CASE REPORT DEWI SASMITA KUMALA SARI

of 30 /30
CASE REPORT KOMA HIPOGLIKEMIA ET CAUSA LOW INTAKE PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 Dewi Sasmita Kumala Sari 1 Jazil Karimi 2 1 Penulis untuk korespondensi: Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Abdurrab, Alamat: Jl. Riau Ujung no.73, Pekanbaru, E- mail: [email protected] 2 Bagian Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Riau/RSUD Arifin Achmad Provinsi Riau ABSTRAK Pendahuluan : Pada penyandang diabetes melitus tipe I dan II, hipoglikemia merupakan suatu komplikasi yang kerap menghambat kontrol gula darah pada pasien, Hipoglikemia dapat menimbulkan suatu komplikasi yang ringan hingga berbahaya, dari adanya gejala otonom dan adrenergik hingga dapat mengakibatkan kematian.Selain pada penyandang diabetes melitus, hipoglikemia juga dapat terjadi pada non-diabetesi, meskipun kejadiannya tidak sesering pada diabetesi.Pengelolaan keadaan akut hipoglikemia menjadi penting dalam mengatasi morbiditas dan mortalitas terkait hipoglikemia. Laporan kasus :Tn. N usia 62 tahun, datang ke RSUD Arifin Achmad dengan penurunan kesadaran sejak 3 jam SMRS. 5 jam SMRS pasien mengeluhkan badan lemas, kepala pusing, berkeringat dingin dan berdebar-debar. Pasien puasa dan mengatakan tidak nafsu makan sejak 2 minggu SMRS. Makan hanya sekali sehari dan tetap minum obat DM yaitu metformin 2 kali sehari dan glibenclamid 1 kali sehari. Pasien sudah menderita DM sejak 7 tahun yang lalu. Pemeriksaan umum didapatkan GCS 3 dengan GDS 34 mg/dl. Kesimpulan :Pasien didiagnosis koma hipoglikemia dengan diabetes melitus tipe 2 dan hipertensi stage II, dimana terdapat penurunan kesadaran dan penurunan glukosa darah, dengan adanya gejala hipoglikemia sebelum pasien mengalami penurunan kesadaran dan keadaan membaik setelah pemberian dextrose 40%. Hipoglikemia merupakan komplikasi dari diabetes melitus dan pengobatannya. 1

Embed Size (px)

description

KOMA HIPOGLIKEMIA

Transcript of CASE REPORT DEWI SASMITA KUMALA SARI

CASE REPORT

KOMA HIPOGLIKEMIA ET CAUSA LOW INTAKE PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2Dewi Sasmita Kumala Sari1 Jazil Karimi21Penulis untuk korespondensi: Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Abdurrab, Alamat: Jl. Riau Ujung no.73, Pekanbaru, E-mail: [email protected] Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Riau/RSUD Arifin Achmad Provinsi Riau

ABSTRAK

Pendahuluan : Pada penyandang diabetes melitus tipe I dan II, hipoglikemia merupakan suatu komplikasi yang kerap menghambat kontrol gula darah pada pasien, Hipoglikemia dapat menimbulkan suatu komplikasi yang ringan hingga berbahaya, dari adanya gejala otonom dan adrenergik hingga dapat mengakibatkan kematian.Selain pada penyandang diabetes melitus, hipoglikemia juga dapat terjadi pada non-diabetesi, meskipun kejadiannya tidak sesering pada diabetesi.Pengelolaan keadaan akut hipoglikemia menjadi penting dalam mengatasi morbiditas dan mortalitas terkait hipoglikemia.Laporan kasus :Tn. N usia 62 tahun, datang ke RSUD Arifin Achmad dengan penurunan kesadaran sejak 3 jam SMRS. 5 jam SMRS pasien mengeluhkan badan lemas, kepala pusing, berkeringat dingin dan berdebar-debar. Pasien puasa dan mengatakan tidak nafsu makan sejak 2 minggu SMRS. Makan hanya sekali sehari dan tetap minum obat DM yaitu metformin 2 kali sehari dan glibenclamid 1 kali sehari. Pasien sudah menderita DM sejak 7 tahun yang lalu. Pemeriksaan umum didapatkan GCS 3 dengan GDS 34 mg/dl.Kesimpulan :Pasien didiagnosis koma hipoglikemia dengan diabetes melitus tipe 2 dan hipertensi stage II, dimana terdapat penurunan kesadaran dan penurunan glukosa darah, dengan adanya gejala hipoglikemia sebelum pasien mengalami penurunan kesadaran dan keadaan membaik setelah pemberian dextrose 40%. Hipoglikemia merupakan komplikasi dari diabetes melitus dan pengobatannya.

CASE REPORT

7

PENDAHULUANPada penyandang diabetes melitus tipe I dan II, hipoglikemia merupakan suatu komplikasi yang kerap menghambat kontrol gula darah pada pasien. Risiko hipoglikemia merupakan akibat dari belum sempurnanya terapi medikamentosa dengan hipoglikemia saat ini, meskipun faktor gaya hidup dan pengetahuan juga tidak dapat dipungkiri memegang peranan terjadinya hipoglikemia. Hipoglikemia dapat menimbulkan suatu komplikasi yang ringan hingga berbahaya, dari adanya gejala otonom dan adrenergik hingga dapat mengakibatkan kematian. Selain pada penyandang diabetes melitus, hipoglikemia juga dapat terjadi pada non-diabetesi, meskipun kejadiannya tidak sesering pada diabetesi. Pengelolaan keadaan akut hipoglikemia menjadi penting dalam mengatasi morbiditas dan mortalitas terkait hipoglikemia.

TINJAUAN PUSTAKA2.1 Diabetes Melitus2.1.1 DefinisiDiabetes melitus (DM) merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan pada sekresi insulin, kerja insulin atau kedua-duanya.1

2.1.2 Klasifikasi Berdasarkan EtiologiKlasifikasi berasarkan etiologi dapat dilihat pada tabel 1 berikut :4Tipe 1Destruksi sel beta, umumnya menjurus ke defisiensi insulin absolut Autoimun Idiopatik

Tipe 2Bervariasi, mulai yang dominan resistensi insulin disertai defisiensi insulin relatif sampai yang dominan defek sekresi insulin disertai resistensi insulin

Tipe lain Defek genetik fungsi sel beta Defek genetik kerja insulin Penyakit eksokrin pancreas Endokrinopati Karena obat atau zat kimia Infeksi Sebab imunologi yang jarang Sindrom genetik lain yang berkaitan dengan DM

2.1.3 DiagnosisKriteria diagnosis DM dalam dilihat dalam tabel 2 berikut:4

American Diabetes Association (ADA) menganjurkan skrining DM sebaiknya dilakukan terhadap orang yang berusia 45 tahun ke atas dengan interval 3 tahun sekali.Interval ini dapat lebih pendek pada pasien berisiko tinggi (terutama dengan hipertensi dan dislipidemia). Kriteria diagnosis DM menurut ADA 2010 dapat dilihat pada tabel 3.5Tabel 3. Kriteria Diagnosis DM Menurut ADA 2010.5Kriteria Diagnosis DM

1. HbA1C >6,5 %; atau2. Kadar gula darah puasa >126 mg/dL; atau3. Kadar gula darah 2 jam pp >200 mg/dL pada tes toleransi glukosa oral yang dilakukan dengan 75 g glukosa standar WHO)4. Pasien dengan gejala klasik hiperglikemia atau krisis hiperglikemia dengan kadar gula sewaktu >200 mg/dL

Hasil tes terhadap DM perlu diulang untuk menyingkirkan kesalahan laboratorium, kecuali diagnosis DM dibuat berdasarkan keadaan klinis seperti pada pasien dengan gejala klasik hiperglikemia atau krisis hiperglikemia. Tes yang sama dapat juga diulang untuk kepentingan konfirmasi. Jika nilai dari kedua hasil tes tersebut melampaui ambang diagnostik DM, maka pasien tersebut dapat dipastikan menderita DM. Namun, jika terdapat ketidaksesuaian (diskordansi) pada hasil dari kedua tes tersebut, maka tes yang melampaui ambang diagnostik untuk DM perlu diulang kembali dan diagnosis dibuat berdasarkan hasil tes ulangan.5Kadar glukosa darah sewaktu dan glukosa darah puasa sebagai patokan skrinning dapat dilihat pada tabel 3.4Tabel 4. Kadar glukosa darah sewaktu dan puasa sebagai patokan penyaring dan diagnosis DM (mg/dL)4

Langkah-langkah diagnostik DM, dapat dilihat pada gambar 1.4

Gambar 1. Langkah-langkah diagnosis2.2 Hipoglikemia2.2.1 DefinisiHipoglikemia adalah kadar glukosa darah di bawah kadar normal. Beberapa penelitian melaporkan batas bawah glukosa darah setelah puasa satu malam umumnya di atas dari 50 mg/dl (2,8 mmol/L), namun ada pula beberapa subyek yang kadar glukosa darahnya di bawah 50 mg/dl.1 Menurut Perkumpulan Endokrinologi Indonesia, seseorang dikatakan hipoglikemia apabila kadar gula darah