KTI BETI SETIAWATI

download KTI BETI SETIAWATI

of 40

  • date post

    06-Mar-2016
  • Category

    Documents

  • view

    9
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of KTI BETI SETIAWATI

42

BAB IPENDAHULUAN

A. Latar Belakang MasalahSejak seorang wanita memasuki kehidupan berkeluarga, harus sudah tertanam suatu keyakinan bahwa menyusui adalah realisasi dan tugas yang dimulai dari seorang ibu. Air Susu Ibu merupakan makanan yang paling cocok bagi bayi karena mempunyai nilai gizi yang paling tinggi. Pemberian ASI secara penuh sangat dianjurkan oleh para ahli gizi di seluruh dunia. Tidak satupun makanan pendamping ASI yang dapat mengganti perlindungan kekebalan tubuh seorang bayi, seperti yang diperoleh dari kolostrum, yaitu ASI yang dihasilkan selama beberapa hari pertama setelah kelahiran, kolostrum sangat besar manfaatnya sehingga pemberian ASI pada minggu-minggu pertama mempunyai arti yang sangat penting bagi perkembangan bayi (Krisnatuti, 2007:12).Bayi seharusnya diberikan ASI eksklusif sejak bayi lahir sampai bayi berumur 6 bulan, karena ASI mengandung zat kekebalan. Oleh karena itu pengetahuan ibu menyusui tentang ASI eksklusif sangat penting agar ibu tidak memberikan makanan pendamping ASI (Gizi.Oline, 2006:1).Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) diberikan kepada bayi setelah berusia 4-6 bulan sampai bayi berusia 24 bulan. Jadi, selain MP-ASI, ASI pun harus tetap diberikan kepada bayi, paling tidak sampai usia 24 bulan. Adapun hal-hal penting yang harus diperhatikan dalam pemberian makanan tambahan untuk bayi yaitu makanan bayi (termasuk ASI) harus mengandung semua zat gizi yang diperlukan oleh bayi, dan diberikan kepada bayi yang telah berumur 4-6 bulan sebanyak 4 6 kali/hari, sebelum berumur dua tahun, bayi belum dapat mengkonsumsi makanan orang dewasa, makanan campuran ganda (multi mix) yang terdiri dari makanan pokok, lauk pauk, dan sumber vitamin lebih cocok bagi bayi (Krisnatuti, 2007:15).Ada 2 resiko yang akan timbul bila bayi diberikan MP-ASI yaitu terjadinya resiko jangka panjang dan resiko jangka pendek. Pada resiko jangka panjang dapat terjadi obesitas, hipertensi raterosklerosis, alergi. Pada resiko jangka pendek dapat terjadi penurunan produksi ASI, anemia, gastroenteritis dan berbagai penyakit infeksi, seperti diare, batuk, pilek, radang tenggorokan dan gangguan pernafasan (Depkes RI, 2005: 23).Keadaan kekurangan gizi pada bayi dan anak di sebabkan kebiasaan pemberian MP-ASI yang tidak tepat (Media indo online, 2006:1). Akibat rendahnya sanitasi dan hygiene MP-ASI memungkinkan terjadinya kontaminasi oleh mikroba, hingga meningkatkan resiko dan infeksi lain pada bayi, hasil penelitian widodo (2006) bahwa masyarakat pedesaan di Indonesia jenis MP-ASI yang umum diberikan kepada bayi sebelum usia 4 bulan adalah pisang (57,3%) dan rata-rata berat badan bayi yang mendapat ASI eksklusif lebih besar dari pada kelompok bayi yang diberikan MP-ASI (Depkes RI, 2005: 18).Riset terbaru WHO pada tahun 2005 yang dikutip oleh Siswono (2006:1) menyebutkan bahwa 42% penyebab kematian balita di dunia adalah penyakit pneumonia sebanyak 58% terkait dengan malnutrisi, malnutrisi sering kali terkait dengan kurangnya asupan ASI (gizi online, 2006:1).Berdasarkan data Departemen Kesehatan RI menunjukkan penurunan jumlah bayi yang mendapatkan ASI eksklusif hingga 7,2%. Pada saat yang sama, jumlah bayi di bawah enam bulan yang diberi susu formula meningkat dari 16,7% pada 2009 menjadi 27,9% pada 2010. Menurut United Nations Childrens Fund (UNICEF) menyimpulkan, cakupan ASI eksklusif enam bulan di Indonesia masih jauh dari rata-rata dunia, yaitu 38% (http://www.depkes.go.id, 2010). Di Propinsi Jawa Barat pada tahun 2010 jumlah bayi yang ada sebanyak 168.893 bayi, yang diberikan ASI eksklusif hanya 79.752 bayi atau 47,22% (http://www.dinkes.jbr.go.id, 2010). Sementara data cakupan pemberian ASI eksklusif di Kabupaten Indramayu tahun 2010 jumlah bayi sebanyak 2.950 bayi, yang diberikan ASI Eksklusif sebanyak 690 bayi atau sebesar 23,4% (Laporan tahunan Dinkes Kabupaten Indramayu, 2010). Cakupan pemberian ASI eksklusif di wilayah kerja Puskesmas Balongan menempati urutan ke-20 dari 49 Puskesmas yang ada di wilayah Kabupaten Indramayu.Berdasarkan hasil pra survei di Desa Rawadalem wilayah kerja Puskesmas Balongan pada tanggal 5 Maret 2011, jumlah bayi berusia 6 12 bulan sebanyak 161 bayi, yang diberi ASI Eksklusif adalah sebanyak 53 bayi (32%) dan yang tidak diberikan ASI eksklusif adalah sebanyak 108 bayi (68%). Dari hasil wawancara dengan 8 responden didapatkan bahwa 5 responden sudah memberikan MP-ASI sebelum bayi berusia kurang dari 6 bulan dan 3 orang belum mengerti tentang MP-ASI. Penyebab ibu sudah memberikan MP-ASI pada bayi karena ibu sibuk bekerja dan kurangnya pengetahuan ibu tentang pemberian ASI eksklusif.Berdasarkan uraian di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul Pengetahuan ibu menyusui tentang pemberian makanan pendamping ASI di Desa Rawadalem wilayah kerja Puskesmas Balongan Kabupaten Indramayu tahun 2011.

B. Rumusan MasalahBerdasarkan uraian latar belakang masalah di atas maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: Bagaimana pengetahuan ibu menyusui tentang pemberian makanan pendamping ASI di Desa Rawadalem wilayah kerja Puskesmas Balongan Kabupaten Indramayu tahun 2011?.

C. Tujuan PenelitianPenelitian ini memiliki tujuan:1. Tujuan UmumUntuk mengetahui gambaran pengetahuan ibu menyusui tentang pemberian makanan pendamping ASI di Desa Rawadalem wilayah kerja Puskesmas Balongan Kabupaten Indramayu tahun 2011.2. Tujuan Khususa. Mengetahui gambaran pengetahuan ibu menyusui tentang pengertian pemberian makanan pendamping ASI.b. Mengetahui gambaran pengetahuan ibu menyusui tentang manfaat pemberian makanan pendamping ASI.c. Mengetahui gambaran pengetahuan ibu menyusui tentang syarat-syarat pemberian makanan pendamping ASI.d. Mengetahui gambaran pengetahuan ibu menyusui tentang jenis-jenis makanan pendamping ASI.

D. Manfaat Penelitian1. Bagi Institusi Pelayanan KesehatanSebagai bahan masukan bagi Puskesmas dan Dinas Kesehatan dalam peningkatan penyuluhan tentang pemberian makanan tambahan atau pendamping ASI. 2. Bagi RespondenHasil penelitian ini diharapkan meningkatkan pengetahuan ibu menyusui tentang makanan pendamping ASI pada bayi.3. Bagi Institusi PendidikanHasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan bahan masukan atau sumber referensi bagi proses penelitian selanjutnya terutama yang berhubungan dengan pemberian makanan pendamping ASI pada bayi.

BAB IITINJAUAN PUSTAKA

A. Pengetahuan 1. Pengertian Pengetahuan adalah hasil dari tahu dan terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Hal ini penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (Notoatmodjo, 2005:83).2. Tingkatan Pengetahuan Tingkatan dalam pengetahuan menurut Notoatmodjo (2005) adalah sebagai berikut : a. Tahu (know) yang diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya, atau termasuk dalam pengetahuan tingkat ini, adalah mengingat kembali (recall) terhadap sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari. b. Memahami (comprehension) yaitu sebagai kemampuan menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar. Orang yang telah paham terhadap sesuatu objek atau materi akan dapat menjelaskan, menyebutkan atau menyimpulkan objek yang telah dipelajari tersebut. c. Menerapkan (aplication) yaitu sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada suatu kondisi yang sebenarnya dengan menggunakan metode, prinsip, rumus dalam konteks atau situasi lain. d. Analisa (analysis) yaitu suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek yang telah dipelajari ke dalam komponen-komponen, tetapi masih dalam struktur organisasi tersebut dan masih ada kaitannya satu sama lain, kemampuan analisa dapat dilihat dari kemampuan menjabarkan, membedakan, mengelompokkan dan memisahkan. e. Sintesa (synthesis) yaitu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Misalnya menyusun, menyesuaikan dan sebagai suatu teori atau rumusan-rumusan yang ada. f. Evaluasi (evaluation) yaitu kemampuan untuk melakukan penelitian terhadap suatu materi atau objek, penilaian-penilaian ini menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada, misalnya dapat membandingkan, menanggapi pendapat dan menafsirkan sebab-sebab suatu kejadian (Notoatmodjo, 2005 86 92).3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi PengetahuanMenurut Notoatmodjo (2005), beberapa faktor yang mempengaruhi tingkat pengetahuan seseorang yaitu umur, pendidikan, dan sosial ekonomi yang diuraikan sebagai berikut:

a. UmurUmur berpengaruh dalam meningkatkan pengetahuan karena kemampuan mental yang diperlukan untuk mempelajari dan menyusun diri pada situasi-situasi baru, seperti mengingat hal-hal yang dulu yang pemah dipelajari, penalaran analogi, dan berpikir kreatif dan bisa mencapai puncaknya.b. PendidikanPendidikan merupakan faktor lain yang mempengaruhi pengetahuan seperti sumber informasi, dan pengalaman. Menurut Notoatmodjo (2005) bahwa pendidikan memberikan suatu nilai-nilai tertentu bagi manusia, terutama dalam membukakan pikirannya serta menerima hal-hal baru. Pengetahuan juga diperoleh melalui kenyataan (fakta) dengan melihat dan mendengar radio, melihat televisi. Selain itu pengetahuan diperoleh sebagai akibat pengaruh dari hubungan orang tua, kakak-adik, tetangga, kawan-kawan dan lain-lain.c. Sosial ekonomiSosial ekonomi mempengaruhi tingkat pengetahuan dan perilaku seseorang di bidang kesehatan, sehubungan dengan kesempatan memperoleh informasi karena adanya fasilitas atau media informasi. Banyak wanita menengah dan golongan atas yang walaupun menjadi ibu dan pengatur rumah tangga tetapi tidak mau pasif, tergantung, dan tidak berkorban diri secara tradisional (Notoatmodjo, 2005: 121 - 126).

4. Pengukuran Tingkat PengetahuanPengukuran tingkat pengetahuan dapat dilakukan secara langsung dan tidak langsung. Secara langsung dapat ditanyakan dengan mengajukan beberapa pertanyaan terhadap suatu obyek kepada responden. Se