoa...,Jessica Nevina Anggadibrata,FSD UMN,2017

Agen mengeluarkan SATU LEMBAR KERTAS KUNING, dan Aseng menatap tiket dengan penuh harapan. Saat Aseng sudah mau mengambil tiket, Acai menyeletuk.

ACAIEmangnya lu yakin, abis lu datengin anak lu, lu bisa kembali ke sini?

ASENGYakin lah.

ABENGLu tau kan kejadian si Ming dulu? Kemana juga udah gak tau tuh si Ming, gak bisa balik-balik. Lu ati-ati lah Seng.

ASENGAh, berisik lu pada. Wa pasti balik lagi kesini. Lu pada pasti kangen sama wa.

Aseng mengambil tiket dari Agen, lalu mengambil uang di kaleng, dan pergi dengan semangat.

INT. STASIUN BIS, ALAM BAKA - DAY2 2

Suasana stasiun terlihat sangat kaku, dimana arwah-arwah lainnya dari berbagai umur, berbaris di depan beberapa loket, menunggu untuk naik bis. Banyak sekali PETUGAS yang tegap dan tinggi, mengelilingi stasiun. SUARA KAKI PETUGAS terngiang-ngiang di stasiun yang besar.

Mengantri di barisan yang panjang, Aseng memegang erat tiketnya, dan sebuah tas hitam yang sudah terlihat lusuh. Dibandingkan dengan yang lain, Aseng terlihat lusuh, gembel, dan juga cemas. Aseng melihat sekelilingnya, lalu tiba-tiba, terdengar SUARA TERIAKAN, memohon untuk diampuni. Saat semua arwah menoleh untuk melihat apa yang terjadi, terlihat ARWAH PRIA GEMBEL (50) ditarik dari barisan oleh seorang PETUGAS MUDA (30). Arwah pria gembel itu terlihat mirip seperti Aseng; lusuh dan gembel. Petugas tidak memberi respons terhadap teriakan, dan lanjut menariknya. Aseng terlihat tambah cemas saat berjalan mendekati loket, dimana ada PETUGAS LOKET WANITA (40) yang tidak terlalu memerhatikan arwah-arwah berbaris.

PETUGAS LOKETBerikutnya!

Sampai di loket, Aseng memegang tiket lebih erat, dan menelan ludah. Ia berjalan perlahan, melihat sekelilingnya, lalu matanya bertemu dengan mata DUA PETUGAS (40).

2.

Tradisi Tionghoa...,Jessica Nevina Anggadibrata,FSD UMN,2017

Kaget, Aseng dengan cepat memberi tiketnya kepada petugas loket, yang memberi CAP/MEROBEK UJUNG TIKET.

INT/EXT. HALTE BIS, ALAM BAKA - DAY3 3

Kedua petugas mulai berlari ke arah Aseng, namun Aseng mulai berlari melewati loket, dan ke halte bis.

PETUGAS 1Hei! Berhenti kau!

Petugas mengejar Aseng sampai halte bis, namun Aseng berhasil masuk ke bis sebelum tertangkap. Bis pun menutup pintu dan mulai berjalan. Saat duduk di dalam bis, Aseng melihat petugas yang melihatnya kembali, namun bis mulai berjalan. Aseng terlihat lega, dan mulai tertawa kecil. Ia mengangkat tiket kuningnya di depan mukanya, dan menciumnya berkali, sebelum melirik ke sekitarnya, dan merosot lebih rendah.

INT. BIS, DUNIA MANUSIA - DAY4 4

Aseng, yang tertidur di dalam bis, terbangun saat bis berhenti. Dengan perlahan, ia menyipitkan mata karena sinar matahari dari luar sangat terang. SUPIR BIS (40) membuka pintu bis, dan melihat ke arah Aseng dengan muka datar. Aseng pun mengedipkan mata melihat ke supir bis dan penumpang lainnya, yang juga melihat ke arahnya. Dengan cepat, Aseng pun turun dan berjalan cepat menjauh dari bis.

EXT. TERAS RUMAH ASENG, DUNIA MANUSIA - DAY5 5

Aseng turun di depan sebuah rumah kecil dan sederhana, dimana ada dua kursi di TERAS DEPAN. Aseng membuka pagar rumah, dan masuk. Ia membuka tasnya yang ada di pangkuan, dan mengintip KEMEJA PUTIH YANG KOTOR, dan SEPATU PANTOFEL yang sudah tidak mengkilap. Saat mengamati, ia mendengar SUARA MENYAPU, lalu melirik ke depan rumah. Ia melihat ADI (60), petugas kompleks rumahnya. Aseng pun berdiri dan menyapanya.

ASENGAdi! Eh! Pa kabar lu!

Adi tidak merespons kepada Aseng, dan terus menyapu. Aseng mendekati Adi, dan melambaikan tangan di depan mukanya. Adi lalu terhenti sementara, dan perlahan menoleh ke arah Aseng. Adi lalu perlahan tersenyum, dan menaruh tangan di pundaknya Aseng, dan menunduk dengan hormat.

ASENG (CONTD)Adi, Adi. Tambah tua aja lu. Wa sapa aja lu gak noleh. Lu-

3.

Tradisi Tionghoa...,Jessica Nevina Anggadibrata,FSD UMN,2017

Terdengar SUARA KAKI PETUGAS dari jauh, yang mengiang mirip seperti di stasiun. Aseng terlihat kaget, mulai membereskan tas, lalu menaruhnya di bawah kursi.

ASENG (CONTD)Di, wa pergi dulu yah. Wa harus ke Abun dulu. Titip tas ya! Besok wa dateng lagi, pas Abun dateng.

Aseng lalu langsung bergegas pergi dari rumahnya. Suara kaki pun semakin keras, dan angin mulai meniup daun-daun dari sapuan Adi, namun Adi tetap melanjutkan aktivitas menyapu.

INT. KIOSK, PASAR MODERN - DUSK6 6

Aseng berjalan di lorong panjang sebuah pasar modern di sore hari, dimana banyak toko-tokonya sudah tutup untuk hari itu. Aseng berjalan dan menghampiri sebuah toko yang masih ada pelanggan IBU-IBU (40), ABUN (35) di dalam toko, berjualan. Melihat Abun, Aseng langsung senang, dan mendekati Abun.

ASENGTapo kia wa! Makin endut aja lu!

Aseng tertawa, lalu mulai mengamati barang-barang jualan Abun. Semua barang jualan Abun adalah peralatan perayaan acara Tionghoa, aneka kue-kue, persembahan Ceng Beng, dsb.

ASENG (CONTD)Wauw, barang-barang lu komplit juga.

Aseng mengamati barang dagangan Abun. Ibu-ibu mengamati sebuah set persembahan berbentuk kertas, dimana ada handphone model lama, dengan barang-barang yang terlihat sederhana.

IBU-IBUDuh, ada yang lain gak? Kemarin ci Aling beli disini persembahan yang tas ada merk CC, sama handphone yang udah pintar. Touch screen itu loh.

ABUNWah, telat lu ci. Biasa lah, lagi musim Ceng Beng pasti stok barang wa yang paling oke cepat abisnya. Mana Ceng Beng udah mau selesai lagi, pada di borong deh barang-barang.

4.

Tradisi Tionghoa...,Jessica Nevina Anggadibrata,FSD UMN,2017

Abun mulai