Farmakologi - Makalah Peranan Angiotensin Reseptor Bloker Pada

download Farmakologi - Makalah Peranan Angiotensin Reseptor Bloker Pada

of 29

  • date post

    10-Oct-2015
  • Category

    Documents

  • view

    47
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of Farmakologi - Makalah Peranan Angiotensin Reseptor Bloker Pada

  • Peranan Angiotensin Reseptor Bloker (ARB)

    Pada Hipertensi

    1. Pendahuluan

    Hipertensi adalah suatu kondisi medis yang ditandai peningkatan

    tekanan darah secara kronis. Hipertensi merupakan salah satu

    penyebab kematian paling sering di dunia. Hampir satu miliar orang di

    dunia berisiko terkena kegagalan jantung, serangan jantung, stroke,

    gagal ginjal dan kebutaan akibat hipertensi. Hipertensi terjadi ketika

    volume darah meningkat dan/atau saluran darah menyempit,

    sehingga membuat jantung memompa lebih keras untuk menyuplai

    oksigen dan nutrisi kepada setiap sel di dalam tubuh. Tekanan darah

    diukur berdasarkan tekanannya terhadap dinding pembuluh darah

    (yang besarannya dinyatakan dalam mmHg). Jika tekanan darah

    melebihi tingkat yang normal, maka resiko kerusakan bisa terjadi pada

    organ organ vital di dalam tubuh seperti jantung, ginjal, otak, dan

    mata. Hal ini meningkatkan resiko kejadian yang bisa berakibat fatal

    seperti serangan jantung dan stroke.1

    Hipertensi dapat disebabkan oleh berbagai faktor dan sering kali

    berbeda-beda pada tiap individu. Penanganan hipertensi sendiri lebih

    ditujukan untuk menurunkan morbiditas dan mortalitas pasien.

    Dengan pengobatan atau pengontrolan tekanan darah, maka berbagai

    komplikasi yang dapat dipicu oleh hipertensi dapat dicegah. Salah

    satu macam obat yang digunakan untuk mengatasi dan

    mengendalikan hipertensi adalah angiotensin receptro blocker

    (ARB).2

    Angiotensin receptor blocker (ARB) merupakan salah satu obat

    antihipertensi yang bekerja dengan cara menurunkan tekanan darah

    melalui sistem renin-angiotensin-aldosteron. ARB mampu

    menghambat angiotensin II berikatan dengan reseptornya, sehingga

    secara langsung akan menyebabkan vasodilatasi, penurunan produksi

  • vasopresin, dan mengurangi sekresi aldosteron. Ketiga efek ini secara

    bersama-sama akan menyebabkan penurunan tekanan darah.3-6.

    Mengingat pentingnya manfaat ARB terhadap hipertensi, maka

    pada makalah ini akan dipaparkan semua hal yang berkenaan dengan

    hipertensi dan ARB sebagai salah satu obat untuk menanggulanginya.

    2. Hipertensi

    a. Pengertian dan Klasifikasi

    Definisi tekanan darah yang abnormal sebenarnya sulit, karena

    hubungan antara tekanan arteri sistemik dan derajat morbiditas

    lebih bersifat kualitatif dibanding kuantitatif. Level tekanan

    darah haruslah disetujui untuk evaluasi dan terapi pasien

    dengan hipertensi. Mengingat risiko berbagai penyakit dapat

    meningkat akibat hipertensi yang berlangsung terus-menerus,

    maka perlu adanya sistem klasifikasi yang esensial untuk

    dijadikan dasar diagnosis dan terapi hipertensi.7

    Berdasarkan rekomendasi Seventh Report of the Joint National

    Commitee of Prevention, Detection, Evaluation, and Treatment

    of High Blood Pressure (JNC VII). Klasifikasi tekanan darah

    pada tabel dimaksudkan setiap tekanan yang terukur (tekanan

    rata-rata) pada dua kali atau lebih pengukuran, dalam posisi

    duduk.

    Keadaan prehipertensi tidak dimasukkan ke dalam kategori

    penyakit, namun perlu diingat bahwa keadaan tersebut berisiko

    tinggi untuk berkembang ke tahap hipertensi. Dengan demikian,

    bila ditemukan pasien dengan prehipertensi, maka perlu segera

    dicari faktor risikonya dan sedapat-dapatnya faktor risiko

    tersebut dimodifikasi. Klasifikasi menurut JNC VII tidak

    menggolongkan deajat hipertensi berdasarkan faktor risiko atau

    kerusakan organ target, namun JNC VII lebih menekankan

    bahwa setiap pasien dengan hipertensi (baik derajat 1 maupun

    2) perlu diterapi, disamping modifikasi gaya hidup.1

  • Pada hipertensi sistolik terisolasi, tekanan sistolik mencapai

    140 mmHg atau lebih, tetapi tekanan diastolik kurang dari 90

    mmHg dan tekanan diastolik masih dalam kisaran normal.

    Hipertensi ini sering ditemukan pada usia lanjut. Sejalan

    dengan bertambahnya usia, hampir setiap orang mengalami

    kenaikan tekanan darah. Tekanan sistolik terus meningkat

    sampai usia 80 tahun dan tekanan diastolik terus meningkat

    sampai usia 55-60 tahun, kemudian berkurang secara perlahan

    atau bahkan menurun drastis. Pada pasien dengan diabetes

    mellitus atau penyakit ginjal, penelitian telah menunjukkan

    bahwa tekanan darah di atas 130/80 mmHg harus dianggap

    sebagai faktor resiko dan sebaiknya diberikan perawatan.8-10

    b. Etiopatogenesis, Faktor Risiko, dan Gejala klinis

    Mekanisme Pengaturan Tekanan Darah. Tekanan darah

    arteri merupakan hasil dari cardiac output dan resistensi

    vaskular sistemik. Peningkatan tekanan darah di dalam arteri

    bisa terjadi melalui beberapa cara, antara lain:11-13

    Jantung memompa lebih kuat sehingga mengalirkan

    lebih banyak cairan pada setiap detiknya

    Arteri besar kehilangan kelenturannya dan menjadi kaku,

    sehingga mereka tidak dapat mengembang pada saat

    jantung memompa darah melalui arteri tersebut. Karena

    itu darah pada setiap denyut jantung dipaksa untuk

    melalui pembuluh yang sempit daripada biasanya dan

    menyebabkan naiknya tekanan. Inilah yang terjadi pada

    usia lanjut, dimana dinding arterinya telah menebal dan

    kaku karena arteriosklerosis. Dengan cara yang sama,

    tekanan darah juga meningkat pada saat terjadi

    "vasokonstriksi", yaitu jika arteri kecil (arteriola) untuk

  • sementara waktu mengkerut karena perangsangan saraf

    atau hormon di dalam darah

    Bertambahnya cairan dalam sirkulasi bisa menyebabkan

    meningkatnya tekanan darah. Hal ini terjadi jika terdapat

    kelainan fungsi ginjal sehingga tidak mampu membuang

    sejumlah garam dan air dari dalam tubuh. Volume darah

    dalam tubuh meningkat, sehingga tekanan darah juga

    meningkat.

    Sebaliknya, jika aktivitas memompa jantung berkurang, arteri

    mengalami pelebaran, atau banyak cairan keluar dari

    sirkulasi, maka tekanan darah akan menurun atau menjadi

    lebih kecil.11

    Penyesuaian terhadap faktor-faktor tersebut diperankan oleh

    perubahan fungsi ginjal dan sistem saraf otonom (bagian dari

    sistem saraf yang mengatur berbagai fungsi tubuh secara

    otomatis). Ginjal mengendalikan tekanan darah melalui

    beberapa cara, antara lain jika tekanan darah meningkat,

    maka ginjal akan menambah pengeluaran garam dan air,

    yang akan menyebabkan berkurangnya volume darah dan

    mengembalikan tekanan darah ke normal. Jika tekanan

    darah menurun, ginjal akan mengurangi pembuangan garam

    dan air, sehingga volume darah bertambah dan tekanan

    darah kembali ke normal. Ginjal juga dapat meningkatkan

    tekanan darah dengan menghasilkan enzim yang disebut

    renin, yang memicu pembentukan hormon angiotensin, yang

    selanjutnya akan memicu pelepasan hormon aldosteron.

    Ginjal merupakan organ penting dalam mengendalikan

    tekanan darah, karena itu berbagai penyakit dan kelainan

    pada ginjal bisa menyebabkan terjadinya tekanan darah

    tinggi. Penyempitan arteri yang menuju ke salah satu ginjal

  • (stenosis arteri renalis) dapat menyebabkan hipertensi.

    Peradangan dan cedera pada salah satu atau kedua ginjal

    juga dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah.12,13

    Sistem saraf simpatis merupakan bagian dari sistem saraf

    otonom, yang untuk sementara waktu akan meningkatkan

    tekanan darah selama respon fight-or-flight (reaksi fisik tubuh

    terhadap ancaman dari luar). Sistem ini juga meningkatkan

    kecepatan dan kekuatan denyut jantung, mempersempit

    sebagian besar arteriola, tetapi memperlebar arteriola di

    daerah tertentu (misalnya otot rangka, yang memerlukan

    pasokan darah yang lebih banyak), serta mengurangi

    pembuangan air dan garam oleh ginjal, sehingga akan

    meningkatkan volume darah dalam tubuh. Sistem saraf

    simpatis juga memicu pelepasan hormon epinefrin

    (adrenalin) dan norepinefrin (noradrenalin), yang

    merangsang jantung dan pembuluh darah, dan selanjutnya

    akan mencetuskan peningkatan tekanan darah.13,14

    Etiologi Hipertensi. Hipertensi berdasarkan penyebabnya

    dibagi menjadi 2 jenis :1,11

    Hipertensi primer atau esensial adalah hipertensi yang

    tidak / belum diketahui penyebabnya (terdapat pada

    kurang lebih 90 % dari seluruh hipertensi).

    Hipertensi sekunder adalah hipertensi yang

    disebabkan/ sebagai akibat dari adanya penyakit lain.

    Hipertensi primer kemungkinan memiliki banyak penyebab.

    Beberapa perubahan pada jantung dan pembuluh darah

    kemungkinan bersama-sama menyebabkan meningkatnya

    tekanan darah.

    Jika penyebab hipertensi diketahui, maka disebut hipertensi

    sekunder. Pada sekitar 5-10% penderita hipertensi,

    penyebabnya adalah penyakit ginjal. Pada sekitar 1-2%,

  • penyebabnya adalah kelainan hormonal atau pemakaian

    obat tertentu (misalnya pil KB). Penyebab hipertensi lainnya

    yang jarang adalah feokromositoma, yaitu tumor pada

    kelenjar adrenal yang menghasilkan hormon epinefrin

    (adrenalin) atau norepinefrin (noradrenalin). Kegemukan

    (obesitas), gaya hidup yang tidak aktif (malas berolah raga),

    stres, alkohol atau garam dalam makanan; bisa memicu

    terjadinya hipertensi pada orang-orang memiliki kepekaan

    yang diturunkan. Stres cenderung menyebabkan kenaikan

    tekanan darah untuk sementara waktu, jika stres telah

    berlalu, maka tekanan darah biasanya akan kembali

    normal.15,16