Antologi Tulisan

Click here to load reader

  • date post

    31-Jul-2015
  • Category

    Documents

  • view

    158
  • download

    7

Embed Size (px)

Transcript of Antologi Tulisan

1

Pengantar: Vina Adriany

Kita Pernah Melukis Pelangi

2

Bismillahirrahmanirrahim

3

Sebuah PengantarMenulis buat saya seperti bernafas. Sebagaimana saya tidak bisa hidup tanpa bernafas, maka demikianlah makna menulis untuk saya. Demikian kata seorang Profesor Filsafat yang juga merupakan salah seorang sahabat baik saya pada saat saya kuliah S2. Barangkali benar, bagi beberapa orang, menulis merupakan kebutuhan primer. Banyak yang merasa hidupnya belum optimal ketika dia belum selesai menulis. Profesor saya barangkali salah satu diantaranya. Menulis juga bisa bermakna proses eksistansialis. Ada hal yang unik ketika kita menulis. Meskipun menulis seringkali bercerita tentang orang lain, tapi setiap tulisan pada dasarnya senantiasa bersifat autobiography. Setiap tulisan pada dasarnya senantiasa bercerita tentang diri kita sendiri, tentang sejarah yang pernah kita miliki dan mimpi yang barangkali ingin atau belum kita raih Saya bukan seorang penulis produktif, apalagi sebagai penulis populer. Tapi ketika saya menulis, saya senantiasa merasakan diri saya berada pada sebuah lorong waktu yang memungkinkan saya untuk kembali ke masa lalu saya. Saat saya menulis, saya bertanya tentang siapa saya, memori mana yang merupakan fakta dan memori mana yang merupakan fiksi. Dan ini saya rasakan bahkan ketika saya saat ini sedang menulis sebuah disertasi. Saya merasa saya 4

tengah melakukan dialog dengan masa lalu saya, beberapa hal di antaranya indah untuk dikenang, beberapa di antaranya ingin saya kritisi. Tapi terlepas dari itu semua, menulis memungkinkan saya untuk lebih memahami siapa saya sebetulnya. Lalu siapa kah saya ini sesungguhnya? Pertanyaan yang sulit atau tidak mudah untuk dijawab. Descartes mengatakan I think therefore I am. Saya adalah makhluk yang dapat berfikir. Kalau saya adalah makhluk yang dapat berfikir, maka sungguh kapasitas berfikir bukan sesuatu yang ingin saya banggakan. Nuklir, bom atom, perang, semua produk kekerasan yang lahir dari kemampuan berfikir sungguh membuat saya menjadi malu menjadi seorang I. Kemudian, Maslow mengatakan saya adalah individu yang dapat memenuhi self-actualization. Jujur saya akui, saya pun seringkali terjebak dengan candu-nya humanisme. Tapi pertanyaannya, siapa manusia yang bisa sepenuhnya memenuhi aktualisasi dirinya. Mudah barangkali bagi mereka yang lahir dari keluarga menengah ke atas, masuk kedalam golongan mayoritas dengan seperangkat kemudahan yang mereka peroleh. Tapi untuk mereka yang dilahirkan dengan segala keterbatasannya, slogan selfactualization hanya sekedar mimpi di siang hari, halusinasi ditengah segala ketidakadilan struktural di sekitar kita. Kenyataan paling sederhana, kita tidak pernah bisa memilih dimana dan dari siapa kita dilahirkan? Dua hal sederhana yang sangat mempengaruhi cara kita berfikir dan memandang dunia. Kalau saja kita tidak dilahirkan sebagai orang Indonesia, masih kah kita memandang dunia seperti cara kita memandangnya sekarang ini 5

Barangkali kebingungan kita akan konsep saya ini seringkali muncul karena kita cenderung menilai saya sebagai seseorang yang memiliki identitas tunggal, tetap dan tidak pernah berubah sepanjang masa. Padahal kenyataan menunjukkan saya lebih sering merupakan sosok yang memiliki identitas jamak. Dalam banyak hal identitas yang kita miliki kadang-kadang berlawanan satu sama lainnya. Pagi ini saya ibu rumah tangga, siang harinya saya pelajar, sore hari saya seorang teman, malam harinya saya seorang istri. Di satu tempat saya menjadi minoritas, di tempat lain saya menjadi mayoritas. Benar barangkali apa yang dikatakan Ivanich, bahwa One or more of these identities may be foregrounded at different times, they are sometimes contradictory, sometimes interrelated; peoples diverse identities constitute the richness and dilemmas of their sense of self. Identitas yang berlawanan yang kita miliki, memperkaya sekaligus menjadi dilema dari konstruksi kita akan saya. Tulisan-tulisan yang saya baca dalam antologi ini barangkali semakin mengukuhkan pendapat Ivanich ini. Begitu beragamnya tulisan yang ada dalam antologi ini dari mulai pertanyaan tentang takdir, yang barangkali bisa juga menunjukkan kritik terhadap konsep freewill yang seringkali diagung-agungkan pengikut humanisme, kontemplasi tentang pilihan hidup dan konsekuensi dalam menjalaninya, semuanya mengerucut kepada pertanyaan mendasar tentang diri dan hidup ini. Tulisan-tulisan dalam antologi ini juga menunjukkan betapa saya tidak lah hidup sendiri. Refleksi-refleksi mengenai mimpi anak jalanan, pekerja wanita di luar negri, 6

sampai kegelisahan seorang sahabat menunjukkan apa yang dikatakan Heidegger dalam magnum opusnya Being and Time tentang bagaimana manusia, kita, saya senantiasa terikat oleh ruang dan waktu dimana kita berada. Saya adalah tergantung pada ruang dan waktu dimana saya berada. Sehingga, refleksi para penulis terhadap situasi sekitar barangkali menunjukkan keterikatan yang mendasar dengan lingkungan di mana mereka berada dan bagaimana lingkungan tersebut menjadi bagian dari kegelisahan dan mimpi mereka juga. Lalu kalau saya ternyata terikat ruang dan waktu, maka masihkah saya memiliki free-will dalam hidup ini? Ketika kita kemudian mempertanyakan kebebasan yang kita miliki, maka di sinilah kita percaya dengan adanya invisible hand yang menggerakkan hidup kita. Para penulis dalam antologi ini menunjukkan bagaimana keyakinan mereka akan adanya invisible hand menuntun mereka untuk menuliskan sesuatu tentang Tuhan, beberapa diantaranya menunjukkan bagaimana keyakinan yang mereka miliki menjadi bagian yang paling mendasar dalam menjalani kehidupan ini. Terakhir, saya hanya bisa mengatakan sebagaimana menulis merupakan proses berdialog dengan diri sendiri, maka membaca pun saya yakin memiliki makna yang kurang lebih sama. Membaca karya para penulis muda dalam antologi ini memfasilitasi saya untuk melakukan percakapan dengan diri sendiri. Beberapa tulisan dalam antologi ini rasanya membuat saya makin mengerti siapa saya dan apa yang saya inginkan dalam hidup ini. Beberapa tulisan lain, menyisakan pertanyaan yang semakin besar akan hakikat eksistensi saya di muka bumi ini. Tapi barangkali itulah kita, 7

manusia yang setiap saat senantiasa berada dalam proses menegosiasikan identitas dan jati dirinya. Lancaster, 6 Maret 2011 Vina Adriany

8

Pengantar EditorTerkadang, mimpi itu terlalu besar sampai-sampai kita harus mengurainya dalam bagian-bagian yang lebih kecil. Mungkin seperti itulah, kawan. Antologi ini sebenarnya merupakan sebuah mimpi besar, mimpi yang sempat singgah namun terbang lagi. Mimpi yang kadang tak terpikir bagaimana mengejarnya. Namun karena mimpi ini begitu besar, maka kami menempatkan diri kami di sudut. Mengapa demikian? Agar kami dapat melihat celah-celah mana yang akan kami masuki terlebih dahulu. Maka kami memulainya dari sini, dari suatu ide spontan dan tak terkonsep matang, dari usaha minimal yang kami tempuh, dari harapan dan optimisme dan willing yang sungguh-sungguh untuk berkarya. Antologi ini menyajikan beragam hidangan, engkau dapat menikmati appetizer dari puisi-puisi yang crispy, main course yang sanggup mengenyangkan pikiran dan perasaan, dan dessert yang lembut. Semua berpadu. Kita dapat menemukan dan bersilaturahmi dengan kawan-kawan Psikologi UPI angkatan 2004 sampai 2010. Kita dapat menemukan kajian keilmuan, agama, sampai sastra. Kita dapat menemukan kehidupan.

9

Terima kasih untuk kawan-kawan penulis yang bersedia meminjamkan beberapa karyanya untuk antologi ini; M. Zein Permana, Adit Purana, Eris Suci Sandhita, Mgs. Ahmad R., Toto Setiadi, Widia Wardhani, Intan Rahayu Kuswoharti, Risma Dwipangesty, Nova Diasari, Nurul Fithriah, Muna Fatimah, Mutia Ramadanti Nur, Eko Putra Nugraha, Eka Hertika Rizky, Raudika Lestari, Taufik Ginanjar, Alwin Muhammad Reza, Niira Annisaa, dan Rini Nuraeni. Mungkin di sinilah, minat akhirnya dipertemu-kan, tanpa pembatasan angakatan. Semoga, proyek mimpi besar ini tak terbatas sampai antologi ini selesai dibuat. Bon apetite!

Bandung, Februari 2011 Tim Penyusun

10

Daftar HalamanSebuah Pengantar ..4 Pengantar Editor ..9 ESSAY Harus Memilih ..15 Pulang ..25 Buku Dan Wanita ..27 Berlomba Di Kotak Labirin ..28 Menolong dan Ditolong ..30 Pulang ..34 Tak Ada Akhir untuk Cinta ..36 Alasan Untuk Bersedih? ..38 Bombardir!!! ..43 Membingkai Langit ..46 Menyemarakkan Syiar Keislaman Melalui Optimalisasi Media dan Kajian Keislaman ..49 Terpendam pada Rumput yang Bergoyang ..54 Berjiwa Seni ..57 Pasta dan Sikat Gigi ..59 Gede Rasa ..61 CERPEN Menjaga Impian ..63 Yang Tak Terucap Oleh Kata ..67 Ketika Aku di Titik Terlemah ..70 Gerbang Mata Rantai ..80 Masih Dalam Keadaan Menunggu dan Menunggu ..100 11

CATHAR Jangan Protes, Semua Sudah Ada yang Atur ..106 Saya Bahagia ..108 Dari Sepenggal Uraian Kisah Yahya Ibnu Yahya ..111 Harga Sebuah Mimpi ..115 Ci, Salah Satu TKW Kita ..119 Upah Sang Pembantu ..126 Seorang Anak yang Terobsesi Pada Langit ..130 Bagi-Mu Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang ..133 Kiamat: Dunia Tak Lama Lagi Pasti Hancur ..135 Lima Belas Dua.. Lima Rebu.. Lima Rebu .. 138 My Mother My Inspiration ..143 SAJAK Surat Untuk Sahabat ..152 Senja Pengantar ..154 Musim Semi ..156 Malam dari Fajar ..158 Sebentuk Cinta Untuk Adik ..160 Hari Ini ..162 Homo Membelum ..164 Penantian Hidangan Pendidikan ..165 Teruntuk Yang "Pintar" ..166 Untuk Mereka Yang Tersayang ..167 Bayang-Bayang Senja ..168 Cerita Aku, Kamu ..170 Haduh ..171 Tuhan ..172 Air Mata Hujan ..174 12

Kisah Sehari Dari Peminta ..175 Sayap Kecil Terbang Jauh ..177 Kita Pernah Melukis Pelangi ..178 Alang-Alang ..179 Ya, Ada Dengan-Nya ..180 Aku Yang Tak Mampu Lebih Dari Ini ..181 Arsiran Warna ..182 Malaikatpun Menjadi Saksi ..183 Tentang Penulis ..185

13

Essay

Ketika14

Harus Memilih-MusheinzAda berbagai macam cara bagi kita untuk mengetahui apa ya