BAB V FARMAKOLOGI BERBAGAI KELOMPOK OBAT · PDF file Berdasarkan mekanisme kerjanya, obat-obat...

Click here to load reader

  • date post

    29-Nov-2020
  • Category

    Documents

  • view

    11
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of BAB V FARMAKOLOGI BERBAGAI KELOMPOK OBAT · PDF file Berdasarkan mekanisme kerjanya, obat-obat...

  • SUMBER BELAJAR PENUNJANG PLPG 2017

    FARMASI/SMK BAB V FARMAKOLOGI BERBAGAI

    KELOMPOK OBAT

    Nora Susanti, M.Sc., Apt

    KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

    DIREKTORAT JENDERAL GURU DAN TENAGA KEPENDIDIKAN

    2017

  • 1

    BAB V

    FARMAKOLOGI BERBAGAI KELOMPOK OBAT

    5.1 Obat-obat Penyakit Saluran Pencernaan

    Penyakit saluran cerna yang paling sering terjadi adalah radang kerongkongan (reflux

    oesophagitis), radang mukosa lambung (gastritis), tukak lambung – usus (uclus pepticum) dan

    kanker lambung – usus. Gangguan usus seperti penyakit crohn, colitis, polip-polip, divertikel,

    IBS dan wasir pada hakikatnya tidak termasuk pada bab ini dan hanya disinggung sedikit untuk

    melengkapi. Sebelum membahas obat-obat yang digunakan untuk mengobati penyakit-

    penyakit tersebut,untuk leih mendapat pengertian yang baik, terlebih dahulu akan dibahas

    sercara singkat etiologi, gejala, sifat-sifat lain dan penanganannya.

    Penggolongan

    Berdasarkan mekanisme kerjanya, obat-obat tukak lambung-usus dapat digolongkan sbb:

    Antasida (senyawa magnesium, aluminiumdan bismut, hidrotalsit, kalsium karbonat, Na-

    bikarbornat). Zat pengikat asam atau antasida (anti=lawan, acidus=asam) adalah basa-basa

    lemah yang digunakan untuk mengikat secara kimiawi dan menetralkan asam lambung.

    Efeknya adalah peningkatan pH, yang mengakibatkan berkurangnya kerja proteolitis dari

    pepsin (optimal pada pH 2). Di atas pH 4, aktivitas pepsin menjadi minimal. Penggunaan

    berbagai macam, selain pada tukak lambung-usus juga pada indigesti dan rasa “terbakar”

    (heartburn), pada gastro-oesophageal reflux ringan dan pada gastritis. Oabt ini mampu

    mengurangi rasa nyeri di lambung dengan cepat (dalam beberapa menit). Efeknya bertahan

    20-60 menit bila diminum pada perut kosong dan sampai 3 jam bila diminum 1 jam setelah

    makan. Makanandengan daya mengikat asam (susu) sama efektifnya terhadap nyeri.

    Peningkatan pH. Garam-garam magnesium dan Na-bikarbonat menaikkan pH isi

    lambung 6-8, CaCO3 sampai pH 5-6 dan garam-garam aluminiumhidroksida sampai

    maksimum pH 4-5. Beberapa antisida (Al-OH, sukralfat dan bismut koloidal) memiliki khasiat

    melindung tukak dengan jalan menutupnya dengan suatu lapisan pelindung terhadap

    serangan asam-pepsin.

    Kehamilan dan laktasi. Wanita hamil sering kali dihinggapi gangguan refluks dan rasa

    “terbakar asam”. Antisida dengan aluminium hidroksida dan magnesium hidroksida boleh

    diberikan selama kehamilan dan laktasi.

  • 2

     Senyawa magnesium dan aluminium dengan sifat netralisasi baik tanpa diserap usus

    merupakan pilihan pertama. Karena garam magnesium bersifat pencahar, maka

    biasanya dikombinasi dengan senyawa aluminium (atau kalsiumkarbonat) yang justru

    bersifat obstipasi (dalam perbandingan 1:5). Persenyewaan molekular dari Mg dan Al

    adalah hidrotalsit yang juga sangat efektif.

     Natriumbikarbonat dan kalsiumkarbonat bekerja kuat dan pesat tetapi dapatdiserap

    usus dengan menimbulkan alkalosis. Ada-nya alkali berlebihan di dalam darah daringan

    menimbulkan mual, muntah, anoreksia, nyeri kepala dan gangguan perilaku. Semula

    penggunaannya tidakdianjurkan karena banyak terbentuknya CO2 pada reaksi dengan

    asam lambung, yang dikira justru mengakibatkaan hipersekresi asam lambung (rebound

    effect). Tetapi penelitian baru (1996) tidak membenarkan perkiraan tersebut.

     Bismutsubsitrat dapat membentuk lapisan pelindung yang menutupi tukak, lagi pula

    berkhasiat bakteriostatis terhadap H. Pylori. Kini banyak digunakan pada terapi

    eradikasi tukak, selalu bersama dua atau tiga obat lain.

    Waktu minum obat. Sudah diketahui umum bahwa keasaman di lambung menurun

    segera setelah makan dan naik kembali satu jam kemudian hingga mencapai dataran tinggi

    tiga jam sesudah makan. Berhubung dengan data ini maka antasida harus digunakan lebih

    kurang 1 jam setelah makan dan sebaiknya dalam bentuk suspensi. Telah dibuktikan bahwa

    tablet bekerja kurang efektif dan lebih lambat, mungkin karena proses pengeringan selama

    pembuatan mengurangi daya netralisasinya.

    Dosis. Pada oesophagitis dan tukak lambung 1 jam sesudah makan dan sebelum tidur.

    Pada tukak usus 1 dan 3 jam sesudah makan dan sebelum tidur. Antasida yang mengandung

    alginat merupakan obat yang paling sering digunakan pada nyeri yang menyertai gangguan

    refluks/heartburn.

    Antibiotika yang umum digunakan untuk penyakit ini antara lain adalah amoksilin, tetrasiklin,

    klarotromisin, metronidazol dan tinidazol. Obat-obat ini digunakan dalam kombinasi sebagai

    triple therapy untuk membasmi H. pylori dan untuk mencapai penyembuhan penyakit tukak

    lambung/usus dengan tuntas

    Obat penguat motilitas : metoklopramida, cisaprida dan domperidon. Obat-obat ini juga

    dinamakan prokinetika atau propulsiva dan merupakan antagonis dopamin. Berdaya

  • 3

    antiemetik, memperkuat peristaltik dan mempercepat pengosongan lambung yang dihambat

    oleh nuerotransmitter dopamin. Penghambatan ini ditiadakan oleh zat-zat antagonis

    dopamin dengan jalan menduduki reseptor yang banyak terdapat di saluran cerna dan otak.

    Blokade dari reseptor itu di otak menimbulkan gangguan ekstrapi-ramidal. Cisaprida dan

    domperidon tidak dapat melintasi barrier darah-otak, sehingga aktivitasterbatas pada saluran

    cerna. Antiemetika. Dengan stimulasi peristaltik pengaliran kembali dari empedu dan enzim

    pencernaan dari duodenum ke jurusan lambung tercegah. Tukak tidak dirangsang lebih lanjut

    dan dapat sembuh dengan lebih cepat.Cisapera dapat menyebabkan gangguan ritme jantung

    berbahaya (meningkatkan QTc-interval, fibrilasi ventrikel), maka telah ditarik dari peredaran

    di perancis dan Belanda.

    Penghambat sekresi asam

    a. H2-blockers (antagonis H2-reseptor): simetidin, ranitidin, famotidin, roksatidin dan

    nizatidin. Obat-obat yang menempati reseptor histamin-H2 secara selektif di

    permukaan sel-sel parietal sehingga sekresi asam lambung dan pepsin sangat

    dikurangi. Antihistaminika (H1-blockers) lainnya tidak memiliki khasiat ini.

    Efektivitas obat-obat ini pada penyembuhan tukak lambung dan usus dengan terapi

    kombinasi melebihi 80%. H2-blockers paling efektif untuk pengobatan tukak

    duodeni yang berkaitan khusus dengan masalah hipersiditas. Pada terapi tukak

    lambung obat ini kurang tinggi efektivitasnya.

    Kehamilan dan laktasi. Sitemidin, ranitidin dan nizatadin (Naxidine) dapat melintasi

    plasenta dan mencapai air susu, sehingga tidak boleh digunakan oleh wanita hamil,

    tidak pula oleh ibu-ibu menyusui. Dari famotidin dan roksatidin belum terdapat

    cukup data.

    b. Penghambat pompa-proton (ppp): omeprazol, lansoprazol, pantoprazol dan

    esomeprazol.

    Obta-obat ini menhambat dengan praktis tuntas sekresi asam dengan jalan

    menghambat enzim H+/K+-ATPase secara selektif dalam sel-sel parietal dan

    merupakan obat pilihan pertama. Kerjanya panjang akibat kumulasi di sel-sel

    tersebut. Kadar penghambatan asam tergantung dari dosis dan pada umumnya

    lebih kuat daripada perintangan H2-blockers.

  • 4

    Kehamilan dan laktasi. Penggunaannya selama kehamilan dan laktasi belum

    tersedia cukup data.

    c. Lainnya.

     Sedativa: meprobamat, diazepam dll. Sudah lama diketahui bahwa stres

    emosional membuat penyakit tukak lambung bertambah parah, sedangkan

    pada waktu serangan akut biasanya timbul kegelisahan dan kecemasan pada

    penderita. Guna mengatasi hal-hal tersebut, penderita sering kali diterapi

    dengan antisida yang ditambahkan obat penenang, misalnya memprobat,

    oksazepam atau benzodiazepin lain.

     Analogen prostaglandin-E1 : misoprostol(Cytotec) menghambat secara langsung

    sel parietal. Lagi pula melindungi mukosa dengan jalan stimulasi produksi mucus

    dan bikarbonat.mka ditambahkan pada terapi dengan NSAIDs. Arthrotec

    (=diklofenak + misoprostol).

     Zat-zat pembantu: asam alginat, succus dan dimethicon. Kadang-kadang

    padaformulasi antisida ditambahkan pula suatu adsorbens yang dapat

    menyerap secara fisis pada permukaannya zat-zat aktif dari getah lambung atau

    zat-zat pelindung yang menutupi mukosa dengan suatu lapisan hidrofob.

    Kegunaan zat-zat tambahan ini tidak selalu dapat dibuktikan dengan pasti.

    Obat Pencernaan. Obat-obat pencernaan atau digestiva digunakan untuk membantu proses

    pencernaan diseluruh lambung-usus. Obat yang sering kali digunakan adalah asam

    hidroklorida, enzim lambung pepsin dan enzim pankreas penkreatin, temu lawak serta garam

    empedu (kolat). Zat-zat ini terutama digunakan pada keadaan defisiensi dari zat pembantu

    pencernaan bersangkutan. Meskipun tidak ada kaitannya dengan proses pencernaan, di sini

    akan dibicarakan pula penggunaan derivat kolat pada terapi batu empedu.

    Pepsin : enzynorm

    Enzin yang dikeluarkan oleh mukosa lambung ini bersifat proteolitis, yaitu menguraikan zat

    putih telur menjadi peptida. Di samping pepsin beberapa enzim dari usus juga bersifat

    proteolitis sehingga tidak adanya pepsin di dalam lambung tidaklah

    mengkhawatirkan.kerjanya