Hampir Fix

download Hampir Fix

of 31

  • date post

    02-May-2017
  • Category

    Documents

  • view

    266
  • download

    7

Embed Size (px)

Transcript of Hampir Fix

LAPORAN TUTORIAL

BLOK ORAL DIAGNOSA DAN RENCANA PERAWATANPENYAKIT DENTOMAKSILOFASIALSkenario IV Orthodonsia

Disusun Oleh Kelompok Tutorial 1:Ketua : Bimasakti Wahyu Irianto(121610101074)Scriber Papan : Aisyah Gediyani Permatasari(121610101098)Scriber Meja : Windhi Tutut M(121610101088)Anggota:Inetia Fluidayanti(121610101001)Yuni Aisyah Puteri(121610101006)Medina Nanda Utami(121610101007)Nazala Zetta Zettira(121610101011)Rina Wahyu H(121610101012)Gita Putri Kencana(121610101013)Hayyu Safira Fuadillah(121610101014)Haris Mega Prasetyo(121610101076)Rio Faisal Ariady(121610101095)Ilvana Ardiwirastuti(121610101099)Niken Wibawaningtyas(121610101105)Nungky Tias Susanti (121610101106)

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGIUNIVERSITAS JEMBERTAHUN 2014

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rahmat dan hidayahNya penulis dapat menyelesaikan laporan tutorial skenario 4 Orthodonsia dengan baik serta tepat waktu.Laporan tutorial ini disusun untuk melengkapi tugas tutorial dengan didukung oleh referensi-referensi yang bisa dipertanggungjawabkan. Laporan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman yang lebih jelas dari materi tutorial, agar para mahasiswa Universitas Jember bisa melaksanakan strategi belajar dengan menggunakan Teknologi Informasi.Penulis menyusun laporan tutorial ini melalui berbagai tahap baik dari pencarian bahan, pembahasan, belajar mandiri, dan lain-lain. Laporan ini tidak mungkin terwujud tanpa adanya kerjasama yang baik dengan pihak-pihak yang terlibat. Oleh karena itu, penulis menyampaikan terima kasih kepada:1. drg. Rudi Julianto, M Biomed sebagai tutor yang telah banyak membantu dalam proses tutorial.1. Teman-teman anggota tutorial 1Semoga laporan tutorial ini bisa bermanfaat bagi siapa saja yang membacanya.Tiada gading yang tak retak,apabila ada yang kurang sempurna dalam laporan ini,penulis sangat mengharapkan kritik dan saran pembaca guna perbaikan lebih lanjut pada masa yang akan datang.

Jember, 5 April 2014

Penulis

DAFTAR ISI

Kata Pengantar .........................................................................1Daftar Isi.........................................................................2Skenario.........................................................................3Step I.........................................................................4Step II.........................................................................4Step III.........................................................................4Step IV.........................................................................10Step V.........................................................................11Step VII.........................................................................12Daftar Pustaka.........................................................................30

SKENARIO 1SKENARIOPasien wanita usia 10 tahun datang ke bagian orthodonsia FKG Universitas Jember dengan keluhan ingin memperbaiki posisi gingivanya yang tidak teratur. Kondisi umum pasien normal dan tidak ada kelainan Tugas : analisa diagnosa maloklusi, etiologi, diskrepansi, pada model, macam perawatan, rencana perawatan dan desain alat lepasan.

STEP 1: Diskrepansi: Selisih tempat yang dibutuhkan dan tempat yang tersedia pada gigi dalam lengkung rahang dengan menggunakan model. Penghitungan diskrepansi digunakan untuk mengetahui kelebihan atau kekurangna tempat sehingga dapat menentukan rencana perawatan yang tepat.Maloklusi: Bentuk hubungan rahang atas dan rahang bawah yang menyimpang dari bentuk yang normal

STEP 2 : 1. Apa saja etiologi dari maloklusi?2. Bagaimana menganalisa diagnosa pada pasien maloklusi?3. Bagaimana cara menghitung diskrepansi pada model?4. Apa saja dasar pertimbangan pada perawatan orthodonsia?5. Apa saja rencana perawatan pada bidang orthodonsia?

STEP 31. Etiologi maloklusi secara garis besar dibagi menjadi dua, yaitu:1.Faktor Umum, yaitu faktor yang secara tidak langsung mempengaruhi terjadinya maloklusi diantaranya: Herediter Lingkungan. Lingkungan yang dimaksut bisa lingkungan pre natal (sebelum kelahiran) atau post natal (setelah kelahiran). Lingkungan pre natal biasanya akibat konsumsi obat-obatan atau zat kimia yang mempengaruhi kondisi kehamilan. Sedangkan lingkungan post natal yang merupakan lingkungan yang mempengaruhi setelah kelahiran misalnya pada proses kelahiran menggunakan forceps, kecelakaan, jatuh yag mengakibatkan fraktur pada condil sehingga menyebabkan asimetri muka. Penyakit sistemik. Contoh penyakit sistemik adalah penyakit yang mengganggu produksi hormon sehingga mempengaruhi pertumbuhan rahang dan gigi,misalnya : hipertiroid,hipotiroid. kelainan kongenital. Bad Habbit Problema diet Posisi tubuh2.Faktor Lokal, yaitu faktor yang langsung mempengaruhi terjadinya maloklusi. faktor ini melibatkan kelainan pada gigi diantaranya : Persistensi gigi sulung Tanggal prematur Anomali gigi (bentuk, jumlah) Letak salah benih Karies DDMPada kasus maloklusi kelas I, etiologi umumnya disebabka oleh adanya diskrepansi baik rahang atas maupun bawah. Maloklusi kelas II yang terbagi menjadi 2 sub divisi umumnya dikarenakan faktor genetik ,lingkungan dan juga skeletal . Maloklusi kelas III dipengaruhi oleh faktor genetik dan faktor skeletal.

2. Tahap analisa diagnosa pada orthodonsia1. Analisa Umum. Identifikasi Pasien (nama,umur,alamat). Umur penting diketahui untuk menentukan pasien pada fase gigi pergantian atau gigi permanen yang berpengaruh pada rencana perawatan pasien. Tinggi Badan dan Berat Badan Identifikasi keluhan utama Keadaan fisik Riwayat penyakit sistemik tertentu Etiolohi karena adanya faktor herediter Bad Habbit2. Analisa Lokal Intra Oral Pemeriksaan intra oral meliputi keadaan mukosa,gigi,lidah Ekstra Oral meliputi pemeriksaan: bibir, tipe wajah,tipe kepala,lengkung gigi,bentuk palatum, kesimetrian wajah.3. Analisa fungsional Path of closure Gangguan pada TMJ Free way space4. Analisa Model Bentuk lengkung gigi Jumlah lebar 4 insisiv rahang atas .Hal ini untuk mengethaui apakah adanya makrodontia atau mikrodontia. Jumlah total 4 insisiv normal adalah 28-36mm Diskrepansi model.Kekurangan tempat kurang dari 4 mm tidak perlu dilakukan ekstraksi, pada kekurangan 5-9 mm perlu adanya pertimbangan untuk ekstraksi atau ekspansi/strippling. Sedangkan kekurangan 10mm atau lebih perlu dilakukan ekstraksi. Curve of spee. Yaitu garis imajiner antara insisal edge insisiv dan molar dua permanen.terdapat tiga penilaian, datar,cembung (-) , cekung (+) Pergeseran gigi Pergeseran terhadap garis median Gigi yang salah posisi Relasi rahang atas dan rahang bawah.Secara universal diagnosa dibagi dua ,yaitu1. Essential : meliputi analisa umum, analisa lokal, analisa fungsional, dan analisa model2. Tambahan: Chepalometri : untuk mengetahui pola skeletal dan profil wajah Elektromiografi : mengetahui adanya anomali atau kelainan pada tonus-tonus otot facial Radiografi pergelangan tangan BMR 3. Menghitung diskrepansi pada modelMenghitung diskrepansi pada model harus mengetahui availabel space dan required space pada model. Available space dihitung dengan menggunakan brushwire dari mesial gigi molar permanen I kiri ke molar permanen I kanan dilewatkan pada lengkung rahang yang benar. Atau dengan menggunakan tabel sitepu dengan mengetahui jumlah 4 insisiv rahang bawah lalu dicocokkan pada nilai yang sesuai. Reqquired space adalah tempat yang dibutuhkan dengan cara menghitung jumlah lebar mesio distal pada lengkung yang terbesar gigi permanen kiri sampai mesial gigi molar pertama permanen kanan. Diskrepansi dihitung dengan mengurangi available space dengan required space. Bila hasil + maka terjadi kelebihan space sehingga tidak perlu adanya ekstraksi, sedangkan bila hasil maka terjadi kekurangan tempat.4. Dasar pertimbangan rencana perawatan Pertimbangan umur Keadaan gigi, menyangkut keparahan maloklusi dan OH pasien Kematangan tulang Estetika Finansial Kooperatif dari pasienIndikasi Alat lepasan : Hanya untuk beberapa gigi yang abnormal/maloklusi digunakan pada masa gigi pergantian

Indikasi Alat cekat : Untuk umur diatas 12 tahun Digunakan pada pasien pada fase gigi permanen Kelainan maloklusi bersifat kompleks5. Rencana Perawatan1. Early Treatment, pada perawatan ini meliputi: Preventif treatment : pada fase ini belum terjadi adanya maloklusi, sehingga perawatan lebih ditekankan pada tindakan pencegahan seperti pemberian DHE, space maintainer. Interseptif treatment: merupakan perawaan yang mencegah adanya maloklusi yang berkembang lebih parah. Pada tahap ini sudah terjadi maloklusi tapi belum parah.2. Corrective treatmentSudah terjadi maloklusi, sehingga diperlukan perawatan orthodontic lebih lanjut.3. Rehabilitative treatment

Pasien datang dengan maloklusiPemeriksaan SubjektifPemeriksaan ObjektifPemeriksaanPenunjangAnalisaKlasifikasi MaloklusiEtiologiRencana Perawatandasar PertimbanganEkstraksinon EkstraksiPiranti ortho cekatPiranti ortho lepasanSTEP 4MAPPING

STEP 51 Mengetahui dan memahami klasifikasi maloklusi2. Mengetahui dan memahami tujuan dan manfaat analisa diagnosa3. Mengetahui dan memahami macam dan rencana perawatan4. Mengetahui dan memahami desain alat lepasan

STEP 7LO 1: Mengetahui dan memahami klasifikasi maloklusiKlasifikasi dari maloklusi dirumuskan oleh Dr. E. H Angle. Seorang perintis orthodonthi yang terkenal, pada tahun 1898. Beliau menentukan klasifikasi dari maloklusi berdasarkan hubungan antar gigi molar pertama tetap di rahang atas dan gigi molar pertama tetap dirahang bawah. Gigi M1 itu dipakai sebagai fixed point = land mark sebab menurut anggapannya kedudukan dari M1 ini adalah yang paling stabil, jarang berubah kedudukannya dari yang lain, karena M1 ini ditunjang/ ditanam didalam tulang zygomaticus yang kuat sekali.Suatu tulang yang kuat seakan menurun dari zygomaticus, menuju ke processus alveolaris, melingkupi akar-akar da