ARB (Angiotensin Reseptor Blocker)

Click here to load reader

download ARB (Angiotensin Reseptor Blocker)

of 74

  • date post

    27-Oct-2015
  • Category

    Documents

  • view

    604
  • download

    18

Embed Size (px)

Transcript of ARB (Angiotensin Reseptor Blocker)

ARB (Angiotensin Reseptor Blocker)

ARB (Angiotensin Reseptor Blocker)Dosen Pengampu : Dr. Danu LestariyantoMata Kuliah : Keterampilan Dasar Kebidanan II (KDK II)

Disusun oleh :Dina Aprilianita P.174.24.212.057Dita Ayu Ardani P.174.24.212.058Elsye Floriska. M P.174.24.212.059Erlina WijayantiP.174.24.212.060Fathya Nur ArifahP.174.24.212.061Fatima Putri. P P.174.24.212.062Reguler II Vanda

POLTEKKES KEMENKES SEMARANGPRODI DIII KEBIDANAN MAGELANGARB (Angiotensin Reseptor Blocker)Angiotensin receptor blocker (ARB) merupakan salah satu obat anti hipertensi yang bekerja dengan cara menurunkan tekanan darah melalui sistem renin-angiotensin-aldosteron. ARB mampu menghambat angiotensin II berikatan dengan reseptornya, sehingga secara langsung akan menyebabkan vasodilatasi, penurunan produksi vasopresin, dan mengurangi sekresi aldosteron. Ketiga efek ini secara bersama-sama akan menyebabkan penurunan tekanan darah.Kerjanya sangat mirip kerja inhibitor ACE, yang memblok pembentukan angiotensin II. Namun, ARB tidak menimbulkan batuk. Obat ini efektif untuk menurunkan tekanan darah.

2merupakan kelompok obat yang memodulasi sistem RAS dengan cara menginhibisi ikatan angiotensin II dengan reseptornya, yaitu pada reseptor AT1 secara spesifik.Semua kelompok ARB memiliki afinitas yang kuat ribuan bahkan puluhan ribu kali lebih kuat dibanding angiotensin II dalam berikatan dengan reseptor AT1. Akibat penghambatan ini, maka angiotensin II tidak dapat bekerja pada reseptor AT1, yang secara langsung memberikan :efek vasodilatasipenurunan vasopressinpenurunan aldosteronpenurunan retensi air dan Na penurunan aktivitas seluler yang merugikan (misalnya hipertrofi). Sedangkan Angiotensin II yang terakumulasi akan bekerja di reseptor AT2 dengan efek berupa vasodilatasi, antiproliferasi. Sehingga pada akhirnya rangsangan reseptor AT2 akan bekerja sinergistik dengan efek hambatan pada reseptor AT1.203Indikasi : hipertensi, CHF (gagal jantung kongestif)Jenis obat :

4 ESO : Udem perifer, dizzines, fatigue, abdominal pain, diare, nausea, albuminuria, rhininis, faringitis, bronkhitis, chest pain

Kontraindikasi : Hipersensitivitas Penyakit hepar yang parah Stenosis arteri renal bilateral Wanita hamil

Interaksi obat : Kontraindikasi : aliskiren Serius-use alternative : ACEI, litium, potasium fosfat iv Signifikan-monitor closely : acebutolol, aspirin, atenolol, bisoprolol, celecoxib, diklofenak, digoksin, furosemid, gentamisin

5Penggunaan Angiotensin-Receptor BlockerGolongan sartan atau ARB digunakan untuk menangani pasien dengan hipertensi, terutama terhadap pasien yang intoleransi dengan terapi ACE inhibitor. Keunggulan ARB dibanding ACE inhibitor adalah ARB tidak menghambat penguraian bradikinin dan kinin lain, sehingga tidak menimbulkan batuk atau angioedem yang dipicu bradikinin. Akhir-akhir ini, mulai dikembangkan penggunaan ARB pada gagal jantung bila terapi menggunakan ACE inhibitor menemui kegagalan, terutama dengan Candesartan. Irbesartan dan losartan juga menunjukkan keuntungan pada pasien hipertensi dengan diabetes tipe II, dan terbukti menghambat secara bermakna progresivitas nefropati diabetik. Candesartan juga telah diuji coba secara klinis dalam mencegah dan mengatasi migrain.

Spesifikasi penggunaan ARB berdasarkan efektivitasnya dalam menghambat ikatan angiotensin II dan reseptornya dapat dijadikan sebagai ukuran untuk mempertimbangkan golongan mana yang dapat dipilih. Terdapat 3 parameter penggunaan ARB, yaitu menurut efek inhibisi dalam 24 jam, tingkat afinitasnya terhadap reseptor AT1 dibanding AT2, dan waktu paruh obat.6Efek inhibisi selama 24 jam merupakan ukuran penting terkait dengan jumlah atau besar angiotensin II yang dihambat selama 24 jam. Berdasarkan FDA USA, beberapa ARB dan efek penghambatan terhadap angiotensin, yaitu:Valsartan 80 mg 30%Telmisartan 80 mg 40%Losartan 100 mg 25-40%Irbesartan 150 mg 40%Irbesartan 300 mg 60%Olmesartan 20 mg 61 %Olmesartan 40 mg 74%Afinitas ARB terhadap reseptor AT1 dibanding AT2 merupakan pertimbangan penting, karena kedua reseptor ini memiliki kerja yang saling berlawanan. Semakin kuat afinitas ARB terhadap AT1 dibanding AT2, maka efek antihipertensi juga akan semakin meningkat. Berdasarkan FDA US, beberapa ARB dan afinitasnya terhadap reseptor AT1 dibanding AT2, yaitu:Losartan 1000 kali Telmisartan 3000 kaliIrbesartan 8500 kaliOlmesartan 12500 kaliValsartan 20000 kaliWaktu paruh ARB juga penting dipertimbangkan sebagai dasar terapi. Waktu paruh merupakan indikator seberapa lama obat memiliki efek yang signifikan di dalam tubuh. Beberapa ARB dan waktu paruhnya, yaitu: Valsartan 6 jamLosartan 6-9 jamIrbesartan 11-15 jamOlmesartan 13 jamTelmisartan 24 jam7Sebagai obat antihipertensi terbaru, ARB merupakan antihipertensi yang banyak digunakan di Asia, terutama Jepang. Losartan Intervention For Endpoint reduction in hypertension (LIFE) membuktikan bahwa ARB terbukti lebih superior dibandingkan atenolol dalam mengurangi morbiditas kardiovaskular atau stroke (tetapi tidak untuk infark miokard). Manfaat ini didapat di luar efek penurunan tekanan darah. Hasil studi LIFE menujukkan bahwa ARB menjadi pilihan lebih baik dibandingkan beta bloker bagi pasien hipertensi sitolik yang terisolasi berusia > 70 tahun.Studi lain, yakni VALUE, membuktikan tidak ada perbedaan signifikan pada morbiditas dan mortalitas kardiovakular pada pasien risiko tinggi, baik pada penerima valsartan maupun amlodipine, meskipun ada perbedaan penurunan tekanan darah. Amlodipine lebih besar menurunkan tekanan darah dengan perbedaan 3,2/1,6 mmHg. Hanya penurunan fatal dan non-fatal infark miokard yang berkaitan langsung dengan penurunan tekanan darah. Studi SCOPE, yakni studi pada pasien hipertensi usia lanjut (> 70 tahun), menunjukkan bahwa penurunan tekanan darah lebih baik dengan pemberian ARB candesartan dibandingkan plasebo (perbedaan 3,2/1,6 mmHg). Namun perbedaan ini secara statistik dianggap tidak bermakna. Demikian pula dalam hal kematian kardiovaskular dan MI non-fatalHasil-hasil studi ELITE II (losartan vs captopril), OPTIMAAL (losartan vs captopril), VALIANT (valsartan vs captopril), dan VaL-HeFT (valsartan vs ACE-inhibitor atau placebo) menunjukkan bahwa ARB sama efektif dengan ACE-inhibitor. Namun kombinasi keduanya lebih superior dibandingkan ACE-inhibitor saja dalam memperbaiki hasil akhir kejadian kardiovaskular. Dalam hal mencegah progresivitas mikroalbuminuria dan meningkatkan hasil akhir terhadap ginjal, beberapa studi komparatif menunjukkan, ARB superior dibandingkan plasebo atau CCB, dan juga ACE-inhibitor. Efek ini bersifat independen dari efek penurunan tekanan darah. Untuk kasus gagal jantung, ARB adalah antihipertensi terbaru yang paling efektif. Hal ini dibuktikan oleh candesartan dan valsartan melalui dua studi besar, yakni ValHeFT dan CHARM.8Macam-macam Angiotensin Reseptor Blocker (ARB)9

1. Candesartan

Sebagai antihipertensiCandesartan memiliki rumus kimia C33H34N6O6dengan berat molekul 440,45 g/molProdruk candesartan dipasarkan dalam bentuk candesartan cileksil, dengan nama Blopress, Atacand, Amias, dan Ratacand

10Farmakokinetik CandesartanAbsorpsi: Setelah pemberian oral,bioavailabilitas candesartan adalah sebesar 15% hingga 40%. Setelah konsumsi tablet, konsentrasi serum puncak (Cmax) tercapai setelah 3-4 jam. Makanan tidak mempengaruhi bioavailabilitas candesartan setelah pemberian candesartan.Distribusi:Volumedistribusicandesartanadalah0,13L/ kg.Candesartansangatterikat pada protein plasma(>99%). Pasien diabetic nefropati dengan proteinuria, dan mengalami penurunan kadar protein plasma, beresiko efek toksik apabila diberikan dengan dosis tinggi.Metabolisme :Candesartandengan cepatdan lengkapdiaktifasimelalui hidrolisisesterselama absorpsidari saluran pencernaan.Candesartan mengalamimetabolismeminor dihatioleh O-deethylationmenjadi bentukmetabolittidak aktif.Penelitian secara in vitromenunjukkan bahwa sitokromP450isoenzimCYP2C9terlibat dalambiotransformasicandesartanmenjadi metabolit tidak aktif.Ekskresi:Total klirensplasma candesartanadalah0,37mL / menit/kg, denganklirens ginjal0,19mL / menit/ kg.Candesartanterutamadiekskresikantidak berubahdalam urindan feses(melaluiempedu). Ekskresi renal candesartan menurun seiring dengan menurunnya fungsi ginjal. Hal ini menyebabkan perpanjangan waktu paruh obat.11KarenaARBdapat meningkatkankonsentrasikaliumdalam darah, menggabung kancandesartandengan obatlain yang dapatmeningkatkan konsentrasikaliumdalam darah,seperti hydrodiuril(Dyazide), spironolakton(aldactone), dan suplemenkalium,dapat menyebabkan peningkatan berbahaya padakaliumdarah.Menggabungkancandesartan atau ARBlain denganobat anti-inflammatorydrugs (NSAID) pada pasienyang sudah lanjut usia, volume cairan kurang(termasuk yangpada terapidiuretik), ataudengan fungsi ginjalyang burukdapat mengakibatkanpenurunan fungsi ginjal, termasuk gagalginjal.Efek inibiasanyareversibel.Bioavailabilitas candesartan sebesar 15% hingga 40% candesartan sileksil metabolisme terjadi di dinding intestinal untuk candesartan yang dikatalisasi enzim sitokrom p450 CYP2C9 metabolisme terjadi di heparWaktu paruh candesartan adalah 5,1 sampai 10,5 jam, dan kemudian diekskresikan 33% melalui renal dan 67% melalui feses.

12Farmakodinamik CandesartanCandesartan menghambat efek angiostensin II tergantung pada dosis. Setelah pemberian 1 minggu dosis 8 mg candesartan satu kali sehari, efek inhibisinya adalah sekitar 90% pada konsentrasi puncak, dengan inhibisi yang masih bertahan 50% selama 24 jam. Konsentrasi plasma angisotensin I dan angiostensin II dan Plasma Rennin Activity (PRA), meningkat tergantung dari dosis setelah pemberian oral dan pengulangan dosis candesartan pada psubjek sehat, hipertensi, dan gagal jantung. Aktivitas ACE tidak berubah pada subjek sehat setelah pemberian candesartan berulang. Pemberian dosis candesartan satu kali sehari sampai 16 mg pada subjek sehat tidak mempengaru