gangguan kognitif dan penuaan

Click here to load reader

  • date post

    14-Jul-2016
  • Category

    Documents

  • view

    62
  • download

    8

Embed Size (px)

description

gangguan kognitif dan penuaan

Transcript of gangguan kognitif dan penuaan

BAB IPENDAHULUAN

1.1 Latar BelakangPenuaan merupakan suatu proses alami yang dihadapi oleh seluruh manusia dan tak dapat dihindarkan. Lansia merupakan periode akhir dari kehidupan seseorang dan setiap individu akan mengalami proses penuaan dengan terjadinya perubahan pada berbagai aspek fisik/fisiologis, psikologis dan sosial (Miller, 2004). Undang-undang No. 13 tahun 1998 tentang kesejahteraan lansia menyatakan bahwa lansia adalah seseorang yang mencapai usia 60 tahun ke atas. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam Menkes RI menggolongkan lanjut usia menjadi 4 yaitu : usia pertengahan (middle age) 45 -59 tahun, lanjut usia (elderly) 60 -74 tahun, lanjut usia tua (old) 75 90 tahun dan usia sangat tua (very old) diatas 90 tahun. Secara kronologis, young old secara umum yaitu usia antara 65-74 tahun, old-old berusia antara 75-84 tahun, dan oldest old berusia 85 tahun ke atas (Papalia, Olds & Feldman, 2005). Peningkatan usia harapan hidup tentunya berdampak lebih banyak terjadi gangguan atau penyakit pada lansia, seperti demensia, delirium dan gangguan amnestik. Gangguan mental yang sering diderita para lanjut usia adalah gangguan depresi, gangguan kognitif, fobia dan gangguan pemakaian alkohol (Kaplan, 2010). Ada pula gangguan psikologis yang terkait dengan penuaan, seperti gangguan kecemasan dan penuaan, depresi dan penuaan, serta gangguan tidur dan penuaan. Gangguan kognitif dan gangguan psikologis yang terkait dengan penuaan itu lah yang akan di bahas dalam makalah ini2.1 Rumusan Masalah1. Apa yang dimaksud dengan gangguan kognitif ?2. Apa saja faktor yang mempengaruhi gangguan kognitif?3. Bagaimana gejala umum gangguan kognitif?4. Bagaimana pengklasifikasian gangguan kognitif?5. Bagaimana pengertian dan diskripsi dari macam macam gangguan kognitif?6. Bagaimana penanganan bagi penderita gangguan kognitif?7. Apa saja gangguan psikologis yang terkait dengan penuaan?3.1 Tujuan1. Untuk mengetahui apa itu pengertian dari gangguan kognitif.2. Mengetahui faktor penyebab timbulnya gangguan kognitif.3. Mengetahui gejala-gejala umum gangguan kognitif.4. Mengetahui macam macam bentuk gangguan kognitif.5. Mengetahui pengertian dan diskripsi macam-macam gangguan kognitif.6. Mengetahui penangganan bagi penderita gangguan kognitif.7. Mengetahui gangguan psikologis yang terkait dengan penuaan.

BAB IIPEMBAHASAN

2.1 Gangguan KognitifGangguan kognitif (cognitive dissorder) meliputi gangguan dalam pikiran atau ingatan yang menggambarkan perubahan nyata dari tingkat fungsi individu yang sebelumnya (APA, 2000). Gangguan kognitif tidak memiliki dasar psikologis; gangguan ini disebabkan oleh kondisi fisik atau medis, atau penggunaan obat atau putus zat, yang mempengaruhi fungsi dari otak. Gangguan kognitif terjadi apabila otak mengalami kerusakan atau mengalami hendaya dalam kemampuannya untuk berfungsi akibat luka-luka, penyakit, keterpaparan terhadap racun-racun, atau penggunaan atau penyalahgunaan obat-obat psikoaktif. Orang-orang yang menderita gangguan kognitif mungkin sepenuhnya menjadi bergantung pada orang lain untuk memenuhi kebutuhan dasar dalam hal makan, beraktivitas ditoilet, dan berdandan.2.1.1 Etiologi1. Faktor PredisposisiGangguan kognitif umumnya disebabkan oleh gangguan fungsi susunan saraf pusat (SSP). SSP memerlukan nutrisi untuk berfungsi, setiap gangguan pengiriman nutrisi mengakibatkan gangguan fungsi SSP. Faktor yang dapat menyebabkan adalah penyakit infeksi sistematik, gangguan peredaran darah, keracunan zat (Beck, Rawlins dan Williams, 1984, hal 871). Banyak faktor lain yang menurut beberapa ahli dapat menimbulkan gangguan kognitif, seperti kekurangan vitamin, malnutrisi, gangguan jiwa fungsional.2. Faktor PresipitasiSetiap kejadian diotak dapat berakibat gangguan kognitif. Hipoksia dapat berupa anemia Hipoksia, Hitoksik Hipoksia, Hipoksemia Hipoksia, atau Iskemik Hipoksia. Semua Keadaan ini mengakibatkan distribusi nutrisi ke otak berkurang. Gangguan metabolisme sering mengganggu fungsi mental, hipotiroidisme, hipoglikemia. Racun, virus dan virus menyerang otak mengakibatkan gangguan fungsi otak, misalnya sifilis. Perubahan struktur otak akibat trauma atau tumor juga mengubah fungsi otak. Stimulus yang kurang atau berlebihan dapat mengganggu fungsi kognitif. Misalnya ruang ICU dengan cahaya, bunyi yang konstan merangsang dapat mencetuskan disorientasi, delusi dan halusinasi, namun belum ada penelitian yang tepat.2.2 Klasifikasi Gangguan KognitifTerdapat tiga jenis utama gangguan kognitif, yaitu delirium, demensia, dan gangguan amnestik. Adapun tipe-tipe utama dari delirium, demensia dan gangguan amnestik dalam DSM-IV-TR (APA, 2000) yaitu : Delirium: Delirium Akibat Gangguan Medis Umum Delirium Akibat Intoksikasi Zat Delirium Akibat Putus Zat Demensia: Demensia Tipe Alzheimer Demensia Vaskular Demensia Akibat Penyakit HIV Demensia Akibat Trauma Kepala Demensia Akibat Penyakit Parkinson Demensia Akibat Penyakit Huntington Demensia Akibat Penyakit Pick Demensia Akibat Penyakit Creutzfeldt-Jakob Demensia Akibat Kondisi Medis Umum Lainnya Gangguan Amnestik: Gangguan Amnestik Akibat Kondisi Medis UmumGangguan Amnestik yang Persisten Akibat Penggunaan Zat2.2.1 Delirium2.2.1.1 Pengertian DeliriumDelirium berasal dari bahasa latin, de berarti dari dan lira berarti garis atau alur. Hal ini berarti pergeseran dari garis, atau norma, dalam persepsi, kognisi dan perilaku. Delirium mencakup keadaan kebingungan mental yang ekstreem dimana orang mengalami kesulitan berkonsentrasi dan berbicara jelas serta masuk akal. Orang yang terkena delirium mungkin mengalami kesulitan untuk mengabaikan stimulus yang tidak sesuai atau mengalihkan perhatian mereka pada tugas yang baru. Orang-orang dalam kondisi delirium mungkin mengalami halusinasi yang menakutkan ,terutama halusinasi visual . Gangguan dalam persepsi juga sering terjadi.2.2.1.2 Faktor Faktor Penyebab Delirium1. AsetilkolinData studi mendukung hipotesis bahwa asetilkolin adalah salah satu dari neurotransmiter yang penting dari pathogenesis terjadinya delirium. Hal yang mendukung teori ini adalah bahwa obat antikolinergik diketahui sebagai penyebab keadaan bingung,pada pasien dengan transmisi kolinergik yang terganggu juga muncul gejala ini. Pada pasien post operatif delirium serum antikolinergik juga meningkat.2. DopaminePada otak, hubungan muncul antara aktivitas kolinergik dan dopaminergik. Pada delirium muncul aktivitas berlebih dari dopaminergik, pengobatan simptomatis muncul pada pemberian obat antipsikosis seperti haloperidol dan obat penghambat dopamine.3. Neurotransmitter lainnyaSerotonin ; terdapat peningkatan serotonin pada pasien dengan encephalopati hepatikum.GABA (Gamma-Aminobutyric acid); pada pasien dengan hepatic encephalopati,peningkatan inhibitor GABA juga ditemukan. Peningkatan level ammonia terjadi pada pasien hepatic encephalopati,yang menyebabkan peningkatan pada asam amino glutamat dan glutamine (kedua asam amino ini merupakan precursor GABA). Penurunan level GABA pada susunan saraf pusat juga ditemukan pada pasien yang mengalami gejala putus benzodiazepine dan alkohol.4. Mekanisme peradangan/inflamasiStudi terkini menyatakan bahwa peran sitokin, seperti interleukin-1 dan interleukin-6,dapat menyebabkan delirium. Mengikuti setelah terjadinya infeksi yang luas dan paparan toksik,bahan pirogen endogen seperti interleukin-1 dilepaskan dari sel. Trauma kepala dan iskemia, yang sering dihubungkan dengan delirium,terdapat hubungan respon otak yang dimediasi oleh interleukin-1 dan interleukin 6.5. Mekanisme reaksi stressStress psikososial dan gangguan tidur mempermudah terjadinya delirium.6. Mekanisme strukturalPada pembelajaran terhadap MRI terdapat data yang mendukung hipotesis bahwa jalur anatomi tertentu memainkan peranan yang lebih penting daripada anatomi yang lainnya. Formatio reticularis dan jalurnya memainkan peranan penting dari bangkitan delirium. Jalur tegmentum dorsal diproyeksikan dari formation retikularis mesensephalon ke tectum dan thalamus adalah struktur yang terlibat pada delirium. Kerusakan pada sawar darah otak juga dapat menyebabkan delirium,mekanismenya karena dapat menyebabkan agen neuro toksik dan sel-sel peradangan (sitokin) untuk menembus otak.2.2.1.3 Kriteria Diagnostik DeliriumKriteria diagnostik DSM IV TR derilium adalah :1. Gangguan kesadaran (penurunan tingkat kewaspadaan terhadap keadaan sekitar) disertai penurunan kemampuan memusatkan, mempertahankan atau mengalihkan perhatian.2. Gangguan Perubahan kognitif (seperti defisit memori, disorientasi, gangguan berbahasa) atau perkembangan gangguan persepsi yang tidak berkaitan dengan demensia sebelumnya, yang sedang berjalan atau memberat.3. Gangguan ini terjadi dalam waktu yang singkat (biasanya dalam beberapa jam atau hari) dan cenderung berubah-ubah sepanjang hari.4. Adanya bukti dari riwayat, pemeriksaan fisik atau temuan laboratorium yang menunjukan bahwa gangguan ini adalah konsekuensi fisiologis dari kondisi medis umum.2.2.1.4 Diagnosis Banding DeliriumDeliriumDemensia

Onset akut Berfluktuasi Gangguan kesadaran Organisasi pikiran terganggu Sering terjadi gangguan persepsi Kewaspadaan selalu terganggu Onser perlahan-lahan Stabil atau progresif Kesadaran normal Organisasi pikiran kurang Jarang terjadi gangguan persepsi Kewaspadaan normal

2.2.1.5 Contoh Kasus DeliriumNy.Van Dijk (86 tahun) baru-baru saja diterima di rumah perawatan psikogeriatrik (kesehatan jiwa pada lansia). Ia dirawat karena tidak dapat dipertanggung jawabkan bila di rumah. Gejala yang muncul adalah merasa ketakutan, adanya gangguan memori dan disorientasi. Dia sudah menjanda beberapa tahun tanpa memiliki anak. Ia mendapat kunjungan teratur dari keponakan laki-lakinya. Pada umumnya sikap Ny.Van Dijk mengalami banyak perubahan. Kadang ia ramah selama beberapa hari lalu kemudian ia berubah menjadi tidak tenang dan memberontak. Saat malam tidurnya tidak tenang, ingin bangun dan ingin turun dari tempat tidur. Saat pagi ia bangun, ia merasa kaca