¢â‚¬“HAKIKAT MUALLAF YANG LAYAK MENERIMA ZAKAT ...Secure Site ... layak...

Click here to load reader

download ¢â‚¬“HAKIKAT MUALLAF YANG LAYAK MENERIMA ZAKAT ...Secure Site ... layak menerima zakat adalah dari golongan

of 98

  • date post

    30-Oct-2020
  • Category

    Documents

  • view

    2
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of ¢â‚¬“HAKIKAT MUALLAF YANG LAYAK MENERIMA ZAKAT ...Secure Site ... layak...

  • “HAKIKAT MUALLAF YANG LAYAK MENERIMA ZAKAT”

    (Analisis Pendapat Ibnu Qudamah dan Pendapat Imam Nawawi)

    SKRIPSI

    Diajukan Oleh:

    HARUN ARRASHID BIN BUKHARI

    Mahasiswa Fakultas Syari’ah dan Hukum

    Prodi Syari’ah Perbandingan Mazhab

    NIM: 131209705

    FAKULTAS SYARI’AH DAN HUKUM

    UNIVERSITAS ISLAM NEGERI AR-RANIRY

    DARUSSALAM – BANDA ACEH

    2017 M/1438 H

  • ABSTAK

    Nama ....................... : Harun Arrashid Bin Bukhari

    NIM. ....................... : 131209705

    Fakultas/Prodi .......... : Syari‟ah dan Hukum/Perbandingan Mazhab

    Judul . ...................... : Hakikat Muallaf Yang Layak Menerima Zakat (Analisis

    Pendapat Ibnu Qudamah dan Imam Nawawi)

    Tanggal Sidang......... : 03 Agustus 2017

    Tebal Skripsi. ........... : 85 Lembar

    Pembimbing I. .......... : Dr. Ridwan Nurdin, MCL

    Pembimbing II. ......... : Saifuddin Sakdan, M. Ag

    Kata Kunci. .............. : Hakikat, Muallaf, Layak, Menerima, Zakat.

    Zakat merupakan salah satu instrumen atau pengukuhan ekonomi yang disediakan

    oleh Islam. Pendistribusian zakat terdapat delapan senif yang layak menerimanya.

    Salah satunya merupakan senif muallaf. Para ulama berbeda pandangan dalam

    memahami hakikat muallaf yang layak menerima zakat. Untuk mengkaji masalah

    ini akan digunakan metode penelitian deskriptif komperatif dan analisis.

    Berdasarkan metode pengumpulan data ini, penelitian ini dikategorikan penelitian

    kepustakaan (library research). Hasil penelitian ini disimpulkan bahwa Ibnu

    Qudamah dan Imam Nawawi mempunyai pandangan yang berbeda terkait hakikat

    muallaf yang layak menerima zakat. Ibnu Qudamah berpendapat muallaf

    merupakan dari golongan musyrik dan muslim. Hal ini dikarenakan beliau

    memahami lafaz mu‟allafati qulubuhum di dalam surah At-Taubah ayat 60

    tersebut merupakan lafaz ẓahir berarti yang dilunakkan tersebut terdiri dari

    golongan musyrik dan muslim. Menurut Ibnu Qudamah dalil yang qath‟ĩ

    dalalahnya tidak bisa dinasakh oleh pendapat sahabat atau ijtihad yang statusnya

    lebih rendah dari Alquran. Dan hadis nabi menunjukkan bahwa ketentuan tentang

    pendistribusian zakat tersebut terdapat dalam ayat Alquran tersebut. Akan tetapi

    berbeda dengan Imam Nawawi, beliau berpendapat bahwa hakikat muallaf yang

    layak menerima zakat adalah dari golongan muslim saja. Golongan musyrik pada

    zaman nabi diberikan pemberian, tetapi bukan diambil dari harta zakat, melainkan

    dari harta kemaslahatan umat, ganĩmah, atau harta nabi sendiri. Lafaz mu‟allafati

    qulubuhum yang terdapat dalam surah At-Taubah ayat 60 tersebut merupakan

    lafaz yang „amm, maka ditakhsiskan dengan hadis Nabi yang memberikan zakat

    kepada senif muallaf terdiri dari golongan muslim. Sedangkan yang musyrik

    terdapat hadis yang masyhũr dan ṣahih nabi memberikan pemberian dari harta

    nabi sendiri. Hadis tersebut mentakhsiskan golongan musyrik jatahnya bukanlah

    diambil dari harta zakat.

  • KATA PENGATAR

    بسم ميحرلا نمحرلا هللا

    Alhamdulillah, Segala Puji Bagi Allah atas taufiq dan hidayah-Nya serta

    dengan limpahan rahmat dan kasih sayang-nya penulis telah dapat menyelesaikan

    penulisan skripsi ini yang berjudul: “Hakikat Muallaf Yang Layak Menerima

    Zakat (Analisis Pendapat Ibnu Qudamah dan Imam Nawawi).” Shalawat dan

    salam kepada junjungan Nabi Muhammad SAW yang telah memberi pedoman

    kepada umat manusia dan mengajari cara hidup yang benar sesuai dengan

    tuntutan Alquran dan sunnah.

    Penulis merasa bahagia atas selesainya penulisan skripsi ini guna memenuhi

    sebagaian persyaratan dalam meraih gelar sarjana (S1) dalam Perbandingan

    Mazhab. Hal ini tentunya tidak lepas dari bantuan berbagai pihak, baik spiritual

    maupun material.

    Penulis juga mengucapkan terima kasih dan penghargaan kepada Dr. Ridwan

    Nurdin, MCL. sebagai (Pembimbing I) dan bapak Saifuddin Sakdan, M. Ag.

    sebagai (Pembimbing II), yang memberikan bimbingan dan pengarahan kepada

    penulis sehingga skripsi ini dapat terselesaikan.

    Tidak lupa pula juga penulis ucapkan terima kasih dan setinggi-tingginya

    kepada segenap Pegawai Negeri Fakultas Syari‟ah dan Hukum, Mulai Bapak

    Dekan berserta Pembatunya, para Dosen, Staff Pengajar dan Akademik, Ketua

    Jurusan, Seketaris Ketua Laboratorium Jurusan dan karyawan UIN Ar-Raniry

  • yang turut bekerja sama dalam menggerakkan makanisme kerja sehingga

    semuanya dapat berjalan dengan lancar. Kepada semua pihak baik yang

    disebutkan maupun yang tidak disebutkan, penulis mengucapkan terima kasih

    semoga Allah memberikan imbalan pahala yang lebih baik serta menghasilkan

    keberkahan baik di dunia maupun di akhirat.

    Tidak lupa juga penulis ucapkan terima kasih yang tak terhingga, penulis

    sampaikan kepada ayahnda Bukhari Bin Mansor dan ibunda Non Rajemah Binti

    Mohd Hanifah tercinta, yang telah merawat dan membesarkan serta mendidik

    penulis dengan penuh kasih sayang dan kesabaran. Dan terima kasih juga kepada

    teman-teman penulis yang banyak menolong penulis, kepada mereka tersebut

    penulis tidak dapat memberi apa-apa yang bermanfaat, hanya doa yang dapat

    penulis sampaikan.

    Penulis menyedari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh

    karena itu kriktik dan saran yang sifatnya membangun sangat penulis harapkan

    demi kesempurnaan di masa yang akan datang.

    Akhirnya kepada Allah jualah penulis menyerah diri, hanya Allah yang Maha

    Sempurna, penulis berharap agar skripsi ini dapat bermanfaat hendaknya. Amin

    ya rabbal‟alamin.

    Banda Aceh, 3 Agustus 2017

    Penulis,

    (Harun Arrashid Bin Bukhari)

  • TRANSLITERASI ARAB-LATIN

    Keputusan Bersama Menteri Agama dan Menteri P dan K

    Nomor: 158 Tahun 1987 – Nomor: 0543 b/u/1987

    1. Konsonan

    No Arab Latin Ket No Arab Latin Ket

    ا 1

    Tidak

    dilamban

    gkan

    ṭ ط 16

    t dengan

    titik di

    bawahnya

    B ب 2

    ẓ ظ 17

    z dengan

    titik di

    bawahnya

    „ ع T 18 ت 3

    ṡ ث 4 s dengan titik

    di atasnya G غ 19

    F ف j 20 ج 5

    ḥ ح 6 h dengan titik

    di bawahnya Q ق 21

    K ك kh 22 خ 7

    L ل d 23 د 8

    ż ذ 9 z dengan titik

    di atasnya M م 24

    N ن r 25 ر 10

    W و z 26 ز 11

  • H ه s 27 س 12

    ‟ ء sy 28 ش 13

    ṣ ص 14 s dengan titik

    di bawahnya Y ي 29

    ḍ ض 15 d dengan titik

    di bawahnya

    2. Vokal

    Vokal bahasa Arab, seperti vokal bahasa Indonesia, terdiri dari vokal tunggal atau

    monoftong dan vokal rangkap atau diftong.

    a. Vokal Tunggal

    Vokal tunggal bahasa Arab yang lambangnya berupa tanda atau harkat,

    transliterasinya sebagai berikut:

    Tanda Nama Huruf Latin

    َ Fatḥah A

    َ Kasrah I

    َ Dammah U

    b. Vokal Rangkap

    Vokal rangkap bahasa Arab yang lambangnya berupa gabungan antara harkat

    dan huruf, transliterasinya gabungan huruf, yaitu:

    Tanda dan

    Huruf Nama

    Gabungan

    Huruf

    ي َ Fatḥah dan ya Ai

    وَ Fatḥah dan wau Au

  • Contoh:

    haula : هول kaifa : كيف

    3. Maddah

    Maddah atau vokal panjang yang lambangnya berupa harkat dan huruf,

    transliterasinya berupa huruf dan tanda, yaitu:

    Harkat dan

    Huruf Nama

    Huruf dan

    tanda

    ا/يَ Fatḥah dan alif

    atau ya

    Ā

    يَ Kasrah dan ya Ī

    يَ Dammah dan waw Ū

    Contoh:

    qāla : قال

    ramā : رمى

    qīla : قيل

    yaqūlu : يقىل

    4. Ta Marbutah (ة)

    Transliterasi untuk ta marbutah ada dua:

    a. Ta marbutah (ة) hidup

    Ta marbutah (ة) yang hidup atau mendapat harkatfatḥah, kasrah dan

    dammah, transliterasinya adalah t.

    b. Ta marbutah (ة) mati

    Ta marbutah (ة) yang mati atau mendapat harkat sukun, transliterasinya

    adalah h.

    c. Kalau pada suatu kata yang akhir katanya ta marbutah (ة) diikuti oleh kata

    yang menggunakan kata sandang al, serta bacaan kedua kata itu terpisah

    maka ta marbutah (ة) itu ditransliterasikan dengan h.

  • Contoh:

    rauḍah al-aṭfāl/ rauḍatul aṭfāl : رىضةاالطفال

    /al-Madīnah al-Munawwarah : المدينةالمنىرة۟