ANALISIS IMPLEMENTASI SISTEM RESI GUDANG KOMODITI bppp. barang dalam rangka pemenuhan kontrak...

download ANALISIS IMPLEMENTASI SISTEM RESI GUDANG KOMODITI bppp. barang dalam rangka pemenuhan kontrak derivative

of 80

  • date post

    03-Mar-2019
  • Category

    Documents

  • view

    215
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of ANALISIS IMPLEMENTASI SISTEM RESI GUDANG KOMODITI bppp. barang dalam rangka pemenuhan kontrak...

PUSAT KEBIJAKAN PERDAGANGAN DALAM NEGERI BADAN PENGKAJIAN DAN PENGEMBANGAN KEBIJAKAN PERDAGANGAN

KEMENTERIAN PERDAGANGAN 2014

ANALISIS IMPLEMENTASI

SISTEM RESI GUDANG KOMODITI LADA

L A P O R A N A K H I R

i

RINGKASAN EKSEKUTIF

Latar belakang

1. Pengembangan sektor pertanian merupakan salah satu pondasi utama dalam

memperkuat struktur perekonomian Indonesia. Namun demikian, daya saing

petani dan pelaku usaha pertanian sebagai aktor penting pengembangan

pertanian bangsa masih relatif lemah. Petani/pelaku usaha pertanian masih sulit

mendapatkan pembiayaan untuk kesinambungan usaha taninya karena akses

terhadap sumber pendanaan guna kesinambungan kegiatan produksinya, seperti

perbankan atau lembaga keuangan non bank terkadang memberatkan petani. Di

lain pihak, petani juga menghadapi harga produk pertanian yang fluktuatif dan

rendah pada saat panen karena pasar akan mengalami kelebihan pasokan

komoditi, sehingga petani sulit mendapatkan harga yang layak.

2. Salah satu alternatif solusi terhadap permasalahan di atas adalah penerapan

Sistem Resi Gudang (SRG). Menurut Undang-Undang No. 9 tahun 2011 tentang

Sistem Resi Gudang dijelaskan bahwa SRG bertujuan untuk meningkatkan

kesejahteraan masyarakat yang merupakan instrumen yang dibentuk dengan

salah satu tujuan untuk memberdayakan petani, dimana komoditi yang

dihasilkannya mampu memberikan nilai ekonomis dalam bentuk penjaminan,

yang dapat dipergunakannya untuk memperoleh kredit dan bank dan lembaga

keuangan non bank, dengan tingkat bunga yang rendah.

3. Menurut Bappebti (2011), penerapan SRG menawarkan beberapa manfaat bagi

petani, dunia usaha, perbankan dan bagi pemerintah antara lain untuk

keterkendalian dan kestabilan harga komoditi, keterjaminan modal produksi,

keleluasaan penyaluran kredit bagi perbankan dan memberi kepastian nilai

minimum dari komoditi yang diagunkan. Secara definisi Resi Gudang

(Warehouse Receipt) merupakan salah satu instrument penting, efektif dan

negotiable (dapat diperdagangkan) serta swapped (dipertukarkan) dalam sistem

pembiayaan perdagangan suatu negara. Disamping itu Resi Gudang juga dapat

dipergunakan sebagai jaminan (collateral) atau diterima sebagai bukti penyerahan

barang dalam rangka pemenuhan kontrak derivative yang jatuh tempo.

4. Sejak dikeluarkannya Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2006 sampai dengan saat

ini pemanfaatan Sistem Resi Gudang (SRG) masih terbatas pada komoditi

pangan seperti gabah, jagung dan beras serta hasil perkebunan seperti kopi dan

kakao. Permendag No. 26/M-DAG/PER/6/2007, menetapkan lada sebagai salah

L A P O R A N A K H I R

ii

satu subjek sistem resi gudang, tapi sampai saat ini, tidak seluruh daerah yang

merupakan sentra produksi lada telah memanfaatkan sistem resi gudang.

5. Berdasarkan data Direktorat Jenderal Perkebunan pada tahun 2012, sebagai

komoditi unggulan, lada memiliki total produksi sebesar 75.000 metric ton pada

2012, dimana jumlah yang diekspor mencapai 62.600 metric ton, yang terdiri dari

ekspor lada hitam sebesar 49.500 metric ton, dan lada putih sebanyak 13.100

metric ton. Bukan hanya belum memanfaatkan, bahkan Provinsi Bangka Belitung

dan Lampung yang merupakan daerah utama penghasil lada Indonesia sampai

saat ini belum didirikan gudang SRG, padahal produksi lada di kedua daerah

tersebut merupakan penyumbang terbesar bagi total produksi lada Indonesia

6. Dengan latar belakang masalah tersebut, maka tujuan analisis ini adalah untuk (i)

Mengidentifikasi permasalahan dalam mengimplementasikan SRG komoditi lada;

(ii) Menganalisis faktor kunci kesuksesan dalam SRG komoditi lada; (iii)

Menyusun rumusan usulan mengimplementasikan SRG komoditi lada.

Metode Penelitian

7. Data yang dikumpulkan kemudian diolah dengan menggunakan analisis kualitatif

deskriptif untuk mengidentifikasi profil komoditas dan permasalahan yang terjadi.

Penelitian kualitatif sebagai pendekatan pada kajian ini sangat memanfaatkan

wawancara terbuka untuk memahami pandangan, sikap, perilaku individu atau

sekelompok orang, dan observasi.Selanjutnya melakukan analisis pelaku pasar

dan analisis harga untuk memetakan siapa saja pelaku pasar, pelaku utama,

pelaku penunjang, atau pendukung dengan fungsi dan peran masing-masing

yang pada akhirnya memberikan kontribusi pada terbentuknya harga komoditas

disamping mengkaji perkembangan harga komoditas dari waktu ke waktu dan

apa faktor pemicu terjadinya perubahan harga. Terakhir melakukan analisis

kelembagaan dan kebijakan terkait dengan perdagangan komoditi dan resi

gudang

Pembahasan dan Kesimpulan

8. Menjadikan Lada sebagai Subjek Resi Gudang didasarkan pemikiran strategik

agar nilai komoditi masih berarti dan terhindarnya petani dari kerugian akan

jatuhnya harga serta dapat menjadikan obyek sebagai agunan untuk memperoleh

modal kerja. Surat atau Resi Gudang menjadi berharga atau menjadi surat

berharga untuk melakukan transaksi dengan lembaga keuangan. Harga lada

L A P O R A N A K H I R

iii

yang berfluktuasi 10 tahunan membawa ancaman tersendiri bagi petani lada.

Fluktuasi harga yang tinggi selama 20 tahun terakhir terutama periode 1999

2006 membuat minat petani untuk bertanam lada menurun bahkan hilang sama

sekali. Namun kenaikan harga lada yang stabil dari tahun 2007 hingga saat ini,

membuat minat petani untuk bertanam bangkit kembali. Di sisi lain adanya

komitmen pemerintah daerah baik Provinsi Lampung maupun Provinsi Bangka

Belitung untuk mengembalikan kejayaan lada baik lada hitam atau lada putih

Indonesia seperti dahulu, menjadikan komoditi lada merupakan salah satu

komoditi yang menjanjikan.

9. Namun sejak ditetapkan sebagai subyek resi gudang pada tahun 2007 hingga

saat ini belum dimanfaatkan oleh para petani. Hal ini disebabkan selain belum

tersosialisasikan dengan baik mengenai sistem resi gudang kepada para petani

lada di Provinsi Lampung, juga disebabkan sistem yang berkembang saat ini

adalah pembiayaan dengan menggunakan Collateral Management Agreement

(CMA) yang hampir serupa dengan sistem resi gudang.

10. Pelaku usaha sudah memiliki rantai pasok yang solid yang sudah terbentuk

selama bertahun-tahun. Selain itu juga, permintaan pasar yang tinggi terhadap

komoditi ini membuat komoditi tidak sempat disimpan. Selain itu juga fluktuasi

harga lada yang tinggi selama 10 tahun terakhir ini membuat para petani lada

cukup waspada terhadap perubahan pasar yang ada sehingga yang dibutuhkan

petani adalah kepastian untuk menjual komoditinya dengan harga yang layak.

11. Banyaknya lembaga yang terkait dalam implementasi sistem resi gudang yaitu

pelaku usaha baik petani, gapoktan, dll; pengelola gudang, lembaga penilai

kesesuaian, asuransi, pengawas dan lembaga perbankan memberikan

kelemahan maupun kekuatan. Kelembagaan yang banyak ini di satu sisi

merupakan kelemahan tetapi di sisi lain merupakan kekuatan dari sistem resi

gudang karena memberikan kepastian hukum. Meskipun memberikan kepastian

hukum, pada tataran implementasi, ketersediaan perangkat hukum masih

dianggap belum tersosialisasikan secara luas kepada para pemangku

kepentingan sehingga masih terdapatnya distorsi informasi sehingga belum

memahami operasionalisasi dari sistem resi gudang untuk komoditi lain selain

gabah dan beras.

12. Berdasarkan analisis kesiapan implementasi sistem resi gudang komoditi lada

dari sisi pelaku usaha yang mendapat manfaat dari implementasi sistem resi

gudang, kelembagaan dan sarana prasarana, maka agar implementasi SRG

komoditi lada dapat terwujud, harus diperhatikan beberapa faktor sebagai berikut.

L A P O R A N A K H I R

iv

a. Adanya Komitmen Pemerintah Daerah khususnya Kepala Daerah Komitmen pemerintah daerah khususnya kabupaten/kota untuk mempercepat

implementasi SRG di daerahnya dalam rangka meningkatkan perekonomian

lokal sangat dibutuhkan. Komitmen pemerintah daerah bukan hanya secara

lisan saja tetapi juga tertulis melalui surat keputusan.

b. Terintegrasinya kelembagaan dalam satu tempat Seperti yang telah dijelaskan di atas, kelembagaan dalam sistem resi gudang

sangat banyak dan dan setiap lembaga pasti terdapat biaya yang harus

dikeluarkan. Hal ini menjadi tidak efisien bagi pelaku usaha khususnya skala

kecil, terlebih lagi jika kelembagaan ini terletak pada tempat yang berbeda

sehingga membutuhkan usaha lebih untuk menjangkaunya. Sistem resi

gudang menjadi kalah jika dibandingkan dengan CMA (collateral management

asset) dimana hanya tiga pihak saja yang terlibat.

c. Edukasi dan Sosialisasi kepada Pelaku Usaha Komoditi Lada Edukasi dan sosialisasi secara khusus dilakukan di sepanjang rantai proses

komoditi lada mulai dari petani, pengumpul, pedagang, asosiasi baik secara

masing-masing maupun secara bersama-sama. Edukasi dan sosialisasi

merupakan kegiatan yang terus menerus (kontinue) sehingga terbangun

kesatuan pemikiran bagaimana menjamin keberlangsungan produksi dan

perluasan area