FA Market Perspective - Juli 2021 (Bilingual)

Click here to load reader

  • date post

    26-Oct-2021
  • Category

    Documents

  • view

    0
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of FA Market Perspective - Juli 2021 (Bilingual)

FA Market Perspective - Juli 2021 (Bilingual)Perspective Wealth Management Newsletter - Juli 2021
Hawkish turn at the Fed. Pergeseran pandangan Bank Sentral Amerika Serikat menuju pengetatan kebijakan moneter untuk merespon pertumbuhan ekonomi.
Hawkish turn at the Fed. Shift in the Federal Reserve into a tightening of monetary policies to respond to economic growth.
Market Perspective - Wealth Management Newsletter | Juli 2021 | 01
Nasabah yang terhormat,
Menutup kuartal kedua tahun ini, pasar saham Amerika Serikat mencatatkan kinerja yang positif didukung oleh program vaksinasi yang terus meningkat dan pelonggaran pembatasan mobilitas yang meningkatkan aktivitas masyarakat. Investor mengabaikan adanya percepatan inflasi serta perubahan arah dari pandangan The Fed atas kebijakan moneternya.
Pembukaan kembali ekonomi dan pemulihan aktivitas yang cepat memicu inflasi di beberapa negara maju termasuk di Amerika Serikat. Pada bulan Mei, indeks harga konsumen di Amerika Serikat meningkat sebesar 5,0% YoY. Sementara The Fed tetap melihat bahwa kenaikan inflasi ini bersifat sementara, namun membuat pandangannya menjadi lebih hawkish pada pertemuannya di bulan Juni dan mengakui sedang mendiskusikan mengenai tapering. Median pandangan para anggota Federal Open Market Committee (FOMC) saat ini mengharapkan adanya dua kali kenaikan suku bunga pada tahun 2023, naik dari tidak ada kenaikan suku bunga pada tiga bulan lalu.
Pengurangan program quantitative easing atau tapering pada tahun 2013 pernah menjadi momok bagi pasar keuangan domestik, yang di kenal sebagai taper tantrum. Kami akan mengulas dampak yang terjadi ketika tapering dilakukan pada tahun 2013-2014. Kelas aset apa yang masih mencatatkan kinerja yang baik di tengah pengurangan likuiditas tersebut?
Jika Anda membutuhkan informasi lebih lanjut mengenai strategi dan rekomendasi produk-produk investasi, Anda dapat menghubungi Relationship Manager Kami di cabang terdekat.
Dear Valued Customers,
At the end of this year’s second quarter, the U.S stock markets recorded a positive performance supported by their increased vaccination eorts and relaxation of mobility restriction, which increases public activity. Investors ignore the existence of the accelerated inflation and the shift in views of the Fed towards its monetary policies.
The reopening of the economy and restoration of activities quickly triggers inflation in several developed countries, including the U.S. In Mei, the U.S consumer price index increased by 5.0% YoY. Meanwhile, The Fed still views this rise in inflation as temporary, but its opinion turned more hawkish during its June meeting, where they were discussing tapering. The current median view of the Federal Open Market Committee (FOMC) hopes that there will be a two time increase in interest rate in 2023, which is a rise compared to the no increase in interest rates three months ago.
The reduction of the quantitative easing or tapering program in 2013, known as the taper tantrum, had been a specter for the domestic financial market. We will review the impact which resulted from tapering that was implemented in 2013-2014. What asset class will still perform in the midst of reduced liquidity?
If you require further information on strategies and investment product recommendations, please contact our Relationship Manager from your nearest branch.
GREETINGS
Pasar saham Amerika Serikat mencatatkan kinerja yang positif didukung oleh program vaksinasi yang terus meningkat dan pelonggaran pembatasan mobilitas yang meningkatkan aktivitas masyarakat.
The U.S stock markets recorded a positive performance supported by their increased vaccination eorts and relaxation of mobility restriction, which increases public activity.
Market Perspective - Wealth Management Newsletter | Juli 2021 | 02
Dapatkan Informasi Terkini Seputar Perkembangan Pasar Domestik dan Global dengan Aplikasi CommBank SmartWealth
Get the latest information on domestic and global market with CommBank SmartWealth application
Transaksi Reksa Dana dan pembelian SBN Online.
Informasi terkini mengenai perkembangan pasar domestik dan global
Tampilan 360º untuk mengakses portofolio Anda.
360º views to access your portfolio
Up-to-date information on domestic and global market
Smart Advisory menampilkan pilihan investasi sesuai profil risiko Anda.
Smart Advisory shows investments options according to your risk profile appetite
Mutual Fund and online SBN purchases
SUMMARY
Market Review
Indeks S&P 500 menutup bulan Juni sekaligus semester pertama tahun 2021 dengan berhasil mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di tengah optimisme bahwa lonjakan inflasi hanya bersifat sementara.
Federal Open Market Committee (FOMC) meeting bulan Juni menetapkan suku bunga acuan dipertahankan pada level 0%-0,25%. Namun, adanya percepatan proyeksi waktu kenaikan suku bunga yang pada awalnya dilakukan setelah tahun 2023, menjadi pada tahun 2023 dengan dua kali kenaikan.
Presiden Amerika Serikat Joe Biden mengumumkan bahwa Gedung Putih telah mencapai kesepakatan secara bipartisan atas rencana infrastruktur bernilai USD953 miliar yang akan mencapai prioritas legislatif utamanya dan membuktikan keberhasilan upayanya mengajak pihak oposisi untuk bekerjasama.
Kementerian Keuangan memperpanjang diskon 100% atau pembebasan tarif Pajak Penjualan atas Barang Mewah Ditanggung Pemerintah (PPnBM DTP) untuk mobil berkapasitas 1.500 cc sampai Agustus 2021, yang sebelumnya berakhir Mei 2021.
Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia kembali memutuskan untuk mempertahankan tingkat suku bunga acuan BI 7 Days Reverse Repo Rate di level 3,5% untuk tiga bulan berturut-turut.
The S&P 500 index closed out June, and also the first semester of 2021 at its all-time high amidst heightened optimism that the rise of inflations is only transitory.
The Federal Open Market Committee (FOMC) meeting on June determined that the interest rate will be maintained at the 0%-0.25% level. However, there is an accelerated projection of an increase in interest rate—previously it will be done after 2023, but now become two increases in 2023.
The President of the United States, Joe Biden announced that The White House has achieved a bipartisan agreement regarding USD 953 billion infrastructure plan that will become a legislative priority, proving his success in getting the opposition to work together.
The Ministry of Finance extended its 100% discount or waiver of the Government-Covered Luxury Goods Sales Tax (PPnBM DTP) for cars with a capacity of 1,500 cc until August 2021, which previously ended in May 2021.
Bank of Indonesia Board of Governors Meeting again decided to maintain the BI 7 Days Reverse Repo Rate at 3.5% for three months in a row.
Market Outlook
Jumlah masyarakat yang telah divaksinasi COVID-19 baik global maupun domestik memberikan harapan atas pembukaan kegiatan ekonomi yang lebih luas, namun pemberian vaksin yang lebih lambat dari target dapat memberikan sentimen dalam jangka pendek.
Peningkatan jumlah kasus COVID-19 akibat varian Delta yang menyebar lebih cepat secara global, membuat kekhawatiran pemulihan ekonomi yang sedang berlangsung dapat terhambat akibat penerapan pembatasan kegiatan kembali diterapkan.
Rencana penawaran saham perdana beberapa perusahaan teknologi di bursa Indonesia akan memberikan gairah baru di pasar saham domestik.
The number of people that have been vaccinated, both globally and domestically, gives hope for a larger reopening of the economy, but vaccination rates that are below the target may give short term negative sentiments.
The increase of the Delta variant of COVID-19 cases found all over the world is raising the concern that the ongoing economic recovery may be halted due to the reinstated lockdowns.
Initial Public Oering plans of several tech companies in the Indonesian exchange reinvigorates the domestic stock market
Market Perspective - Wealth Management Newsletter | Juli 2021 | 03
• Pasar Saham Indonesia: Overweight Indonesian stock market
• Pasar Saham Asia Pasifik: Overweight Asia-Pacific stock market
• Pasar Saham Amerika Serikat: Neutral U.S. stock market
• Pasar Obligasi: Neutral Domestic bonds market
Outlook Pasar Keuangan Global dan Indonesia
Global and Indonesian Financial Market Outlook
Market Perspective - Wealth Management Newsletter | Juli 2021 | 04
IDR IDR
USD USD
JUNE IN NUMBER
Harga mid price INDON51 (benchmark obligasi denominasi Dollar AS - 30 tahun)
cenderung terkoreksi
INDON51 mid price (benchmark of US Dollar denomination bonds – 30 years)
tends to be corrected
Sumber: Bloomberg
Pasar saham lebih unggul dari pasar obligasi pada bulan Juni 2021.
The stock market outperformed the bond market in June 2021.
FTSE Shariah Asia Pacific ex. Japan Index menguat
FTSE Shariah Asia Pacific ex. Japan Index rallies
Obligasi Bond
Saham Stock
+0,16% -0,19%
IHSG menguat
IHSG rallies
Harga mid price FR083 (benchmark obligasi Rupiah - 20 tahun) terkoreksi
FR083 mid price (benchmark of rupiah bonds - 20 years) corrected
VS
+0,64% -1,30%
FOMC meeting bulan Juni menetapkan suku bunga acuan dipertahankan pada level 0%-0,25%. Namun, adanya percepatan proyeksi waktu kenaikan suku bunga yang pada awalnya dilakukan setelah tahun 2023, menjadi pada tahun 2023 dengan dua kali kenaikan. Sentimen Negatif
Presiden Amerika Serikat Joe Biden mengatakan bahwa dirinya telah menyetujui kesepakatan RUU infrastruktur dengan sekelompok senator bipartisan. Sentimen Positif
Presiden Amerika Serikat Joe Biden menandatangani perintah eksekutif yang melarang entitas Amerika Serikat berinvestasi di beberapa perusahaan Tiongkok yang diduga terkait dengan sektor teknologi pertahanan. Sentimen Negatif
Indeks S&P 500 menutup bulan Juni sekaligus semester pertama tahun 2021 dengan berhasil mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di tengah optimisme bahwa lonjakan inflasi hanya bersifat sementara. Sentimen Positif
Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi dunia pada tahun 2022 berada pada level 5%. Netral
Market Perspective - Wealth Management Newsletter | Juli 2021 | 05
MARKET REVIEW JUNE 2021
Global Review
The Federal Open Market Committee (FOMC) meeting in June determined that the interest rate will be maintained at the 0%-0.25% level. However, there is an accelerated projection of an increase in interest rate—previously it will be done after 2023, but now become two increases in 2023. Negative Sentiment
The President of the United States, Joe Biden stated that he has accepted the Infrastructure Draft Bill agreement with a number of bipartisan senators. Positive Sentiment
The President of the United States, Joe Biden signed an executive order prohibiting U.S entities to invest in several Chinese companies suspected to be in the defence technology Industry. Negative Sentiment
S&P 500 index closed out June and the first semester of 2021 at its all-time highest in the midst of the optimism that the increased inflation rates is only temporary. Positive Sentiment
World Bank projected that world economic growth in 2022 will be at 5%. Neutral
Market Perspective - Wealth Management Newsletter | Juli 2021 | 06
MARKET REVIEW JUNE 2021
Domestic Review
Pemerintah berencana mengubah tarif pajak pertambahan nilai (PPN) dari 10% menjadi 12%. Meski begitu, tarif PPN tersebut dapat diubah menjadi paling rendah sebesar 5% hingga maksimal 15% tergantung pada jenis barang/jasa. Netral
Pemerintah akan menambah satu lapisan penghasilan kena pajak yakni untuk pendapatan di atas Rp 5 miliar dalam setahun yang akan dikenakan tarif PPh orang pribadi sebesar 35%. Netral
Pemerintah berencana untuk meluncurkan program amnesti pajak kedua di semester II-2021. Berdasarkan RUU tersebut, Wajib Pajak yang mengikuti amnesti pajak pertama tetapi memiliki aset yang belum dilaporkan aset yang diperoleh sebelum 2016 akan dikenakan tarif sebesar 12,5%-15% jika diinvestasikan dalam obligasi pemerintah. Netral
Pemerintah berencana tidak akan menaikkan cukai hasil tembakau pada tahun depan. Namun, pemerintah akan menyesuaikan harga jual eceran (HJE) yang saat ini dievaluasi berkisar 10-12,5%. Netral
Kementerian Keuangan memperpanjang diskon 100% atau pembebasan tarif Pajak Penjualan atas Barang Mewah Ditanggung Pemerintah (PPnBM DTP) untuk mobil berkapasitas 1.500 cc sampai Agustus 2021, yang sebelumnya berakhir Mei 2021. Sentimen Positif
Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia kembali memutuskan untuk mempertahankan tingkat suku bunga acuan BI 7 Days Reverse Repo Rate di level 3,5% untuk tiga bulan berturut-turut. Netral
The government plans to raise the Value Added Tax (PPN) from 10% to 12%. Even so, the PPN tari may be lowered to 5% minimum to 15% maximum depending on the goods/services. Neutral
The government will add a new income tax bracket, for individual income more than Rp5 billion a year, which will be impose a 35% income tax rate. Neutral
The government plans to oer a second tax amnesty program in semester II of 2021. Based on the Draft Bill, Tax Objects that have participated in the first tax amnesty but still have assets obtained before 2016 which are not yet reported will be subjected to a 12.5%-15% tari if invested to a government obligation. Neutral
The government plan not to hike tobacco products excise in the next year. However, the government will adjust the retail price of goods (JKE) which is now at around the 10-12.5%. Neutral
The Ministry of Finance extended its 100% discount or waiver of the Government-Covered Luxury Sales Tax (PPnBM DTP) for cars with a capacity of 1,500 cc until August 2021, which previously ended in May 2021. Positive Sentiment
Bank Indonesia Board of Governors Meeting decided to maintain the BI 7 Days Reverse Repo Rate at 3.5% for three months in a row. Neutral
Road Map for The Fed Policy Exit Road Map for The Fed Policy Exit
Market Perspective - Wealth Management Newsletter | Juli 2021 | 07
Nada hawkish Federal Reserve pada FOMC meeting bulan Juni membuat para ekonom mulai memperkirakan kapan The Fed akan mulai membicarakan rencana pengetatan kebijakan mulai dari tapering hingga kenaikan suku bunga.
Dengan percepatan program vaksinasi yang membuka peluang untuk ekonomi terus dibuka lebih luas dan kekhawatiran meningkatnya inflasi, pengetatan kebijakan moneter mulai muncul ke permukaan.
The Fed mempunyai mandat ganda yang perlu menyeimbangkan antara pasar ketenagakerjaan dan inflasi. Dimana pada bulan Mei, Personal Consumption Expenditure (PCE), indikator inflasi yang biasa digunakan oleh The Fed, berada di atas target 2% yakni di level 3,4% dan sudah dalam dua bulan berturut-turut berada di atas 3,0%. Sementara non-farm payroll berada di bawah ekspektasi dalam bulan April dan Mei. Namun dengan berakhirnya program cash transfer dan mulai dibukanya sekolah, pekerjaan di sektor non-pertanian kemungkinan akan melonjak pada kuartal ketiga.
Menurut ekonom dari CMB International, normalisasi kebijakan The Fed akan dilakukan bertahap dengan tiga langkah: 1. Penyesuaian tarif untuk menguras kelebihan likuiditas. Setelah FOMC meeting bulan Juni, the Fed meng- umumkan kenaikan interest rate on excess reserves (IOER) dan overnight reverse repurchase rate (ON RRP) sebanyak 5 bps. 2. Mengurangi quantitative easing (tapering). CMB International memperkirakan the Fed akan mengeluar- kan panduan terkait pengurangan pembelian obligasi pada awal September, dengan mulai untuk melakukan tapering pada tahun depan dan mengakhiri program quantitative easing pada akhir 2022. 3. Kenaikan suku bunga. Saat ini, dot plot mengisyaratkan 2 kali kenaikan suku bunga pada tahun 2023. The Fed kemungkinan akan menerapkan strategi “slow-start, fast-acceleration” yaitu menunda untuk kenaikan suku bunga pertama untuk mendorong pemulihan ekonomi yang lebih luas, pemulihan pasar tenaga kerja dan kemudian menaikkan suku bunga relatif lebih cepat untuk mengekang inflasi.
The hawkish tone of the Federal Reserve during the FOMC meeting in June made economists start to consider and estimate when the Fed will discuss plans to tighten monetary policies, starting from tapering to increased interest rates.
With the acceleration of vaccination programs that gives the chance of a broader reopening of the economy, the concern over the rise of inflation and tightening of monetary policies begin to surface.
The Fed has multiple mandates which need to balance out the employment market and inflation. In Mei, Personal Consumption Expenditure (PCE), an inflation indicator commonly used by the Fed was over the target of 2%, being 3.4% and is at its second month of being above 3.0%. Meanwhile, non-farm payroll is below expectation in April and May. However, with the ending of the cash transfer program and opening of schools, employment in the non-farming sectors may surge during the third quarter.
According to an economist at CMB International, the normalization of the Fed’s monetary policies will be done in three stages: 1. Adjustment of taris to reduce excess liquidity. After the FOMC meeting in June, the Fed announces the increase of interest rate on excess reserves (IOER) and overnight reverse repurchase rate (ON RRP) by 5 bps.
2. Reduction of quantitative easing (tapering). CMB International predicts that the Fed will issue a guideline on the reduction of obligation spending on early September, by starting to conduct tapering next year and ending the quantitative easing program at the end of 2022. 3. Increase of interest rate. Currently, dot plot hint 2 increases to interest rates on 2023. The Fed will likely apply the “slow-start, fast-acceleration” strategy which delays the first interest rate increase to encourage broader economic recovery and also the employment market and then increasing the interest rate quicker to restrict inflation.
Percepatan program vaksinasi membuka peluang untuk ekonomi terus dibuka lebih luas dan kekhawatiran meningkatnya inflasi, pengetatan kebijakan moneter mulai
muncul ke permukaan.
Acceleration of vaccination programs that gives the chance of a broader reopening of the economy, the concern over the rise of inflation and tightening of monetary
policies begin to surface.
Market Perspective - Wealth Management Newsletter | Juli 2021 | 08
“The Fed dot plot” mengisyaratkan kenaikan suku bunga lebih cepat di 2023 "The Fed dot plot" hints at rate hikes more faster in 2023
Dampak tapering the Fed pada pasar keuangan Eects of the Fed’s tapering on financial markets
Sumber: Bloomberg
Sumber: Bloomberg, CMBIS
Dengan sudah adanya sinyal untuk The Fed akan melakukan tapering dalam waktu dekat, kita lihat kembali apa yang pernah terjadi ketika the Fed melakukan pengetatan selama 2014 hingga 2019. 1. Pada Mei hingga Juni 2013, Ketua The Fed Ben Bernanke pertama kali membahas quantitative easing (QE) tapering. 2. The Fed resmi mengumumkan keputusannya untuk memulai tapering pada Januari 2014. 3. Program tapering dimulai pada Januari 2014 dan program QE berakhir pada Oktober 2014. 4. Memasuki siklus kenaikan suku bunga dimana suku bunga acuan naik 2,25% selama Desember 2015 hingga Desember 2018.
Des 2013: The Fed resmi mengumumkan tapering mulai Jan 2014 Dec 2014: The Fed ocially announces tapering starting Jan 2014
Mei 2013: Ketua The Fed Ben Bernanke menyebutkan tapering, menyebabkan “taper tantrum” Mei 2013: Fed Chairman Ben Bernanke said tapering causes a "taper tantrums"
Jan-Okt 2014 taper
Dec 2015 - Dec 2018 : Increased in interest rate by 2,25%
Okt 2017 – Agt 2019 Pengurangan neraca
Oct 2017 - Agt 2019: Balance Reduction
Siklus Pengetatan Kebijakan Moneter the Fed pada 2014-2018 The Fed's monetary policy tightening cycle in 2014-2018
With the Fed’s signal of tapering in the near future, we take a look at what happened when the Fed conducted policy tightening from 2014-2019.
1. On May-June 2013, Fed Chairman Ben Bernanke discussed quantitative easing (QE) tapering for the first time. 2. The Fed ocially announced its decisions to start tapering on January 2014. 3. The tapering program started on January 2014 and the QE program ended on October 2014. 4. Entered the increased interest rate cycle where interest rates rose by 2.25% from December 2015 to December 2018.
Market Perspective - Wealth Management Newsletter | Juli 2021 | 09
Kapitalisasi besar vs kapitalisasi sedang-kecil Large vs small-medium capitalization Ada pergeseran minat dari kapitalisasi pasar kecil ke besar ketika tapering berlangsung. Saham berkapi- talisasi kecil mengungguli saham berkapitalisasi besar di pasar domestik sebelum penurunan selama Mei-Desember 2013, namun kemudian saham dengan kapitalisasi besar unggul cukup signifikan ketika tapering sedang terjadi.
Sumber: Bloomberg, CMBIS
Volatilitas pasar saham meningkat Stock market volatility will rise Pidato Kepala the Fed Ben Bernanke di depan Kongres yang mengisyaratkan rencana tapering, memicu aksi jual pada pasar saham, yang dikenal sebagai “taper tantrum”. Pasar saham Amerika Serikat mengalami aksi jual singkat sebelum akhirnya melanjutkan tren kenaikannya hingga The Fed secara resmi mengumumkan tapering pada Desember 2013. Ketika tapering berlangsung, Januari-Oktober 2014, S&P 500 terus mengalami kenaikan. Sementara IHSG mengalami koreksi yang cukup dalam dengan volatilitas yang meningkat pasca rencana tapering hingga pengumuman resmi dan rebound tinggi hingga mencapai posisi sebelum taper tantrum selama tapering berlangsung.
Pergerakan IHSG dan S&P 500 sebelum dan ketika tapering JCI and S&P 500 movements before and during tapering
Mei 2013: the Fed mengisyaratkan kemungkinan tapering
May 2013: The Fed hints possibility to tapering
Tapering
Fed Chairman Ben Bernanke’s speech in front of the Congress to signal tapering plans started a sell action on the stock market, known as the "taper tantrum". The U.S stock market experience a brief sell period before continuing its rising trend until the Fed ocially announced the tapering on December 2013. During the tapering, on January-October 2014, S&P 500 continued to rise while the IHSG experienced a considerably sharp correction in the midst of increased volatility post-tapering until the ocial announcement and high…