BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Penjadwalan ... II.pdf 5 BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian...

Click here to load reader

  • date post

    26-Oct-2020
  • Category

    Documents

  • view

    2
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Penjadwalan ... II.pdf 5 BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian...

  • 5

    BAB II

    LANDASAN TEORI

    2.1 Pengertian Penjadwalan

    Pengertian penjadwalan adalah aktivitas perencanaan untuk menentukan

    kapan dan dimana setiap operasi sebagai bagian dari pekerjaan secara keseluruhan

    harus dilakukan pada sumber daya yang terbatas, serta pengalokasian sumber daya

    pada suatu waktu tertentu dengan memperhatikan kapasitas sumber daya yang ada.

    Ada beberapa pengertian penjadwalan menurut beberapa ahli :

    • Menurut Arifin & Rudyanto (2010), penjadwalan produksi adalah proses

    alokasi sumber daya dan mesin untuk menyelesaikan semua pekerjaan

    dengan mempertimbangkan batasan-batasan yang ada.

    • Menurut Baker & Trietsch (2009), penjadwalan merupakan proses alokasi

    mesin-mesin yang ada untuk menjalankan tugas dalam jangka waktu

    tertentu.

    • Menurut Pinedo (2016), penjadwalan adalah proses pengambilan keputusan

    yang digunakan untuk industri manufaktur dan jasa yang berhubungan

    dengan alokasi sumber daya untuk mengerjakan tugas dengan tujuan

    mengoptimalkan satu atau lebih tujuan.

    Penjadwalan dibutuhkan untuk meminimasi distribusi tenaga kerja operator dan

    mesin agar lebih efektif. Hal ini sangat penting untuk pengambilan keputusan dalam

    proses produksi.

    2.2 Tujuan Penjadwalan

    Tujuan dari penjadwalan adalah untuk mengurangi keterlambatan suatu

    pekerjaan agar dapat terselesaikan dalam batas waktu yang telah ditentukan oleh

    konsumen. Penjadwalan juga dapat meningkatkan produktivitas mesin dan

    mengurangi waktu menganggur. Semakin tinggi tingkat produktivitas suatu mesin

    maka akan semakin kecil waktu menunggu. Dengan demikian, perusahaan akan

    lebih untung dengan menghemat biaya produksi dan strategi perusahaan dalam

    memuaskan para pelanggan.

  • 6

    Menurut Nasution (2003) yang dikutip dalam Arifin dan Rudyanto (2010)

    menyebutkan macam-macam tujuan penjadwalan :

    1. Meningkatkan penggunaan sumber daya untuk meminimalkan waktu

    proses dan meningkatkan produktivitas.

    2. Mengurangi persediaan barang setengah jadi atau mengurangi beberapa

    pekerjaan yang menunggu dalam antrian ketika sumber daya yang tersedia

    sedang dalam proses pengerjaan tugas yang lain.

    3. Mengurangi keterlambatan pekerjaan untuk meminimalkan biaya

    keterlambatan.

    4. Membantu dalam pengambilan keputusan tentang perencanaan tentang

    kapasitas pabrik dan jenis kapasitas yang dibutuhkan.

    Sedangkan beberapa tujuan yang ingin dicapai dalam penjadwalan (Baker

    & Trietsch, 2009) :

    1. Meningkatkan produktivitas mesin dengan meminimasi total waktu mesin

    saat menganggur.

    2. Mengurangi keterlambatan karena pekerjaan yang dijadwalkan telah

    melewati batas waktu yang ditentukan dengan cara meminimasi waktu

    keterlambatan dan meminiamasi jumlah pekerjaan yang terlambat.

    3. Memenuhi batas waktu pengerjaan yang telah ditentukan, karena apabila

    suatu pekerjaan telah melewati batas waktu maka akan dikenakan biaya

    penalti.

    2.3 Klasifikasi Penjadwalan

    Klasifikasi penjadwalan menurut Pinedo (2016) :

    1. Penjadwalan Mesin Tunggal

    2. Penjadwalan Paralel

    Penjadwalan Paralel terbagi jadi 6 :

    a. Penjadwalan n job dengan mesin paralel yang identik.

    b. Penjadwalan n job dengan mesin paralel non identik dimana setiap

    mesin memiliki fungsi yang sama dengan proses yan berbeda.

  • 7

    c. Penjadwalan n job dengan mesin paralel unrelated pengembangan

    dari paralel non identik. Terdapat m mesin paralel, mesin i untuk

    memproses job j sehingga kecepatan mesin menjadi vij.

    d. Penjadwalan Flowshop dan Flexible Flowshop terdapat m mesin

    disusun secara seri dimana setiap job harus diproses pada setiap mesin.

    Setelah job selesai dikerjakan pada mesin pertama maka akan dilanjut

    pada mesin berikutnya dan seterusnya.

    e. Penjadwalan Jobshop dan Flexible Jobshop terdapat m mesin dimana

    setiap job mempunyai alur produksi yang harus diikuti.

    f. Penjadwalan Openshop yang dimana setiap job harus diproses

    kembali untuk setiap mesin.

    2.4 Jenis Aliran Proses Produksi

    Jenis-jenis aliran produksi yang dimiliki oleh perusahaan menurut Baker &

    Trietsch (2009) yaitu :

    1. Aliran Flowshop, merupakan lantai produksi yang memproses suatu produk

    dengan urutan proses yang sama terhadap semua komponen produk mulai

    dari bahan mentah hingga menjadi barang jadi. Sehingga jika suatu produk

    telah selesai diproses pada suatu mesin dan sedang dalam proses pengerjaan

    pada mesin lainnya, produk tersebut tidak dapat diproses kembali pada

    mesin sebelumnya. Aliran flowshop dibagi menjadi beberapa variasi,

    diantaranya :

    a. Simple Flowshop

    Semua pekerjaan mempunyai urutan proses produksi yang sama.

    Gambar 2.1 Pola Aliran Simple Flowshop1

  • 8

    (Sumber : Baker & Trietsch, 2009)

    b. Skip Flowshop

    Aliran pekerjaan ini melalui urutan proses produksi yang sama, tetapi ada

    beberapa pekerjaan yang tidak melalui mesin tertentu.

    c.Reentrant Flowshop

    Aliran proses dimana mesin dapat digunakan beberapa kali untuk

    memproses suatu produk tertentu.

    d.Compound Flowshop

    Aliran proses yang memuat sekumpulan jenis mesin pada setiap tahapan

    proses produksi.

    2. Aliran Jobshop, dimana setiap order dapat melalui urutan proses yang

    berbeda-beda dengan mesin yang berbeda pula. Karena setiap order

    memiliki urutan proses dan mesin yang berbeda maka memungkinkan untuk

    masing-masing stasiun kerja memproses beberapa item yang berbeda juga.

    Dengan artian beberapa pekerjaan dapat diproses beberapa kali di mesin

    yang sama.

  • 9

    Gambar 2.2 Pola Aliran Jobshop2

    (Sumber : Baker & Trietsch, 2009)

    2.5 Kriteria dalam Penjadwalan

    Menurut Baker & Trietsch (2009), terdapat beberapa kriteria dalam

    penjadwalan sebagai berikut :

    1. Kriteria berdasarkan atribut tugas.

    a. Completion Time, merupakan total waktu yang diperlukan untuk

    menyelesaikan suatu pekerjaan mulai dari pekerjaan tersebut siap untuk

    dikerjakan sampai pekerjaan tersebut selesai dikerjakan.

    Cj = Fj – rj

    b. Mean Flow Time, adalah waktu penyelesaian dari pekerjaan j dimana

    F=1𝑛 Σ𝐹𝑖

    c. Flow Time, merupakan total waktu yang diperlukan suatu pekerjaan mulai

    dari pekerjaan tersebut masuk di tahapan proses sampai pekerjaan tersebut

    selesai dikerjakan di tahapan proses tersebut.

    Fi = Ci – ri

    d. Mean Weight Flow Time, mempunyai definisi yang sama dengan flow time

    hanya saja mean weight flow time mempertimbangkan prioritas pengerjaan

    suatu pekerjaan.

  • 10

    e. Maximum Lateness, merupakan selisih antara waktu penyelesaian suatu

    pekerjaan dengan due date atau batas waktu pengerjaan yang telah

    ditentukan.

    f. Mean Tardiness, merupakan waktu rata-rata dari seluruh pekerjaan yang

    terlambat atau melewati batas waktu yang telah ditentukan.

    2. Kriterian berdasarkan atribut pabrik.

    a. Utilitas Mesin, merupakan rasio dari waktu proses yang terbebankan pada

    mesin dengan rentang waktu untuk meyelesaikan seluruh tugas pada seluruh

    mesin.

    b. Minimasi Makespan, jangka waktu penyelesaian seluruh job yang akan

    dijadwalkan yang merupakan jumlah dari seluruh proses.

    c. Pemenuhan Due Date, merupakan waktu penyelesaian seluruh pekerjaan

    sesuai dengan batas waktu yang telah ditentukan, dimana setiap produsen

    harus memenuhinya untuk mempertahankan setiap konsumennya.

    2.6 Penjadwalan Produksi Flowshop

    Penjadwalan Produksi Flowshop merupakan pergerakan dari mesin satu ke

    mesin lainnya yang disusun secara berurutan melewati stasiun kerja sampai mesin

    terakhir sebelum pekerjaan selesai dikerjakan (Baker & Trietsch, 2009). Kriteria

    yang dimiliki penjadwalan floshop antara lain :

    1. Tidak adanya 2 atau lebih operasi pada pekerjaan yang sama yang berjalan

    secara bersamaan.

    2. Setiap operasi pada suatu mesin harus dikerjakan terlebih dahulu hingga

    proses operasi tersebut selesai, sebelum mengerjakan operasi yang lainnya.

    3. tidak ada pembatalan job sehingga setiap job harus diproses hingga selesai

    dikerjakan.

    4. Tidak adanya kerusakan dalam mesin atau mesin selalu siap.

    5. Waktu proses pengerjaan untuk setiap job pada suatu mesin selalu konstan.

  • 11

    6. Setiap mesin hanya dapat memproses satu pekerjaan dalam satu waktu yang

    sama.

    Menurut Hornig (2013), dalam penjadwalan flowshop operasi harus dilakukan

    pada tahapan atau urutan yang sama pada setiap urutan proses produksi dengan

    artian semua pesanan melalui alur produksi yang sama. Konsep flowshop umum

    nya hanya mempertimbangkan satu mesin pada setiap tahapan prosesnya. Model

    penjadwalan flowshop mempertimbangkan satu rangkaian mesin yang diatur secara

    berurutan dan satu perintah produksi n masing-masing operasi m dengan waktu

    proses pengerjaan i = 1, ..., n, dan k = 1, ..., m, dan semua pekerjaan diselesaikan

    pa