Diskursus Islamisasi Iptek

of 31 /31
Diskursus Islamisasi Iptek (Merancang Gagasan Baru Pengembanga IPTEK Islami) Oleh: Ahmad Fauzi 1 I. Pendahuluan Di era globalisasi ini, perkembangan ilmu dan teknologi sangat cepat. Sejumlah penemuan dan inovasi memberikan kontribusi yang tinggi munculnya produk-produk baru yang memudahkan pekerjaan manusia. Akan tetapi sangat disayangkan kebanyakan para ilmuwan yang muncul berasal dari negeri barat yang rata-rata bukan dari kaum muslim. Lantas dimanakah para ilmuwan muslimin itu? Apakah kaum muslim kini menyadari bahwa kita sedang mengalami apa yang dimaksud dengan ghozwul fikri (perang pemikiran). Perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan yang sedemikian cepat, membuat manusia terlena. Disadari atau tidak, secara langsung para kaum Nasrani dan Yahudi mengubah pola perang mereka, dari fisik menjadi pemikiran. Melalui teknologi, saluran komunikasi, informasi perang itu terjadi. Lihat saja berbagai situs di internet yang terkadang kita tidak ketahui sumbernya benar/tidak, menjadi saluran/strategi perang pemikiran yang efektif. Lihat saja kenyataannya, tidak sedikit situs-situs jaringan seperti Friendster, dsb menjadi rutinitas dan hal yang utma bagi tiap remaja untuk mencari 1 Mahasiswa Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta angkatan 2007. Makalah ini merupakan tugas individu pada mata kuliah Teknologi Pendidikan Agama Islam dengan dosen pengampu Ki Supriyoko. 1

Embed Size (px)

description

ilmu, sains, dan teknologi sering kali bersinggungan dengan agama. persinggungan ini sering kali menimbulkan gejolak yang berwarna-warni ada yang menira, menolak bahkan menangguhkan. lantas bagaimanakah seharusnya agama, ilmu, sains dan teknologi duduk bersama di tengah kancah kehidupan manusia? mungkinkah bisa bersatu? apakah mungkin agama dijadikan pen"shahih" temuan sains? bukankah keduanua berbeda secara metodologi? sains yang kebenarannya relatif dan bersifat kemungkinan, sedangkan agama kebenarannya yang dipercayai pemeluknya sebagai kebenaran yang tak dapat diganggu gugat (cenderung dogmatik? bisa tejalin ikatannya?

Transcript of Diskursus Islamisasi Iptek

Diskursus Islamisasi Iptek(Merancang Gagasan Baru Pengembanga IPTEK Islami) Oleh: Ahmad Fauzi1 I. Pendahuluan Di era globalisasi ini, perkembangan ilmu dan teknologi sangat cepat. Sejumlah penemuan dan inovasi memberikan kontribusi yang tinggi munculnya produk-produk baru yang memudahkan pekerjaan manusia. Akan tetapi sangat disayangkan kebanyakan para ilmuwan yang muncul berasal dari negeri barat yang rata-rata bukan dari kaum muslim. Lantas dimanakah para ilmuwan muslimin itu? Apakah kaum muslim kini menyadari bahwa kita sedang mengalami apa yang dimaksud dengan ghozwul fikri (perang pemikiran). Perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan yang sedemikian cepat, membuat manusia terlena. Disadari atau tidak, secara langsung para kaum Nasrani dan Yahudi mengubah pola perang mereka, dari fisik menjadi pemikiran. Melalui teknologi, saluran komunikasi, informasi perang itu terjadi. Lihat saja berbagai situs di internet yang terkadang kita tidak ketahui sumbernya benar/tidak, menjadi saluran/strategi perang pemikiran yang efektif. Lihat saja kenyataannya, tidak sedikit situs-situs jaringan seperti Friendster, dsb menjadi rutinitas dan hal yang utma bagi tiap remaja untuk mencari teman, dsb. Dan bila kita tidak cerdik menyikapi perkembangan teknologi dan informasi ini, kita bisa terseret bahkan menjadi budak teknologi dan tidak sedikit terjadi waktu sholat/ibadah terbuang karena ilmu pengetahuan dan teknologi. Dan bila manusia telah terjauh dai iman, dari Islam dan Tuhannya, ilmu yang ia miliki tidak akan memberi manfaat, malah dapat menjadi penghambat atau menimbulkan kerusakan. Oleh sebab itu sebagai insan cendekia yang bernafaskan Islam, sudah selayaknya dalam menuntut ilmu dan mengikuti perkembangan teknologi, hendaknya juga dilandasi oleh iman, dan secara cerdik memanfaatkan saluran informasi dan teknologi itu untuk menghadapi perlawanan terselubung kaum Nasrani dan Yahudi. Sudah seharusnya kaum

1

Mahasiswa Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta angkatan 2007. Makalah ini merupakan tugas individu pada mata kuliah Teknologi Pendidikan Agama Islam dengan dosen pengampu Ki Supriyoko.

1

muslimin mengendalika teknologi untuk kebaikan dengan memanfaatkan teknologi untuk kemajuan umat.2 II. Pembahasan A. Definisi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Menurut Sutrisno hadi, ilmu pengetahuan adalah kumpulan dari pengalamanpengalaman dan pengetahuan-pengetahuan dari sejumlah orang-orang yang dipadukan secara harmonis dalam suatu bangunan yang teratur. Sedangkan ilmu itu sendiri (yang berasal dari kata science) adalah rangkaian keterangan tentang sesuatu yang berasal dari pengamatan yang disusun dalam sebuah system untuk menentukan hakekat dari yang dimaksud. Dari pengertian ini terlihat bahwa rasio lebih domain. Kata ilmu dengan berbagai bentuknya terulang 854 kali dalam al-Quran. Kata ini digunakan dalam arti proses pencapain pengetahuan dan objek pengetahuan. Sedangkan teknologi dlam kamus besar bahasa Indonesia, teknologi diartikan sebagai kemampuan teknik yang berlandaskan pengetahuan ilmu eksakta dan berdasarkan proses teknis. Teknologi adalah ilmu tentang cara menerapkan sains untuk memanfaatkan alam bagi kesejahteraan dan kenyamanan manusia. Dalam alQuran menurut sebagaian ulama terdapat sekitar 750 ayat yang berhubungan dengan teknologi.3 Menurut pemikiran manusia secara umum, hakekat ilmu adalah hubungan antara subyek terhadap obyek (timbal balik) menurut suatu idea (cita-cita). Selain definisi tersebut, masih banyak definisi lain tentang ilmu dan ilmu pengetahuan dari para ahli, tetapi bagaimana halnya menurut al-Quran? Pada al-Baqarah: 31 secara fungsional berlaku pada kita bahwa ilmu yang pertama adalah wahyu Allah. Firman-Nya: Dan dia mengajarkan kepada Ada nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman: sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar

2 3

http://www.tukerpikiran.blogspot.com. Diakses tanggal 20 Maret 2008, jam 15.30 WIB M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur an (Jakarta: Mizan, 1998), hal. 441

2

Dan juga dijelaskan dalam surat ar-Rahman ayat 1 dan 2 bahwa al-Quran adalah suatu ilmu (Tuhan) Yang Maha Pemurah, yang telah mengajarkan al-Quran. Dan yang dimaksud ilmu dalam al-Quran adalah rangkaian keterangan yang bersumber dari Allah yang diberikan kepada manusia baik melalui rasul-Nya ataupun langsung kepada manusia yang menghendakinya tentang alam semesta sebagai ciptaan Allah yang bergantung menurut ketetntuan dan kepastianNya Ada lagi yang mendefinisikan ilmu pengetahuan (sains) adalah pengetahuan tentang gejala alam yang diperoleh melalui proses yang disebut metode ilmiah (scientific method) (jujun S. Suriasumantri, 1992). Sedang teknologi adalah pengetahuan dan ketrampilam yang merupakan penerapan ilmu pengetahuan dalam kehidupan manusia sehari-hari (Jujun S. Suriasumantri,1986). Perkembangan iptek, adalah hasil dari segala langkah dan pemikiran untuk memperluas, memperdalam, dan mengembangkan iptek (agus, 1999).4 Sedangkan teknologi pendidikan sedikit berbeda dengan pengertian teknologi secara umum. Teknologi pendidikan digunakan dalam bahasa inggris adalah instructional technology atau educational technology. Salah satu pendapat ialah bahwa instructional technology means the media bern of communication revolution wich can be used for instructional purpose alongside the teacher, the book, and blackboard (commission on instructional technology dalam Norman Beswick, Resource-Based Learning, 1997 hal 39). Jadi yang diutamakan ialah media komunikasi yang berkembang secara pesat sekali yang dapat dianfaatkan dalam pendidikan. Alat-alat teknologi ini lazim diebut hardware, antara lain berupa TV, radio, video tape, computer, dan lainlain.5 Dilain pihak ada pendapat bahwa teknologi adalah pengembangan, penerapan dan penilaian system-sistem, teknik dan alat bantu untuk memperbaiki dan meningkatkan proses belajar manusia. Disini diutamakan proses belajar itu sendiri disamping alat-alat yang dapat membantu proses belajar itu. Jadi teknologi pendidikan itu mengenai software maupun hardware, software antara lain menganalisis dan mendesain urutan atau langkah-langkah belajar berdasarkan

4 5

http:// www.freelist.orgarchipvesnasional.com. Diakses pada tanggal 21 Maret 2008 Nasution, teknologi pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2005), hal.1

3

tujuan yang ingin dicapai dengan metode penyajian yang serasi serta penilaian keberhasilannya.6

B. Perspektif Al-Quran tentang Ilmu Pengetahuan dan teknologi Berkat ilmu pengetahuan dan teknologi, kini jarak tidak lagi menjadi masalah yang berarti dalam dimensi hidup manusia. Dunia menjadi kecil, siapapun bisa saling bercerita panjang lebar dari dua sisi dunia yang berbeda. Semua pekerjaan rutin bisa diselesaikan dengan cepat. Tapi ternyata itu tak membuat manusia mengaku lebih bahagia. Manusia menjadi miskin terhadap perasaan

kemanusiaannya sendiri. Di manakah sumber masalahnya? Manusianya? Ipteknya? Maka kita bisa mengalami mengapa di Jepang yang kabarnya sangat menghargai waktu demikian pesat berkembang budaya pachinko dan game. Tentu disebabkan mereka tak beriman akan kehidupan setelah mati, dan tak mempunyai batasan tentang hiburan. Kini umat Islam hanya sebagai konsumen yang ada sekarang. Kalaupun mereka ikut berperan di dalamnya, maka-secara umum- mereka tetap di bawah kendali pencetus sains tersebut. Ilmuwan-ilmuwan muslim masih sulit menghasilkan teknologi-teknologi eksak-apalgi non eksak- untuk menopang kepentingan khusus umat Islam. Dunia Islam mulai bangkit (kembali) memikirkan kedudukan sains Islam pada decade 70-an. Pada 1976 dilangsungkan seminar internasional pendidikan Islam di Jedah. Dan semakin ramai diseminarkan di tahun 80-an.7 Terkadang manusia tidak menyadari bahwa jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang muncul didalam pemikiran mereka akan alam beserta isinya terdapat dalam al-Quran. Namun bukanya justru kembali ke al-Quran, malah mencari dari sumber berbagai buku dan, internet dan sebagainya. Padahal jawaban-jawaban dari masalah pengetahuan itu secara tersurat/tersirat terdapat dalam al-Quran. Mulai dari hal yang kecil, seperti metodologi penelitian. Islam memandang bahwa dalam menyusun penelitian, seorang pneliti harus dapat memandang secara jujur dan melepaskan subyektifnya, baik subyektif dalam hal perasaan maupun

6 7

Ibid, hal http://dhanarbayu.wordpress.com. Diakses pada tanggal 23 Maret 2008 pada pukul 16.15 WIB

4

lingkungannya. Dalam Al-Maidah ayat 27-31 disebutkan bahwa seorang anak Adam yang mengambil kesimpulan berdasarkan subyektifnya, akan berakibat pembenuhan terhadap saudaranya. Akibat dari tindakan-tindakannya yang tidak mampu menyelesaikan permaasalahan secara tuntas, membuatnya bingung sendiri. Selain itu, ayat ini menjelaskan bahwa manusia banyak pula mengambil pelajaran dari alam dan jangan segan-segan mengambil pelajaran dari yang lebih rendah tingkatan pengetahuannya. Pandangan al-Quran tentang alam dan teknologi dapat diketahui prinsip-prinsip dari analisis wahyu pertama yang diterima oleh Nabi Muhammad SAW. Al-Quran surat al-Alaq ayat 1-5. Berikut ini beberapa potongan ayat tentang teknologi: Katakanlah;perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi. Tidaklah bermanfaaat tanda kekuasaan Allah dan Rasul-rasul yang member peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman. (Yunus:101) Maha Tinggi Allah, Raja yang sebenar-bennarnya, dan janganlah kamu tergesagesa membaca al-Quran sebelu disempurnakan mewahyukannya kepadamu, dan katakanlah:Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku Ilmu pengetahuan (Thaahaa: 114) Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adaka kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?. Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali padamu dengan tidak menemukan sesuatau cacat dan penglihatanmu itupun dalam keadaaan payah. (AlMulk: 3-4) Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan tuhammulah yang maha pemurah, yang mengajar manusia denga perantaraan kalam. Dia mengajarkan manusia apa yag tidak diketahuinya. (al-alaq: 1-5) ..perhatikanlah bagaimana Kami menjelaskan kepada mereka (ahli kitab) tandatanda kekuasaa (Kami), kemudian perhatikanlah bagaimana mereka berpaling (dari memperhatikan ayat-ayat Kami itu). (Al-maidah: 75)

5

Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada (Al-hajj: 46) Maka perhatikanlah bekas-bekas rahmat Allah, Bagaimana Allah menghidupkan bumi yang sudah Mati. Sesungguhnya (Tuhan yang berkuasa seperti) demikian benar-benar (berkuasa menghidupkan orang-orang yang telah mati). Dan Dia maha kuasa atas segala sesuatu. (Ar-Ruum: 50). Dalam perspektif Islam, kata Dr. Ramui, sains adalah salah satu alat mencapai ketinggian taraf hidup manusia dalam rangka ubudiah kepada Allah dan menuju ketakwaan. Sebaliknya, pendekatan sains dalam acuan tamadun Barat yang secular ternyata banyak mengundang malapetaka kepada kehidupan manusia sejagat. sains tidak lagi difokuskan kepada membentuk keharmonian dan kemanfaatan manusia di planet ini, sebaliknya mencetuskan sengketa dan pencabulan terhadap hak-hak kemanusiaan, jelas beliau. Dr. Ramli menambahkan, pencapaian sains pada zaman kegemilangan tamadun Islam sebelum tercetusnya kemajuan sains Barat telah memberikan keseluruhan asas jawaban terhadap kemelut yang ditimbulkan oleh sains modern. Sains Islam dalam khidmat cemerlangnya kepada tamadun dunia telah membentuk

keharmonian sejagat dengan pendekatan holistic dan melandasi garis petunjuk Quran dengan sebutan rahmatan lil alamin. ternyata ia telah dikecapi nikmatnya oleh manusia sejagat, jelasnya.8 C. Peran Islam dalam Perkembangan IPTEK Sumbangan sains Islam dalam semua bidang keilmuan telah menyadarkan dunia hari ini betapa ilmu yang berimplikasikan tauhid senantiasa mengarah kepada kedamaian, tolerasi dan hubungan balik sesame manusia dan alam. Malangnya sumbangan agung dan jasa yang amat bermakna ini sengaja dilupakan serta dinafikan oleh dunia Barat. Sains Islam telah deketepikan dan digantikan dengan gagasan sains berasaskan kemuihidan yang menjurus kepada kemusnahan sejagat..8

http;//www4.spaceutm.edu.my/news.aspx?newsld=33, diakses pada tanggal 23 maret 2008, pukul 16.20 WIB

6

atas alasan ini, umat Islam tidak terkejut dengan pernyataan Adam Hart Davis, seorang juru foto, penulis dan pengacara sains TV di badan penyiarn Britain (BBC) ketika memberi komen terhadap buku Muslim Heritage In Our Worl Berkata: I wish I had this book fifty years ago. Sehubungan itu, pusat Pengajian Islam dan Pembangunan Sosial (PPIPS), Universitas Teknologi Malaysia (UTM) dengan kerjasama Sekolah Pendidikan profesioanal dan Pendidikan Berterusan

(SPACEUTM) akan menganjurkan Seminar Antar Bangsa Sains Dan Teknologi Islam (InSISTOB)-menghidupkan kembali keagungan ilmu sains Islam.9 Peran Islam dalam perkembangan iptek pada dasarnya ada 2 (dua). Pertama, menjadikan aqidah Islam sebagai paradigma ilmu pengetahuan. Paradigma inilah yang seharusnya dimiliki umat Islam, bukan paradigma secular seperti yang ada sekarang. Paradigm Islam ini menyatakan bahwa aqidah Islam wajib dijadikan landasan pemikiran (qoidah fikriyah) bagi seluruh bangunan ilmu pengetahuan. Ini bukan berarti menjadi aqidah Islam sebagi sumber segala macam ilmu pengetahuan. Maka ilmu pengetahuan yang sesuai dengan aqidah Islam dapat diterima dan diamalkan, sedang yang bertentangan dengannya, wajib ditolak dan tidak boleh diamalkan. Kedua, menjadikan syariah islam (yang lahir dari aqidah Islam) seagai standar bagi pemanfaatan iptek dalam kehidupan sehari-hari. Standar atau criteria inilah yang seharusnya digunakan umat Islam, bukan sandar manfaat (pragmatism/utilitariansme) seperti yang ada sekarang. Standar syariah ini mengatur, bahwa boleh tidaknya pemanfaatan iptek, didasarkan pada ketentuan halal-haram (hokum-hukum syariah Islam). Umat Islam boleh memanfaatkan iptek, jika telah dihalalkan oleh syariah Islam. Sebaliknya jika suatu aspek iptek telah diharamkan oleh syariah, maka tidak boleh umat Islam memanfaatkannya, walaupun ia menghasilkan manfaat sesaat untuk memenuhi kebutuhan manusia.10 Pada masa daulah Abbasyiah (750-1258 M) di Bagdad yang didirikan oleh Saffah dan Mansur mencapai keemasannya mulai dari Mansur sampai Wathiq dan yang paling jaya adalah periode Harun dan putranya, Mamun.11 kholifah Abu Jafar Abdullah Al-Manshur (752-775 M) telah mempekerjakan para penterjemah untuk9

10

http://skuadpsn.multiply.com/reviews/item/I, diakses pada tanggal 23 Maret 2008, pukul 16.20 WIB. http://www.freelist.orgachipvesnasioanl.com. Diakses paa tanggal 23 Maret 2008, pukul 16.20 WIB. 11 M. Abdul Karim, Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam (Yogyakarta: Pustaka Book Publisher, 1997). Hal. 167

7

menterjemahkan buku-buku kedokteran, ilmu pasti dan filsafat dari bahasa Yunani, Persia dan Sanakrit. Demikian juga pada masa kekholifahan al Makmun ibn Harun ar-Rasyid (813-832 M), kegiatan penterjemahan digalakkan lagi, dengan mendirikan Darul Hikmah atau akademi ilmu pengetahuan pertama di dunia, yang terdiri dari perpustakaan , pusat penterjemahan, observatorium bintang dan universitas (darul ulum), bahkan fakultas kedokteran telah didirikan sejak tahun 765 M, juga al-Makmun pernah mengirimkan penerjemah ke Konstinopel, Roma dan lain-lain. Oleh karena itu, lahirlah ilmu pengetahuan dari kalangan Islam sendiri, baik yang sifatnya memperkaya karya-karya asing yang telah ada maupun sama sekali baru. Dengan demikian, begitu besarnya sumbangan kalangan muslimin kepada ilmu pasti, fisika, kimia, farmasi, kedokteran, ilmu hayat, ilmu bintang dan ilmu bumi, sehingga mutlak diperlukan berbagai tangga bagi peningkatan ilmu pengatahuan dan teknologi selanjutnya, hal ini juga telah disempurnakan oleh Islam di Andulisia, Spanyol. Jadi ilmu pengetahuan dan teknologi yang pernah mendapat perhatian kaum muslimin saat itu adalah ilmu pasti dan segala macam cabangnya yaitu ilmu hitung, aljabar, ilmu ukur, mekanika, ilmu bintang dan ilmu bumi alam, juga ilmu pengetahuan alam (natural science) yang terdiri dari fisika, kimia, biologi, dan berbagai macam ilmu yang lain. Adapun tokoh ilmuwan dalam bidang matematika antara lain: Muhammad ibn Musa al-Khawarizm, al-Kindi, Tsabit ibn Qurral, Abu Waffa al-Buzjani, alHaitsam, Ihwanus Shafa, Ibnu Sina, Umar Khayam, Nashirudin Al-Thusi, Baharudin Al-Amili, Mulla Muhammad Baqin Yazdi. Sedangkan tokoh dalam bidang fisika antara lain: Quthubuddin al-Syirazi, Ibnu haitsam, Abu Raihan alBiruni, Abul Fath Abdurrahman Al-Khatani. Dan masih banyak lagi ilmuwan Muslim yang telah memberikan sumbangan atau yang ikut berperan. Hal ini tampaknya menjadi salah satu proyek ilmuwan Barat untuk mengkaji pengaruh Islam terhadap Eropa. Mereka telah melakukan beberapa penelitian dan mewujudkan beberapa tulisan. W. Montgomery Watts menunjukkan beberapa pengaruh pemikiran Islam terhadap pemikiran di Eropa, yang berarti juga terhadap8

perkembangan dunia Barat. Maka ia mengajak Eropa bukan hanya untuk mengakui dan berterimakasih atas jasa Islam terhadap Eropa, namun juga untuk meluruskan kesalaha-kesalahan yang telah diperbuat Eropa selama berbad-abad12. Bahkan menurut Weeramantry, pemikiran John Locke dan Roussseau, terutama sekali mengenai teori mereka tentang kedaulatan (sovereignty), mendapat pengaruh dari pemikiran Islam. Locke ketika menjadi mahasiswa Oxford sangat frustasi dengan disiplinnya, namun tertarik untuk mengikuti ceramah dan kuliah Edward Peacooke, professor dala bidang studi Arab. Kemudian perhatian pemikiran Locke adalah mengenai problem-problem tentang pemerintahan, kekuasaan dan kebebasan individu. Montesquiqe juga tidak lepas dari pemikiran Islam, indeed there many specific to the quran and the Islamic law in the writing13. Ia terpengaruh oleh Ibn Khaldun tentang bidang sejarah dan sosiologi, di mana Montesquieu ini banyak mempengaruhi savigny yang pemikiran sosiologi dan sejaahya sangat berpengaruh pada pemikiran Barat sampai kini.14 D. Dampak Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) disatu sisi memang berdampak positif, yakni dapat memperbaiki kualitas hidup manusia. Berbagai sarana modern industry, komunikasi, dan transportasi, misalnya, terbukti amat bermanfaat. Dengan ditemukan mesin jahit, dalam satu menit bisa dilakukan sekitar 7000 tusukan jahit. Bandingkan kalu kita menjahit dengan tangan, hanya bisa 23 tusukan permenit (Qardhawi, 1997). Dahulu, Ratu Isabella (Italia) di Abad XVI perlu waktu 5 bulan dengan sarana komunkasi tradisional untuk memperoleh kabar penemuan benua Amerika oleh Colombus. Lalu abad XIX orang Eropa perlu dua minggu untuk memperoleh berita pembunuhan presiden Abraham Lincoln. Tapi, pada 1969, dengan sarana komunikasi canggih, dunia hanya perlu waktu 13 detik untuk mengetahui kabar pendaratan Neil Amstrong di bulam (Winarno, 2004). Dulu orang naik haji dengan

A. Qodri Azizi, Melawan Globalisasi, Reinterpretasi Ajaran Islam (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004), hal. 145 C.G. Weeramantry, slamic Jurisprudence: an International Perspective (London: The Macmillan Press, tpt). Hal. 106 14 A. Qodri Azizy, hal. 14613

12

9

kapal laut bisa memakan waktu17-20 hari untuk sampai ke Jeddah. Sekarang dengan naik pesawat, kita hanya perlu 12 jam saja. Tapi di sisi lain, tak jarang iptek berdampak negative karena merugikan dan membahayakan kehidupan dan martabat manusia. Bom atom telah menewaskan ratusan ribu manusia di Hiroshima dan Nagasaki pada tahun 1945. Pada tahun 1995, Elizebetta, seorang bayi Italia, lahir dari rahim bibinya setelah dua tahun ibunya (bernama Luigi) meninggal. Ovum dan sperma oran tuanya yang asli, ternyata telah disimpan di bank, kemudian baru dititipkan pada bibinya, Elenna adik Luigi (Kompas, 16/01/1995). Bayi tabung di Barat bisa berjalan walaupun asal usul sperma dan ovumnya bukan dari suami isteri (Hadipermono, 1995). Bioteknologi dapat digunakan untuk mengubah mikroorganisme yang sudah berbahaya, menjadi lebih berbahaya, misalnya mengubah sifat genetic virus influenza hingga mampu membunuh manusia dalam beberapa menit saja (Bakry, 1996). Cloning hewan rintisan Ian Willmut yang sukses menghasilkan domba cloning bernama Dolly, akhir-akhir ini diterapkan pada manusia (Human Kloning). Lingkungan hidup seperti laut, atmosfer udara, dan hutan juga tak sedikit mengalami kerusakan dan pencemaran yang sangat parah dan berbahaya. Beberapa varian tanaman hasil rekayasa genetika juga diindikasikan berbahaya bagi kesehatan manusia. Tak sedikit yang memanfaatkan teknologi internet sebagai sarana untuk melakukan kejahatan dunia maya (cyber crime) dan untuk mengakses pornografi, kekerasan, dan perjudian. Disinilah, peran agama sebagai pedoman hidup menjadi sangat penting untuk ditengok kembali. Dapatkah agama member tuntunan agar kita memperoleh dampak iptek yang positif saja, seraya mengeliminasi dampak negative seminal mungkin? Sejauh manakah agama islam dapat berperan dalam mengendalikan perkembangan teknologi modern?15 Pengaruh ilmu pengetahuan Islam atas Eropa yang sudah berlangsung sejak abad ke-12 M itu menimbulkan gerakan kebangkitan kembali (renaissance) pusaka Yunani di Eropa pada abad ke 14 M. berkembangnya pemikiran Yunani di Eropa

15

http://www.freelist.orgarchipvesnaional.com diakses pada tanggal 25 Maret 2007, pukul 16.45 WIB.

10

kali ini adalah melalui terjemahan-terjemahan Arab yang dipelajari dan kemudian diterjemahkan kembali kedalam bahasa Latin. Walaupun Islam akhirnya terusir dari negeri Spanyol dengan cara yang sangat kejam, tetepi ia telah membidani gerakan-gerakan penting di Eropa. Gerakangerakan itu adalah: kebangkitan kembali kebudayaan Yunani Klasik (renaissance) pada abad ke-14 M yang bermula di Italia, gerakan reformasi pada abad ke-16 M, rasionalisme pada abad ke-17 M, dan pencerahan (aufklarung) pada abad ke-18 M.16 Kemajuan ilmu pengatahuan dan teknologi sangat dipengaruhi oleh factor social ekonomi dan politik serta didorong oleh penghargaan dan perhatian yang tinggi dari pihak penguasa. Kondisi yang demikian mampu melahirkan tokoh-tokoh ilmuwan muslim yang bangkit semangat keilmuwannya, yang menentukan kelahiran suatu kebuyaan-kebudayaan dan peradaban. Maka pentas bahwa kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi terjadi pada masa Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah, terutama di saat pemerintah dipegang oleh para penguasa yang arif dan cinta ilmu17. Dr. Ramli manambah, pencapaian sains pada zaman egemilangan tamaddun Islam sebelum tercetusnya kemajuan Barat telah memberikan keseluruhan asas jawaban terhadap kemelut yang ditimbulkan oleh sains modern. Sains Islam berkhidmat cemerlangna kepada tamaddun dunia telah membentuk keharmonian sejagat dengan pendekatan Holistik dan melandasi garis petunjuk Quran dengan sebutan rahmatan lil alamin. ternyata ia telah dekecapi nikmatnya oleh manusia sejagat, jelasnya18 E. Paradigma Hubungan Agama-IPTEK Seperti telah dijelaskan terdahulu, ilmu pengetahuan (sains) adalah pengetahuan tentang gejala alam yang diperoleh melalu proses yang disebut metode ilmiah (scientic method) (Jujun S. Suriasumantri, 1986). Sedangkan teknologi adalah pengetahuan dan ketrampilan yang merupakan penerapan ilmu pengetahuan dalam kehidupan manusia sehari-hari (Jujun S. Suriasumantri, 1986). Perkembangn iptekhttp://www.cyberq.com/index.php?pustaka/detail/10/1/pustaka-156.htm,1 diakses pada tanggal 25 Maret 2007, pukul 16.45 WIB. 17 Mansur, Peradaban Islam Lintas Sejarah (Yogyakata: Global Pustaka Utama, 2004), Hal. 77. 18 http://www.spaceatum.edu.my/news/aspx?newsId=33, diakses pada tanggal 26 Maret 2008, pukul 16.00 WIB16

11

adalah hasil dari segala langkah dan pemikiran untuk memperluas, memperdalam, dan mengembangkan iptek (Agus,1999). Agama yang dimaksud di sini adalah agama Islam, yaitu agama yang diturunkan Allah kepada nabi Muhammad SAW, untuk mengatur hubungan manusia dengan penciptanya (denga aqidah dan aturan ibadah), hubungan manusia dengan dirinya sendiri (dengan aturan akhlak, makanan, dan pakaian), dan hubungan manusia dengan manusia lainnya (dengan aturan muamalah dan uqubat/ system pidana (An Nabhani, 2001). Bagaimana hubungan agama dan iptek? Secara garis besar, berdasarkan tujuan ideology yang mendasari hubungan keduanya, terdapat 3 (tiga) jenis paradigma (lihat Yahya Farghal, 1990:99-119): Pertma, paradigma secular, yaitu paradigma yang memandang agama dan iptek adalah terpisah satu sama lain. Sebab, dalam ideology sekularisme Barat, agama telah dipisahkan dari kehidupan (fashl al diin an al-hayah). Agama tidak dinafikan eksistensinya, tapi hanya dibatasi perannya dalam hubungan pribadi manusia dengan tuhannya. Agama tidak mengatur kehidupan umum/public. Paradigma ini memandang agama dan iptek sama sekali terpisah baik secara ontologism, epistemologis,dan aksiologis. Paradigma ini mencapai kematangan pada akhir abad XIX di Barat sebagai jalan keluar dari kontradiksi ajaran Kristen (khususnya teks Bible) dengan penemuan ilmu pengetahuan modern. Semula ajaran Kristen dijadikan standar kebenaran ilmu pengetahuan. Tapi ternyata banyak ayat Bible yang berkontradiksi dan tidak relevan dengan fakta ilmu pengetahuan. Contohnya, menurut ajaran gereja yang resmi, bumi itu datar seperti halnya meja dengan empat sudutya. Padahal faktanya, bumi itu bulat berdasarkan penemuan ilmu pengetahuan yang diperoleh dari pelayaran Magellan. Dalam Bible dikatakan: Kemudian dari pada itu, aku melihat malaikat berdiri pada keempat penjuru angin bumi dan mereka menahan kempat angin bumi, supaya jangan ada angin yang bertiup di darat, atau di laut, atau di pohon-pohon (Wahyu-Wahyu 7: 1) Kalau konsiten dengan teks Bible, maka fakta sains bahwa bumi bulat tentu harus dikalahkan oleh teks Bible (Adian Husaini, Mengapa Barat Menjadi SekulaLiberal, www.insistnet.com). Ini tidak masuk akal dan problematic. Maka, agar

12

tidak problematic, ajaran Kristen dan Ilmu pengetahuan akhirnya dipisahkan satu sama lain dan tidak boleh saling intervensi. Kedua, paradigma sosialis, yaitu paradigma dari ideology sosialisme yang menafikan eksistensi agama sama sekali. Agama tidak ada, dus, tidak ada hubungan dan kaitan apa pun dengan iptek. Iptek bisa berjalan secara independen dan lepas secara total dari agama. Paradigma ini mirip dengan paradigma sekuler di atas, tapi lebih ekstrem. Dalam paradigma sekuler, agama berfungsi secar sekularistik, yaitu tidak dinafikan keberadaannya, tapi hanya dibatasi perannya dalam hubungan vertical manusia-tuhan. Sedang dalam dalam paradigma sosialis, agama dipandang secara ateistik, yaitu dianggap tidak ada (in-exist) dan dibuang sama sekali dalam kehidupan. Paradigma tersebut didasarkan pada pemikiran Karl Marx yang ateis dan memandang agama (Kristen) sebagai candu masyarakat, karena menurutnya agama membuat orang terbius dan lupa akan penindasan kapitalisme yang kejam. Karl Marx mengatakan: religion is the sign of the oppressed creature, the heart of heartless world, just as it is the spirit of a spiritless situation. It is opium of the people. (agama adalah keluh kesah makhluk tertindas, jiwa dari suatu dunia yang tak berjiwa, sebagaimana ia merupakan ruh/spirit dari situasi yang tanpa ruh/spirit. Agama adalah candu bagi rakyat (lihat Karl Marx, Contribution to The Criteque of Hegels Philosophy Of Right, termuat dalam On Religion, 1957: 141-142), dalam Ramly, 2000; 165-166). Berdasarkan paradigma sosialis ini, maka agama tidak ada sangkut pautnya sama sekali dengan iptek. Seluruh bangunan ilmu pengetahuan dalam paradigma sosialis didasarkan pad aide besar materialism, khususnya materialism dialekti (Yahya Farghal, 1994: 112). Paham materialism dialektis adalah paham yang memanang adanya keseluruhan proses perubahan yang erjadi terus menerus melalui proses dialektika, yaitu melalui pertentangan-pertentangan yang ada pada materi yang sudah mengandung benih perkembangan itu sendiri (Ramly, 2000: 110). Ketiga, Pardigma Islam, yaitu paradigma yang emandang bahwa agama adalah dasar pengatur kehidupa. Aqidah Islam menjadi basis dari segala ilmu pengetahuan. Aqidah Islam yang terwujud dalam apa-apa yang ada dalam al-quran dan al-hadist menjadi aqidah fikriyah, yaitu suatu asas yang di atasnya dibangun seluruh13

bangunan pemikiran dan ilmu pengetahuan manusia (An-Nabhani, 2001). Paradigma ini memerintahkan manusia untuk membangun segala pemikirannya berdasarkan aqidah Islam, bukan lepas dari aqidah itu. Ini bisa kita pahami dari ayat ang pertama kali turun. Ayat ini berate manusia telah diperintahkan untuk membaca guna memperoleh berbagai pemikiran dan pemahaman. Tetapi segala pemikiran itu tidak boleh lepas dari Aqidah Islam, karena iqro haruslah dengan bismi robbika, yaitu tetap berdasran iman kepada Allah, yaitu merupakan asa aqidah Islam. Paradigma Islam ini menyatakan bahwa, kata putus dalam ilmu pengetahuan bukan berada pada pengetahuab atau filsafat manusia yang sempit, meainkan beerada pada ilmu Allah yang mencangkup dan meliputi segala sesuatu (Yahya Farghal, 1994: 117) Paradigma ang dibawa Rasulullah SAW yang meletakkan aqidah Islam yang berasakan syahadat sebagai asas ilmu pengetahuan. Beliau mengajak memeluk aqidah Islam lebih dahulu, lalu setelah itu menjadikan aqidah tersebut sebagai pondasi dan standar bagi erbagai pengatahuan. Ini dapat ditunjukan misalnya dari suatu peristiwa ketika di masa Rasulullah SAW terjadi gerhana matahari, yang bertepatan dengan wafatnya putra beliau (Ibrahim). Orang-orang berkata bahwa gerhana ini terjadi karena meninggalnya Ibrahim, maka Rasulullah SAW segera menjelaskan: Sesungguhnya gerhana matahari dan bulan tidak terjadi karena kematian atau kelahiran seseorang, akan tetapi keduanya termasu tanda-tanda kekuasaan Allah. Dengannya Allah memperingatkan hambaNya (HR. Al-Bukhari dab An-Nasai) Dengan jelas kita tahu bahwa Rasulullah SAW telah meletakkan aqidah Islam sebagai dasar ilmu pengetahuan, sebab beliau menjelaskan, bahwa fenomena adalah tanda keberadaan dan kekuasaan Allah, tidak ada hubungannya dengan nasib seseorang. Hal ini sesuai aqidah muslim tertera dalam al-Quran: Sesungguhnya langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang berakal. (QS Ali Imran: 190)

14

Ini paradigma Isla yang menjadikan aqidah Islam sebagai dasar segala pengatahuan seorang muslim. Paradigma inilah yang telah mencetak muslim-muslim yang taat dan saleh tapi sekaligus cerdas dalam iptek.

Aqidah Islam sebagai Dasar Iptek Inilah peran pertama yang dimainkan Islam dalam iptek, yaitu aqidah Islam harus dijadikan basis segala konsep dan aplikasi iptek, inilah paradigma Islam sebagaimana yang telah dibawa Rasulullah SAW. Paraadigma Islam inilah yang seharusnya diadopsi oleh kaum muslimin saat in. bukan paradigma sekuler yang ada sekarang. Diakui atau tidak, kini umat Islam telah terjerumus dalam sikap membebek dan mengekor Barat dalam segala-galanya; dalam pandangan hidup, gaya hidup, termasuk dalam konsep ilmu pengetahuan. Bercokolnya paradigma sekuler iniah yan bisa menjelaskan, mengapa di dalam system pendidikan yang diikuti orang Islam diajarkan system ekonomi kapitalis yang pragmatis serta tidak kenal halal harm. Eksistensi paradigma sekuler itu menjelaskan pula mengapa tetap diajarkan konsep pengetahuan yang bertentangan dengan keyakinan dan keimanan muslim. Misalnya teori darwn yang dusta dan sekaligus bertolak belakng dengan aqidah Islam. Kekeliruan paradigmatic ini harus dikoreksi. Ini tentu perlu peybahan fundamental dan perombakan total. Dengan cara mengganti paradigma sekule yang ada saat ini, dengan paradigma Islam yang memandang bahwa aqidah Islam yang seharusnya dijadikan basis bagi bagnunan ilmu pengetahuan manusia. Namun di sini perlu dipahami dengan seksama, bahwa ketika aqidah Islam dijadikan landasan iptek, bukan berarti konsep-konsep iptek harus bersumber dari Al-Quran dan al-Hadits, tapi maksudnya adalah konsep iptek harus distandirisasi benar salahnya dengan tolok ukur al-quran dan al-hadits dan tidak boleh bertentangan dengan keduanya (Al-Baghdadi, 1996: 12) Jika kita menjadikan aqidah Islam sebagai landasan iptek, bukan berarti bahwa ilmu astronomi, geologi, agronomi, dan seterusnya, harus didasarkan pada ayat tertentu, atau hadits tertentu. Kalaupun ada ayat atau hadits yang cocol dengan fakta sains, itu adalah bukti keluasan ilmu Allah yang meliputi segala sesuatu,15

bukan berarti konsep iptek harus bersumber pada ayat atau hadist tertentu. Misalnya saja dalam astronomi ada ayat yang menjelaskan bahwa matahari sebagai pancaran cahaya dan panas (QS Nuh: 16), bahwa langit (bahan alam semesta) berasal dari asap (gas) sedangkan galaksi-galaksi tercipata dari kondensasi (pemekatan) gas tersebut (QS Fushilat; 11-12), dan seterusnya. Ada sekitar 750 ayat dalam al-quran yang semacam ini (lihat Al-Baghdadi, 2005: 113). Ayat-ayat ini menunjukkan betapa luasnya ilmu Allah sehingga meliputi segala sesuatu, dan menjadi tolok ukur kesimpulan iptek, bukan berarti bahwa konsep iptek wajib didasarkan pada ayat-ayat tertentu. Jadi, yang dimaksud menjadian aqidah Islam sebagai landasan iptek bukanlah bahwa konsep iptek wajib bersumber kepada al-quran dan al-hadist, tapi yang dimaksud, bahwa iptek wajib berstandar pada al-quran dan al-hadits. Ringkasnya, al-quran dan al-hadits adalah standee (miqyas) iptek, dan bukannya sumber (ashdar) iptek. Artinya, apa pun konsep iptek yang dikembangkan, harus sesuai dengan al-quran dan al-hadits, tidak boleh bertetangan. Jika suatu konsep iptek bertentangan dengan al-quran dan al-hadits, maka konsep itu berarti harus ditolak. Mislanya saja tteori Darwin yang menyatakan bahwa manusia adalah hasil evolusi dari organism sederhana yang selama jutaan tahun berevolusi melalui seleksi alam menjadi organism yang lebih kompleks hingga menjadi manusia modern sekarang. Berarti, manusia sekarang bukan keturunan manusia pertama, Nabi Adam AS, tapi hasil dari evolusi organism sederhana. Ini bertentangan dengan firman Allah yang menegaskan, Adam AS adalah manusia pertama, dan bahwa seluruh manusia sekarang adalah keturunan Adam AS itu, bukan keturunan makhluk lainnya sebagaimaa fantasi teori Darwin (Zallum, 2001). Implikasi lain dari prinsip ini, yaitu al-quran dan al-hadits hanyalah standar iptek, dan bukan sumber iptek, adalah umat Islam boleh mengambil iptek dari sumber kaum non musli. Dahulu Nabi SAW menerapkan penggaian parit di sekeliling Madinah, padahal strategi militer itu berasal dari tradisi kaum Persia yang beragama Majusi. Dahulu Nabi SAW juga pernah memerintahkan dua sahabat mempelajari teknik persenjataan ke yaman, padahal Yaman dahulu adalah ahlu kitab. Umar bin Khatab pernah mengambil system administrasi dan pendataan16

Baitul Mal yang berasal dari Romawi yan beragama Kristen. Jadi, selama tidak bertantangan dengan aqidah Islam iptek dapat diadopsi dari kaum non islam.19 Maka dari itu pendidikan mutlak dilakukan. Pendidikan adalah suatu peristiwa penyampaian atau suatu proses transformasi. Dalam proses transformasi itu, disamping ada subjek atau yang meyampaikan materi, ada pula objek atau yang menerima penyampaian materi itu. Hal ini mengandung makna komunikasi. Komunikasi tersebut tentunya tidak dapat berlangsung dalam ruang hampa, melainkan dalam suasana yang mengandung tujuan. Harus diusahakan

pencapaiannya dengan mengarahkan segala daya upaya pendidikan, seperti; bahasa, metode, alat evolusi, dan sebagainya.20 Pendidikan mencangkup pengertian sekaligus, yakni Tarbiyah, talim, dan tadib. Maka pengertian pendidik terutama Islam sebagai Murabbi, Muallim, dan Muaddib sekaligus.21 Menurut Azyumardi Azra, pendidikan Islam adalah nilai-nilai social

kemasyarakatan yang tidak bertentangan dengan ajaran-ajaran al-quran dan sunnah, atas prinsip mendatangkan kemanfaatan dan menjauhkan kemudharatan bagi manusia. Warisan pemikiran Islam terdahulu merupakan juga merupakan dasar penting yang tidak boleh dilupaka dalam pendidikan Islam. Hasil pemikiran para Ulama, filosof, cendekiawan Muslim, khususnya dalam pendidikan menjadi rujukan penting dalam pengembangan Islam.22 Tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan kecerdasan, kepribadian dan kemandirian anak sebagaimana disebutkan dalam pasal 3 UU Sisdiknas, mengacu pada tujuan pendidikan nasional seperti itu maka penjabaran ranah tujuan menjadi sangat luas; seperti ideology pendidikan, kualitas bangsa, penguasaan iptek, karakter, kemandirian dan sebagainya.23 Tujuan pendidikan hakekatnya adalah suatu perwujudan dari niai-nilai ideal yang terbentuk dalam pribadi manusia yang

http://www.freelist.orgarchipvesnasional.com diakses tanggal 26 Maret 2008, pukul 16.00 WIB Umar Shihab, Kontekstualitas Al-Qur an (Jakarta: Penamadani, 2005, cet.III, hal. 154 21 HM. Chabib Thoha, Kapita Selekta Pendidikan Islam (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996), cet I, ha. 11 22 Azyumardi Azra, Pendidikan Islam, Tradisi dan Modernisasi Menuju Mellinium Baru (Jakarta Logos, 1999), hal. 9 23 Ki Supriyoko, Konfigurasi Politik Pendidikan Nasional (Yogyakarta: Pustaka pahima, 2007), hal.xiii20

19

17

diinginkan. Nilai-nilai ideal itu mempengaruhi dan mewarnai pola kepribadian manusia, sehingga gejala dalam perilaku lahiriyah.24

III.

Penutup Kesimpulan Ilmu pengetahuan (sains) adalah pengetahuan tentang gejala alam yang diperoleh melalui proses yang disebut metode ilmiah (scientific method). Sedang teknologi adalah pengetahuan dan ketrampilan yang merupakan penerapan ilmu pengetahuan dalam kehidupan manusia sehari-hari. Perkembangan iptek adalah hasil dari segala langkah dan pemikiran untuk memperluas, memeperdalam, dan mengembangkan iptek. Dalam perkembangan iptek setidaknya ada 2 (dua) yang perlu diperhatikan. Pertama, menjadikan aqidah Islam sebagai paradigma pemikiran dan ilmu pengetahuan. Jadi, paradigma Islam, dan bukannya paradigma sekuler, yang seharusnya diambil oleh umat Islam dalam membangun struktur ilmu pengetahuan. Kedua, menjadikan syariah Islam sebagai standar penggunaan iptek. Jadi, syariah Islam-lah, bukannya standar manfaat (utilitarianisme), yang seharusnya dijadikan tolok ukur umat Islam dalam mengaplikasikan iptek. Jika dua peran ini dapat dimainkan oleh umat Islam dengan baik, insyaallah aka nada berbagai berkah Allah kepada umat Islam dan juga seluruh umat manusia. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di satu sisi memang berdampak positif, yakni dapat memperbaiki kualitas hidup manusia. Berbagai sarana modern idustri, komunikasi, dn tansportasi, misalnya, terbukti amat bermanfaat dan lain-lain. Tetapi di sisi lain, tak jarang iptek berdampak negative karena merugikan dan membahayakan kehidupan dan martabat manusia. Bom atom telah menewaskan ratusan ribu manusia di Hiroshima dan Nagasak pada tahun 1945 dan masih banyak lao contoh lain, belum lagi dampak negative dan nformasi teknologi bagi para pemuda sebagai pemegang tongkat estafet kepemimpinan masa yang akan datang.

24

Muzayyin Arifin, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 2003), hal. 108

18

Sudah seharusnya kaum muslimin mengendalikan teknologi untuk kebaikan bukan menjadi budak teknologi sehingga dapat menghadapi pesaingan global dengan memanfaatkan teknologi untuk kemajuan umat.

Daftar Pustaka Arief, armai. Pengatar ilmu dan metodologi pendidikan Islam. Jakarta: ciputat press, 2002 Azra, Azyumardi.pendidikan Islam, Tradisi dan Modernisasi Menuju Melinium Baru. Jakarta: Logos, 2004. Azizi, A. qodri. Melawan Globalisasi, Reinterprestasi Ajaran Islam. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004. Bahreisj, Hossein. Menengok Kejayaan Islam. Surabaya: Bina Ilmu, 1995. Baiquni, Achmad. Al-Quran Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, Yogyakarta: Dana Bakti Prima Yasa, 2001. Bakry, Nurchlis et.al. Bioteknologi dan Al-Quran Referensi Dakwah Dai Modern. Jakarta: Gema Insani Press, 1996 Mansur. Peradaban Islam dalam Lintas Sejarah, Yogyakarta: Global Pustaka Utama, 2004. M. Abdul Karim. Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam. Yogyakarta: Pustaka Book Publisher, 1997. M. Chabib Thoha. Kapita Selekta Pendidikan Islam. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996. http://tukerpikiran.blogspot.com. Diakses tanggal 20 Maret 2008, jam 15.30 WIB http://www.hizbut-tahrir.or.id.com. Diakses tanggal 20 Maret 2008, jam 15.30 WIB http://www.freelist.orgarchipvsnasional.co. diakses tanggal 21 Maret 2008 http://www.dhanarbayu.wordpress.com. Diakses tanggal 23 Maret 2008, pukul 16.45 WIB http://www.spaceutm.edu.my/news/news.aspx?newsld=33. Diakses tanggal 23 Maret 2008, pukul 16.45 WIB http://www.skuadpsn..multiply.com/reviews/item/1. diakses pada tanggal 23 Maret 2008, jam 16.20 WIB

19