Contoh Pkmk Didanai Dikti 20071

download Contoh Pkmk Didanai Dikti 20071

of 21

  • date post

    31-Dec-2015
  • Category

    Documents

  • view

    21
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of Contoh Pkmk Didanai Dikti 20071

A

A. Judul Program

Usaha Pembuatan dan Pemasaran Instalasi Biogas dan Pupuk Organik sebagai Sistem Pengolahan Limbah Terpadu dalam Upaya Mengatasi Pencemaran Lingkungan dan Pengembangan Potensi Daerah.

B. Latar Belakang Masalah

Indonesia mempunyai potensi kekayaan alam yang melimpah termasuk kekayaan ternaknya. Potensi ternak selama ini belum dikembangkan sepenuhnya. Sebagian peternakan di Indonesia adalah peternakan yang bersifat tradisional. Termasuk dalam pengolahan hasil dan limbahnya belum tersentuh teknologi. Dari sisi lain keterbatasan pupuk buatan dipasaran menyebabkan tingginya harga pupuk sehingga banyak petani yang tidak mampu membelinya. Kondisi ini diperparah dengan adanya krisis energi yang sudah bebrapa tahun melanda Indonesia, pada tahun 2000 cadangan minyak Indonesia sekitar 5123 metrik barel (MB) dan tahun 2004 menjadi sekitar 4301 MB. Penurunan cadangan minyak disebabkan oleh dua faktor utama yaitu eksploitasi minyak selama bertahun-tahun dan minimnya eksplorasi atau survei geologi untuk menemukan cadangan minyak terbaru. Tanpa ditemukan cadangan minyak baru, praktis persedian minyak di Indonesia hanya dapat dieksploitasi sampai sekitar 30 tahunan. Konsumsi terhadap produk minyak/Bahan Bakar Minyak terus mengalami peningkatan seiring dengan pertumbuhan penduduk dan pertumbuhan ekonomi di Indonesi. Ditinjau dari kesehatan, masalah lain yang ditimbulkan oleh sumber energi fosil adalah residu dari hasil pembakarannya. Proses pembakaran yang tidak sempurna akan menghasilkan karbon monoksida (CO) yang berbahaya bagi metabolisme tubuh jika terhirup oleh manusia, hal ini harus segera dicarikan solusi agar krisis pupuk dan krisis energi yang terjadi dapat diatasi.

Usaha peternakan yang selama ini dipandang sebagai usaha yang akrab dengan lingkungan mulai di tuding sebagai usaha yang ikut mencemari lingkungan hidup. Hal ini disebabkan karena selain menghasilkan daging, telur, susu dan kulit, usaha peternakan juga menghasilkan produk ikutan (by product) berupa limbah (waste). Peningkatan permintaan hasil ternak mendorong meningkatnya populasi ternak dan produktivitas ternak. Pengembangan usaha peternakan sering mendapat kecaman karena tidak diikuti dengan pengolahan limbah yang baik, hal ini tentunya akan mengganggu masyarakat sekitar lokasi peternakan.

Pemanfaatan kotoran ternak dalam bentuk lain adalah mengolahnya menjadi sumber energi dalam bentuk gas yang sering disebut biogas. Prinsip pembuatan biogas adalah adanya dekomposisi bahan organik secara anaerobik untuk menghasilkan gas yang sebagian besar berupa metan dan karbon dioksida. Pemanfatan biogas selain akan mendapatkan gas sebagai bahan bakar, juga pupuk organic padat dan pupuk organic cair dari sisa fermentasi bahan organic dalam digester biogas.

Adanya produk pupuk organik tersebut memberikan andil yang cukup besar terhadap penanggulangan krisis pupuk yang terjadi belakangan ini. Kompos dapat menggantikan pupuk anorganik yang sekarang keberadaannya sangat terbatas dipasaran, selain itu kompos memiliki keunggulan dibandingkan dengan pupuk buatan pabrik, diantaranya mengandung unsur hara makro dan mikro lengkap dan dapat memperbaiki struktur tanah. Selain itu dapat mengurangi pencemaran akibat penumpukan feses. Pada saat ini, ketika harga bahan bakar minyak naik akibat meningkatnya harga minyak dunia, maka pemanfaatan kotoran ternak sebagai bahan baku penghasil biogas bisa menjadi salah satu alternatife. Alternatife ini memberikan manfaat lain yaitu; meningkatkan nilai feses sebagai pupuk organic karena dapat meningkatkan unsur hara dan daya serap oleh tanaman, mengurangi pencemaran lingkungan, gas yang dihasilkan dapat mencukupi kebutuhan bahan bakar sehingga dapat mengurangi ketergantungan terhadap pemakaian bahan bakar minyak.

Desa Tumiyang merupakan desa yang memiliki populasi ternak sapi perah terbanyak di Kabupaten Banyumas yaitu sebanyak 244 ekor ternak. Dengan jumlah penduduk sekitar 4992 jiwa dan sekitar 1231 diantaranya adalah buruh tani dan peternak, sebagian besar pendidikan penduduknya adalah lulusan sekolah dasar (45,85%)dan sebagian lulusan sekolah menengah pertama (10%), sebanyak 20,77% tidak tamat sekolah dasar dan 10,27% lulusan sekolah lanjutan tingkat atas. Lebih dari 76% wilayah desa merupakan lahan pertanian produktif dan beberapa bagian wilayah desa berbatasan langsung dengan hutan menjadikan desa ini memiliki sumber hijauan pakan yang melimpah sehingga produksi ternak tetap optimal di musim kemarau. Namun demikian penanganan limbah menjadi masalah utama yang selama ini dihadapi para peternak.

Pemanfaatan limbah oleh peternak sebagai pupuk untuk lahan pertanian dan lahan hijauan telah dilakukan. Namun demikian masalah ini masih berlanjut karena limbah yang dimanfaatkan tidak sebanding dengan limbah yang dihasilkan. Hal ini disebabkan karena minimnya pengetahuan peternak tentang teknologi pengolahan limbah menjadi biogas dan pupuk organic yang lebih bermanfaat. Setiap peternak rata-rata memiliki 5 ekor ternak, dan setiap ekor ternak dapat menghasilkan 23 kg feses per hari, hal itu berarti dalam sehari peternak dapat menghasilkan limbah sebanyak 115 kg dan dalam satu bulan dapat mencapai 3,45 ton, saat ini kemampuan peternak untuk dapat mengolah kompos hanya seperempat dari limbah yang dihasilkan, sehingga sisa feses yang tidak dimanfaatkan hanya ditumpuk di dekat kandang begitu saja. Dalam waktu satu bulan desa Tumiyang menghasilkan tumpukan limbah berupa feses sebanyak 168,36 ton, padahal apabila limbah tersebut diolah menjadi pupuk organik akan diperoleh produk sebanyak 92, 6 ton dan dapat digunakan untuk memupuk lahan seluas 9,26 Ha tanpa perlu biaya lagi untuk membeli pupuk anorganik.

Hasil studi kelayakan menunjukan selama ini masyarakat sekitar merasa terganggu dengan kondisi tersebut. Menumpuknya limbah ternyata menyebabkan bau yang tidak sedap dan mengganggu kesehatan masyarakat di sekitarnya, mengundang datangnya lalat dan tikus. Keterbatasan pengetahuan para peternak akan teknologi pengolahan limbah menjadikan masalah ini berlarut-larut dan harus segera diatasi.

Berdasarkan kondisi yang demikian maka perlu adanya langkah inovatif dalam menangani masalah limbah agar dapat lebih baik sehingga masalah pencemaran lingkungan di sekitar area peternakan akan dapat diatasi. Salah satu caranya dengan membuat instalasi biogas meskipun dengan model sederhana dan sentra pengolahan pupuk organic padat dan cair. Pembuatan instalasi biogas dan pembuatan pupuk organic tersebut akan dapat memberikan banyak keuntungan yaitu, dapat teratasinya masalah pencemaran lingkungan akibat adanya limbah usaha peternakan, kecukupan energi untuk masyarakat terutama di pedesaan dapat dijuamin yaitu dengan menggunakan energi alternative yang relatif murah, ramah lingkungan, mudah diperoleh, dan dapat diperbaharui, serta dapat mendatangkan keuntungan yaitu pengolahan pupuk organic padat dan cair serta hasil fermentasi biodigester yang berupa gas methan.

C. Rumusan Masalah

Usaha peternakan memberikan manfaat besar ditinjau dari perannya dalam penyedia protein hewani. Namun disisi lain, usaha peternakan dapat menjadi penyebab timbulnya pencemaran lingkungan. Hasil samping usaha peternakan berupa limbah terutama dari usaha yang intensif atau usaha skala besar akan dapat menimbulkan masalah yang komplek. Selain baunya yang tidak sedap, keberadaannya juga mencemari lingkungan, mengganggu kesehatan masyarakat, dan dapat menjadi vector penyakit.

Pemanfaatan limbah berupa feses dan urine telah banyak dimanfaatkan sebagai pupuk organic oleh sebagian besar peternak. Namun, kebanyakan dari mereka langsung menggunakan di kebun tanpa di proses terlebih dahulu, padahal feses tersebut masih bersifat panas dan dapat mengganggu pertumbuhan dan bahkan menyebabkan kematian tanaman.

Berdasarkan kondisi tersebut perlu dilakukan pengolahan limbah yang lebih baik dengan melibatkan teknologi agar dapat mengatasi masalah yang ditimbulkan serta dapat meningkatkan nilai jualnya. Langkah inovatif ini bertujuan untuk dapat menunjukan bahwa limbah peternakan yaitu feses dan urine bukan lagi sebagai sumber masalah pencemaran lingkungan tetapi merupakan produk peternakan yang bernilai ekonomi. Pemanfaatan limbah tersebut diprioritaskan untuk membentuk produk baru yang bernilai tinggi, yaitu pupuk organik padat dan pupuk cair serta biogas. Hal ini sejalan dengan program Pemerintah yaitu Indonesia Go Organik yang akan dilaksanakan pada tahun 2010. Namun pengolahan limbah menjadi pupuk dan biogas selama ini belum banyak dilakukan, sehingga produk ini sangat berpotensi untuk dikembangkan menjadi sebuah usaha yang mampu mendatangkan profit baik dalam skala besar ataupun kecil bagi para peternak.

D. Tujuan Program

1. Melatih dan mengembangkan ketrampilan peternak dalam mengolah limbah sapi perah menjadi pupuk organik dan biogas.

2. Mengolah limbah sapi perah menjadi produk baru yang bernilai ekonomi tinggi.

3. Membuat sistem pemasaran produk pengolahan limbah sapi perah.

4. Membangun system usaha pengolahan limbah yang berkelanjutan.

5. Menciptakan lahan baru bagi mahasiswa untuk mengaplikasikan ilmunya.

E. Luaran yang Diharapkan

1. Menghasilkan produk pengolahan limbah berupa biogas dan pupuk organik bentuk padat dan cair.

2. Terbentuknya sentra system pengolahan biogas dan pupuk organik serta sistem pemasarannya yang berkesinambungan.

F.Kegunaan Program

1.Mengatasi masalah pencemaran lingkungan yang diakibatkan oleh limbah peternakan.

2.Meningkatnya pengetahuan dan kreatifitas masyarakat dalam mengolah limbah peternakan.

3.Sebagai sarana meningkatkan daya guna dan nilai ekonomis limbah peternakan sapi perah.

4.Meningkatkan pendapatan masyarakat khususnya peternak sapi perah.

5. Mengurang