KEEFEKTIFAN KONSELING DENGAN TEKNIK PENGHANCURAN KEYAKINAN IRASIONAL (DISPUTE IRRATIONAL BELIEFS)...

download KEEFEKTIFAN KONSELING DENGAN TEKNIK PENGHANCURAN KEYAKINAN IRASIONAL (DISPUTE IRRATIONAL BELIEFS) UNTUK MENURUNKAN TUNTUTAN DIRI BERLEBIHAN

of 16

  • date post

    28-Nov-2015
  • Category

    Documents

  • view

    344
  • download

    0

Embed Size (px)

description

Jurnal Online Universitas Negeri Surabaya, author : Ari Khusumadewi, http://ejournal.unesa.ac.id/

Transcript of KEEFEKTIFAN KONSELING DENGAN TEKNIK PENGHANCURAN KEYAKINAN IRASIONAL (DISPUTE IRRATIONAL BELIEFS)...

  • Jurnal Psikologi Pendidikan dan bimbingan Vol. 13. No.1, Juli 2012

    92

    KEEFEKTIFAN KONSELING DENGAN TEKNIK PENGHANCURAN

    KEYAKINAN IRASIONAL (DISPUTE IRRATIONAL BELIEFS) UNTUK

    MENURUNKAN TUNTUTAN DIRI BERLEBIHAN

    Ari Khusumadewi1

    ABSTRAK: Tuntutan diri berlebihan merupakan segala bentuk tuntutan

    yang berlebihan pada diri sendiri untuk berpenampilan baik dan

    mendapatkan kemenangan di setiap kondisi yang mutlak harus

    didapatkan dan tanpa toleransi apapun yang mengakibatkan individu

    cenderung irasional. Penelitian ini bertujuan untuk menguji keefektifan

    konseling dengan teknik penghancuran keyakinan irasional dalam

    menurunkan tuntutan diriberlebihan siswa. Teknik tersebut bekerja

    dengan cara menelusurui, mencari, menemukan, mempertanyakan,

    menentang, membantah, dan mendebat keyakinan irasional. Rancangan

    penelitian yang digunakan adalah one-group pretest-posttest design.

    Jumlah subjek penelitian terdiri atas 6 siswa yang dijaring dengan

    mengunakan skala tuntutan diri. Analisis data menggunakan statistik non

    parametrik yaitu uji Wilcoxon. Berdasarkan hasil analisis didapatkan

    nilai z -2,201 dengan nilai 0,028. Karena < , maka keputusananya

    adalah ditolak, artinya konseling dengan teknik tersebut efektif dalam menurunkan tuntutan diri berlebihan.

    Kata Kunci : Tuntutan Diri Berlebihan, Penghancuran Keyakinan

    irasional

    1 Dosen Luar Biasa pada Prodi BK FIP Unesa

  • 93

    Pendahuluan

    Siswa merupakan anggota

    komunitas sekolah yang juga

    merupakan anggota komunitas

    masyarakat sehingga memiliki

    tuntutan peran dan tugas sebagai

    anggota masyarakat. Siswa sekolah

    menengah merupakan individu yang

    dalam perkembangannya berada pada

    tahap remaja. Tugas utama remaja

    adalah menghadapi identity versus

    identity confusion, yang merupakan

    krisis ke-5 dalam tahap perkembangan

    psikososial yang bertujuan untuk

    mencari identitas diri agar nantinya

    remaja dapat menjadi orang dewasa

    yang unik dengan sense of self yang

    koheren dan peran yang bernilai di

    masyarakat (Erikson dalam Papalia,

    Olds & Feldman, 2001). Mengikuti

    kegiatan olahraga merupakan salah

    satu usaha dalam pencarian identitas.

    Banyak di antara remaja yang telah

    mengembangkan bakat dan potensinya

    sehingga bisa berprestasi dalam bidang

    tersebut. Ketika prestasi sudah

    didapatkan maka predikat atlet telah

    mereka sandang. Hal tersebut

    memberikan banyak perubahan dalam

    diri mereka antara lain perubahan pola

    pikir, penghargaan diri, kebiasaan

    hidup, kepercayaan diri bahkan

    kehidupan sosial. Perubahan-

    perubahan itu mendorong mereka

    untuk bisa menjadi lebih berprestasi

    dalam bidang tersebut. Pemerintah

    membangun sebuah sekolah khusus

    sebagai upaya membantu para siswa

    yang berprestasi dalam bidang

    olahraga, mengembangkan bakat dan

    kemampuannya serta meningkatkan

    prestasi dan pembibitan atlet-atlet

    junior yang berpotensial. Sekolah

    tesebut adalah Sekolah Menengah Atas

    Negeri Olah Raga (SMAN Olahraga)

    yang seluruh siswanya adalah anak-

    anak berprestasi dalam bidang

    olahraga.

    Adanya perbedaan karakteristik

    SMAN Olah Raga dengan sekolah

    pada umumnya dapat memicu

    munculnya banyak masalah pada diri

    siswa. Salah satunya adalah tuntutan-

    tuntutan kepada siswa untuk bisa

    berprestasi baik dalam bidang olahraga

    maupun bidang akademik. Hal tersebut

    sangat memberatkan siswa karena

    tuntutan itu tidak hanya dari program

    sekolah tetapi dari sistem pergaulan

    siswa itu sendiri. Tuntutan-tuntutan

  • 94

    yang dialami siswa membentuk pola

    pemikiran tersendiri bagi siswa

    tersebut. Pada awalnya tuntutan itu

    bisa berawal dari luar diri siswa tetapi

    lama kelamaan tuntutan itu

    diinternalisasi menjadi tuntutan pribadi

    yang harus dipenuhi dengan berbagai

    alasan yang mengikutinya. Segala

    bentuk tuntutan yang ada dari luar

    maupun dari dalam diri siswa dapat

    mengembangkan irrational belief

    system (irB) individu yang bersifat

    absolut dan harus terpenuhi.

    Tuntutan-tuntutan itu memaksa

    siswa untuk berhasil menjadi seperti

    yang diharapkan dan terkadang tidak

    sesuai dengan kondisi siswa. Beberapa

    diantara mereka berhasil menjadi

    seperti yang diharapkan, tetapi

    beberapa diantara mereka juga kurang

    berhasil bahkan gagal mencapai target

    minimal yang ditetapkan (Jawa Pos,

    Juni 2011). Biasanya, jika remaja tidak

    terpenuhi keinginannya, mereka cepat

    sekali mengalami stress dan

    mengakibatkan munculnya perilaku

    negatif (Bolger & Eckenrode, 1991).

    Perilaku negatif yang muncul antara

    lain bunuh diri. Sebagian besar kasus

    bunuh diri dilatarbelakangi oleh

    ketidakmampuan mewujudkan

    keinginan dan tuntutan dirinya

    (Vivanews, 2010). Ketika tuntutan-

    tuntutan yang ada pada diri siswa tidak

    tercapai maka yang terjadi antara lain

    kemarahan yang berlebihan terhadap

    diri sendiri, depresi, mengasihani diri

    sendiri, dan toleransi frustasi yang

    rendah seperti penarikan diri

    (withdrawal), penangguhan diri

    (procrastination), ketakutan-ketakutan

    (phobias) dan ketergantungan

    (addictions) terhadap sesuatu atau

    orang lain (Ellis dalam Corey, 2009).

    Tuntutan diri (self-

    demandingness) merupakan salah satu

    titik penting penyebab munculnya irB.

    IrB adalah pikiran, ide, gagasan,

    persepsi negatif yang digunakan

    individu memandang, menilai,

    merespon, menanggapi suatu

    peristiwa, kejadian atau situasi yang

    dialami. IrB bersifat mutlak dan tanpa

    syarat, mengandung suatu keharusan,

    kemestian, tuntutan, dan perintah

    (should, ought, must, demands and

    command) (Ellis & Grienger, 1986:

    Corey, 2009). Harus dan

    Seharusnya merupakan suatu istilah

    yang digunakan untuk

  • 95

    mengungkapkan kebutuhan atau

    rekomendasi yang kuat. IrB juga

    merupakan pandangan yang tidak

    logis, tidak didukung oleh realitas,

    tidak dapat diuji kebenarannya, tidak

    mempunyai bukti yang cukup,

    cenderung merusak diri, menghalangi

    orang mencapai tujuan dan

    menghasilkan emosi yang tidak wajar.

    Tuntutan diri (self-

    demandingness) juga merupakan suatu

    ide yang mengharuskan individu untuk

    selalu berpenampilan baik dan

    mendapatkan kemenangan, jika tidak

    melakukannya maka menunjukkan

    bahwa individu tersebut tidak

    kompeten, tidak layak mendapatkan

    sesuatu dan layak untuk menderita,

    membenci diri sendiri, gelisah, dan

    terlalu berkeinginan (Dryden,

    DiGiuseppe and Neenan, 2003;

    Christner,stewart and Freeman, 2007

    dalam Capuzzi, Gross, 2007).

    Tuntutan (demandingness) juga berarti

    kekalahan secara emosional yang

    meninggi bagi diri sendiri dan orang

    lain yang membuat tuntutan-tuntutan

    yang tidak realistis, setting ekspektasi

    yang tidak realistis. Rincian ide-ide

    berupa pikiran-pikiran yang penuh

    tuntutan dan keharusan sebagai

    berikut: (a) tuntutan atau keharusan

    untuk selalu dicintai dan didukung, (b)

    tuntutan kompetensi sempurna, (c)

    tuntutan menghukum orang lain, (d)

    ketidaksenangan atas kejadian yang

    tidak diharapkan, (e) tuntutan

    penyebab eksternal, (f) perhatian pada

    hal-hal yang berbahaya, (g) lari dari

    kesulitan dan tanggungjawab, (h)

    keharusan bergantung, (i) kebahagiaan

    bukan didapat dari kemalasan, (j)

    melebihkan kontrol masa lalu, (k)

    terlalu peduli atau hanyut ulah orang

    lain, (l) tuntutan jawaban persis atas

    suatu masalah (Ellis, 1994).

    Penelitian ini lebih mengarah

    pada fungsi kuratif dalam bimbingan

    dan konseling. Dalam rangka

    melaksanakan fungsi bimbingan

    tersebut, maka diperlukan perlakuan

    khusus dalam menangani persoalan

    yang berkaitan dengan diri siswa serta

    dapat digunakan dalam membantu

    siswa menurunkan tuntutan diri (self-

    demandingness). Dalam Penelitian ini,

    peneliti menggunakan teknik dispute

    irrational beliefs (DIBS) sebagai

    perlakuan inti untuk membantu siswa

    menurunkan tuntutan diri (self-

  • 96

    demandingness) dengan alasan bahwa

    teknik ini adalah salah satu teknik

    yang bernuansa kognitif dan tuntutan

    diri (self-demandingness) yang dituju

    untuk diselesaikan adalah suatu

    permasalahan dalam ranah kognitif.

    DIBS adalah suatu teknik dalam

    REBT yang dilakukan dengan cara

    menelusuri, mencari, menemukan,

    mempertanyakan, menentang,

    membantah, dan mendebat irB,

    merestrukturisasi beliefs system dari

    yang tidak rasional (irB) menjadi

    rasional (rB).

    Prosedur konseling dengan

    teknik DIBS ada 3 tahap

    (Perkins, 2002 dalam

    http://www.rebtnetwork.org/whatis:ht

    m), yaitu: (a) Tahap I (Empirical

    disputing), pada tahap ini yang

    dilakukan adalah mendeteksi

    (detecting) dan membangun kesadaran

    diri (self awarness) terhadap irB. (b)

    Tahap II (Logic