(1999) TULISAN BG 1999

download (1999) TULISAN BG 1999

of 39

  • date post

    10-Mar-2016
  • Category

    Documents

  • view

    239
  • download

    7

Embed Size (px)

description

Kumpulan tulisan Bambang Gunawan yang dibuat pada tahun 1999.

Transcript of (1999) TULISAN BG 1999

Komentar Alumni BPKPenabur

Pada homepage sekolah-sekolah BPKPenabur KPS Jakarta selalu ada situs khusus untuk komentar alumni. Tentu saja komentar dari alumni SMUK 1 paling banyak karena alumninya juga paling banyak. Yang paling sedikit ialah dari TKK. Sehingga surprise sekali ketika dapat e-mail dari Hartono (hartono.hartono@au.pwcglobal.com) pada tanggal 18 Februari 1999 sbb: "Saya terkesan sekali dengan Homepage BPK Penabur, sambil mengenang semua pengalaman yang mengesankan di TKK 10, SDK 10 dan SMPK 6. Setelah dari SMPK 6, saya melanjutkan ke SMA Tarakanita, Pluit dan Monash Uni. di Melbourne. Sekarang saya sudah bekerja (sejak Jan'96) di PricewaterhouseCoopers Melbourne office sebagai computer audit and control consultant. Terima Kasih, Salam damai sejahtera, Hartono". Untuk tingkat SDK hanya SDK7 (Bintaro), SDK 9 (Menteng Atas) dan SDK BPKPenabur belum ada alumninya yang melapor. Untuk tingkat SLTPK dan SMUK semua situs alumni sudah ada isinya. Sayang untuk sekolah kejuruan baru alumni SMKK 2 (STMK) yang aktif. Berikut ini komentar dari alumninya.Agustiawan Kurniadi (agustiawan@SoftHome.net) pada tanggal 1 Februari 1999 memberikan komentar sbb: "Wah.. Site-nya sangat-sangat-sangat bagus, terutama sejak terakhir kali saya kunjungi". Kunjungannya satu tahun yang lalu memberikan komentar sbb: "Web Site-nya bagus sekali, apakah ada membuat web site untuk pusat informasi alumni, Agustiawan, Alumni STMK BPK Jabar Elektronika lulusan 1989". Ketika ditanyakan kenapa sampai dua kali mengisi buku tamu, diperoleh jawaban sbb: "Saya berkewajiban mengisinya kembali karena saya sangat terkesan dengan perubahan yang ada, saya akan lebih heran bila site ini hanya di-manage oleh Bapak Bambang seorang diri." Ketika ditanyakan ada minat untuk membantu Ikatan Alumni Cabang Jakarta, diperoleh jawaban yang indah sekali: "Sangat berminat, mohon di informasikan bagaimana saya bisa memulainya. Saat ini paling tidak saya berusaha meng-update alamat alumni dari kelas dan angkatan saya." Moga-moga pada masa yang akan datang makin banyak alumni yang mengirimkan komentarnya. Menarik sekali membaca pengalaman Robert Supriadi (r.supriadi@dnet.net.id) yang dikirimkan pada tanggal 16 Februari 1999 karena kebetulan mengalami sekolah di SMUK 1 di Pintu Air dan di Tanjung Duren. Inilah komentarnya: "Saya pernah mengalami 2 tahun di Pintu Air (saya angkatan pertama SMAK1 Tanjung Duren -- tidak kebagian kelas AC). Masa "Pintu Air" itu enaknya: 1. Sekolah cuman "1/2 hari" (5 jam-an) 2. Pulang sekolah (buat yang kelas 2 dan 3 = masuk pagi) atau sebelum ke sekolah (buat yang kelas 1 = masuk siang) bisa jalan-jalan di Pasar Baru 3. Ada kantin Sweetcorner di depan sekolah -- enak lho es-krimnya 4. Ada warung dan fastfood banyak -- bervariasi makan siangnya 5. Banyak balcon-balcon buat anak ABG pacaran :-) :-) :-) 6. Uang sekolah: Rp 30.000/bulan. Itu pun masih bisa minta di-waive. :-) Tapi setelah angkatan saya, uang sekolahnya naik secara semi-exponensial. 7. Kepsek-nya baik banget: Pak Bambang Setiadi Alm. 8. Tidak ada kerusuhan dahsyat di Jakarta 9. 1 US$ < 2000 Rp. (ada yang inget berapa tepatnya?) 10. Pulsa telp = 100 Rp./3 menit (tapi gak ngaruh, karena belon ada WWW) 11. Guru-gurunya kebanyakan warisan jaman Belanda yang bisa hafal bahan pelajaran dan soal-soal tanpa lihat buku lagi. Sorry yah SMAK1 dulu memang lebih berkualitas :-( Kondisi yang tidak enak: 1. Sekolahnya sempit 2. Olah raga di tempat yang jauh 3. Susah adaptasi dengan jam sekolah siang waktu masuk kelas 1 4. Susah lagi ber-adaptasi dengan jam sekolah pagi waktu masuk kelas 2 5. Susah lagi adaptasi dengan jam sekolah seharian waktu masuk kelas 3 (ketiga kondisi terakhir ini hanya dialami oleh angkatan saya, angkatan khusus :-) ) 6. Kalau upacara bendera sempit dan panas dan bosen (susah kabur lagi) :-) Kondisi yang sama: 1. Tawuran di sekitar sekolah (dulu: Gunung Sahari, sekarang: Grogol) 2. Bisa ngeceng dan dikeceng (dulu: SMFK (farmasi), sekarang: STMK, SMEAK, Ukrida?) Siapa lagi alumni yang mau cerita atau berbagi pengalaman ketika sekolah di BPKPenabur? Sangat diharapkan dan ditunggu. Silakan isi pada buku tamu pada Webstie BPKPenabur http://www.bpkpenabur.or.id atau mengirimkannya ke jakarta@bpkpenabur.or.idTgl. 19 Februari 1999, Bambang GunawanLab. Komputer Untuk Akses Internet

Pada hari Sabtu tgl. 6.2.1999 jam 14.00 saya dan beberapa teman dari BPK Penabur Jakarta mengunjungi Open House SMU Bina Nusantara. Letaknya di Jl. Kemanggisan Ilir III/No. 45 Jakarta Barat. Yang unik dari SMU ini ialah seperti sekolah Pelita Harapan yaitu menggunakan Bah. Inggris. Karena telah beberapa kali ke Pelita Harapan maka tidak aneh lagi ketika ke SMU Bina Nusantara ini. Yang menarik ketika diajak keliling. Begitu masuk ruang komputer, tersedia 26 bh komputer. Karena tidak ada siswa maka semua komputer dalam keadaan tidak dihidupkan. Karena diterangkan bahwa semua komputer itu bisa akses ke internet maka langsung minta dihidupkan salah satu. Ketika program browser Internet Explorer dijalankan homepage default adalah http://www.binus.ac.id. Tetapi ini bisa diambil dari hard disk. Segera dicoba ganti alamatnya jadi http://www.bpkpenabur.or.id, benar keluar homepage BPK Penabur. Berarti benar bisa akses ke internet non-stop 24 jam karena tanpa harus dial up melalui pesawat telpon seperti yang biasa dilakukan. Wah, jadi naksir juga karena di BPK Penabur belum ada lab. komputer yang semua komputernya bisa akses ke internet. Berapa uang sekolahnya tiap bulan? "Tidak mahal hanya 1,5 juta rupiah saja".Kalau uang sekolah yang harus dibayar sebesar 1,5 juta rupiah pasti BPKPenabur juga bisa melakukannya. Masalahnya ialah uang sekolah di BPKPenabur tertinggi hanya sepersepuluh dari uang sekolah di SMUBinus tsb. Bagaimana BPKPenabur bisa punya lab. komputer yang semua komputernya bisa akses ke internet? Berikut ini dana yang harus disediakan.Andy Wendrato (wendrato@indo.net.id), pengurus BPKPenabur KPS Bandar Lampung menulis sbb: "Iseng-iseng, saya hitung perkiraan investasinya sbb : 26 buah komputer (P-II, 32 mb, 1.44 mb, ethernet card) Rp. 110.050.000,-. Office connect 24 port dan 8 port Rp. 3.442.500,- - Internet sharing (teorinya bisa sampe 200 komputer) Rp. 3.420.000,-. Modem listline (2 buah ) Rp. 4.140.000,- Untuk leaseline dalam kota, bayar telkom tiap bulan berkisar Rp. 500.000,-. Kalau mau pake modem dial harga modemnya bisa lebih murah, apalagi kalau pakai radio yah. Lain-lain (cable, rj-45, instalasi) Rp. 500.000,- Total perkiraan investasi tidak mahal, hanya = Rp. 121.552.500,- (menurut ukuran BPK Penabur Lho ... :-) plus tiap bulan bayar leaseline dan member di ISP."Karena dana di atas cukup besar apalagi pada situasi krismon saat ini, lebih baik kita belajar dari Amerika Serikat yang telah menyelenggarakan Internet Day sejak tahun tahun 1996 sehingga terkenal sebagai Netday-96. NetDay-96 itu dimulai oleh Michael Kaufman, bekas guru taman kanak-kanak di California, dan John Gage, seorang pakar industri teknologi tinggi. Kedua orang itu membuka WorldWide Site, atau semacam kios di cyberspace untuk mencari dukungan bagi usaha menghubungkan semua sekolah di California lewat komputer. Patut dicatat, sejak 10 tahun belakangan ini banyak sekolah di Amerika sudah dilengkapi dengan komputer. Hasilnya luar biasa; 100,000 orang tua dan sukarelawan berkumpul, dan dalam satu hari saja berhasil memasang kabel komputer di 4,000 sekolah negeri di California. Kata Michael Kaufman, tujuan yang hendak dicapai semula adalah sederhana; yaitu menghubungkan komputer yang terdapat dalam lima ruangan kelas dan sebuah perpustakaan ke dalam jaringan Internet. Tapi respons yang diperolehnya sangat luar biasa. Pada suatu hari Sabtu bulan November 1996, di sekolah dasar di kota New York, ratusan orang tua murid datang secara sukarela memasang kawat komputer. Kata Kaufman, orang-orang tua itu ada yang sama sekali tidak tahu soal teknik, dan malahan ada yang tidak tamat sekolah menengah, tapi yang penting mereka sadar akan pentingnya menciptakan sarana pendidikan yang paling baik bagi anak-anak mereka. Apakah orang tua murid BPKPenabur bersedia juga menjadi sukarelawan?Tgl. 17 Februari 1999, Bambang GunawanBPK Penabur Menjadi Narasumber

Drs. Maman Surahman (kiri) sedang presentasi.

Pada hari Selasa tanggal 23 Februari 1999 dari jam 10.30 - 12.00 WIB BPK Penabur telah menjadi narasumber pada Temukarya Pengembangan Disain Perpustakaan Elektronik yang diselenggarakan oleh Pusat Teknologi Komunikasi Pendidikan dan Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Pustekkom) bekerjasama dengan Indonesia Distance Learning Network (IDLN).

Selain BPK Penabur yang menjadi narasumber hari itu adalah Universitas Kristen Petra Surabaya, Universitas Pelita Harapan dan Institut Pertanian Bogor. Jadi semua dari perguruan tinggi dan hanya BPK Penabur satu-satunya dari sekolah menengah.

Yang hadir sebagai peserta temukarya adalah dari Departemen Agama, Departemen Pertanian, Departemen Dalam Negeri, Departemen Perindustrian dan Perdagangan, Departemen Keuangan, Departemen Kesehatan, Departemen Tenaga Kerja, PT. Telekomunikasi Indonesia, Perpustakaan Nasional, SEAMOLEC dan dari Pustekom sendiri.

Temukarya berlangsung dari tanggal 22 s.d. 26 Februari 1999 bertempat di Hotel Griya Astoeti, Jl. Raya Puncak Km. 79.3 Cisarua - Bogor. BPK Penabur mengirimkan Drs. Maman Surahman dari Bidang Media Pembelajaran.

Tujuan dari temukarya ini adalah untuk mengembangkan suatu disain perpustakaan elektronik (perpustakaan maya) yang akan digunakan sebagai acuan dan pedoman bagi pengembangan lebih lanjut baik bagi Pustekkom selaku koordinator IDLN maupun anggota IDLN yang lain.

Yang menarik Universitas Kristen Petra Surabaya tidak berhasil menampilkan website UK Petra karena tidak tersedia line telepon. Presentasi hanya dilakukan pakai OHP. BPK Penabur telah mempersiapkan presentasinya dengan program Power Point dan website BPK Penabur juga bisa ditampilkan secara of