ETNOBOTANI TUMBUHAN OBAT DI DESA NEGLASARI …

85
ETNOBOTANI TUMBUHAN OBAT DI DESA NEGLASARI KECAMATAN NYALINDUNG KABUPATEN SUKABUMI PROVINSI JAWA BARAT ELLYF AULANA YATIAS JURUSAN BIOLOGI FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 2015 M / 1436 H

Transcript of ETNOBOTANI TUMBUHAN OBAT DI DESA NEGLASARI …

Page 1: ETNOBOTANI TUMBUHAN OBAT DI DESA NEGLASARI …

ETNOBOTANI TUMBUHAN OBAT DI DESA NEGLASARI

KECAMATAN NYALINDUNG KABUPATEN SUKABUMI

PROVINSI JAWA BARAT

ELLYF AULANA YATIAS

JURUSAN BIOLOGI

FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

2015 M / 1436 H

Page 2: ETNOBOTANI TUMBUHAN OBAT DI DESA NEGLASARI …
Page 3: ETNOBOTANI TUMBUHAN OBAT DI DESA NEGLASARI …
Page 4: ETNOBOTANI TUMBUHAN OBAT DI DESA NEGLASARI …

PERNYATAAN

DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI INI BENAR-

BENAR HASIL KARYA SENDIRI YANG BELUM PERNAH DIAJUKAN

SEBAGAI SKRIPSI ATAU KARYA ILMIAH PADA PERGURUAN TINGGI

ATAU LEMBAGA MANAPUN

Jakarta, Februari 2015

Ellyf Aulana Yatias

NIM. 1110095000028

Page 5: ETNOBOTANI TUMBUHAN OBAT DI DESA NEGLASARI …

ABSTRACT

Ellyf Aulana Yatias. Ethnobotany of Medicinal Plants in Neglasari Village

Nyalindung Distric Sukabumi Regency East Java Province. Essay.

Department of Biology. Faculty of Science and Technology. Syarif

Hidayatullah State Islamic University. Jakarta. 2015.

The use of plants as traditional medicine ( herbs ) has been known for a

long time by the villagers Neglasari . This process has been passed down from

generation to generation . But today there is a tendency of this tradition is

becoming obsolete , therefore it is very important for us to dig up the knowledge

of plant species used as medicine by the people Neglasari . This study aims to

determine the types of medicinal plants , plant parts used , disease treated group ,

and the way of processing . This research was carried out for 5 weeks in June and

July 2014 in four hamlets in Neglasari , namely : Hamlet Baros I, Hamlet Baros II

, Cijureuy Hamlet , and Hamlet Cibodas . This research is descriptive exploratory

survey techniques , semi-structured interviews and questionnaires . The sample of

100 respondents include paraji and communities considered to know about

medicinal plants . Based on the research results , it is known that there are 64

species of plants used as medicine . Plants are the most widely used as a

traditional medicine by Pamekasan community dominated by species of the

family Zingiberaceae . Medicinal plants consists of 7 habitus namely shrubs ( 20

species ) , trees ( 14 species ) , herbs ( 16 species ) , shrubs ( 7 types ) , climbing

plants ( 5 types ) , grass ( 1 species ) , and lianas ( 1 species ) . Medicinal plants

used Neglasari rural communities can treat four groups of diseases with the plant

part used is the leaves ( 33 species ) , fruit ( 22 types ) , roots ( 10 species ) , seeds

( 7 types ) , stem ( 6 types ) , rhizome ( 6 types ) , flowers ( 4 types ) , gum ( 2

types ) , bamboo shoots ( 1 species ) , skin ( 1 species ) , sticks ( 1 species ) ,

tubers ( 1 species ) , and the entire section ( 9 types ) . Based on the processing of

medicinal plants is divided into 9 , which is used in a way eaten directly ( 20 types

) , boiled ( 50 types ) , crushed ( 20 types ) , shredded ( 5 types ) , ground ( 29

species ) , smeared ( 1 species ) , placed on the organ ( 1 species ) , heated ( 6

types ) , and dropped ( 1 species ) .

Keywords: Ethnobotany, Medicinal plants, Neglasari village

Page 6: ETNOBOTANI TUMBUHAN OBAT DI DESA NEGLASARI …

ABSTRAK

Ellyf Aulana Yatias. Etnobotani Tumbuhan Obat di Desa Neglasari

Kecamatan Nyalindung Kabupaten Sukabumi Provinsi Jawa Barat. Skripsi.

Jurusan Biologi. Fakultas Sains dan Teknologi. Universitas Islam Negeri

Syarif Hidayatullah. Jakarta. 2015.

Pemanfaatan tumbuhan sebagai obat tradisional (herbal) telah dikenal

sejak lama oleh masyarakat desa Neglasari. Proses ini sudah diwariskan secara

turun temurun dari generasi ke generasi. Namun saat ini ada kecenderungan

tradisi ini mulai ditinggalkan, oleh karena itu sangat penting bagi kita untuk

menggali kembali pengetahuan tentang jenis tumbuhan yang dimanfaatkan

sebagai obat oleh masyarakat Neglasari. Penelitian ini bertujuan untuk

mengetahui jenis-jenis tumbuhan obat, bagian tumbuhan yang digunakan,

kelompok penyakit yang diobati, dan cara pengolahannya. Penelitian ini

dilaksanakan selama 5 minggu pada bulan Juni hingga Juli 2014 di 4 dusun di

Desa Neglasari, yaitu: Dusun Baros I, Dusun Baros II, Dusun Cijureuy, dan

Dusun Cibodas. Jenis penelitian ini adalah deskriptif eksploratif dengan teknik

survei, wawancara semi terstruktur dan kuisioner. Sampel berjumlah 100

responden meliputi paraji dan masyarakat yang dianggap mengetahui mengenai

tumbuhan obat. Berdasarkan hasil penelitian, diketahui terdapat 64 jenis

tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai obat. Tumbuhan yang paling banyak

dimanfaatkan sebagai bahan obat tradisional oleh masyarakat Pamekasan

didominasi oleh jenis tumbuhan dari famili Zingiberaceae. Tumbuhan obat terdiri

dari 7 habitus yaitu perdu (20 jenis), pohon (14 jenis), herba (16 jenis), semak (7

jenis), tumbuhan memanjat (5 jenis), rumput (1 jenis), dan liana (1 jenis).

Tumbuhan obat yang digunakan masyarakat desa Neglasari dapat mengobati 4

kelompok jenis penyakit dengan bagian tumbuhan yang digunakan yaitu daun (33

jenis), buah (22 jenis), akar (10 jenis), biji (7 jenis), batang (6 jenis), rimpang (6

jenis), bunga (4 jenis), getah (2 jenis), rebung (1 jenis), kulit (1 jenis), ranting (1

jenis), umbi (1 jenis), dan seluruh bagian (9 jenis). Berdasarkan pengolahannya

tumbuhan obat dibagi menjadi 9, yaitu dimanfaatkan dengan cara dimakan secara

langsung (20 jenis), direbus (50 jenis), dilumat (20 jenis), diparut (5 jenis),

ditumbuk (29 jenis), dioles (1 jenis), diletakkan pada organ (1 jenis), dipanaskan

(6 jenis), dan diteteskan (1 jenis).

Kata Kunci: Etnobotani, Tumbuhan Obat, Desa Neglasari

Page 7: ETNOBOTANI TUMBUHAN OBAT DI DESA NEGLASARI …

i

KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmaanirrahiim

Alhamdulillahirobbil’alamin, penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang

selalu melimpahkan rahmat taufik dan hidayahNya, sehingga penyusunan skripsi

yang berjudul “Etnobotani Tumbuhan Obat di Desa Neglasari Kecamatan

Nyalindung Kabupaten Sukabumi Provinsi Jawa Barat” dapat terselesaikan

dengan baik. Sholawat serta salam selalu teriring kepada nabi Muhammad SAW

atas bimbingan yang diberikan kepada pengikut-pengikutnya, amin.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa penyusunan tugas akhir ini dapat

terselesaikan berkat bantuan, dukungan, bimbingan, serta arahan dari banyak

pihak. Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih tak terhingga kepada:

1. Dr. Agus Salim, M.Si selaku Dekan Fakultas Sains dan Teknologi

Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Dr. Dasumiati, M.Si selaku Kepala Jurusan Biologi, Fakultas Sains dan

Teknologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sekaligus sebagai pembimbing

II yang telah memberikan pengarahan dan kesempatan dalam pelaksanaan

penelitian.

3. Priyanti, M.Si selaku pembimbing I yang telah meluangkan waktu dan

pikiran untuk membimbing dan mengarahkan penulis selama penyusunan

laporan penelitian.

4. Bapak Asep Saefudin, selaku Kepala Desa Neglasari yang telah

mengizinkan penulis melaksanakan penelitian.

Page 8: ETNOBOTANI TUMBUHAN OBAT DI DESA NEGLASARI …

ii

5. Para narasumber dan seluruh warga desa Neglasari yang telah memberikan

banyak informasi kepada penulis.

6. Ayahanda Askad dan Ibunda Nurhayati tersayang, serta adikku Lifya

Aulana Yatias, yang tak pernah henti-hentinya memberi semangat, doa,

dan perhatian baik secara material maupun moral sampai saat ini.

7. Ridlo Mahbub yang selalu memberi semangat dan dukungan kepada

penulis.

8. Ai Siti Nurhayati, Ega Mulya Putri, Mega Indriyanti Nuris, dan Rachma

Fauziah yang telah memberi motivasi hingga proses penyelesaian laporan

penelitian ini.

9. Segenap dosen Biologi yang telah memberi banyak ilmu kepada penulis.

10. Mahasiswa/i Biologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, khususnya

Angkatan 2010, yang telah memberikan semangat seperjuangan dalam

penyelesaian laporan penelitian.

11. Semua pihak yang telah membantu hingga tersusunnya karya ini yang

tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.

Semoga Allah SWT memberikan balasan atas kebaikan yang telah

diberikan kepada penulis. Penulis menyadari makalah ini masih jauh dari

sempurna oleh karena itu, kritik dan saran yang sifatnya konstruktif sangat

diharapkan oleh penulis. Akhirnya penulis berharap semoga skripsi ini bermanfaat

bagi semua pihak yang berkompeten. Amin.

Jakarta, Februari 2015

Penulis

Page 9: ETNOBOTANI TUMBUHAN OBAT DI DESA NEGLASARI …

iii

DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR ................................................................................. i

DAFTAR ISI ................................................................................................ iii

DAFTAR GAMBAR ................................................................................... vi

DAFTAR TABEL ........................................................................................ vii

DAFTAR LAMPIRAN................................................................................ Viii

BAB I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang ..................................................................... 1

1.2 Rumusan Masalah................................................................ 4

1.3 Tujuan .................................................................................. 4

1.4 Manfaat ................................................................................ 4

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Etnobotani ............................................................................ 6

2.2 Pelayanan Kesehatan. .......................................................... 11

2.3 Tumbuhan Obat ................................................................... 11

2.4

2.5

2.6

2.7

Pengetahuan Tradisional dalam Pemanfaatan Tumbuhan

Obat .....................................................................................

Tumbuhan Obat Keluarga (TOGA)………………………..

Profil Desa Neglasari………………………………………

Potensi Pemanfaatan Tumbuhan Obat di Desa Neglasari…

15

16

17

19

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Lokasi dan Waktu ................................................................ 20

3.2 Alat dan Bahan .................................................................... 20

3.3 Cara Kerja ............................................................................ 21

3.3.1 Wawancara .............................................................. 21

Page 10: ETNOBOTANI TUMBUHAN OBAT DI DESA NEGLASARI …

iv

3.3.2 Observasi dan Identifikasi....................................... 21

3.3.3 Analisis Data ........................................................... 22

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Karakteristik Responden. .................................................... 24

4.1.1 Tingkat Pendidikan. .................................................. 24

4.1.2 Mata Pencaharian. .................................................... 25

4.1.3 Jenis Kelamin ........................................................... 27

4.1.4 Karakteristik Umur ................................................... 28

4.2

4.3

Pengetahuan Masyarakat Desa Neglasari tentang

Tumbuhan Obat. ..................................................................

Pemanfaatan Tumbuhan Obat……………………………

29

31

4.3.1 Pemanfaatan Tumbuhan Obat Berdasarkan

Jenisnya. ....................................................................

31

4.3.2 Pemanfaatan Tumbuhan Obat Berdasarkan Famili. . 33

4.3.3 Pemanfaatan Tumbuhan Obat Berdasarkan

Habitusnya ................................................................

37

4.3.4 Pemanfaatan Tumbuhan Obat Berdasarkan Bagian

yang Digunakan. .......................................................

39

4.3.5

4.3.6

Pemanfaatan Tumbuhan Obat Berdasarkan Jenis

Penyakit ....................................................................

Pemanfaatan Tumbuhan Obat Berdasarkan Cara

Pengolahan ................................................................

42

44

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan .......................................................................... 49

5.2 Saran .................................................................................... 49

DAFTAR PUSTAKA .................................................................................. 50

LAMPIRAN ................................................................................................. 57

Page 11: ETNOBOTANI TUMBUHAN OBAT DI DESA NEGLASARI …

vi

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 1. Peta desa Neglasari kecamatan Nyalindung kabupaten

Sukabumi .....................................................................................

20

Gambar 2. Persentase tipologi responden berdasarkan tingkat pendidikan .. 24

Gambar 3. Persentase tipologi responden berdasarkan mata pencaharian .... 26

Gambar 4. Persentase tipologi responden berdasarkan jenis kelamin. .......... 27

Gambar 5. Persentase tipologi responden berdasarkan umur ....................... 28

Gambar 6. Persentase pengguna tumbuhan obat dari masing-masing

dusun ...........................................................................................

30

Gambar 7. Persentase jumlah jenis tumbuhan obat berdasarkan famili ........ 34

Gambar 8. Persentase keanekaragaman tumbuhan berdasarkan habitus ....... 38

Gambar 9. Persentase jumlah jenis tumbuhan obat berdasarkan bagian

yang digunakan ...........................................................................

39

Gambar 10. Persentase jenis penyakit yang dapat diobati menggunakan

tumbuhan obat. ............................................................................

43

Gambar 11. Persentase pengelompokan tumbuhan berdasarkan cara

pengolahan……........................................................................

45

Page 12: ETNOBOTANI TUMBUHAN OBAT DI DESA NEGLASARI …

vii

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 1. Sepuluh tertinggi nilai guna tumbuhan berdasarkan jenis ................................ 32

Page 13: ETNOBOTANI TUMBUHAN OBAT DI DESA NEGLASARI …

viii

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

Lampiran 1. Kuisioner responden ......................................................................................... 57

Lampiran 2. Kuisioner paraji…………. ............................................................................... 59

Lampiran 3. Daftar jenis tumbuhan obat masyarakat desa

Neglasari .......................................................................................................... 61

Lampiran 4. Nilai guna jenis tumbuhan obat (UVs) ............................................................. 70

Lampiran 5. Gambar jenis tumbuhan obat ............................................................................ 71

Page 14: ETNOBOTANI TUMBUHAN OBAT DI DESA NEGLASARI …

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Bangsa Indonesia telah lama mengenal dan menggunakan tumbuhan

berkhasiat obat sebagai salah satu upaya dalam menanggulangi masalah

kesehatan. Penggunaan bahan alam, baik sebagai obat maupun tujuan lain

cenderung meningkat, terlebih dengan adanya isu back to nature serta krisis

berkepanjangan yang mengakibatkan turunnya daya beli masyarakat. Obat

tradisional (obat herbal) banyak digunakan masyarakat menengah ke bawah

terutama dalam upaya pencegahan penyakit (preventif), penyembuhan (kuratif),

pemulihan kesehatan (rehabilitatif) serta peningkatan kesehatan (promotif)

(Prananingrum, 2007).

Pengetahuan, pengalaman, dan keterampilan menggunakan tumbuhan obat

diwariskan secara turun temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Penggunaan bahan alam sebagai obat tradisional di Indonesia telah dilakukan oleh

nenek moyang kita sejak berabad-abad yang lalu, hal ini terbukti dari adanya

naskah lama pada daun lontar Husodo (Jawa), Usada (Bali), Lontarak pabbura

(Sulawesi Selatan), dokumen Serat Primbon Jampi, Serat Racikan Boreh Wulang

Dalem dan relief candi Borobudur yang menggambarkan orang sedang meracik

obat (jamu) dengan tumbuhan sebagai bahan bakunya (Wasito, 2011).

Pembangunan ekonomi baik di negara maju maupun negara yang sedang

berkembang sangat bergantung pada sumber daya alam dan produktivitas sistem

Page 15: ETNOBOTANI TUMBUHAN OBAT DI DESA NEGLASARI …

2

alami. Salah satu ciri budaya masyarakat di negara berkembang adalah masih

dominannya unsur-unsur tradisional dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu

aktivitas tersebut adalah penggunaan tumbuhan sebagai bahan obat oleh berbagai

suku bangsa atau sekelompok masyarakat yang tinggal di pedalaman (Hufschmidt

et al., 1987).

Pemanfaatan tumbuhan sebagai bahan ramuan obat tradisional oleh

sebagian besar masyarakat adalah salah satu tradisi dan kepercayaan yang sudah

dilakukan secara turun temurun. Tradisi pemanfaatan tersebut sebagian sudah

dibuktikan kebenarannya secara ilmiah, namun masih banyak lagi pemanfaatan

yang sifatnya tradisional belum diungkapkan (Setyowati dan Wardah, 1993).

Pekarangan rumah penduduk di pedesaan biasanya ditanami dengan

beranekaragam jenis tumbuhan musiman maupun tumbuhan keras untuk

keperluan sehari-hari (Danoesatro, 1980). Pekarangan rumah sering juga disebut

sebagai lumbung hidup, warung hidup atau apotik hidup (Giono, 2004). Bibit

yang ditanam sebagai tumbuhan obat keluarga biasanya didapatkan dari

masyarakat lain yang juga menanam tumbuhan obat keluarga.

Saat ini, tumbuhan obat di Indonesia mulai dikhawatirkan hilang karena

banyak yang dieksploitasi oleh peneliti asing dan di dalam negeri sendiri

pengobatan tradisional asli Indonesia dianggap kuno, kampungan dan tidak ilmiah

karena tidak dilakukan uji klinis. Pengobatan tradisional di beberapa negara Asia

seperti Singapura, Filipina dan Thailand telah berkembang dan maju, sedangkan

di Indonesia pengobatan tradisional tertinggal jauh. Hal ini ditunjukkan dalam

penulisan pengenalan jenis tumbuhan obat dan makalah ilmiah internasional,

Page 16: ETNOBOTANI TUMBUHAN OBAT DI DESA NEGLASARI …

3

Indonesia hanya menyumbang karya ilmiah 0,0012% jauh lebih kecil dari

Singapura, sedangkan Jepang menyumbang 8%, oleh karena itu dalam rangka

pemanfaatan tumbuhan obat dan peningkatan pelayanan kesehatan masyarakat,

beberapa tumbuhan obat yang tumbuh di berbagai daerah perlu diperkenalkan

kepada masyarakat (Wijayakusuma, 2000).

Indonesia yang dikenal sebagai negara mega diversity tidak hanya kaya

akan keanekaragaman flora, fauna dan ekosistemnya tetapi juga memiliki

keanekaragaman suku atau etnis dengan pengetahuan tradisional dan budaya

berbeda dan unik yang tersebar dari Sabang hingga Merauke. Manusia dengan

lingkungan sekitarnya termasuk dengan sumber daya nabati (tumbuhan)

merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.

Salah satu contoh masyarakat tradisional Indonesia yang masih

mempertahankan adat dan tradisi dalam penggunaan sumber daya alam berupa

tumbuhan adalah masyarakat Desa Neglasari Kecamatan Nyalindung Kabupaten

Sukabumi. Lokasi desa yang cukup jauh dari pusat kota serta jarak tempuh yang

panjang antara desa dengan balai kesehatan seperti rumah sakit maupun

Puskesmas membuat sebagian besar masyarakat desa tersebut masih bertahan

mempercayakan pengobatan terhadap paraji di desa tersebut. Hal tersebut juga

yang membuat masyarakat masih memanfaatkan tumbuhan di lingkungan

sekitarnya sebagai alternatif pengobatan, bahkan beberapa keluarga di Desa

Neglasari didapati membudidayakan tumbuhan obat di pekarangan rumahnya.

Masyarakat suku Dayak Iban di Desa Tanjung Sari Kecamatan Ketungau Tengah

Kabupaten Sintang, dimana masyarakat masih memanfaatkan tumbuhan obat

Page 17: ETNOBOTANI TUMBUHAN OBAT DI DESA NEGLASARI …

4

untuk kebutuhan sendiri yang diwariskan secara turun temurun (Meliki et al.,

2013).

Saat ini masyarakat sudah jarang menggunakan tumbuhan secara langsung

untuk pengobatan. Sehingga masyarakat tidak mengenali tumbuhan-tumbuhan

yang bermanfaat untuk kesehatan. Oleh karena itu tumbuhan-tumbuhan berkhasiat

obat yang ada di sekitar masyarakat perlu digali kembali dan dikembangkan.

Penelitian dan pengembangan pengetahuan etnobotani penting dilakukan sebelum

jenis-jenis tersebut punah (Mackinnon et al., 2000). Inventarisasi jenis tumbuhan

obat, potensi pemanfaatannya sebagai tumbuhan obat, pengolahan dan cara

memperoleh tumbuhan obat di masyarakat Desa Neglasari belum pernah

dilakukan, oleh karena itu penelitian ini diharapkan dapat mengungkap

pengetahuan masyarakat Desa Neglasari dalam memanfaatkan tumbuhan sebagai

obat tradisional.

1.2. Rumusan Masalah

Tumbuhan apa sajakah yang digunakan sebagai obat oleh masyarakat Desa

Neglasari Kecamatan Nyalindung Kabupaten Sukabumi provinsi Jawa Barat?

1.3. Tujuan

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis-jenis tumbuhan

obat, bagian tumbuhan yang digunakan, kelompok penyakit yang dapat diobati,

dan cara pengolahannya.

1.4. Manfaat

Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai sumber data dan

informasi mengenai pengetahuan masyarakat Desa Neglasari Kecamatan

Page 18: ETNOBOTANI TUMBUHAN OBAT DI DESA NEGLASARI …

5

Nyalindung Kabupaten Sukabumi Jawa Barat terhadap tumbuhan obat, sehingga

dapat dikembangkan usaha budidaya serta pelestarian tumbuhan obat guna

membangun masyarakat yang sehat, mandiri, dan sejahtera.

Page 19: ETNOBOTANI TUMBUHAN OBAT DI DESA NEGLASARI …

6

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Etnobotani

Etnobotani dewasa ini merupakan istilah popular karena ini adalah salah

satu cara pandang orang terhadap sekitar. Apabila digunakan di awal nama satu

disiplin ilmu seperti botani atau farmakologi, kalimat ini menunjukkan bahwa

peneliti sedang meneliti persepsi masyarakat tradisional tentang pengetahuan

budaya dan teknologi. Etnobotani sebagai salah satu jembatan pengetahuan

tradisional dan modern pada saat ini menjadi topik yang berkembang.

Etnobotani tumbuhan obat merupakan salah satu bentuk interaksi antara

masyarakat dengan lingkungan alamnya. Interaksi pada setiap suku memiliki

karakteristik tersendiri dan bergantung pada karakteristik wilayah dan potensi

kekayaan tumbuhan yang ada. Pengkajian tumbuhan obat menurut etnobotani

suku tertentu dimaksudkan untuk mendokumentasikan potensi sumberdaya

tumbuhan obat dan merupakan upaya untuk mengembangkan dan

melestarikannya (Hastuti et al, 2002).

Istilah etnobotani pertama kalinya diusulkan oleh Harsberger pada tahun

1985. Etnobotani menurut kamus besar bahasa Indonesia adalah ilmu botani

mengenai pemanfaatan tumbuh-tumbuhan dalam keperluan kehidupan sehari-hari

dan adat suku bangsa. Etnobotani berasal dari dua kata Yunani yaitu Ethnos dan

botany. Etno berasal dari kata Ethnos yang berarti memberi ciri pada kelompok

dari suatu populasi dengan latar belakang yang sama baik dari adat istiadat,

Page 20: ETNOBOTANI TUMBUHAN OBAT DI DESA NEGLASARI …

7

karakteristik, bahasa dan sejarahnya, sedangkan botany adalah ilmu yang

mempelajari tentang tumbuhan. Dengan demikian etnobotani berarti kajian

interaksi antara manusia dengan tumbuhan atau dapat diartikan sebagai studi

mengenai pemanfaatan tumbuhan pada suatu budaya tertentu (Martin, 1998).

Pengertian etnobotani memiliki arti yang bervariasi dikalangan para ahli

etnobotani, diantaranya: 1) Hough (1898) diacu dalam Soekarman (1992),

etnobotani adalah ilmu yang mempelajari tumbuh-tumbuhan dalam hubungannya

dengan budaya manusia; 2) Jones (1941) diacu dalam Soekarman (1992),

etnobotani adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara manusia yang

primitive dengan tumbuh-tumbuhan; 3) Schules (1967) diacu dalam Soekarman

(1992), etnobotani adalah ilmu yang memepelajari hubungan manusia dengan

vegetasi di sekitarnya; 4) Ford (1980) diacu dalam Soekarman (1992), etnobotani

adalah ilmu yangmempelajari penempatan tumbuhan secara keseluruhan di dalam

budaya dan interaksi langsung manusia dengan tumbuhan; 5) Sheng-Ji et al.

(1990) diacu dalam Soekarman (1992), etnobotani adalah ilmu yang mempelajari

keseluruhan hubungan langsung antara manusia dan tumbuhan untuk apa saja

kegunaannya. Dari uraian tersebut dapat disimpulkan secara singkat bahwa

etnobotani merupakan ilmu yang mempelajari hubungan langsung antara manusia

dengan tumbuhan dalam pemanfaatannya secara tradisional.

Masyarakat adalah sekelompok orang yang hidup bersama dan

menghasilkan kebudayaan. Struktur masyarakat terdiri dari beberapa unsur yaitu

manusia yang hidup bersama, berkumpul dalam waktu yang cukup lama sehingga

terjadi sistem komunikasi dan timbul peraturan yang mengatur hubungan manusia

Page 21: ETNOBOTANI TUMBUHAN OBAT DI DESA NEGLASARI …

8

dengan kelompok tersebut sadar bahwa mereka merupakan suatu kesatuan dan

satu sistem hidup bersama sehingga menimbulkan kebudayaan. Masyarakat

digolongkan menjadi dua yaitu masyarakat desa dan masyarakat kota. Masyarakat

desa adalah kelompok khusus dari orang-orang yang tinggal dalam wilayah

tertentu, memiliki kebudayaan dan gaya hidup yang sama, sudah sebagai suatu

kesatuan dan dapat bertindak secara kolektif dalam usaha mereka mencapai

tujuan. Sistem kehidupan masyarakat desa biasanya berkelompok, atas dasar

sistem berkeluarga (Soekanto, 1982).

Masyarakat desa di Indonesia dapat dipandang sebagai suatu bentuk

masyarakat yang tingkat perekonomiannya lemah sehingga harus ditingkatkan

dengan berbagai cara (Sajogyo, 1978). Ciri-ciri kehidupan masyarakat desa itu

salah satunya yaitu selalu menerapkan aktivitas tolong menolong yang tumbuh

dalam berbagai macam bentuk. Disamping aktivitas tolong menolong antara

warga desa dalam berbagai macam lapangan aktivitas-aktivitas sosial, baik yang

berdasarkan hubungan tetangga, ataupun hubungan kekerabatan atau lain-lain

hubungan yang berdasarkan efisiensi dan sifat praktis, ada pula aktivitas

bekerjasama lainnya yang secara popular disebut gotong royong.

Dasar-dasar dari aktivitas tolong menolong dan gotong royong sebagai

suatu aktivitas dalam masyarakat desa pertanian telah beberapa kali dianalisa oleh

ahli-ahli ilmu sosial. Selain tolong menolong dan gotong royong, musyawarah

pun merupakan salah satu aktivitas yang ada pada masyarakat pedesaan, artinya

yaitu bahwa keputusan-keputusan yang diambil dalam rapat tidak berdasarkan

Page 22: ETNOBOTANI TUMBUHAN OBAT DI DESA NEGLASARI …

9

suatu mayoritas yang menganut suatu pendirian tertentu melainkan seluruh rapat

seolah-olah menjadi suatu badan (Sajogyo, 1978).

Kehidupan masyarakat tradisional adalah kehidupan yang harmoni dengan

alam sekitar. Masyarakat modern dibentuk oleh jalan pikiran tersendiri. Jalan

pikiran tersebut menyatakan bahwa manusia mempunyai hak untuk memanipulasi

dan mengubah alam meskipun dewasa ini masyarakat modern telah meningkat

kepeduliannya terhadap lingkungan dan alam sekitar (Kusumaatmaja, 1995).

Etnobotani adalah cabang ilmu pengetahuan yang mendalami tentang

persepsi dan konsepsi masyarakat tentang sumber daya nabati di lingkungannya.

Dalam hal ini adalah upaya untuk mempelajari kelompok masyarakat dalam

mengatur sistem pengetahuan anggotanya menghadapi tetumbuhan dalam

lingkungannya, yang digunakan tidak saja untuk keperluan ekonomi tetapi juga

untuk keperluan spiritual dan nilai budaya lainnya. Dengan demikian termasuk

kedalamnya adalah pemanfaatan tumbuhan oleh penduduk setempat atau suku

bangsa tertentu. Pemanfaatan yang dimaksud disini adalah pemanfaatan baik

sebagai bahan obat, sumber pangan, dan sumber kebutuhan hidup manusia

lainnya. Disiplin ilmu lainnya yang terkait dalam penelitian etnobotani adalah

antara lain linguistik, antropologi, sejarah, pertanian, kedokteran, farmasi dan

lingkungan (Suwahyono et al., 1992).

Empat usaha utama yang berkaitan erat dengan etnobotani, yaitu: 1)

pendokumentasian pengetahuan etnobotani tradisional; 2) penilaian kuantitatif

tentang pemanfaatan dan pengelolaan sumber-sumber botani; 3) pendugaan

tentang keuntungan yang dapat diperoleh dari tumbuhan, untuk keperluan sendiri

Page 23: ETNOBOTANI TUMBUHAN OBAT DI DESA NEGLASARI …

10

maupun untuk tujuan komersial; dan 4) proyek yang bermanfaat untuk

memaksimumkan nilai yang dapat diperoleh masyarakat lokal dari pengetahuan

ekologi dan sumber-sumber ekologi (Martin, 1998).

Istilah-istilah yang berkaitan dengan etnobotani secara lebih lanjut, yaitu :

1) Masyarakat pribumi adalah penduduk satu kawasan yang telah dikaji dan

mendapat pengetahuan ekologi mereka secara turun menurun dalam budaya

mereka sendiri; 2) Penyelidik/peneliti adalah orang yang biasanya terlatih pada

sebuah perguruan tinggi, yang mendokumentasikan pengetahuan tradisional ini

dan bekerjasama dengan masyarakat pribumi; 3) Pengetahuan tradisional atau

pengetahuan lokal adalah apa yang diketahui oleh masyarakat mengenai alam

sekitarnya (Martin, 1998).

Dokumentasi sebagai salah satu usaha utama dalam etnobotani merupakan

pengumpulan bukti-bukti dan keterangan-keterangan. Dokumentasi dapat berupa

dokumen tertulis, rekaman foto, majalah, film dokumenter. Dokumentasi

tumbuhan dilakukan juga dengan cara pengumpulan spesimen. Baru sekitar 3-4

% tumbuhan yang sudah dibudidayakan, sisanya masih tumbuh liar di hutan-

hutan. Disinilah pentingnya etnobotani guna menggali pengetahuan tradisional

pemanfaatan tumbuhan oleh penduduk setempat. Pengetahuan ini sangat penting

dalam mengungkapkan tumbuhan liar di hutan akan kegunaannya bagi manusia

dalam usaha menanggulangi meningkatnya keperluan akan sandang, papan, dan

pangan yang berkaitan dengan jumlah penduduk di Indonesia (Riswan dalam

Soekarman 1992).

Page 24: ETNOBOTANI TUMBUHAN OBAT DI DESA NEGLASARI …

11

2.2. Tumbuhan Obat

Pengertian Obat menurut peraturan Menteri Kesehatan RI.

No.949/MenKes/Per/VI/2000, adalah sediaan atau paduan-paduan yang siap

digunakan untuk mempengaruhi atau menyelidiki secara fisiologis atau keadaan

patologi dalam rangka penetapan diagnosa, pencegahan, penyembuhan,

pemulihan, pengingkatan kesehatan, dan kontrasepsi. Menurut Departemen

Kesehatan RI dalam surat Keputusan Menteri Kesehatan

No.149/SK/Menseknes/IV/1978, definisi tumbuhan obat adalah tumbuhan atau

bagian tumbuhan yang digunakan sebagai bahan baku obat (prokursor) atau

tumbuhan yang diekstraksi dan ekstrak tumbuhan tersebut digunakan sebagai

obat.

Tumbuhan obat adalah semua jenis tumbuhan baik yang sudah ataupun

belum dibudidayakan yang dapat digunakan sebagai tumbuhan obat. Tumbuhan

obat juga merupakan salah satu komponen penting dalam pengobatan tradisional

yang telah digunakan sejak lama dan memberikan dampak farmakologi.

Pengobatan tradisional secara langsung atau tidak langsung mempunyai kaitan

dengan upaya pelestarian pemanfaatan sumber daya alam hayati, khususnya

tumbuhan obat (Hamid dan Nuryani, 1992).

Zuhud dan Haryanto (1994) mengelompokkan tumbuhan berkhasiat obat

sebagai berikut:

a. Tumbuhan obat tradisional, merupakan jenis tumbuhan yang diketahui

atau dipercaya masyarakat memiliki khasiat obat dan telah digunakan

sebagai bahan baku obat tradisional.

Page 25: ETNOBOTANI TUMBUHAN OBAT DI DESA NEGLASARI …

12

b. Tumbuhan obat modern, merupakan jenis tumbuhan yang secara ilmiah

telah dibuktikan mengandung senyawa atau bahan bioaktif berkhasiat

obat, dan penggunaannya dapat dipertanggung jawabkan secara medis.

c. Tumbuhan obat potensial, merupakan jenis tumbuhan yang diduga

mengandung atau memiliki senyawa atau bahan bioaktif obat, tetapi belum

dibuktikan penggunaannya secara ilmiah-medis sebagai bahan obat dan

penggunaannya secara tradisional belum diketahui.

Tumbuhan obat terdiri dari beberapa macam habitus. Habitus berbagai

jenis tumbuhan (Tjitrosoepomo, 1988) adalah sebagai berikut :

a. Pohon adalah tumbuhan berkayu yang tinggi besar, memiliki satu batang

yang jelas dan bercabang jauh dari permukaan.

b. Perdu adalah tumbuhan berkayu yang tidak seberapa besar dan bercabang

dekat dengan permukaan.

c. Herba adalah tumbuhan tidak berkayu dengan batang lunak dan berair.

d. Liana adalah tumbuhan berkayu dengan batang menjalar/memanjat pada

tumbuhan lain.

e. Tumbuhan memanjat adalah herba yang memanjat pada tumbuhan lain

atau benda lain.

f. Semak adalah tumbuhan yang tidak seberapa besar, batang berkayu,

bercabang-cabang dekat permukaan tanah atau di dalam tanah.

g. Rumput adalah tumbuhan dengan batang yang tidak keras, mempunyai

ruas-ruas yang nyata dan seringkali berongga.

Page 26: ETNOBOTANI TUMBUHAN OBAT DI DESA NEGLASARI …

13

Menurut UU No. 23 tahun 1992 tentang kesehatan, obat tradisional adalah

bahan atau ramuan bahan berupa bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral,

sediaan galenik atau campuran dari bahan tersebut yang secara turun temurun

telah digunakan untuk pengobatan berdasarkan pengalaman. Sediaan obat

tradisional yang digunakan masyarakat saat ini disebut dengan herbal medice atau

Fitofarmaka. Tumbuhan obat mempunyai khasiat yang bekerja sebagai

antioksidan, antiradang, analgesik, dan lain-lain yang digunakan untuk

penyembuhan suatu penyakit. Hal ini tidak terlepas dari adanya kandungan bahan

kimia tumbuhan obat yang berasal dari metabolisme sekunder. Setiap tumbuhan

menghasilkan bermacam-macam senyawa kimia yang merupakan bagian dari

proses normal dalam tumbuhan (Zein, 2005).

Kalau kita melihat prospek dari tumbuhan obat untuk dijadikan

fitofarmaka memang cukup besar, asalkan potensi ini dikembangkan seperti yang

dilakukan di Cina dan India misalnya. Namun secara umum tumbuhan obat juga

mempunyai kelemahan. Beberapa kelemahan antara lain:

1. Sulitnya mengenali jenis tumbuhan, dan berbedanya nama tumbuhan

berdasarkan daerah tempatnya tumbuh.

2. Kurangnya sosialisasi tentang manfaat tumbuhan obat, terutama

dikalangan profesi dokter.

3. Penampilan tumbuhan obat yang berkhasiat berupa fitofarmaka yang

kurang menarik dan kurang meyakinkan, dibanding dengan penampilan

obat-obat paten.

Page 27: ETNOBOTANI TUMBUHAN OBAT DI DESA NEGLASARI …

14

4. Kurangnya penelitian yang komprehensif dan terintegrasi dari tumbuhan

obat ini di kalangan dokter.

5. Belum adanya upaya pengenalan dini terhadap tumbuhan yang berkhasiat

obat di institusi pendidikan, yang sebaiknya dimulai dari pendidikan dasar.

Upaya untuk menghilangkan/mengurangi kelemahan tersebut yang

mungkin dapat dilakukan adalah:

1. Sosialisasi dini tumbuhan obat di institusi pendidikan.

2. Mengintegrasikan tumbuhan obat didalam sistem pelayanan kesehatan

formal seperti puskesmas dan rumah sakit.

3. Mendukung setiap kegiatan penelitian ilmiah bidang tumbuhan

obat/tumbuhan obat tradisional untuk membuktikan khasiatnya secara

ilmiah, agar kalangan professional dapat memahami secara positif.

4. Peninjauan dan reformasi sistem pendidikan kedokteran/kesehatan dan

pertanian/biologi, dengan memberikan porsi yang seimbang terhadap

tumbuhan obat.

5. Memulai melakukan kegiatan penelitian sekecil apapun terhadap bahan

tumbuhan berkhasiat terhadap penyakit tertentu, mempublikasikannya

serta melakukan penelitian yang berkesinambungan kearah yang lebih baik

dan berorientasi kepada industri fitofarmaka.

2.3. Pengetahuan Tradisional dalam Pemanfaatan Tumbuhan Obat

Pemanfaatan tumbuhan obat adalah memanfaatkan berbagai jenis tumbuh-

tumbuhan yang tumbuh di sekitar kita dan mempunyai khasiat untuk bahan

pengobatan secara tradisional. Dalam pemanfaatan dan penggunaan tumbuhan

Page 28: ETNOBOTANI TUMBUHAN OBAT DI DESA NEGLASARI …

15

berkhasiat obat ini, perlu diketahui secara pasti tata cara pengkomposisiannya

dalam memanfaatkan tumbuhan berkhasiat obat. Hal tersebut bertujuan untuk

mengatasi berbagai jenis penyakit secara efektif (Wijayakusuma, 2000).

Pengetahuan tradisional atau pengetahuan lokal sering diistilahkan dengan

sebutan kearifan tradisional. Kearifan adalah semua bentuk pengetahuan,

keyakinan, pemahaman, atau wawasan serta adat kebiasaan atau etika yang

menuntun perilaku manusia dalam kehidupan di dalam komunitas ekologis

(Keraf, 2002). Kearifan tradisional menyangkut pengetahuan, pemahaman adat

dan kebiasaan tentang manusia, alam, dan bagaimana relasi diantara semua

penghuni komunitas ekologis harus dibangun. Keraf (2002) menyebutkan bahwa:

a. Kearifan tradisional adalah milik komunitas bukan individu.

b. Kearifan tradisional lebih bersifat holistik karena menyangkut

pengetahuan dan pemahaman tentang seluruh kehidupan dengan segala

relasinya di alam semesta.

c. Berdasarkan kearifan tradisional, masyarakat juga memahami semua

aktivitasnya sebagai aktivitas moral.

Sistem pengetahuan yang dimiliki masyarakat secara tradisi merupakan

salah satu bagian dari kebudayaan suku bangsa itu sendiri, yang mana melibatkan

hubungan antara manusia dengan lingkungan yang ditentukan oleh kebudayaan

setempat sebagai pengetahuan yang diyakini serta menjadi sistem nilai.

Pengobatan tradisional merupakan salah satu pengetahuan tradisional masyarakat

berupa semua upaya pengobatan dengan cara lain di luar ilmu kedokteran

berdasarkan pengetahuan yang berakar pada tradisi tertentu dan dilakukan secara

Page 29: ETNOBOTANI TUMBUHAN OBAT DI DESA NEGLASARI …

16

turun temurun. Selain itu pengobatan tradisional juga telah teruji memberikan

sumbangsihnya terhadap kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK)

(Rahayu, 2006).

2.4. Pofil Desa Neglasari

Berdasarkan data yang diperoleh dari kantor Kepala Desa Neglasari

kecamatan Nyalindung kabupaten Sukabumi provinsi Jawa Barat, luas wilayah

desa tersebut adalah 512 ha dengan ketinggian tempat 700 m di atas permukaan

laut. Desa Neglasari memiliki curah hujan 3000 ml/th dengan suhu udara rata-rata

20-260C.

Batas wilayah sebelah utara berbatasan dengan kecamatan Kebon Pedes,

sebelah timur berbatasan dengan kecamatan Gegerbitung dan sebelah selatan

berbatasan dengan kecamatan Nyalindung yang juga berbatasan dengan sebelah

barat. Jarak tempuh yang harus dilalui dari ibu kota kabupaten menuju desa

adalah 109 km. Sedangkan jarak dari ibu kota provinsi adalah sejauh 120 km, dan

melalui 131 km dari ibu kota Negara. Sebagian besar wilayah Nyalindung yaitu

seluas 241,880 ha diperuntukan untuk Ladang dan 70,674 ha untuk perkebunan.

Sedangkan bangunan umum yang dibangun tercatat memakan lahan seluas

82,196 ha.

Penduduk desa Neglasari secara keseluruhan berjumlah 4.441 jiwa dengan

jenis kelamin laki-laki sebesar 2.230 jiwa dan perempuan 2.211 jiwa. Mayoritas

penduduk desa Neglasari beragama Islam (4.426 jiwa) dan terdapat pula

penduduk dengan pemeluk agama Katholik (15 jiwa). Sebagian besar masyarakat

desa Neglasari berpendidikan terakhir Sekolah Dasar (2.940 jiwa), kemudian

Page 30: ETNOBOTANI TUMBUHAN OBAT DI DESA NEGLASARI …

17

disusul dengan pendidikan SMP (695 jiwa), SMA (156 jiwa), SMK (105 jiwa),

MA (61 jiwa), DI-III (25 jiwa), dan S1-S3 (12 jiwa).

Masyarakat desa Neglasari umumnya bekerja sebagai buruh tani yang

tercatat sebesar 900 jiwa. Selain buruh tani, masyarakat desa juga memiliki mata

pencaharian yang beragam, yaitu karyawan swasta (621 jiwa), jasa (225 jiwa),

tani (120 jiwa), wiraswasta (112 jiwa), transportasi dan pergudangan (107 jiwa),

PNS (5 jiwa), TNI/Polri (2 jiwa), dan juga terdapat pensiunan (21 jiwa).

Page 31: ETNOBOTANI TUMBUHAN OBAT DI DESA NEGLASARI …

13

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1. Lokasi dan Waktu

Penelitian ini dilakukan di empat dusun di Desa Neglasari, Kecamatan

Nyalindung, Kabupaten Sukabumi. Keempat dusun tersebut yaitu Baros II (S

06058’08.1”- E 106

056’41.9”), Baros I (S 06

058’17.8”- E 106

057’02.2”), Cijureuy

(S 06058’34.7”- E 106

057’42.8”), dan Cibodas (S 06

059’06.1”- E 106

059’22.6”).

Waktu penelitian dilakukan selama lima minggu yaitu pada bulan Juni hingga

bulan Juli 2014.

3.2. Alat dan Bahan

Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah gunting tumbuhan,

kamera digital Canon, GPS (GPSmap Garmin 62s), kertas label, kertas koran, tali,

sasak, plastik, botol semprot, dan selotip. Bahan yang digunakan dalam penelitian

ini adalah lembar wawancara atau kuisioner untuk koresponden terpilih, alkohol

70%, dan tumbuh-tumbuhan.

3.3. Cara Kerja

3.3.1. Wawancara

Jenis penelitian ini adalah deskriptif eksploratif dengan teknik/metode

survei, wawancara semi terstruktur dan kuisioner yang dibuktikan langsung

dengan fakta keberadaan tumbuhan yang dimaksud di lapangan. Tahap awal dari

penelitian ini adalah wawancara dengan 100 orang responden dari 4 dusun di

Desa Neglasari Kecamatan Nyalindung Kabupaten Sukabumi Jawa Barat yakni

Page 32: ETNOBOTANI TUMBUHAN OBAT DI DESA NEGLASARI …

14

dusun Baros II, Baros I, Cijureuy, dan Cibodas. Wawancara berguna untuk

menggali informasi mengenai potensi pemanfaatan tumbuhan obat. Teknik

pemilihan responden yang digunakan dalam observasi awal ini adalah metode

purposive sampling (teknik pemilihan responden dengan pertimbangan memiliki

pengetahuan lebih tentang tumbuhan obat) (Sugiyono, 2007). dan snow ball yaitu

teknik pemilihan responden yang dilakukan berdasarkan rekomendasi dari

responden sebelumnya yang dimulai dari kepala desa (Bernard, 2002). Dari

keempat dusun ini, tiga diantaranya (Baros II, Baros I, dan Cibodas) didapati

paraji, dan satu dusun lainnya (Cijureuy) didapati pembudidaya TOGA.

Teknik pengumpulan data dilakukan dengan melakukan wawancara semi

terstruktur mengacu pada Martin (1995). Data pendukung dalam penelitian ini

meliputi nama, umur, jenis kelamin, pekerjaan, dan pendidikan (lampiran 1).

3.3.2. Observasi dan Identifikasi

Setelah diperoleh informasi dari wawancara tentang tumbuhan obat

dilanjutkan dengan tahapan observasi di lapangan. Tahapan observasi dilakukan

untuk mengetahui secara langsung tumbuhan obat yang telah diinformasikan oleh

responden.

Tumbuhan yang ditemukan kemudian didokumentasikan dengan

menggunakan kamera digital. Data tumbuhan obat yang diperoleh diidentifikasi

berdasarkan nama lokal, nama ilmiah, famili, habitus, bagian tumbuhan yang

digunakan, cara pengolahan, serta jenis penyakit yang disembuhkan dengan

mengacu pada buku Flora of Java volume I (1963), volume II (1965), dan volume

Page 33: ETNOBOTANI TUMBUHAN OBAT DI DESA NEGLASARI …

15

III (1968) karangan Backer dan Backuizen van der Brink Jr, dan Atlas Tumbuhan

Obat Indonesia jilid 1 (Dalimartha, 1999).

3.3.3. Analisis Data

Pengolahan data diuraikan secara deskriptif. Data yang diolah meliputi

data pendukung meliputi nama, usia, jenis kelamin, pendidikan, dan pekerjaan.

Data utama/pokok meliputi nama jenis tumbuhan obat, bagian tumbuhan yang

digunakan, kelompok penyakit yang diobati, serta cara pengolahannya.

Khusus untuk jenis penyakit yang diobati dilakukan pengklasifikasian

lebih lanjut mengacu pada Zaman (2009). Jenis-jenis penyakit yang diobati

menggunakan tumbuhan obat oleh masyarakat desa Neglasari dikelompokkan

menjadi 4 kelompok penyakit yaitu kelompok penyakit kronik, penyakit menular,

penyakit tidak menular, dan lain-lain. Penyakit kronik adalah penyakit yang

berlangsung lama dan sering menyebabkan kematian. Penyakit menular

merupakan penyakit yang disebabkan oleh kuman (virus, bakteri, amoeba, dan

jamur) yang menjangkiti tubuh manusia. Penyakit tidak menular didefinisikan

sebagai penyakit yang tidak disebabkan oleh kuman, tetapi disebabkan karena

adanya masalah fisiologis atau metabolisme pada jaringan tubuh manusia.

Kelompok penyakit lain-lain dalam hal ini dimaksudkan sebagai jenis penyakit

yang tidak termasuk kedalam kelompok penyakit kronik, penyakit menular, dan

tidak menular.

Page 34: ETNOBOTANI TUMBUHAN OBAT DI DESA NEGLASARI …

16

Tabel 1. Pengelompokan jenis penyakit.

No. Kelompok Penyakit Jenis Penyakit

1 Penyakit Kronik Batu ginjal, penyakit jantung, kanker, kencing batu,

diabetes, asam urat, demam berdarah dengue,

malaria, beriberi, batu empedu, paruparu, hepatitis.

2 Penyakit Menular Disentri, batuk, batuk TBC, bisul, diare, cacar air,

cacingan, gatalgatal.

3 Penyakit tidak

menular

Demam, panas dalam, keputihan, perut kembung,

pendarahan, hipertensi, hipotensi, luka bakar,

anemia, terlambat haid, keseleo, sakit gigi,

sariawan, nyeri haid, rheumatik, amandel,

ambeyen.

4 Lain-lain Penyubur rahim, jamu lahir, jamu hamil,

mengurangi bau badan, menambah nafsu makan,

pelancar haid, penyegar badan, penambah berat

badan, pelancar ASI, galian singset, mengurangi

bau mulut, jamu kuat, menguatkan gigi, penyegar

ASI, penetral virus, penetral darah. Sumber: Modifikasi dari Zaman (2009)

Estimasi kegunaan suatu jenis (use value) untuk tumbuhan obat dilakukan

dengan menggunakan rumus Philips dan Gentry (1993) (Hoffman & Gallaher,

2007):

Dimana:

UVis : nilai kegunaan (manfaat) suatu jenis tertentu (i) yang disampaikan oleh

informan (s)

∑Uis : jumlah seluruh kegunaan jenis (i) yang dijelaskan setiap kali bertanya

nis : jumlah total informan yang diwawancarai untuk nilai guna jenis.

Catatan: 0= UVs: species not used; 0UVs 3: species less important, not priority species;

3 UVs 6: species important, priority species;

6UVs9: species very important

Page 35: ETNOBOTANI TUMBUHAN OBAT DI DESA NEGLASARI …

17

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Karakteristik Responden

4.1.1. Tingkat pendidikan

Kepercayaan masyarakat Neglasari terhadap pengobatan tradisional

merupakan kepercayaan turun temurun. Hasil wawancara mengungkap bahwa

responden pengguna tumbuhan obat terbanyak adalah responden yang

berpendidikan SD (39%) sedangkan responden pengguna tumbuhan obat paling

sedikit adalah responden dengan pendidikan terakhir tidak tamat SD (1%)

(Gambar 2).

Gambar 2. Persentase tipologi responden berdasarkan tingkat pendidikan

Terdapat keterkaitan antara pengetahuan yang dimiliki responden yang

tidak lulus SD dengan minimnya pengetahuan yang dimiliki mengenai

pemanfaatan tumbuhan obat. Umumnya pengetahuan yang mereka peroleh

Page 36: ETNOBOTANI TUMBUHAN OBAT DI DESA NEGLASARI …

18

mengenai pemanfaatan tumbuhan obat berasal dari orang tua atau turun temurun

dan hasil tukar pikiran. Pewarisan pengetahuan lokal dapat dilakukan dengan 3

cara berbeda, yaitu (1) dari orang tua (vertical) ; (2) dari teman sebaya

(horizontal); (3) dari generasi yang lebih tua (oblique) (Garcia et al., 2009).

Tingkat pengetahuan lokal dipengaruhi oleh umur, gender atau jenis kelamin,

pendidikan, dan tingkat sosial ekonomi masyarakat (Case et al., 2005).

Persentase tipologi responden berdasarkan tingkat pendidikan ini

didukung dengan data yang diperoleh dari kantor kepala desa bahwa 2.940 orang

dari total penduduk 4.441 orang atau sekitar 66,20% masyarakat Desa Neglasari

berpendidikan akhir Sekolah Dasar. Hal ini kemungkinan dapat disebabkan

karena minimnya prasarana yang tersedia di desa tersebut. Data yang yang

diperoleh dari kantor kepala desa menyebutkan bahwa sarana pendidikan yang

tersedia di dalam desa sangat minim yakni 3 kelompok PAUD, 1 unit TKA/RA,

dan 3 unit SD, sehingga untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi,

masyarakat desa membutuhkan jarak tempuh yang cukup jauh. Hasil serupa juga

ditemukan pada masyarakat yang berada di sekitar Taman Nasional Gunung

Merapi yang sebagian besar penduduknya (85%) tidak mengenyam pendidikan

sekolah (Anggana, 2011).

4.1.2. Mata pencaharian

Pengguna tumbuhan obat terbanyak adalah pengguna dengan mata

pencaharian sebagai ibu rumah tangga (0,30%) untuk jenis kelamin perempuan

dan buruh tani (0,09%) untuk jenis kelamin laki-laki. Hal ini dikarenakan kondisi

alam yang mendukung untuk menjalani profesi tersebut. Pengguna tumbuhan obat

Page 37: ETNOBOTANI TUMBUHAN OBAT DI DESA NEGLASARI …

19

dengan mata pencaharian pengangguran atau tidak memiliki pekerjaan tidak

ditemukan pada saat penelitian (Gambar 3).

Gambar 3. Persentase tipologi responden berdasarkan mata pencaharian

Umumnya responden pria bekerja sebagai buruh, dan responden

perempuan adalah ibu rumah tangga. Data tersebut mempengaruhi data jenis

kelamin dari responden, dimana sebagian responden adalah perempuan. Hal ini

dikarenakan waktu dalam pengambilan data berada pada kisaran waktu dimana

para kepala rumah tangga berkerja di luar rumah, sehingga hanya didapati ibu-ibu

dan anaknya yang tinggal di dalam rumah.

Seperti halnya data yang diperoleh dari kantor kepala desa bahwa 900

orang atau 40% penduduk Desa Neglasari adalah bermata pencaharian sebagai

buruh tani. Hal ini dapat dipengaruhi keadaan geografis dari desa yang sebagian

besarnya adalah sawah (106 ha) dan ladang (241,880 ha). Data diatas juga

ditemukan pada hasil penelitian Anggana terhadap masyarakat sekitar Taman

Page 38: ETNOBOTANI TUMBUHAN OBAT DI DESA NEGLASARI …

20

Nasional Gunung Merapi, dimana sebagian besar penduduknya (73%) bermata

pencaharian sebagai petani (Anggana, 2011).

4.1.3. Jenis kelamin

Pengguna tumbuhan obat terbanyak adalah pengguna dengan jenis

kelamin perempuan (84%). Pengguna tumbuhan obat dengan jenis kelamin laki-

laki (16%) paling sedikit ditemukan di Desa Neglasari (Gambar 4).

Gambar 4. Persentase tipologi responden berdasarkan jenis kelamin

Hubungan antara jenis kelamin dengan pemanfaatan tumbuhan sebagai

obat dapat dilihat dari interaksi antara masyarakat dalam mengelola atau

membudidayakan tumbuhan obat baik di kebun atau sebatas di halaman rumah.

Umumnya wanita lebih aktif dalam membudidayakan tumbuhan yang berkhasiat

obat dikarenakan seringnya mereka berinteraksi dengan tetangga untuk saling

bertukar informasi mengenai tumbuhan. Tingkat pengetahuan pada wanita

cenderung lebih tinggi dibandingkan pria. Wanita memiliki intensitas yang lebih

tinggi untuk berinteraksi dengan tumbuhan karena bertanggung jawab sebagai ibu

Page 39: ETNOBOTANI TUMBUHAN OBAT DI DESA NEGLASARI …

21

rumah tangga, oleh karena itu wanita lebih mengenal banyak tumbuhan

dibandingkan pria (Howard, 2003).

4.1.4. Karakteristik umur

Pengguna tumbuhan obat yang paling banyak adalah pengguna dengan

kisaran umur 30-39 th (20%). Pengguna tumbuhan obat dengan kisaran umur

≤19th (2%) paling sedikit ditemukan (Gambar 5).

Gambar 5. Persentase tipologi responden berdasarkan umur

Tingkat pengetahuan etnobotani masyarakat dengan umur tua lebih tinggi

dibandingkan yang lebih muda (Voeks, 2007). Responden dengan usia yang lebih

tua menggunakan tumbuhan obat karena sudah percaya dan terbiasa

menggunakannya. Generasi muda umumnya percaya dan menggunakan tumbuhan

obat setelah membuktikan khasiat dari tumbuhan obat tersebut. Dari hasil

pengamatan diketahui bahwa pewarisan pengetahuan lokal terutama pengetahuan

tumbuhan obat tradisional kepada generasi muda tidak berlangsung baik. Faktor

peningkatan kesehatan dari pemerintah, kunjungan dari dinas kesehatan, serta

Page 40: ETNOBOTANI TUMBUHAN OBAT DI DESA NEGLASARI …

22

pemberian obat dan vitamin merupakan salah satu penyebab terjadinya erosi

pengetahuan tumbuhan obat tradisional (Zaman, 2009).

4.2. Pengetahuan Masyarakat Desa Neglasari tentang Tumbuhan Obat

Masyarakat Desa Neglasari memiliki sistem pengetahuan tentang

pengelolaan keanekaragaman sumberdaya alam dan lingkungan sekitarnya. Salah

satu sistem pengetahuan tersebut adalah pemanfaatan tumbuh-tumbuhan untuk

pemenuhan kehidupan sehari-hari, antara lain sebagai bahan obat tradisional.

Tumbuhan obat dalam penelitian ini adalah semua jenis tumbuhan yang dapat

digunakan sebagai ramuan obat, baik secara tunggal maupun campuran yang

dianggap dan dipercaya dapat menyembuhkan suatu penyakit atau dapat

memberikan pengaruh terhadap kesehatan.

Masyarakat Neglasari adalah masyarakat yang masih percaya dengan

pengobatan tradisional dalam kehidupan sehari-hari. Warga yang sakit biasanya

mencari pengobatan dengan cara menggunakan tumbuhan obat, mengkonsumsi

obat-obatan yang dijual bebas atau pergi ke pusat kesehatan desa (PKD),

puskesmas dan rumah sakit. Masyarakat setempat menanyakan cara pengobatan

tradisional menggunakan tumbuhan obat kepada orang yang dianggap mengetahui

tentang tumbuhan obat yaitu paraji.

Pemanfaatan tumbuhan obat umumnya dipercayakan kepada paraji yang

ada di desa tersebut untuk membantu mereka dalam pengobatan tradisional.

Terutama bagi para ibu-ibu yang menjalani proses persalinan serta balita yang

sedang dalam proses tumbuh kembang. Pengguna tumbuhan obat terbanyak

Page 41: ETNOBOTANI TUMBUHAN OBAT DI DESA NEGLASARI …

23

ditemukan di dusun Baros I (24%), sedangkan pengguna tumbuhan obat terendah

di dusun Baros II (11%) dan Cibodas (11%) (Gambar 6).

Gambar 6. Persentase pengguna tumbuhan obat dari masing-masing dusun

Masih banyaknya pengguna tumbuhan obat di dusun Baros I dikarenakan

masyarakat dusun tersebut umumnya masih memiliki hubungan ikatan keluarga.

Orang tua atau sesepuh dari dusun tersebut masih menurunkan pengetahuan serta

kebiasaan dalam penggunaan tumbuhan obat terhadap keturunan mereka dalam

membantu proses pengobatan maupun perawatan pra dan pasca persalinan. Selain

itu, dalam dusun Baros I juga masih ditemukan banyak tumbuhan obat yang

ditanam di pekarangan rumah dan sekitarnya (Lampiran 5).

Bukan pengguna tumbuhan obat terbanyak ditemukan di dusun Baros II

(22%), sedangkan bukan pengguna tumbuhan obat terendah ditemukan di dusun

Cibodas (2%). Sangat jarang ditemukan adanya tumbuhan obat yang masih

dibudidayakan di dusun Baros II. Hal ini dikarenakan kerapatan rumah penduduk

dan sempitnya lahan pekarangan rumah untuk menanam tumbuhan obat.

Page 42: ETNOBOTANI TUMBUHAN OBAT DI DESA NEGLASARI …

24

Masyarakat dusun Baros II juga lebih sering berobat menggunakan obat-obatan

hasil racikan pabrik, sehingga sudah tidak banyak lagi yang memanfaatkan

tumbuhan obat secara langsung. Sedangkan bukan pengguna tumbuhan obat

dengan nilai terendah ditemukan di dusun Cibodas. Hal ini dikarenakan lokasi

dusun yang terletak dekat dengan pusat kesehatan desa (PKD) atau puskesmas,

dan terkikisnya pengetahuan mengenai pemanfaatan tumbuhan obat akibat

kurangnya pengetahuan dari para orang tua atau sesepuh.

4.3. Pemanfaatan Tumbuhan Obat

4.3.1. Pemanfaatan Tumbuhan Obat Berdasarkan Jenisnya

Tumbuhan obat yang masih sering digunakan oleh masyarakat Desa

Neglasari hingga saat ini adalah sebanyak 64 jenis (Gambar 7). Hasil ini serupa

dengan hasil penelitian yang dilakukan pada suku Dayak Iban kabupaten Sintang

yang menemukan 64 jenis tumbuhan obat (Meliki et al., 2013). Hasil tersebut

tidak lebih banyak jika dibandingkan dengan hasil yang diperoleh dari masyarakat

kabupaten Pamekasan Madura provinsi Jawa Timur yang masih menggunakan

116 jenis tumbuhan obat (Zaman, 2009).

Nilai guna jenis tumbuhan obat tertinggi terdapat pada Strobilanthes

crispus (kibeling) sedangkan nilai guna jenis tumbuhan obat terendah terdapat

pada Myristica fragrans (pala) (Lampiran 4). Nilai UVs Strobilanthes crispus

(kibeling) berada pada angka 8,48 atau masuk kedalam kategori tumbuhan sangat

berguna (6<UVs≤9), sedangkan Myristica fragrans (pala) berada pada angka 0,75

atau masuk kedalam kategori tumbuhan sedikit berguna (0<UVs<3).

Page 43: ETNOBOTANI TUMBUHAN OBAT DI DESA NEGLASARI …

25

Gambar 7. Nilai Guna Jenis Tumbuhan Obat (UVs)

Page 44: ETNOBOTANI TUMBUHAN OBAT DI DESA NEGLASARI …

26

Lain halnya pada masyarakat subetnis Batak Toba, dimana nilai UVs

tertinggi terdapat pada tumbuhan Arenga pinnata (Anggraeni, 2013). Jenis

tumbuhan dengan nilai UVs tinggi menunjukkan bahwa jenis tumbuhan tersebut

memiliki banyak manfaat dan tingkat pengetahuan bersama tentang manfaat

tumbuhan tersebut di masyarakat tinggi (Albuquerque et al., 2006).

Hasil penghitungan nilai guna jenis didapati 10 jenis tumbuhan dengan

nilai UVs tertinggi. Kesepuluh tanaman dengan nilai UVs tertinggi adalah

Strobilanthes crispus (Kibeling), Allium cepa (Bawang beureum), Anredera

cordifolia (Binahong), Plantago mayor (Kiurat), Vernonia cinerea (Sawi langit),

Ageratum conyzoides (Babadotan), Melastoma candidum (Harenong), Solanum

torvum (Takokak), Persea americana (Alpuket), dan Ricinus communis (Jarak)

(Tabel 2).

Tabel 2. Sepuluh tertinggi nilai guna tumbuhan berdasarkan Jenis

No Jenis Tumbuhan UVs

1 Strobilanthes crispus (Kibeling) 8,48

2 Allium cepa (Bawang beureum) 8

3 Anredera cordifolia (Binahong) 7,54

4 Plantago mayor (Kiurat) 6,89

5 Vernonia cinerea (Sawi langit) 6,56

6 Ageratum conyzoides (Babadotan) 6,5

7 Melastoma candidum (Harenong) 6,46

8 Solanum torvum (Takokak) 6,04

9 Persea americana (Alpuket) 6

10 Ricinus communis (Jarak) 5,97

Terlihat bahwa Strobilanthes crispus atau kibeling berada pada tingkat

tertinggi dengan nilai UVs sebesar 8,48. Dari data diatas, peringkat 1 hingga 8

menunjukkan nilai UVs pada kisaran 6UVs 9, hal ini menunjukkan bahwa 8

tumbuhan tersebut memiliki nilai guna yang tinggi atau sangat berguna.

Page 45: ETNOBOTANI TUMBUHAN OBAT DI DESA NEGLASARI …

27

Sedangkan untuk 2 tanaman lain, yaitu Persea americana (Alpuket) dan Ricinus

communis (Jarak) menunjukkan nilai UVs pada kisaran 3 UVs 6 yang berarti

bahwa tumbuhan tersebut masih merupakan kategori tumbuhan berguna.

Masyarakat Desa Neglasari menggunakan kibeling untuk mengobati sakit

kuning, maag, dan kolesterol dengan cara dimakan langsung sebagai lalapan.

Kibeling juga digunakan masyarakat untuk mengobati asam urat, hipertensi,

batuk, influenza, demam, masuk angin, sakit kepala, dan meningkatkan daya

tahan tubuh dengan cara menyeduh daun yang sudah dikeringkan kemudian

diminum. Menurut Hariana (2008) bahan kimia yang terkandung dalam kibeling

(Strobilanthes crispus) diantaranya kalium dengan kadar tinggi, natrium, kalsium,

asam silikat, dan beberapa senyawa lainnya. Efek farmakologis kibeling

diantaranya peluruh kencing (diuretic) dan pencahar, sehingga dapat mengobati

batu ginjal, diabetes, wasir, batu kandung empedu, dan sembelit.

4.3.2. Pemanfaatan Tumbuhan Obat Berdasarkan Famili

Jenis tumbuhan obat paling banyak berasal dari famili Zingiberaceae

16,21% (6 jenis). Jenis tumbuhan obat paling sedikit berasal dari 23 famili lainnya

(Annonaceae, Araliaceae, Arecaceae, Bacellaceae, Caricaceae, Compositeae,

Crassulaceae, Dilleniaceae, Gramineae, Lauraceae, Melastomaceae,

Menispermaceae, Morvaceae, Myristicaceae, Myrtaceae, Palmaceae,

Phyllantaceae, Planfaginaceae, Rubiaceae, Ruscaceae, Thymeleceae,

Umbilliferae, dan Verbenaceae). Famili yang paling sedikit tersebut masing-

masing terdiri dari 1 jenis tumbuhan (2,7%) (Gambar 8). Hasil serupa ditemukan

dalam penelitian Meliki (2013) pada suku Dayak Iban yang banyak menggunakan

Page 46: ETNOBOTANI TUMBUHAN OBAT DI DESA NEGLASARI …

28

tumbuhan obat dari famili Zingiberaceae (12%). Jaini (1994) juga memperoleh

hasil yang sama pada masyarakat Waringin Timur Kalimantan Tengah.

Gambar 8. Persentase jumlah jenis tumbuhan obat berdasarkan famili

Famili Zingiberaceae banyak ditanam oleh masyarakat di pekarangan

rumah karena memiliki banyak manfaat. Selain dapat digunakan sebagai

tumbuhan obat, Zingiberaceae juga banyak dijadikan sebagai bumbu dapur. Jenis

tumbuhan dari famili Zingiberaceae ini juga dapat mengobati penyakit yang

sering didapat masyarakat seperti demam, sakit perut, maag, dan penambah nafsu

makan. Masyarakat Desa Neglasari menggunakan tumbuhan obat yang sangat

variatif. Hasil yang sama juga ditemukan pada masyarakat lokal di kecamatan

Wawonii Sulawesi Tenggara yang menggunakan 73 jenis tumbuhan obat dari 43

famili (Rahayu, 2006).

Page 47: ETNOBOTANI TUMBUHAN OBAT DI DESA NEGLASARI …

29

Menurut Septiatin (2008) kandungan kimia dari suku Zingiberaceae

umunya mengandung minyak atsiri, pati, tannin, dan damar. Kandungan dari

minyak atsiri dapat menstabilkan sistem syaraf, menimbulkan perasaan senang,

serta dapat menyembuhkan penyakit. Minyak atsiri bermanfaat bagi kesehatan

karena kandungan senyawanya berfungsi melancarkan peredaran darah, sebagai

penenang (sedatif), antiseptik, antipiretik (penurun panas), karminatif,

memperbaiki pencernaan dan sebagainya. Selain itu, senyawa metabolit sekunder

yang dihasilkan tumbuhan dari suku Zingiberaceae umunya dapat menghambat

pertumbuhan mikroorganisme patogen yang merugikan (Wulandari dan Juwita,

2006).

Jenis tumbuhan obat yang masuk kedalam famili Zingiberaceae tersebut

adalah bangle (Zingiber purpureum), jahe beureum (Z. officinale), kapol

(Amomum cardamomum), cikur (Kaempferia galanga), koneng (Curcuma longa),

dan lampuyang (Z. zerumbet). Bagian tumbuhan yang umunya dimanfaatkan dari

famili Zingiberaceae tersebut adalah bagian rimpang. Masing-masing rimpang

tersebut memiliki kandungan kimia dan efek farmakologis yang berpengaruh

terhadap pengobatan penyakit.

Hariana (2004) menjelaskan bahwa bangle (Z. purpureum) memiliki bau

khas yang menyengat, sedikit pahit, dan pedas. Beberapa bahan kimia yang

terkandung dalam rimpang bangle diantaranya damar, pati, tanin, dan minyak

atsiri (sineol dan pinen). Efek farmakologis bangle diantaranya peluruh dahak

(expectorant), peluruh kentut, dan penurun panas. Selain itu bangle juga sebagai

pembersih darah, obat cacing (vermifuge), dan pencahar (laxactive). Pemanfaatan

Page 48: ETNOBOTANI TUMBUHAN OBAT DI DESA NEGLASARI …

30

rimpang jahe yang umumnya digunakan oleh masyarakat Desa Neglasari adalah

mengatasi kegemukan. Kegemukan dapat diatasi dengan merebus rimpang bangle

yang telah dicuci bersih, setelah dingin air rebusan tersebut disaring untuk

kemudian diminum (Hariana, 2004).

Rimpang jahe beureum (Z. officinale) juga mengandung beberapa bahan

kimia seperti minyak atsiri, damar, mineral, sineol, fellandren, kamfer, borneol,

zingiberin, lipid, asam amino, vitamin A, dan protein. Efek farmakologis yang

dimiliki oleh jahe beureum diantaranya merangsang ereksi dan meningkatkan

aktivitas kelenjar endokrin. Selain itu jahe beureum juga memiliki efek

farmakologis untuk memperlambat proses penuaan, merangsang regenerasi sel

kulit, dan bahan pewangi (Hariana, 2004).

Kapol (A. cardamomum) memiliki rasa agak pahit dan bersifat hangat.

Beberapa bahan kimia yang terkandung dalam kapol diantaranya minyak terbang

sineol, terpineol dan alfaborneol, β-kamper, protein, gula, lemak, serta silikat.

Efek farmakologis yang dimiliki oleh kapol diantaranya untuk obat batuk, obat

perut kembung, penurun panas, antitusif, peluruh dahak, dan antimuntah (Hariana,

2004).

Menurut Santoso (2008) rimpang cikur (K. galanga) mengandung minyak

atsiri, cinnamal, aldehid, asam motil p-cumarik, asam cinamat, etil ester, dan

pentadekan. Rimpang cikur juga mengandung sineol, paraeumarin, asam anisic,

gom, pati dan mineral. Kandungan kimia inilah yang menjadikan rimpang kencur

banyak digunakan untuk pengobatan.

Page 49: ETNOBOTANI TUMBUHAN OBAT DI DESA NEGLASARI …

31

Dalam pengobatan, rimpang koneng (Curcuma longa) digunakan untuk

memperlancar ASI, obat luka, sakit perut, meningkatkan nafsu makan serta

memperlancar persalinan (Ashari, 1995). Selain itu koneng mengandung zat kimia

yang berfungsi untuk mengobati penyakit yang sebagian besar disebabkan oleh

bakteri/virus atau sejenisnya dan penurunan kekebalan atau daya tahan tubuh.

Koneng mengandung kurkumin yang selain memberi warna kuning juga

merupakan zat anti bakteri (Winarto, 2004). Koneng juga berkhasiat sebagai obat

penurun panas, diabetes mellitus, tifus, usus buntu, haid tidak lancar, keputihan,

nyeri haid, amandel, sesak napas, dan cacar air (Redaksi Agromedia, 2008).

Lampuyang (Z. zerumbet) memiliki rasa pedas, tajam, dan bersifat hangat.

Bahan kimia yang terkandung dalam lampuyang adalah minyak atsiri. Efek

farmakologis lampuyang diantaranya antiradang (anti-inflamasi) dan penambah

nafsu makan (stomachica). Rimpang lampuyang digunakan untuk mengobati

kejang pada anak, sakit perut, diare, disentri, gangguan empedu, kencing batu,

radang ginjal (nephritis), radang usus (enteritis), radang lambung (gastritis),

sembelit, menambah nafsu makan (stomachica), menyegarkan badan, kurang

darah (anemia), meningkatkan stamina, rematik, borok, penyakit kulit, dan bisul

(furunculuss) (Hariana, 2005).

4.3.3. Pemanfaatan Tumbuhan Obat Berdasarkan Habitusnya

Klasifikasi tumbuhan obat berdasarkan habitusnya dapat dibagi menjadi 7

habitus, yaitu habitus pohon, perdu, herba, liana, tumbuhan memanjat, semak, dan

rumput. Jenis tumbuhan yang paling banyak digunakan terdapat pada kelompok

habitus perdu yaitu sebesar 31,25% (20 jenis). Jenis tumbuhan obat yang

Page 50: ETNOBOTANI TUMBUHAN OBAT DI DESA NEGLASARI …

32

digunakan paling sedikit terdapat pada kelompok habitus liana dan rumput yang

masing-masing hanya 1,56% (1 jenis) (Gambar 9).

Gambar 9. Persentase keanekaragaman tumbuhan berdasarkan habitus

Habitus perdu banyak digunakan oleh masyarakat Desa Neglasari

dikarenakan perdu merupakan tumbuhan berkayu yang tidak seberapa besar dan

bercabang dekat dengan permukaan. Perdu juga banyak tumbuh di lingkungan

sekitar masyarakat baik itu sengaja dibudidayakan maupun tumbuh secara liar di

alam dan relatif aman untuk digunakan. Lain halnya dengan masyarakat suku

Sougb yang lebih banyak memanfaatkan jenis tumbuhan herba karena tumbuhan

herba umumnya memiliki kulit batang yang lunak dan banyak mengandung cairan

berupa getah, sehingga kelompok tumbuhan herba banyak dijadikan bahan baku

obat tradisional oleh masyarakat setempat (Oagay, 2013).

Terdapatnya keberagaman habitus pada tumbuhan yang dimanfaatkan oleh

masyarakat Desa Neglasari menunjukkan bahwa daerah tersebut masih memiliki

kealamian dan keaslian ekosistem. Tumbuhan dibiarkan melakukan regenerasi

Page 51: ETNOBOTANI TUMBUHAN OBAT DI DESA NEGLASARI …

33

tanpa adanya gangguan kerusakan yang berat dari manusia. Hal ini membuat

kondisi ekosistem di Desa Neglasari masih terjaga kelestariannya sehingga masih

dapat dijumpai habitus tumbuhan yang beranekaragam.

4.3.4. Pemanfaatan Tumbuhan Obat Berdasarkan Bagian yang Digunakan

Bagian tumbuhan yang dimanfaatkan oleh masyarakat Neglasari terdiri

dari 13 bagian (akar, rimpang, umbi, rebung, batang, ranting, getah, buah, kulit,

daun, bunga, biji, dan seluruh bagian). Bagian tumbuhan yang paling banyak

digunakan adalah bagian daun (32,35%), sedangkan bagian tumbuhan yang paling

sedikit digunakan adalah bagian umbi (0,98%), rebung (0,98%), ranting (0,98%),

dan kulit (0,98%) (Gambar 10).

Gambar 10. Persentase jumlah jenis tumbuhan obat berdasarkan bagian yang

Digunakan

Hasil penelitian serupa juga ditemukan pada masyarakat suku Maybrat di

kampung Sembaro distrik Ayam Maru kabupaten Sorong Selatan dimana bagian

daun merupakan bagian tumbuhan yang paling banyak digunakan sebagai

Page 52: ETNOBOTANI TUMBUHAN OBAT DI DESA NEGLASARI …

34

tumbuhan obat (Howay, 2003). Masyarakat suku Dayak Iban juga menunjukkan

bahwa bagian tumbuhan yang paling banyak digunakan oleh masyarakat sebagai

obat adalah daun (Meliki, 2013). Hal ini menunjukkan bahwa pemanfaatan

tumbuhan oleh masyarakat dilakukan secara lestari. Karena pada umumnya

pengambilan bagian tumbuhan tersebut tidak memberikan dampak yang besar

pada tumbuhan tersebut.

Daun merupakan bagian (organ) tumbuhan yang banyak digunakan

sebagai obat tradisional karena daun umumnya bertekstur lunak. Daun

mempunyai kandungan air yang tinggi (70­80%) dan merupakan tempat

akumulasi fotosintat yang diduga mengandung unsur-unsur (zat organik) yang

memiliki sifat dapat menyembuhkan penyakit. Zat yang banyak terdapat pada

daun adalah minyak atsiri, fenol, senyawa kalium, dan klorofil (Handayani, 2003).

Daun memiliki regenerasi yang tinggi untuk kembali bertunas dan tidak

memberi pengaruh yang besar terhadap pertumbuhan suatu tumbuhan meskipun

daun merupakan tempat fotosintesis (Fakhrozi, 2009). Selain karena mudah

didapat dan tidak tergantung musim daun juga mudah diramu sebagai obat jika

dibandingkan dengan kulit, batang dan akar tumbuhan (Hamzari, 2008).

Pemanfaatan bagian daun untuk obat lebih mudah cara pengolahannya.

Selain mempunyai khasiat yang lebih baik dibandingkan bagian-bagian tumbuhan

yang lain, penggunaan daun juga tidak merusak organ tumbuhan. Hal ini

dikarenakan bagian daun mudah tumbuh kembali dan bisa dimanfaatkan secara

terus-menerus sampai tumbuhan tersebut tua dan mati (Zuhud dan Haryanto,

1994).

Page 53: ETNOBOTANI TUMBUHAN OBAT DI DESA NEGLASARI …

35

Selain daun, buah­buahan juga banyak mengandung zat yang sangat

dibutuhkan oleh tubuh. Betakaroten dan vitamin C tergolong sebagai zat

antioksidan senyawa yang dapat memberikan perlindungan terhadap kanker

karena dapat menetralkan radikal bebas, kedua senyawa ini banyak terdapat pada

buah (Johani, 2008). Buah banyak mengandung unsur potensial pembersih sisa-

sisa makanan dari usus besar. Buah juga dapat menghemat energi karena tidak

memerlukan proses pencernaan yang panjang, buah memasok energi lebih cepat,

karena zat gulanya bisa langsung diserap oleh tubuh (Gunawan, 2007).

Hasil fotosintesis pada daun menghasilkan senyawa kompleks yang

disebut senyawa metabolit sekunder. Senyawa ini umunya terdapat pada semua

bagian tumbuhan, terutama pada bagian daun. Senyawa metabolit sekunder

tersebut seperti alkaloid, flavonoid, polyfenol, saponin, dan terpenoid. Senyawa

kimia inilah yang berkhasiat sebagai obat untuk mengobati berbagai macam

penyakit (Septiatin, 2008).

Menurut Kartika (2013) senyawa alkaloid bersifat detoksifikasi dan dapat

menetralisir racun dalam tubuh. Kandungan alkaloid juga bersifat antikanker.

Alkaloid yang berpotensi sebagai antikanker yaitu jenis Brucamarine dan

Yatamine. Alkaloid jenis tersebut dapat mengobati kanker saluran pencernaan,

kanker payudara, dan kanker leher Rahim. Flavonoid merupakan metabolit

sekunder yang mempunyai aktivitas biologis cukup beragam sebagai pengendur

otot, diuretik, analgetik, anti-oksidan dan anti inflamasi (Hernani dan Syahid,

2001). Flavonoid juga berfungsi untuk melancarkan peredaran darah ke seluruh

Page 54: ETNOBOTANI TUMBUHAN OBAT DI DESA NEGLASARI …

36

tubuh, mencegah terjadinya penyumbatan pada pembuluh darah, dan mengurangi

resiko penyakit jantung koroner (Septiatin, 2008).

Senyawa polyfenol berfungsi sebagai antihistamin atau anti alergi.

Senyawa saponin berfungsi sebagai sumber antibakteri dan antivirus,

meningkatkan sistem kekebalan tubuh, meningkatkan vitalitas, mengurangi kadar

gula darah, serta mengurangi penggumpalan darah (Septiatin, 2008). Terpenoid

merupakan komponen-komponen tumbuhan yang mempunyai bau dan dapat di

isolasi dari bahan nabati dengan penyulingan yang disebut minyak atsiri. Minyak

atsiri adalah bahan yang mudah menguap yang bermanfaat sebagai zat stimulant

bagi tubuh (Lenny, 2006).

Masing-masing bagian tumbuhan memiliki khasiat tersendiri. Bagian

tumbuhan yang digunakan secara ganda atau lebih dari satu bagian bertujuan agar

khasiatnya lebih lengkap. Hal ini dikarenakan masing-masing bagian tumbuhan

memiliki senyawa atau kandungan kimia dan manfaat yang berbeda-beda.

Sehingga apabila digunakan secara keseluruhan sesuai dosis maka khasiat dari

tiap bagian pun akan didapat. Jika satu jenis tumbuhan memiliki beberapa bagian

yang dapat dimanfaatkan, maka kondisi ini lebih menjamin jenis tersebut berada

dalam kondisi baik (Pei et al. 2009).

4.3.5. Pemanfaatan Tumbuhan Obat Berdasarkan Kelompok Penyakit

Pemanfaatan tumbuhan obat yang paling banyak adalah pada kelompok

penyakit tidak menular (46,59%). Pemanfaatan tumbuhan obat yang paling

rendah adalah pada kelompok penyakit kronik (14,17%) (Gambar 11). Hasil

serupa juga ditemukan pada masyarakat Kabupaten Pamekasan Madura yang

Page 55: ETNOBOTANI TUMBUHAN OBAT DI DESA NEGLASARI …

37

menunjukkan bahwa pemanfaatan tumbuhan obat paling banyak pada penyakit

tidak menular (59%) (Zaman, 2009).

Gambar 11. Persentase jenis penyakit yang dapat diobati menggunakan

tumbuhan obat

Jenis penyakit yang tergolong kedalam penyakit kronik diantaranya adalah

batu ginjal, penyakit jantung, kanker, kencing batu, diabetes, asam urat, demam

berdarah dengue, malaria, beriberi, batu empedu, paruparu, dan hepatitis. Jenis

penyakit yang tergolong kedalam penyakit menular diantaranya disentri, batuk,

batuk TBC, bisul, diare, cacar air, cacingan, gatal-gatal. Jenis penyakit yang

tergolong kedalam penyakit tidak menular diantaranya Demam, panas dalam,

keputihan, perut kembung, pendarahan, hipertensi, hipotensi, luka bakar, anemia,

terlambat haid, keseleo, sakit gigi, sariawan, nyeri haid, rheumatik, amandel, dan

ambeien. Kemudian jenis penyakit yang masuk dalam kelompok penyakit lain-

lain diantaranya penyubur rahim, mengurangi bau badan, menambah nafsu

makan, pelancar haid, penyegar badan, penambah berat badan, pelancar ASI,

Page 56: ETNOBOTANI TUMBUHAN OBAT DI DESA NEGLASARI …

38

galian singset, mengurangi bau mulut, obat kuat, menguatkan gigi, penyegar ASI,

penetral virus, dan penetral darah (Zaman, 2009).

Beberapa penyakit tidak menular yang diobati menggunakan tumbuhan

obat oleh masyarakat Desa Neglasari diantaranya adalah demam, panas dalam,

keputihan, dan perut kembung. Pendarahan, hipertensi, hipotensi, luka bakar,

anemia, dan terlambat haid juga umum di diderita oleh masyarakat. Keseleo, sakit

gigi, sariawan, nyeri haid, rheumatik, amandel, dan ambeien juga masih diobati

dengan memanfaatkan tumbuhan obat. Jenis-jenis penyakit tersebut adalah jenis

penyakit yang sering muncul, sehingga pemanfaatan tumbuhannya pun tinggi.

4.3.6. Pemanfaatan Tumbuhan Obat Berdasarkan Cara Pengolahan

Lain halnya dengan masyarakat suku Sougb yang lebih banyak mengolah

tumbuhan obat dengan cara ditumbuk (Oagay, 2013), pengolahan tumbuhan obat

yang paling sering digunakan oleh masyarakat Desa Neglasari adalah dengan cara

direbus (37,59%). Pengolahan yang paling sedikit digunakan adalah dengan cara

diteteskan (0,75%), diletakkan pada organ (0,75%), dan dioles (0,75%) (Gambar

12).

Hal ini dikarenakan cara perebusan dipercaya masyarakat dapat

membunuh kuman yang ada pada tumbuhan. Perebusan juga dipercaya ampuh

karena umumnya penyakit yang diobati adalah jenis penyakit dalam.

Kemungkinan lainnya terkait dengan cara pengolahan yang biasa dilakukan

masyarakat yang lebih banyak melakukannya dengan cara direbus adalah karena

lebih mudah untuk mengambil sari atau khasiat yang dimiliki tumbuhan tersebut.

Page 57: ETNOBOTANI TUMBUHAN OBAT DI DESA NEGLASARI …

39

Gambar 12. Persentase pengelompokan tumbuhan berdasarkan cara pengolahan

Pengolahan yang dilakukan dengan cara berbeda memiliki efek yang

berbeda pula dalam hal mengobati atau menyembuhkan suatu penyakit.

Tumbuhan obat yang mengandung racun perlu direbus dengan api yang kecil

dalam waktu yang agak lama (3-5 jam) untuk mengurangi kadar racunnya

(Adyana, 2012). Menurut Jonosewo (2013), melalui teknik perebusan maka

kandungan senyawa aktif di dalam daun seperti flavonoid menjadi larut dalam air

sehingga lebih mudah dicerna tubuh.

Pengolahan dengan cara direbus ternyata tidak selalu efektif untuk semua

jenis tumbuhan. Seperti pada rimpang kunyit yang seharusnya diolah tanpa

pemanasan atau perebusan. Menurut Fitoni et al. (2013) filtrat pada rimpang

kunyit mengandung tanin yang merupakan senyawa dalam larutan netral yang

akan membentuk endapan yang tak larut dan kesat. Zat tanin akan menyebabkan

perapatan dan penyempitan lapisan terluar sehingga dapat mengobati penyakit

diare. Namun jika terjadi pemanasan maka senyawa tersebut akan mengalami

Page 58: ETNOBOTANI TUMBUHAN OBAT DI DESA NEGLASARI …

40

denaturasi atau kerusakan. Sehingga senyawa tersebut akan bekerja efektif tanpa

adanya pemanasan atau perebusan.

Tumbuhan obat yang diolah dapat berupa bahan tunggal maupun

campuran, baik itu campuran dengan tumbuhan obat lain maupun campuran

dengan bahan lain seperti garam. Salah satu contoh tumbuhan obat yang diolah

dengan campuran garam adalah jahe (Z. officinale) yang diparut dengan

penambahan sedikit garam kemudian dioleskan ke bagian tubuh yang sakit, cara

ini dapat digunakan untuk mengobati sakit pinggang. Tumbuhan dengan

mencampurkan beberapa tumbuhan lain untuk diolah diantaranya adalah

campuran dari daun sembung (Blumea balsamifera), jawer kotok (Coleus

scutellarioides), jahe (Z. officinale), dan cikur (K. galanga) yang kemudian di

tumbuk dan di tumis untuk dimakan. Pengolahan beberapa tumbuhan ini

dipercaya dapat menghilangkan rasa sakit-sakit pada badan.

Penggunaan tumbuhan obat ini jauh lebih baik karena berfungsi sebagai

ramuan alami untuk mengobati penyakit yang seringkali muncul atau sering

kambuh. Umumnya tumbuhan yang digunakan berasal dari pekarangan rumah

masyarakat, baik sengaja di budidayakan maupun tumbuh secara liar. Masyarakat

juga tidak perlu mengeluarkan biaya yang besar bila dibandingkan dengan obat-

obatan modern. Penggunaan tumbuhan obat juga tidak memiliki efek samping

bila dibandingkan dengan obat-obatan modern (Thomas, 1989).

Masyarakat juga memahami bahwa selain berguna untuk menyembuhkan

berbagai penyakit, tumbuhan obat juga dapat digunakan untuk bahan pangan atau

bumbu dapur. Tumbuhan obat juga dapat memperindah pemandangan jika

Page 59: ETNOBOTANI TUMBUHAN OBAT DI DESA NEGLASARI …

41

digunakan untuk tumbuhan hias dan ditanam didalam pot atau dipekarangan

rumah. Hal ini sesuai menurut Made (2011), tumbuhan obat sebenarnya memiliki

fungsi ganda selain untuk dekorasi halaman, tumbuhan berfungsi sebagai ramuan

alami untuk mengobati berbagai penyakit yang seringkali timbul.

Penduduk cenderung untuk memanfaatkan tumbuhan yang lebih dekat

dengan lokasi pemukiman karena beberapa pertimbangan yaitu (i) adanya

interaksi yang lebih intensif dengan jenis-jenis tumbuhan tersebut, (ii) kekayaan

jenis (richness) tumbuhan berguna yang tinggi di sekitar kawasan pemukiman;

serta (iii) kecenderungan manusia untuk tinggal di dekat vegetasi yang kaya akan

jenis-jenis tumbuhan yang bermanfaat (Salick et al., 1999). Jenis-jenis tumbuhan

obat yang bervariasi di Desa Neglasari Kecamatan Nyalindung Kabupaten

Sukabumi saat ini belum dimanfaatkan oleh masyarakat untuk tujuan komersil.

Masyarakat hanya memanfaatkan tumbuhan tersebut untuk kebutuhan sendiri dan

hal ini dilakukan secara turun-temurun. Oleh karena itu perlu adanya penelitian

lanjutan mengenai kandungan bahan aktif yang terdapat pada tumbuhan obat.

Upaya konservasi juga perlu ditanamkan agar tidak terjadi kepunahan tradisi

mengenai pemanfaatan tumbuhan obat dari generasi ke generasi berikutnya.

Page 60: ETNOBOTANI TUMBUHAN OBAT DI DESA NEGLASARI …

42

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan

Masyarakat desa Neglasari menggunakan 64 jenis tumbuhan obat yang

berasal dari 37 famili. Bagian tumbuhan yang paling banyak digunakan adalah

bagian daun (32,35%). Kelompok penyakit yang dapat diobati menggunakan

tumbuhan obat terdiri dari 4 kelompok penyakit, nilai tertinggi adalah kelompok

penyakit tidak menular (46,59%). Pengolahan tumbuhan obat umunya dilakukan

dengan cara direbus (37,59%).

5.2. Saran

Hasil penelitian ini memerlukan tindak lanjut berupa:

1. Penelitian lanjutan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas hasil

budidaya tumbuhan obat dan meneliti kandungan bahan aktif yang

terdapat pada tumbuhan obat serta upaya konservasi untuk melindungi

pengetahuan lokal masyarakat tentang tumbuhan obat, guna menghindari

kepunahan tradisi yang telah berlangsung dari generasi ke generasi

berikutnya.

2. Budidaya jenis tumbuhan liar lokal di desa Neglasari dapat dilakukan guna

menjamin ketersediaanya dan menghindarkan kepunahannya.

Page 61: ETNOBOTANI TUMBUHAN OBAT DI DESA NEGLASARI …

43

DAFTAR PUSTAKA

Adnyana M. 2012. Cara Pengolahan Obat Tradisional Baik dan Benar. Diakses

di http://www.herbaltarupramana.com/artikel-18.

Albuquerque UP, Lucena RFP, Motnteiro JM, Florentino ATN, dan Almeida

CBR. 2006. Ethnobotany Research & Aplications Vol 4: 51-60.

Aliadi A, HS Roemantyo. 1994. Kaitan Pengobatan Tradisional dengan

Pemanfaatan Tumbuhan Obat dalam Zuhud, E.A.M. dan Haryanto (eds.).

Pelestarian Pemanfaatan Keanekaragaman Tumbuhan Obat Hutan

Tropika Indonesia. Jurusan Konservasi Sumberdaya Hutan IPB-Lembaga

Alam Tropika Indonesia (LATIN). Bogor.

Anggana AF. 2011. Kajian Etnobotani Masyarakat di Sekitar Taman Nasional

Gunung Merapi [skripsi]. Departemen Konservasi Sumber Daya Hutan

dan Ekowisata IPB. Bogor.

Anggraeni R. 2013. Etnobotani Masyarakat Subetnis Batak Tobadi Desa

Peadungdung Sumatera Utara [skripsi]. Fakultas Matematika dan Ilmu

Pengetahuan Alam Departemen Biologi UI. Depok.

Arifin HS. 2005. Tanaman Hias Tampil Prima. Penebar Swadaya. Jakarta.

Ashari S. 1995. Hortikultura Aspek Budidaya. Penerbit Universitas Indonesia.

Jakarta.

Backer CA dan Bakhuizen van der Brink RC Jr. 1963-1968. Flora of Java Vol. 1-

3. Woolters Noordhoff. Groningen: 761 hlm.

Bernard HR. 2002. Research Methods in Cultural Anthropology: Qualitative and

Quantitative. AltaMitra Press, Walnut Creek, California.

Bodeker G. 2000. Indiginous Medical Knowledge. The Law And Politics Of

Protection. Oxford Intelectual Property Research Center Seminar in St.

Peter’s Collage 25th

January 2000, Oxford.

Brush SB. 1994. A non-market approach to proctecting biological research. In:

Greaves, T. (editor). Intelectual Property Right for Indigenous People.

Oklahoma City: Society for Applied Anthropology.

Case RJ, Pauli GF, dan Soejarto DD. 2005. Factors in Maintaning Indigenous

Knowledge Among Ethnic Communities of Manus Island. Economic

Botany 59(4): 356-365.

Dalimartha S. 1999. Atlas Tumbuhan Obat Jilid 1. Trubus Agriwidya. Jakarta.

Damayanti EK. 1999. Kajian Tumbuhan Obat Berdasarkan Kelompok Penyakit

Penting pada Berbagai Etnis di Indonesia. [skripsi]. Fakultas kehutanan,

Institut Pertanian Bogor.

Page 62: ETNOBOTANI TUMBUHAN OBAT DI DESA NEGLASARI …

44

Danoesatro. 1980. Tumbuhan Obat Keluarga. Penebar Swadaya. Jakarta.

Fakhrozi I. 2009. Etnobotani Masyarakat Suku Melayu Tradisional di Sekitar

Taman Nasional Bukit Tigapuluh. [skripsi]. Fakultas Kehutanan. Institut

Pertanian Bogor. Bogor.

Fitoni C, Asri M, dan Hidayat M. 2013. Pengaruh Pemanasan Filtrat Rimpang

Kunyit terhadap Pertumbuhan Bakteri Coliform. Jurnal Lentera Bio Vol. 2

No.3 Hal:217-221.

Garcia VR, Broesch J, Calvet-Mir L, Fuentes-Plaez N, McDAde TW, Parsa S,

Tanner S, Huanca T, Leonard WR, dan Martnez-Rodriguez MR. 2009.

Cultural Transmission of Ethnobotanical Knowledge and Skills: an

Empirical Analysis from an Amerindian Society. Evolution and Human

Behavior 30: 374-285.

Giono W. 2004. Budidaya Tumbuhan Obat di Perkarangan. Agromedia Pustaka.

Jakarta.

Gunawan A. 2007. Food Combining, Kombinasi Makanan Serasi Pola Makan

untuk Langsing & Sehat. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

Hamid A, Nuryani Y. 1992. Pengetahuan Tradisional Tumbuhan Racun di

Indonesia. Di dalam: Seminar dan Lokakarya Nasional Etnobotani;

Cisarua-Bogor, 19-20 Februari 1992. Departemen Pendidikan dan

Kebudayaan RI, Departemen Pertanian RI, LIPI, Perpustakaan Nasional

RI, Hal: 72-77. Bogor.

Hamzari. 2008. Identifikasi Tanaman Obat-obatan yang Dimanfaatkan oleh

Masyarakat Sekitar Hutan Tabo-tabo. Hal: 159. Universitas Hasanudin.

Makassar.

Handayani L. 2003. Membedah Rahasia Ramuan Madura. Agromedia Pustaka.

Jakarta.

Hariana A. 2004. Tumbuhan Obat dan Khasiatnya Seri 1. Penebar Swadaya.

Depok.

Hariana A. 2008. Tumbuhan Obat dan Khasiatnya Seri 2. Penebar Swadaya.

Depok.

Hastuti SD, Tokede MJ dan Maturbongs RA. 2002. Tumbuhan Obat Menurut

Etnobotani Suku Biak. [Traditional medicinal plants of the Biak people].

Beccariana, 4(1):20-40.

Heyne, K. 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia jilid 1-4. Badan Litbang

Kehutanan. Yayasan Wana Jaya. Jakarta.

Page 63: ETNOBOTANI TUMBUHAN OBAT DI DESA NEGLASARI …

45

Hoffman B dan Gallaher T. 2007. Importance Indices in Ethnobotany.

Ethnobotany Research & Aplication 5: 201-218.

Howard P. 2003. The Major Impoertance of „Minor‟ Resources: Womwn and

Plant Biodiversity. Gatekeeper 112: 3-24.

Howay M, Sinaga NI, dan Kesaulija EM. 2003. Utilization of Plants as

Traditional Medicines by Maibrat Tribe in Sorong. Beccariana 5(1): 24-

34.

Hufschmidt, James, Bower, Meister, dan Dixon. 1987. Lingkungan, Sistem Alami

dan Pembangunan. Gajah Mada Universuty Press. Yogyakarta.

Jaini. 1993. Risalah Potensi Tumbuhan Buah-Buahan dan Tumbuhan Sebagai

Obat pada Kebun Plasma Nutfah Di Areal HPH PT. Sari Bumi Kusuma

Sintang Kal-bar. [Skripsi] Fakultas Pertanian Jurusan Kehutanan UNTAN.

Pontianak.

Jalius dan Muswita. 2013. Eksplorasi Pengetahuan Lokal Tentang Tumbuhan

Obat di Suku Batin Jambi. Jurnal Biospecies (1): 28 – 37.

Johani E. 2008. Tanaman Pekarangan Pilihan. Salamadani. Bandung.

Kartika R. 2013. Aktivitas Anti Kanker yang Terkandung di Dalam Buah dari

Tumbuhan Bawang Hutan (Scorodocarpus borneensis Becc.). Departemen

Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas

Sumatera Utara. Medan.

Kartikawati SM. 2004. Pemanfaatan Sumberdaya Tumbuhan oleh Masyarakat

Dayak Meratus di Kawasan Hutan Pengunungan Meratus, Kabupaten

Hulu Sungai tengah [tesis]. Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor.

Keraf AS. 2002. Etika Lingkungan. Kompas. Jakarta

Kuntorini EM. 2005. Botani Ekonomi Suku Zingiberaceae Sebagai Obat

Tradisional oleh Masyarakat di Kota Madya Banjarbaru. Bioscientie. (2):

25-36.

Kusumaatmaja M. 1995. Hukum, Masyarakat dan Pembinaan Hukum Nasional :

Suatu Uraian tentang Landasan Pikiran, Pola dan Mekanisme

Pembaharuan Hukum di Indonesia. Lembaga Penelitian Hukum dan

Kriminologi Fakultas Hukum UNPAD. Bandung.

Lenny S. 2006. Senyawa Terpenoida dan Steroida. Departemen Kimia Fakultas

Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sumatera Utara.

Medan.

MacKinnon K, Hatta G, Halim H, dan Mangalik A. 2000. Ekologi Kalimantan.

Editor: Kartikasari SN. Prenhallindo. Jakarta.

Page 64: ETNOBOTANI TUMBUHAN OBAT DI DESA NEGLASARI …

46

Made DD, Kartika E, dan Mukhlis F. 2011. Peningkatan Kesehatan Masyarakat

Melalui Pemberdayaan Wanita dalam Pemanfaatan Perkarangan dengan

Tanaman Obat Keluarga (TOGA) di Kecamatan Geragai. Jurnal

Pengabdian pada Masyarakat No.52.

Martin GJ. 1995. Ethnobotany: A „People and Plant‟ Conservation Manual.

Chapman and Hall. London.

Martin GJ. 1998. Etnobotani. M. Mohamed, Penerjemah. Gland Switzerland :

Kerjasama Natural History Publication (Borneo), Kota Kinabalu dan

World Life Fund for Nature.

Martin GJ. 2004. Ethnobotany: a metods manual. Chapman and Hall. London.

Meliki, Riza L dan Irwan L. 2013. Etnobotani Tumbuhan Obat oleh Suku Dayak

Iban Desa Tanjung Sari Kecamatan Ketungau Tengah Kabupaten Sintang.

Jurnal Protobiont, vol 2 (3): 129-135.

Oagay Y. 2013. Pemanfaatan Tumbuhan Sebagai Obat Tradisional oleh

Masyarakat Suku Sougb di Kampung Warbiadi Distrik Oransbari

Kabupaten Manokwari [skripsi]. Jurusan Kehutanan Fakultas Kehutanan

Universitas Negeri Papua. Manokwari.

Pei S, Zhang G, dan Huai H. 2009. Application of Traditional Knowledge in

Forest Management: Ethnobotanical Indicators of Sustainable Forest Use.

Forest Ecology and Management 257: 2017-2021.

Prananingrum. 2007. Etnobotani Tumbuhan Obat Tradisional di Kabupaten

Malang Bagian Timur. Skripsi tidak diterbitkan. Jurusan Biologi Fakultas

Sains dan Teknologi UIN Malang. Malang.

Rahayu M, Sunarti S, Sulistiarini D, dan Prawiroatmodjo S. 2006. Pemanfaatan

Tumbuhan Obat secara Tradisional oleh Masyarakat Lokal di Pulau

Wawonii Sulawesi Tenggara. Biodiversitas (7): 245-250.

Redaksi Agromedia. 2008. Buku Pintar Tanaman Obat. Agromedia Pustaka.

Jakarta.

Roemantyo HS dan Aliadi A. 1994. Kaitan Pengobatan Tradisional dengan

Pelestarian Pemanfaatan Keanekaragaman Tumbuhan Obat. Fakultas

Kehutanan Institut Pertanian Bogor dan Lembaga Alam Tropika

Indonesia. Bogor.

Sajogyo. 1978. Lapisan Masyarakat yang Paling Lemah. Prisma. LP3ES. Jakarta.

Salick J, Biun A, Martin G, Apin L, dan Beaman R. 1999. Whence Useful Plant?

A Direct Relationship between Biodiversity and Useful Plants among the

Dusun of Mt. Kinabalu. Biodiversity and Conservations 8:797-818.

Page 65: ETNOBOTANI TUMBUHAN OBAT DI DESA NEGLASARI …

47

Santoso HB. 2008. Ragam dan Khasiat Tanaman Obat. Agromedia Pustaka.

Jakarta.

Septiatin. 2008. Seri Tanaman Obat: Apotik Hidup dari Rempah-rempah,

Tanaman Hias dan Tanaman Liar. Yrama Widya. Bandung.

Setyowati FM, dan Wardah. 1993. Berbagai Jenis Tumbuhan di Lahan Gambut

dan Pemanfaatannya oleh Suku Melayu di Kecamatan Sambas,

Kalimantan. Pengembangan Sumberdaya Hayati. Puslitbang Biologi-LIPI

Bogor. Bogor.

Siswanto YW. 1997. Penanganan Hasil Panen Tanaman Obat Tradisional. Cet I.

Trubus Agriwidya. Semarang.

Siswoyo, Zuhud EAM, dan Sitepu D. 1994. Perkembangan dan Program

penelitian Tumbuhan Obat di Indonesia dalam Pelestarian Pemanfaatan

Keanekaragaman Tanaman Obat Hutan Tropika Indonesia. Jurusan

Konservasi Sumberdaya Hutan. Fakultas Kehutanan IPB- Lembaga Alam

Tropika Indonesia (LATIN). Bogor.

Soekanto S. 1982. Sosiologi Suatu Pengantar. PT Raja Grafindo Persada. Jakarta.

Soekarman. 1992. Status Pengetahuan Etnobotani di Indonesia. Prosiding

Seminar dan Lokakarya Nasional Etnobotani. Kerjasama Departemen

Pendidikan dan Kebudayaan RI. Departemen Pertanian LIPI dan

Perpustakaan Nasional RI. Bogor.

Soekarman, Riswan S. 1992. Status Pengetahuan Etnobotani di Indonesia. Di

dalam: Seminar dan Lokakarya Nasional Etnobotani; Cisarua-Bogor, 19-

20 Februari 1992. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI,

Departemen Pertanian RI, LIPI, Perpustakaan Nasional RI. Hal: 1-7.

Bogor.

Sosrokusumo P. 1989. Pelayanan pengobatan tradisional di bidang kesehatan

jiwa. Dalam: Salan, R., Boedihartono, P. Pakan, Z.S. Kuntjoro, dan I.B.I.

Gotama (ed.). Lokakarya tentang Penelitian Praktek Pengobatan

Tradisonal. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Deparetem

Kesehatan Republik Indonesia. Ciawi, 14-17 Desember 1988.

Stepp JR, dan Moerman DE. 2001. The Importance of Weeds in

Ethnopharmacology. Journal of Ethnopharmacology 75:19-23.

Sudarnadi H. 1996. Tumbuhan Monokotil. Penebar Swadaya. Jakarta.

Sugiyono. 2007. Memahami Penelitian Kualitatif. Alfabeta. Bandung.

Suwahyono, N, Sudarsono B, Waluyo EB. 1992. Pengelolaan Data Etnobotani

Indonesia. Prosiding Seminar dan Lokakarya Nasional Etnobotani I.

Page 66: ETNOBOTANI TUMBUHAN OBAT DI DESA NEGLASARI …

48

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, Departemen Pertanian RI,

LIPI, Perpustakaan Nasional RI. Bogor. Hal: 8-15.

Swanson TM. 1995. Intellectual Property Rights and Biodiversity Conservation

„An Interdisciplinary Analysis of the Values of Medicinal Plants.

Cambridge University Press, Cambridge.

Tersono LA. 2006. Tanaman Obat dan Jus Untuk Asam Urat dan Rematik.

Agromedia Pustaka. Jakarta.

Thomas ANS. 1989. Tanaman Obat Tradisional. Kanisius. Jakarta.

Tjitrosoepomo G. 1988. Morfologi Tumbuhan. Gadjah Mada University Press.

Yogyakarta.

Tjitrosoepomo G. 1993. Taksonomi Tumbuhan Obat-obatan. Gadjah Mada

University Press. Yogyakarta.

Triatmojo YN. 2001. Pemanfaatan Tumbuhan Obat Tradisional pada Masyarakat

Suku Mpur di Desa Atai Kecamatan Kebar Kabupaten Manokwari.

Voeks RA. 2007. Are Woman Reservoir of Traditional Plant Knowledge?

Gender, Ethnobotany and Globalization in Northeast Brazil. Singapore

Journal of Tropical Geography 28: 7-20.

Wasito H. 2011. Obat Tradisional Kekayaan Indonesia. Graha Ilmu. Yogyakarta.

Wijayakusuma H. 2000. Tumbuhan Berkhasiat Obat Indonesia. Jilid I. Prestasi

Insan. Jakarta.

Winarto WP. 2004. Khasiat dan Manfaat Kunyit. Agromedia Pustaka. Jakarta.

Winarto WP. 2007. Tanaman Obat Indonesia untuk Pengobatan Herbal Jilid I, II,

& III. Karyasari Herba Media. Jakarta Timur.

Wulandari S dan Juwita WS. 2006. Bioaktifitas Ekstrak Jahe (Zingiber officinale

Roxb.) dalam Menghambat Pertumbuhan Koloni Bakteri Escherichia coli

dan Bacillus Subtilis. Jurnal Biogenesis Vol.2(2):64-66.

Zaman MQ. 2009. Etnobotani Tumbuhan Obat di Kabupaten Pamekasan Madura

Provinsi Jawa Timur. [skripsi] Jurusan Biologi Fakultas Sains dan

Teknologi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim. Malang.

Zein U. 2005. Pemanfaatan Tumbuhan Obat dalam Upaya Pemeliharaan

Kesehatan. Penelitian Kesehatan. Fakultas Kedokteran Universitas

Sumatra Utara.

Zent S. 2009. Methodology for Developing a Vitality Index of Traditional

Environmental Knowledge (VITEK) for the Project “Global Indicators of

the Status and Trends of Linguistic Diversity and Traditional Knowledge.”

Page 67: ETNOBOTANI TUMBUHAN OBAT DI DESA NEGLASARI …

49

Principal Investigator Centro de Antropologia Instituto Venezolano de

Investigaciones Cientificas (IVIC). Venezuela.

Zuhud EAM dan Haryanto. 1994. Pelestarian Pemanfaatan Keanekaragaman

Tumbuhan Obat Hutan Tropika Indonesia. Jurusan Konservasi

Sumberdaya Hutan Fakultas Kehutanan IPB dan Lembaga Alam Tropika

Indonesia (LATIN). Bogor.

Page 68: ETNOBOTANI TUMBUHAN OBAT DI DESA NEGLASARI …

50

Lampiran 1 Kuisioner Responden

Nama Responden :

Status Perkawinan : L/P

RT/RW/Dusun :

KARAKTERISTIK RESPONDEN

1. Berapa umur anda?

a). <19 tahun b). 20-29 tahun c). 30-39 tahun

d). 40-49 tahun e). 50-59 tahun f). >60 tahun

2. Darimana asal daerah anda?

a). Asli suku sunda, b). Pendatang dari ......................

3. Apa pendidikan terakhir anda?

a). Tidak sekolah/buta huruf b). Tidak tamat SD

c). Tamat SD sederajat d). Tamat SLTP/SMP

e). Tamat SLTA/SMA f). Lain-lain, sebutkan ......

4. Apa pekerjaan anda?

a). Tidak bekerja b). Lain-lain, sebutkan .....................

5. Bila sudah menikah, apa pendidikan terakhir suami/istri anda?

a). Tidak sekolah/buta huruf b). Tidak tamat SD

c). Tamat SD sederajat d). Tamat SLTP/SMP

e). Tamat SLTA/SMA f). Lain-lain, sebutkan ......

6. Bila sudah menikah, apa pekerjaan suami/istri anda?

a). Tidak bekerja b). Lain-lain, sebutkan .....................

7. Berapa jumlah anak anda? ....................... orang

Page 69: ETNOBOTANI TUMBUHAN OBAT DI DESA NEGLASARI …

51

8. Berapa anak yang masih menjadi tanggungan anda? ..................... orang

PENGGUNAAN OBAT TRADISIONAL

9. Apakah anda pernah memakai tumbuhan sebagai obat tradisional?

a). Ya b). Tidak

10. Bila tidak, berusaha berobat kemana?

a). Puskesmas b). Bidan c). Dokter d). Mantri

e). Mengobati sendiri/Jamu f). Lain-lain

11. Bila ya, darimana anda mendapatkan pengobatan tradisional?

a). Tabib b). Turun-temurun c). Lain-lain

12. Jenis penyakit apa saja yang pernah diobati secara tradisional?

a). Demam f). Kulit : Panu, Kudis, Luka, dll k). Lainnya ......

b). Batuk/Pilek g). Sakit perut, Mencret, Cacingan, dll

c). KB h). Sakit gigi, Tenggorokan

d). Sembelit i). Perdarahan : Mimisan, Abortus pasca operasi

e).Hati j). Patah tulang

13. Jenis tumbuhan obat apa saja yang saat ini telah anda tanam/budidayakan?

a). ..... d). ….. g). ….. j). ….. m). …..

b). ….. e). ….. h). ….. k). ….. n). …..

c). ..... f). ….. i). ….. l). ….. o). …..

14. Jenis obat tradisional apa yang saat ini tersimpan di rumah anda?

a). ….. d). ….. g). ….. j). ….. m). …..

b). ….. e). ….. h). ….. k). ….. n). …..

c). ….. f). ….. i). ….. l). ….. o). …..

Page 70: ETNOBOTANI TUMBUHAN OBAT DI DESA NEGLASARI …

52

Lampiran 2 Kuisioner Paraji

Nama :

Umur : .............. thn L/P

Pendidikan terakhir :

Pekerjaan :

RT/RW/Dusun :

Penggunaan Tanaman Obat oleh Paraji dalam Pengobatan

1. Sejak kapan anda berprofesi sebagai paraji?

______________________________________________________________

2. Bagaimana anda mengetahui tentang penyakit?

_______________________________________________________________

______________________________________________________________

______________________________________________________________

3. Apakah anda menggunakan tumbuhan dalam pengobatan?

______________________________________________________________

4. Jika ya, tumbuhan apa saja yang digunakan sebagai obat? (Lampiran 3)

5. Bagaimana anda mengukur dosis obat pada pasien?

______________________________________________________________

_______________________________________________________________

______________________________________________________________

6. Apakah dosis obat pada setiap penyakit sama?

_______________________________________________________________

______________________________________________________________

Page 71: ETNOBOTANI TUMBUHAN OBAT DI DESA NEGLASARI …

53

7. Berapa hari biasanya obat digunakan?

_______________________________________________________________

______________________________________________________________

8. Kapan minum obat dihentikan?

_______________________________________________________________

______________________________________________________________

9. Apakah ada pantangan-pantangan dalam meminum obat?

_______________________________________________________________

______________________________________________________________

10. Pada siapa obat tidak boleh diberikan?

_______________________________________________________________

______________________________________________________________

11. Darimana anda mendapatkan pengetahuan mengenai cara meramu tumbuhan

menjadi obat?

a. Orang tua b. saudara c. kerabat d. lainnya: _________

12. Apakah pengetahuan tentang tata cara pengobatan dan pengolahan tumbuhan

obat dalam penyembuhan pasien ini diturunkan pada anak anda?

_______________________________________________________________

_______________________________________________________________

13. Apakah bahan untuk membuat obat hanya terdiri dari 1 macam atau bermacam

tumbuhan?

_______________________________________________________________

Page 72: ETNOBOTANI TUMBUHAN OBAT DI DESA NEGLASARI …

54

Lampiran 3. Daftar jenis tumbuhan obat masyarakat desa Neglasari

1 2 3 4 5 6 7 8

No. Famili Nama Tumbuhan

Habitus Bagian

Tumbuhan Cara Pengolahan Jenis Penyakit

Lokal Ilmiah

1 Archantaceae Haneuleum Graptophyllum

pictum

Perdu Daun segar Ditumbuk, dibalur. Encok, reumatik.

Dipanaskan, ditempelkan. Bisul.

Direbus, disaring, diminum. Haid tidak lancar.

Bunga

kering

Diolesi minyak, dipanaskan, ditempelkan. Masuk angin pada bayi, demam pada

bayi.

Kibeling Strobilanthes

crispus

Perdu Daun Dimakan langsung sebagai lalapan. Sakit kuning, maag, kolesterol.

Dikeringkan, diseduh, diminum. Asam urat, hipertensi, batuk, influenza,

demam, masuk angin, sakit kepala,

alergi, menurunkan berat badan,

kolesterol tinggi, meningkatkan daya

tahan tubuh.

Sambiloto Andrographis

paniculata

Herba Daun kering Direbus, disaring, diminum. Hipertensi, diabetes

Daun segar Dikunyah (air ditelan, ampas dibalur). Gigitan ular berbisa.

Direbus,disaring, diminum. Wasir, anti plak gigi.

2 Annonaceae Manalika Annona

muricata

Perdu Buah Dilumat, diperas, diminum. Diare pada bayi, ambeien.

Daun Ditumbuk, dibalur. Bisul, nyeri otot.

Direbus, disaring, diminum. Reumatik, hipertensi.

3 Araliaceae Daun

Kedondong

Nothopanax

Fruticosum

Perdu Daun Ditumbuk, diperas, diminum. Peluruh air seni, reumatik, sariawan.

4 Arecaceae Jadam / Jambe Areca catechu Pohon Buah Direbus, disaring, diminum. Cacingan.

5 Asteraceae Babadotan Ageratum

conyzoides

Herba Seluruh

bagian

Ditumbuk, dibalur. Luka berdarah, bisul, reumatik,

bengkak karena keseleo, perawatan

rambut.

Page 73: ETNOBOTANI TUMBUHAN OBAT DI DESA NEGLASARI …

55

Direbus, disaring, diminum. Pendarahan Rahim, sariawan, malaria,

influenza, perut kembung, mulas,

muntah, keputihan.

Baluntas Pluchea indica Perdu Daun Dimakan langsung, sebagai lalap. Bau badan, bau mulut, meningkatkan

nafsu makan.

Direbus, dicampur ke makanan. Gangguan pencernaan pada anak,

demam.

Dilumat, dibalur. Luka.

Ditumbuk, diseduh, diminum. Haid tidak teratur.

Akar Direbus, dimakan. Reumatik, sakit pinggang.

Lampuyung Sonchus

arvensis

Perdu Daun Direbus, disaring, diminum. Pemulih stamina bagi wanita setelah

melahirkan.

Ditumbuk, diperas, dioles. Bisul.

Dimakan langsung. Hipertensi.

Sembung Blumea

balsamifera

Perdu Akar Direbus, disaring, diminum. Asma, sakit perut, perangsang nafsu

birahi, penghilang rasa sakit, diare.

6 Basellaceae Binahong Anredera

cordifolia

Tumbuhan

memanjat

Daun Direbus, disaring, diminum. Sesak nafas, menjaga stamina tubuh,

melancarkan haid, menhilangkan

jerawat, mimisan, gusi berdarah, darah

rendah, batuk, ambeien, lemah syahwat

Batang Direbus, disaring, diminum. Mengatasi kelemahan pria.

Rimpang Direbus, disaring, diminum. Maag, typus, asam urat, sakit

pinggang.

7 Caricaceae Gedang Carica papaya Herba Daun Ditumbuk, diseduh, diminum. Demam.

Buah Dimakan langsung. Melancarkan BAB.

8 Compositae Sawi langit Vernonia

cinerea

Terna Seluruh

bagian

Direbus, disaring, diminum. Demam, batuk, disentri, hepatitis,

memulihkan stamina, susah tidur.

Dilumat, dibalur. Bisul, digigit ular, luka memar,

keseleo.

Dilumat, dibalur. Campak, demam, gigitan ular, bisul.

9 Crassulaceae Buntiris/cocor

bebek

Kalanchoe

pinnata

Semak Daun Direbus, disaring, diminum. Batuk, influenza, menambah nafsu

makan, hipertensi, reumatik, nyeri

haid, asma, sariawan, diabetes,

Page 74: ETNOBOTANI TUMBUHAN OBAT DI DESA NEGLASARI …

56

perawatan pasca melahirkan untuk

menghilangkan darah kotor, diare,

cacingan.

10 Cucurbitaceae Bonteng Cucumis

sativus

Tumbuhan

Memanjat

Buah Diparut, dibalurkan. Demam pada bayi.

Dimakan langsung Hipertensi.

Paria Momordica

charantia

Semak Buah Ditumbuk. Dibalur. Bisul.

Dilumat, dioleskan. Penyubur rambut anak.

Daun Direbus, disaring, diminum. Batuk, wasir, penyakit kulit, demam

nifas.

Ditumbuk, disaring, diminum. Cacing kremi.

Ditumbuk, disaring, dioleskan. Rabun malam.

Ditumbuk, dioleskan. Ambeien

Akar Ditumbuk, disaring, diminum. Sembelit.

Waluh Lagenaria

siceraria

Tumbuhan

memanjat

Buah Ditumbuk, dibalurkan. Demam, mengencangkan payudara.

11 Dilleniaceae Sempur Dillenia

philippinensis

Pohon Buah Dimakan langsung. Sariawan, obat kuat untuk wanita

hamil, penyegar badan.

12 Euphorbiaceae Jarak Ricinus

communis

Perdu Biji Dipanaskan, ditempelkan. Sembelit pada anak.

Daun Ditumbuk, dioleskan. Ketombe, reumatik, mengencangkan

payudara.

Direbus, disaring, diminum. Gusi bengkak.

Diteteskan Sakit gigi.

Getah Direbus, disaring, diminum. Diabetes, sakit paru-paru, sakit

tenggorokan, influenza, gondongan,

pembengkakan buah pelir.

Kaliki Jatropha

gossypifolia

Semak Daun Dikukus/dimakan sebagai lalapan. Susah buang air besar.

Dilumat, diseduh, disaring, diminum Keputihan.

Memeniran Phylantus

niruri

Herba Seluruh

bagian

Dimakan langsung. Meningkatkan gairah, menguatkan gigi

dan gusi.

Page 75: ETNOBOTANI TUMBUHAN OBAT DI DESA NEGLASARI …

57

Diparut, dibalur. Kudis.

Direbus, disaring, diminum. Influenza, diare, reumatik, keputihan,

melangsingkan badan.

13 Fabaceae Asem Tamarindus

indica

Pohon Buah Dilumat, dibalurkan. Demam pada bayi.

Peuteuy Parkia

speciosa

Pohon Biji Ditumbuk, direbus, diminum. Cacingan, bengkak, diabetes.

Diremas, diperas, dioleskan. Menghaluskan kulit.

14 Gramineae Haur koneng Bambusa

vulgaris

Pohon Rebung Diparut, disaring, diminum. Sakit kuning, bengkak.

15 Lamiaceae Jati Tectona

grandis

Pohon Daun Ditumbuk, diseduh, diminum. Diare.

Buah Direbus, disaring, diminum. Batuk

Jawer kotok Coleus

scutellarioides

Herba Daun Direbus, disaring, diminum. Wasir, telat haid, keputihan

Ditumbuk, dibalur. Luka dan lecet, sakit kepala.

Ditumbuk, diseduh, diminum. Batuk.

Seluruh

bagian

Direbus, disaring, diminum. Diabetes, demam, sakit perut.

Kumis ucing Orthosiphon

aristatus

Terna Daun Direbus, disaring, diminum. Kencing batu, masuk angin, diabetes,

reumatik, sakit pinggang.

16 Lauraceae Alpuket Persea

americana

Pohon Daun Direbus, disaring, diminum Maag, diabetes, sariawan.

Biji Ditumbuk, dibalur. Kolesterol tinggi.

Dimakan langsung. Gigi berlubang.

Buah Ditumbuk, diseduh, disaring, diminum. Influenza, sakit kepala, demam.

17 Leguminoceae Kacang suuk Arachis

hypogaea

Semak Biji Dimakan untuk lalapan. Penyegar badan.

Malaning Leucanena

leucocephala

Perdu Biji

(serbuk)

Direbus, disaring, diminum. Meluruhkan haid.

Akar Direbus, disaring, diminum. Pelangsing badan, kolesterol.

18 Liliaceae Bawang

beureum

Allium cepa Herba Umbi Dilumat, diperas, dioleskan. Sariawan, masuk angin, demam.

Page 76: ETNOBOTANI TUMBUHAN OBAT DI DESA NEGLASARI …

58

Direbus, disaring, diminum. Diabetes, tifus, usus buntu, keputihan,

haid tidak lancar.

Lidah buaya Aloe vera Semak Daun Ditumbuk, diseduh, disaring, diminum. Ambeien, sembelit.

Batang Direbus, disaring, diminum. Diabetes.

Diminum langsung. Demam berdarah, menghilangkan rasa

lelah, cacingan pada anak-anak, susah

buang air kecil.

19 Malvaceae Kadu Durio

zibethinus

Pohon Kulit Dibakar, ditumbuk, dibalur. Bisul.

Akar Ditumbuk, dibalur. Sakit perut, sembelit

Buah Direbus, disaring, diminum. Lemah syaraf, hipertensi,

meningkatkan nafsu makan.

Mustajab Abelmoschus

manihot

Perdu Daun Direbus, disaring, diminum. Maag.

Pungpurutan Urena lobata Perdu Akar Dilumat, dibalur. Koreng berdarah, bisul

Bunga Ditumbuk, dibalur. Gigitan ular, keseleo, memar.

Daun Direbus, disaring, diminum. Diare

Rosella Hibiscus

sabdariffa

Perdu Bunga Direbus, disaring, diminum. Nyeri haid, mual dan muntah, maag,

cegukan, suara parau, reumatik.

20 Melastomaceae Harenong Melastoma

candidum

Perdu Daun Ditumbuk, disaring, diminum. Sariawan, diare.

Direbus, disaring, diminum. Perdarahan rahim.

Biji Direbus, disaring, diminum Sakit kuning, malaria, demam, ayan,

batuk, disentri, radang dan batu ginjal,

susah buang air kecil, reumatik,

penambah nafsu makan.

21 Menispermaceae Paria Momordica

charantia

Semak Buah Ditumbuk. Dibalur. Bisul.

Dilumat, dioleskan. Penyubur rambut anak.

Daun Direbus, disaring, diminum. Batuk, wasir, penyakit kulit, demam

nifas.

Ditumbuk, disaring, diminum. Cacing kremi.

Ditumbuk, disaring, dioleskan. Rabun malam.

Page 77: ETNOBOTANI TUMBUHAN OBAT DI DESA NEGLASARI …

59

Ditumbuk, dioleskan. Ambeien

Akar Ditumbuk, disaring, diminum. Sembelit.

22 Morvaceae Kelewih Artocarpus

altilis

Pohon Bunga Direbus, disaring, diminum. Disentri

23 Myristicaceae Pala Myristica

fragrans

Pohon Buah Ditumbuk, dibalur Masuk angin, memar.

Ditumbuk, disaring, diminum. Disentri, diabetes

24 Myrtaceae Jamu Siki Psidium

guajava

Perdu Daun Ditumbuk, dibalur. Sakit gigi

Direbus, didinginkan, dibasuhkan. Keputihan.

Buah Diblender, diminum. Demam berdarah.

25 Palmaceae Kalapa Cocos nucifera Pohon Air Dimakan langsung. Panas dalam, demam, nyeri haid, sakit

gigi.

Buah Direbus, dimakan. Pelancar ASI, pembersih darah,

pembangkit vitalitas seks dan

meningkatkan jumlah sperma.

26 Pandanaceae Pandan Pandanus

amaryllifolius

Perdu Daun Ditumbuk, digosokkan Reumatik, pegal linu.

Direbus, disaring, diminum. Demam berdarah, kolesterol, diare.

27 Phyllantaceae Katuk Sauropus

androgynous

Perdu Daun Ditumbuk, dibalur. Penyembuh luka.

Direbus, dimakan. Nyeri sendi, memperkuat sperma laki-

laki, hipertensi.

28 Piperaceae Seureuh Piper betle Liana Getah Dioleskan Bisul.

Daun Diletakkan pada lubang hidung. Mimisan.

Seureuh

beureum

Piper

crocatum

Tumbuhan

memanjat

Daun Ditumbuk, dibalur. Bengkak, kulit kasar.

Direbus, disaring, diminum. Diabetes, kolesterol tinggi, asam urat,

hipertensi, keputihan, maag, kelelahan,

nyeri haid.

29 Planfaginaceae Kiurat/daun

sendok

Plantago

mayor

Herba Akar Direbus, disaring, diminum. Diare, diabetes, sakit kuning.

Daun Dilumat, diseduh, disaring, diminum. Mimisan.

Page 78: ETNOBOTANI TUMBUHAN OBAT DI DESA NEGLASARI …

60

Dibakar, ditumbuk, dioleskan. Sakit gigi.

Ditumbuk, diperas, dibasuhkan. Luka berdarah, gigitan serangga,

gigitan ular, bisul.

Biji Direbus, disaring, diminum. Perangsang nafsu birahi.

Direbus, disaring, diminum Demam, wasir, sakit kepala, batuk.

30 Poaceae Akar eurih Imperata

cylindrical

Terna Seluruh

bagian

Direbus, disaring, diminum. Keputihan, bisul.

Sereh Cymbopogon

nardus

Rumput Batang dan

akar

Direbus, disaring, diminum. Pegal linu, menambah nafsu makan,

pengobatan pasca persalinan, sakit

kepala, diare.

Batang Dilumat, direbus, disaring, diminum. Influenza, batuk.

31 Rubiaceae Kopi Coffea arabica Perdu Daun Direbus, disaring, diminum. Sakit perut, sakit pinggang, hipertensi.

Cangkudu Morinda

citrifolia

Pohon Buah Direbus, disaring, diminum. Meningkatkan daya tahan tubuh,

diabetes, melancarkan saluran

pencernaan.

32 Ruscaceae Suji Pleomele

angustifolia

Perdu Daun Direbus, disaring, diminum. Nyeri haid.

Dilumat, diperas, diminum. Batuk.

Buah Dimakan langsung. Hipertensi.

33 Solanaceae Cecenet Physalis

angulata

Herba Seluruh

bagian

Direbus, dimakan Ayan.

Buah Ditumbuk, dibalur. Borok, bisul.

Daun Ditumbuk, dibalur. Reumatik

Cengek Capsicum

frutescens

Perdu Buah Ditumbuk, dibalur. Sakit perut.

Daun Direbus, disaring, diminum. Kaki dan tangan lemas.

Takokak Solanum

torvum

Pohon Daun Ditumbuk, dibalur. Bisul.

Buah Direbus, disaring, diminum. Wasir, influenza, melancarkan

peredaran darah, pembengkakan.

Ditumis. Asam urat tinggi.

Page 79: ETNOBOTANI TUMBUHAN OBAT DI DESA NEGLASARI …

61

Akar Direbus, disaring, diminum. Panas dalam.

Dikeringkan, direbus, disaring, diminum. Pinggang kaku, sakit lambung, tidak

datang haid.

Ditumbuk, disaring, diminum. Sakit tenggorokan

34 Thymeleceae Kayu garu Aquilaria

moluccensis

Pohon Batang Direbus untuk mandi Badan pegal.

35 Umbilliferae Antanan beurit Centella

asiatica

Herba Seluruh

bagian

Direbus, disaring, diminum. Wasir, mimisan, muntah darah, batuk

darah, cacingan, penambah nafsu

makan, hipertensi.

36 Verbenaceae Kicente Lantana

camara

Perdu Daun Direbus, dibasuhkan. Bisul, jamur kulit.

Direbus, dioleskan. Reumatik.

Akar kering Direbus, disaring, diminum. Keputihan.

37 Zingiberaceae Bangle/panglai Zingiber

purpureum

Herba Rimpang Diparut, dibalur. Demam, sakit kepala, reumatik,

mengecilkan perut setelah melahirkan.

Diparut, diperas, diminum. Sakit kuning, masuk angin, cacingan

Direbus, disaring, diminum Sakit perut, kegemukan.

Jahe beureum Zingiber

officinale

Herba Rimpang Direbus, disaring, diminum. Batuk, masuk angin, menambah gairah

seks.

Dibakar, diseduh, diminum. Sakit pinggang.

Diparut, diseduh, diminum. Impotensi/lemah syahwat, cacingan.

Kapol Amomum

cardamomum

Herba Seluruh

bagian

Direbus, disaring, diminum. Reumatik.

Batang Direbus, disaring, diminum. Demam.

Buah Direbus, disaring, diminum. Batuk, bau mulut.

Cikur Kaempferia

galangal

Semak Rimpang Dimakan langsung. Masuk angin.

Dikunyah (air ditelan, ampas dibuang). Batuk

Direbus, disaring, diminum Memperlancar haid, menghilangkan

lelah.

Ditumbuk, diseduh, diminum. Diabetes, cacingan, bengkak,

meningkatkan gairah seks.

Page 80: ETNOBOTANI TUMBUHAN OBAT DI DESA NEGLASARI …

62

Koneng Curcuma

longa

Semak Rimpang Ditumbuk, dioleskan. Memperlancar ASI.

Ditumbuk, dibalur. Influenza pada bayi, diare.

Lampuyang Zingiber

zerumbet

Herba Rimpang Dilumat, diseduh, diminum. Kaki bengkak sehabis melahirkan.

Diparut, diseduh, diminum. Ambeien, menambah nafsu makan,

gatal-gatal.

Diparut, direbus, diminum. Anemia.

Page 81: ETNOBOTANI TUMBUHAN OBAT DI DESA NEGLASARI …

63

Lampiran 4. Gambar jenis tumbuhan obat

Akar eurih

(Imperata cylindrical)

Alpuket

(Persea americana)

Antanan beurit

(Centella asiatica)

Asem

( Tamarindus indica)

Babadotan

(Ageratum conyzoides)

Baluntas

(Pluchea indica)

Bangle

(Zingiber purpureum)

Bawang beureum

(Alium cepa)

Waluh

( Lagenaria siceraria)

Bonteng

( Cucumis sativus)

Binahong

(Anredera cordifolia)

Buntiris

(Kalanchoe pinnata)

Cecenet

(Physalis angulata)

Cengek

(Capsicum frutescens)

Kadu

(Durio zibethinus)

Gedang

(Carica papaya)

Sumber:

Foto pribadi

Sumber:

Foto pribadi

Sumber:

Foto pribadi

Sumber:

Foto pribadi

Sumber:

Foto pribadi

Sumber:

Foto pribadi Sumber: Google

Sumber:

Foto pribadi

Sumber:

Foto pribadi

Sumber:

Foto pribadi

Sumber:

Foto pribadi

Sumber:

Foto pribadi

Sumber:

Foto pribadi Sumber: Google

Sumber:

Foto pribadi

Sumber: Google

Page 82: ETNOBOTANI TUMBUHAN OBAT DI DESA NEGLASARI …

64

Haneuleum

(Graptophyllum pictum)

Harenong

(Melastoma candidum)

Haur koneng

(Bambusa vulgaris)

Jadam / Jambe

(Arecha catechu)

Jahe beureum

(Zingiber officinale)

Jamu siki

(Psidium guajava)

Jarak

(Ricinus communis)

Jati

(Tectona grandis)

Jawer kotok

(Coleus scutellarioides)

Kacang suuk

(Arachis hypogaea)

Kalapa

(Cocos nucifera)

Kaliki

(Jatropha gossypifolia)

Kopi

(Coffea Arabica)

Kapol

(Amomum cardamomum)

Katuk

(Sauropus

androgynous)

Kayu garu

(Aquilaria

moluccensis)

Sumber:

Foto pribadi

Sumber:

Foto pribadi

Sumber:

Foto pribadi Sumber: Google

Sumber:

Foto pribadi

Sumber:

Foto pribadi

Sumber:

Foto pribadi

Sumber:

Foto pribadi

Sumber:

Foto pribadi

Sumber:

Foto pribadi

Sumber:

Foto pribadi

Sumber:

Foto pribadi

Sumber: Google

Sumber:

Foto pribadi

Sumber:

Foto pribadi Sumber: Google

Page 83: ETNOBOTANI TUMBUHAN OBAT DI DESA NEGLASARI …

65

Daun Kedondong

(Nothopanax fruticosum)

Kelewih

(Artocarpus altilis)

Cikur

(Kaempferia galanga)

Kibeling

(Strobilanthes crispus)

Kicente

(Lantana camara)

Kiurat

(Plantago mayor)

Kumis ucing

( Orthosiphon

aristatus)

Koneng

(Curcuma longa)

Lampuyang

(Zingiber zerumbet)

Lampuyung

(Sonchus arvensis)

Lidah buaya

(Aloe vera)

Malaning

(Leucanena

leucocephala)

Manalika

(Annona muricata)

Memeniran

(Phylantus niruri)

Cangkudu

(Morinda citrifolia)

Mustajab

(Abelmoschus manihot)

Sumber:

Foto pribadi

Sumber:

Foto pribadi Sumber: Google

Sumber:

Foto pribadi

Sumber:

Foto pribadi

Sumber:

Foto pribadi

Sumber:

Foto pribadi

Sumber:

Foto pribadi

Sumber: Google

Sumber:

Foto pribadi

Sumber:

Foto pribadi

Sumber:

Foto pribadi

Sumber:

Foto pribadi

Sumber:

Foto pribadi

Sumber:

Foto pribadi

Sumber:

Foto pribadi

Page 84: ETNOBOTANI TUMBUHAN OBAT DI DESA NEGLASARI …

66

Pala

(Myristica fragrans)

Pandan

(Pandanus

amaryllifolius)

Paria

(Momordica

charantia)

Patrawali

(Tinospora

tuberculata)

Peuteuy

(Parkia speciosa)

Pungpurutan

(Urena lobata)

Rosella

(Hibiscus sabdariffa)

Sambiloto

(Andrographis

paniculata)

Sawi langit

(Vernonia cinerea)

Sembung

(Blumea balsamifera)

Sempur

(Dillenea

philippinensis)

Sereh

(Cymbopogon nardus)

Seureuh

(Piper betle)

Seureuh beureum

(Piper crocatum)

Suji

(Pleomele angustifolia)

Takokak

(Solanum torvum)

Sumber:

Foto pribadi

Sumber:

Foto pribadi

Sumber:

Foto pribadi

Sumber:

Foto pribadi

Sumber: Google

Sumber:

Foto pribadi

Sumber:

Foto pribadi Sumber: Google

Sumber:

Foto pribadi

Sumber:

Foto pribadi

Sumber:

Foto pribadi

Sumber:

Foto pribadi

Sumber:

Foto pribadi

Sumber:

Foto pribadi

Sumber:

Foto pribadi

Sumber:

Foto pribadi

Page 85: ETNOBOTANI TUMBUHAN OBAT DI DESA NEGLASARI …

67