102080956 Anatomi Fisiologi Histologi Hidung

of 22

  • date post

    30-Oct-2015
  • Category

    Documents

  • view

    93
  • download

    1

Embed Size (px)

description

g

Transcript of 102080956 Anatomi Fisiologi Histologi Hidung

HIDUNG

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat ALLAH SWT atas berkah dan limpahan rahmat-Nya, kami sebagai penyusun referat ini dapat menyelesaikan tugas. Referat ini dimaksudkan untuk menambah wawasan bagi penulis sendiri maupun bagi pembaca tulisan ini, mengenai salah satu tindakan penyelamatan pada pasien yaitu kista duktus tiroglosus, sumbatan laring dan penanggulangannya, sesak napas dan penanggulangannya. Harapan penulis, semoga dapat memberikan kontribusi, terutama dalam kegiatan kepaniteraan. Terima kasih kepada pembimbing kepaniteraan SMF THT Karawang yaitu dr.Adi.M, SpTHT dan dr. Yuswandi.A, SpTHT yang telah memberikan tugas ini agar dapat memperoleh ilmu yang lebih banyak terutama untuk penulis sendiri.

Dalam menyusun referat ini, masih banyak sekali kekurangan dan kesalahan yang harus di perbaiki, untuk itu penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas kritik dan saran yang di ajukan untuk perbaikan referat ini.

Wassalam ( Penyusun )

Daftar Isi

Kata pengantar

.... 1

Daftar isi

... 2

I. Pendahuluan .................... 3

II. Anatomi hidung

a. hidung luar ................................................ 4-6 b. hidung dalam 6-9 III. Perdarahan Hidung 9 IV. Persyarafan Hidung ............................................... 10 V. Histologi Hidung ............................................. 10-13 VI. Fisiologi Hidung ............................................. 13-16 VII. Sinus paranasal ............ 17-20 VIII. Daftar pustaka ................................................ 21PENDAHULUAN

Hidung merupakan organ penting, yang seharusnya mendapat perhatian lebih dari biasanya; merupakan salah satu pelindung tubuh terpenting terhadap lingkungan yang tidak menguntungkan.

Pada era dimana semakin banyak penelitian dan publikasi ilmiah didedikasikan terhadap bahaya kerja dan polutan udara, suatu pemahaman mendasar mengenai anatomi dan fisiologi hidung adalah penting.

Hidung mempunyai beberapa fungsi : sebagai indra penghidu, menyiapkan udara inhalasi agar dapat digunakan paru-paru, mempengaruhi refleks tertentu pada paru-paru dan memodifikasi bicara.

HIDUNGANATOMI HIDUNGHidung terdiri dari:

I. Hidung Luar

II. Hidung Dalam

I. Hidung LuarHidung luar berbentuk piramid dengan bagian-bagiannya dari atas ke bawah yaitu:

1. Pangkal Hidung (Bridge), dibentuk oleh os nasal kiri dan kanan

2. Dorsum nasi (batang hidung)

3. Puncak hidung

4. Ala nasi, bagian hidung yang dapat digerakkan

5. Kolumela; pembatas lubang hidung kanan dan kiri

6. Lubang hidung (nares anterior)

Hidung bagian luar dibentuk oleh kerangka tulang dan tulang rawan yang dilapisi oleh kulit, jaringan ikat dan beberapa otot kecil yang berfungsi untuk melebarkan dan menyempitkan lubang hidung.

Kerangka tulang penyusun hidung luar terdiri dari:

1. Os nasalis (tulang hidung)

2. Prosesus frontalis os maxilla

3. Prosesus nasalis os frontal

Kerangka tulang rawan penyusun hidung luar terdiri dari :

1. Sepasang kartilago nasalis lateralis superior

2. Sepasang kartilago nasalis lateralis inferior (kartilago alar mayor)

3. Beberapa pasang kartilago alar minor

4. Tepi anterior kartilago septum

Lubang hidung dan puncak hidung dibentuk oleh kartilago ala mayor, yang berbentuk tipis dan fleksibel. Sedangkan kolumela yang memisahkan kedua lubang hidung dibentuk oleh tepi bawah kartilago septum.

Hidung luar menonjol pada garis tengah diantara pipi dengan bibir atas, struktur hidung luar dibedakan atas tiga bagian yaitu :1. Yang paling atas, kubah tulang yang tidak dapat digerakkan. Belahan bawah aperture piriformis kerangka tulang saja, memisahkan hidung luar dengan hidung dalam. Disebelah superior, struktur tulang hidung luar berupa prosesus maxilla yang berjalan keatas dan kedua tulang hidung semuanya disokong oleh prosesus nasalis os frontalis dan suatu bagian lamina perpendikularis os etmoidalis. Spina nasalis anterior merupakan prosesus maksilaris medial.2. Dibawahnya terdapat kubah kartilago yang sedikit dapat digerakkan, dibentuk oleh kartilago lateralis superior yang saling berfusi digaris tengah dan tepi atas kartilago septum kuadrangularis.

3. Yang paling bawah adalah lobulus hidung yang mudah digerakkan dan dipertahankan bentuknya oleh kartilago lateralis inferior. Lobulus menutup vestibulum nasi dan dibatasi sebelah medial oleh kolumela. Sebelah lateral oleh ala nasi dan anterosuperior oleh ujung hidung. Mobilitas lobulus hidung penting untuk ekspresi wajah, gerakan mengendus dan besin. Otot ekspresi wajah yang terletak subkutan diatas tulang hidung, pipi anterior dan bibir atas menjamin mobilitas lobulus.Jaringan ikat subkutan dan kulit juga ikut menyokong hidung luar. Jaringan lunak diantara hidung luar dan dalam dibatasi disebelah inferior oleh kripta piriformis dengan kulit penutupnya, dimedial oleh septum nasi dan tepi bawah kartilago lateralis superior sebagai batas superior dan lateral

II. Hidung Dalam / Rongga Hidung / Cavum Nasi

Cavum nasi ( Rongga hidung ) adalah suatu rongga berbentuk terowongan tempat lewatnya udara pernapasan, yang dipisahkan oleh septum nasi dibagian tengahnya menjadi cavum nasi kanan dan kiri. Pintu atau lubang masuk cavum nasi bagian depan disebut nares anterior dan lubang belakang disebut nares posterior ( koana ) yang menghubungkan cavum nasi dengan nasofaring.Batas-batas cavum nasi :

- Anterior: Nares anterior

- Posterior: Nares posterior (koana)

- Lateral: Konka-konka

- Superior: Lamina cribifom

- Inferior: Os maxilla dan Os palatum

Bagian bagian yang terdapat dalam cavum nasi :

1. Vestibulum

Paling anterior, sejajar dengan ala nasi.

Bagian yang masih dilapisi kulit yang mempunyai banyak kelenjar sebasea dan rambut-rambut panjang (vibrise)

2. Septum

Merupakan dinding medial hidung, bagi cavum nasi sama besar, lurus mulai dan anterior sampai posterior (koana).

Dibentuk oleh tulang dan tulang rawan, yaitu:

Bagian tulang:

1. Lamina perpendikularis os etmoideus.

2. Os Vomer.

3. Krista nasalis os maxilla.4. Krista nasalis os palatina.

Bagian tulang rawan :

1. Kartilago septum (lamina kuadrangularis).2. Kolumela. Dilapisi perikondrium pada bagian tulang rawan dan periosteum pada bagian tulang , sedang bagian luarnya lagi dilapisi olaeh mukosa hidung.3. Konka

Terletak dilateral rongga hidung kanan dan kiri.

Terdiri dari empat konka, dari atas ke bawah :

1. Konka suprema; biasanya rudimeter.

2. Konka superior; lebih kecil dari konka media.

3. Konka media; lebih kecil.4. Konka inferior; terbesar dan letak paling bawah.

Merupakan tulang tersendiri yang melekat pada os maxilla dan labirin etmoid sedangkan konka suprema, superior, dan media merupakan bagian dari labirin etmoid.

4. Meatus - meatus

Terletak diantara konka-konka dan dinding lateral hidung.

Merupakan tempat bermuara dari sinus paranasal.

Berdasarkan letaknya dibagi 3, yaitu :

1. Meatus inferior

Terletak antara konka inferior dengan dasar hidung dan dinding lateral rongga hidung, tempat bermuara duktus nasoakrimalis.

2. Meatus medius

Celah yang terletak konka media dengan dinding lateral rongga hidung. Terdapat bula etmoid, prosesus unsinatus, hiatus semilunaris, dan infundibulum etmoid. Hiatus semilunaris merupakan celah sempit melengkung dimana terdapat muara sinus frontal, maxilla, dan etmoid anterior.3. Meatus superior

Terletak antara konka superior dan konka media. Disini terdapat muara sinus etmoid posterior dan sinus sphenoid.

Kerangka tulang tampaknya menentukan diameter yang pasti dari rongga udara, struktur jaringan lunak yang menutupi hidung dalam cenderung bervariasi tebalnya juga mengubah resistensi. Akibatnya tekanan dan volume aliran udara inspirasi dan ekspirasi. Diameter yang berbeda-beda disebabkan oleh kongesti dan dekongesti mukosa., perubahan badan vascular yang dapat mengembang pada konka dan septum atas.

Ujung-ujung saraf olfaktorius menempati daerah kecil pada bagian medial dan lateral dinding hidung dalam dan ke atas hingga kubah hidung. Deformitas struktur demekian pula penebalan atau oedem mukosa berlebihan dapat mencegah aliran udara untuk mencapai daerah olfaktorius dan dengan demikian dapat sangat mengganggu penghidu.

Konka umumnya dapat mengkompensasi kelainan septum ( bila tidak terlalu berat ), dengan memperbesar ukurannya pada sisi yang konkaf dan mengecil pada sisi lainnya sedemikian rupa agar dapat mempertahankan lebar rongga udara yang optimum. Jadi meskipun septum nasi bengkok, aliran udara masih akan ada dan masih normal. Daerah jaringan erektil pada kedua sisi septum berfungsi mengatur ketebalan dalam berbagai kondisi atmosfer yang berbeda.Perdarahan Hidung

Bagian hidung mendapat perdarahan dari cabang a. maxillaris interna, diantaranya ujung a.palatina mayor dan a. sfenopalatina yang keluar dari foramen sfenopalatina bersama n. sfenopalatina dan memasuki rongga hidung dibelakang ujung posterior konka media. Bagian depan hidung mendapat perdarahan dari cabang-cabang a. fasialis.

Pada bagian depan septum terdapat anostomosis dari cabang-cabang a. sfenopalatina, a. etmoid, a. labialis superior dan a. palatina mayor yang disebut pleksus kiesselbach (littles area) pleksus ini letaknya superfisial dan mudah cedera oleh trauma