ANALISIS FINANSIAL SISTEM AGROFORESTRI JATI, jurnalke Abu.pdfanalisis finansial sistem agroforestri

download ANALISIS FINANSIAL SISTEM AGROFORESTRI JATI, jurnalke Abu.pdfanalisis finansial sistem agroforestri

of 16

  • date post

    24-Jul-2019
  • Category

    Documents

  • view

    215
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of ANALISIS FINANSIAL SISTEM AGROFORESTRI JATI, jurnalke Abu.pdfanalisis finansial sistem agroforestri

  • ANALISIS FINANSIAL SISTEM AGROFORESTRI JATI,

    SUNGKAI DAN RUMPUT GAJAH DI KECAMATAN

    SAMBOJA KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA

    Budi Setiawan dan Abubakar M. Lahjie Laboratorium Politik, Ekonomi dan Sosial Kehutanan, Fahutan Unmul, Samarinda

    ABSTRACT. Financial Analysis on Agroforestry System of Teak, Sungkai and King Grass in Samboja Subdistrict, Kutai Kartanegara District. The

    research purposes were to determine volume increment of teak (Tectona grandis

    Linn. f), sungkai (Peronema canescens Jack.) and king grass (Pennisetum

    purpureum Schumacher), financial eligibility using analysis of pay back period

    (PP), net present value (NPV), benefit/cost (B/C) ratio, internal rate of return

    (IRR) and equivalent annual annuity (EAA) and also to determine farmer

    financial requirement and to give an interest rate to the farmer to gain maximal

    advantage using sensitivity analysis. The research resulted that the potency (total

    of volume and increment) successively for maximal teak was at age of 25 years,

    i.e super teak was 154.32 m3 and 6.17 m

    3/ha/year; solomon teak 150.94 m

    3 and

    6.04 m3/ha/year; agroforestry sungkai was 186.95 m

    3 and 7.48 m

    3/ha/year; and

    monoculture sungkai was 158.87 m3 and 6.35 m

    3/ha/year. According to financial

    analysis of net present value (NPV), net B/C and IRR at an interest rate of 5%,

    successively combination of king grass with oxen were Rp21,310,000,-; 1.85 and

    57.2%; combination of super teak with papaya were Rp79,961,000,-; 2.31 and

    16.6%; monoculture solomon teak were Rp41,502,000,-; 1.49 and 7.3%;

    combination of sungkai with papaya were Rp10,542,000,-; 1.15 and 14.4%,

    respectively. While negative monoculture sungkai were Rp19,080,000,-; 0.67 and

    2.8% (improper labored). The equivalent annual annuity (EAA) and effort scale

    successively super teak agroforestry system was Rp5,201,578,- with 10 ha scale

    effort; monoculture solomon teak was Rp2,699,765,- with 19 ha effort scale; king

    grass with oxen was Rp4,284,533,- with 12 ha scale effort; while combination of

    sungkai with papaya was Rp643,818,- with 78 ha scale effort. To avoid the

    uncertainty, the agroforestry system effort was competent with sensitivity level of

    10%. According to the research results, it can be suggested that farmer should

    manage their farm using the agroforestry system and should choose teak

    agroforestry as selected crop fundamental compared with sungkai monoculture

    system to increase maximum earnings.

    Kata kunci: agroforestri, riap, jati, sungkai, rumput gajah, Kutai Kartanegara

    Agroforestri adalah istilah kolektif untuk sistem-sistem dan teknologi-teknologi

    penggunaan lahan, yang secara terencana dilaksanakan pada satu unit lahan dengan

    mengkombinasikan tumbuhan berkayu (pohon, perdu, palem, bambu dan lain-lain)

    dengan tanaman pertanian yang dilakukan pada waktu yang bersamaan atau

    bergiliran, sehingga terbentuk interaksi ekologis dan ekonomis antar berbagai

    komponen yang ada. Agroforestri diharapkan dapat memecahkan berbagai masalah

    pengembangan pedesaan dan seringkali sifatnya mendesak. Agroforestri utamanya

    diharapkan dapat membantu memaksimalkan hasil suatu bentuk penggunaan lahan

    13

  • 14 JURNAL KEHUTANAN TROPIKA HUMIDA 4 (1), APRIL 2011

    secara berkelanjutan guna menjamin dan memperbaiki kebutuhan hidup.

    Pengusahaan jati sistem agroforestri adalah sebagai salah satu alternatif usaha

    yang mempunyai potensi besar untuk dikembangkan di daerah. Usaha ini

    diharapkan dapat meningkatkan perekonomian masyarakat, karena manfaatnya

    sangat besar, baik secara ekologis maupun ekonomis. Hasil utama produk jati

    berupa kayu perkakas mempunyai nilai jual yang tinggi karena kebutuhan akan kayu

    semakin meningkat dengan pesatnya perkembangan pembangunan daerah,

    sedangkan pemanfaatan kayu bakar jati sendiri sebagai hasil sampingannya masih

    kurang. Karakter jati yang dapat tumbuh lebih cepat di Kalimantan dibandingkan di

    Jawa menjadi daya tarik masyarakat untuk mengembangkannya, di samping sudah

    banyak dikembangkan varitas jati jenis unggul melalui balai benih, perusahaan dan

    lembaga-lembaga lain yang bergerak di bidang kehutanan dan perkebunan.

    Bagi masyarakat awam dikenal bahwa kayu sungkai sekilas memiliki beberapa

    kemiripan secara fisik dengan kayu jati. Kemampuan tumbuh yang tinggi

    memungkinkannya untuk dikembangkan secara luas. Produk kayu perkakas

    merupakan hasil utama dari pengembangan sungkai di samping kayu bakar sebagai

    hasil sampingan. Pilihan hasil produk kayu jati dan sungkai didasarkan mengingat

    semakin besarnya kebutuhan masyarakat akan kayu jati dan sungkai yang

    berkualitas tinggi.

    Provinsi Kalimantan Timur mempunyai luas lahan kering 2.004.112 ha, di mana

    seluas 1.031.757 ha berada di Kabupaten Kutai Kartanegara yang pada saat ini

    belum dikelola secara maksimal. Lahan tersebut bila diberdayakan tentunya akan

    mempunyai potensi besar untuk membangun pertanian dalam arti luas, baik untuk

    tanaman pangan, perkebunan maupun kehutanan. Wilayah Samboja yang secara

    administrasi sebagai bagian dari Kutai Kartanegara dipilih untuk daerah penelitian

    ini didasarkan atas pertimbangan bahwa wilayah tersebut merupakan salah satu

    kawasan yang memiliki potensi pengembangan usaha sistem agroforestri jati,

    sungkai dan rumput gajah yang sangat besar. Letak daerah ini juga sangat strategis

    dengan adanya akses jalur transportasi antar daerah segitiga pertumbuhan ekonomi

    yang cukup tinggi perkembangannya seperti Samarinda, Kutai Kartanegara dan

    Balikpapan. Di samping itu sebagian besar wilayah ini berada di areal konservasi

    hutan dan Taman Hutan Raya Bukit Soeharto yang mempunyai lahan tidur cukup

    luas.

    Tujuan analisis finansial sistem agroforestri jati, sungkai dan rumput gajah ini

    adalah untuk mengetahui riap volume dari masing-masing jenis tersebut yang

    diusahakan dengan sistem agroforestri, mengetahui kelayakan finansialnya dengan

    menggunakan analisis pay back period (PP), net present value (NPV), benefit/cost

    (B/C) ratio, internal rate of return (IRR) dan equivalent annual annuity (EAA), untuk

    mengetahui kebutuhan finansial petani dan tingkat bunga yang dapat diberikan

    kepada petani sehingga layak diusahakan dan mendapatkan keuntungan maksimal

    keuntungan maksimal dengan menggunakan analisis sensitivitas.

    Hasil yang diharapkan dalam penelitian ini adalah untuk memberikan

    sumbangan pemikiran kepada pemilik/swasta tentang potensi investasi sistem

    agroforestri jati, sungkai dan rumput gajah, sebagai bahan pertimbangan dalam

    membangun dan pengembangan fasilitas yang dibutuhkan berdasarkan kesesuaian

  • Setiawan dan Lahjie (2011). Analisis Finansial Sistem Agroforestri 15

    wilayah terhadap suatu kegiatan investasi sistem agroforestri, diketahuinya

    pelaksanaan sistem agroforestri yang baik dan mendapatkan keuntungan maksimal

    berdasarkan pertimbangan finansial serta sebagai informasi dan bahan pertimbangan

    dalam pengelolaan investasi manajemen sistem agroforestri jati, sungkai dan rumput

    gajah di masa mendatang.

    METODE PENELITIAN

    Penelitian ini dilaksanakan di kebun agroforestri dan monokultur milik Bapak

    Suwadji Desa Sungai Merdeka Km 38 Kecamatan Samboja Kabupaten Kutai

    Kartanegara Provinsi Kalimantan Timur. Penelitian dilaksanakan selama 4 bulan

    yakni bulan Juni sampai dengan September 2010, yang meliputi persiapan

    penelitian, pengambilan data primer dan sekunder.

    Objek utama yang ditelaah dalam penelitian ini adalah usaha pengelolaan lahan

    sistem agroforestri dengan komposisi tegakan jati super umur 7 tahun, jarak tanam

    10x2 m, populasi 500 pohon dan rumput gajah umur 1 tahun, jati solomon

    monokultur jarak tanam 10x10 m umur 4 tahun 95 pohon, sungkai umur 4 tahun

    jarak tanam 2x4 m 1100 pohon dan pepaya umur 1 tahun jarak tanam 4x4 m 580

    pohon dan sungkai monokultur umur 4 tahun jarak tanam 4x4 m.

    Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah peta lokasi, kuesioner dan

    format isian, tape recorder, kompas Suunto, meteran 50 m, clinometer Suunto,

    tongkat ukur, GPS (global positioning system), kamera foto dan video untuk

    merekam kegiatan dan objek observasi, terutama objek-objek penting yang diseleksi

    dan ditampilkan dalam hasil penelitian ini.

    Jenis data penelitian yang dikumpulkan meliputi data primer yang dihasilkan

    dari penelitian dan pengamatan langsung pada objek penelitian meliputi pelaksanaan

    pengelolaan lahan seperti input-input terkendali meliputi biaya benih, pupuk, obat-

    obatan, tenaga kerja dan sarana produksi yang lainnya, besarnya produksi masing-

    masing tanaman, potensi tegakan jati super dan rumput gajah, potensi tegakan

    sungkai dan pepaya, potensi tegakan monokultur sungkai dan jati solomon serta data

    sekunder yaitu data atau informasi yang telah disajikan dalam bentuk tulisan atau

    dokumentasi berupa data statistik maupun hasil penelitian yang diperoleh dari

    dinas/instansi atau lembaga yang terkait dalam keperluan penelitian.

    Data yang telah diperoleh dihitung dengan rumus-rumus sebagai berikut:

    a. Payback Periods. Merupakan jangka waktu periode yang diperlukan untuk

    membayar kembali (mengembalikan) semua biaya-biaya yang telah dikeluarkan di

    dalam investasi suatu proyek.

    Payback periods = Biaya mo