stikesmuhla.ac.idstikesmuhla.ac.id/wp-content/uploads/1.-1-14-Virgianti... · Web viewIntervensi...

of 23 /23
PENGARUH KEPERAWATAAN SPIRITUAL EMOTIONAL FREEDOM TECHNIQUE (SEFT) ISLAMI TERHADAP TEKANAN DARAH PENDERITA HIPERTENSI USIA 45-59 TAHUN DI RSUD Dr. SOEGIRI LAMONGAN Virgianti Nur Faridah* …………......……….…… …… . .…. ABSTRAK …… ......………. …… …… . .…. Hypertension have come to main problem in Indonesia and become the top mortality rate because degeneratif and cardiovaskuler diseases. Patient with hypertension generally have labile emotion which generate its high blood pressure. Therefore nursing intervention not only focused on physical aspect, but also psychological and spiritual aspect. One of the spiritual interventions and complementary therapies for the patient of hypertension was Spiritual Emotional Freedom Technique ( SEFT). The purpose of the study was to analyse the influence Spiritual Emotional Freedom Technique ( SEFT) Islamic care to blood pressure patient of age hypertension 45-59 years in dr. Soegiri General Hospital Lamongan. Design used in this study was pretest and posttest control group. The population was all patient of age hypertension 45-59 years in cardivasculer unit of dr. Soegiri General Hospital, Lamongan. Sampel taken by consecutive sampling and gots 26 respondents then devided to two groups by random allocation. The independent variabel was Spiritual Emotional Freedom Technique ( SEFT) Islamic care, and the dependent variabel was blood pressure. There was the intervening variabel in this study, was the perception. The data were collected using structured questionnaire and blood pressure tests two times (pre and post) between control and intervention groups. Data were then analyzed using wilcoxon rank and paired t-test with level of significance of 0,05. Results showed that there was no difference of perception of hypertension clients that getting the SEFT Islamic care (p = 0.173) and not getting the SEFT Islamic care (p = 0.874). There was difference of systolic blood pressure patient of hypertension that getting the SEFT Islamic care ( p=0.000), and the difference of diastolic blood pressure (p = 0.000). The mean decrease of systolic blood pressure was 25.385 mmHg and the mean decrease of diastolic blood pressure was 11.538 mmHg. It can be concluded that the nurse can aply the nursing intervention of SEFT Islamic care to decrease blood pressure in hospital or community, SURYA 1 Vol.02, No.XII, Agus 2012

Embed Size (px)

Transcript of stikesmuhla.ac.idstikesmuhla.ac.id/wp-content/uploads/1.-1-14-Virgianti... · Web viewIntervensi...

Pengaruh Keperawatan Spiritual Emotional Freedom Technique (SEFT) Islami

Terhadp Tekanan Darah Penderita Hipertensi

PENGARUH KEPERAWATAAN SPIRITUAL EMOTIONAL FREEDOM TECHNIQUE (SEFT) ISLAMI TERHADAP TEKANAN DARAH PENDERITA HIPERTENSI

USIA 45-59 TAHUN DI RSUD Dr. SOEGIRI LAMONGAN

Virgianti Nur Faridah*

....... . ..ABSTRAK ....... . ..

Hypertension have come to main problem in Indonesia and become the top mortality rate because degeneratif and cardiovaskuler diseases. Patient with hypertension generally have labile emotion which generate its high blood pressure. Therefore nursing intervention not only focused on physical aspect, but also psychological and spiritual aspect. One of the spiritual interventions and complementary therapies for the patient of hypertension was Spiritual Emotional Freedom Technique ( SEFT). The purpose of the study was to analyse the influence Spiritual Emotional Freedom Technique ( SEFT) Islamic care to blood pressure patient of age hypertension 45-59 years in dr. Soegiri General Hospital Lamongan. Design used in this study was pretest and posttest control group. The population was all patient of age hypertension 45-59 years in cardivasculer unit of dr. Soegiri General Hospital, Lamongan. Sampel taken by consecutive sampling and gots 26 respondents then devided to two groups by random allocation. The independent variabel was Spiritual Emotional Freedom Technique ( SEFT) Islamic care, and the dependent variabel was blood pressure. There was the intervening variabel in this study, was the perception. The data were collected using structured questionnaire and blood pressure tests two times (pre and post) between control and intervention groups. Data were then analyzed using wilcoxon rank and paired t-test with level of significance of 0,05. Results showed that there was no difference of perception of hypertension clients that getting the SEFT Islamic care (p = 0.173) and not getting the SEFT Islamic care (p = 0.874). There was difference of systolic blood pressure patient of hypertension that getting the SEFT Islamic care ( p=0.000), and the difference of diastolic blood pressure (p = 0.000). The mean decrease of systolic blood pressure was 25.385 mmHg and the mean decrease of diastolic blood pressure was 11.538 mmHg. It can be concluded that the nurse can aply the nursing intervention of SEFT Islamic care to decrease blood pressure in hospital or community, but its must be recurred and in observation the doctor. Further studies should focus on the effect of SEFT Islamic care showed by change of neurohormonal blood.

Keywords: SEFT Islamic care, blood pressure, patient of hypertention

PENDAHULUAN. . .

Keperawatan memandang manusia merupakan makhluk yang unik dan kompleks yang terdiri atas berbagai dimensi. Dimensi yang komprehensif pada manusia itu meliputi dimensi biologis (fisik), psikologis, sosial, kultural dan spiritual (Dossey, 2001; Govier, 2000). Dalam kata lain, Makhija (2002) mendeskripsikan bahwa tiap individu manusia adalah mahluk yang holistik yang tersusun atas body, main dan spirit. Dimensi spiritual merupakan salah satu dimensi penting yang perlu diperhatikan oleh perawat dalam memberikan asuhan keperawatan kepada semua klien. Bahkan, Makhija (2002) menyatakan bahwa keimanan atau keyakinan religius adalah sangat penting dalam kehidupan personal individu dan merupakan suatu faktor yang sangat kuat (powerful) dalam penyembuhan dan pemulihan fisik.

Salah satu penyakit yang membutuhkan aspek spiritual dalam penyembuhan dan kestabilan kondisi fisiknya adalah penyakit hipertensi. Penyakit hipertensi merupakan peningkatan tekanan darah yang memberi gejala yang berlanjut untuk suatu target organ, seperti stroke untuk otak, penyakit jantung koroner untuk pembuluh darah jantung dan untuk otot jantung (Brunner & Suddart, 2002). Hipertensi dapat menimbulkan masalah bagi pemenuhan kebutuhan manusia, yang menurut Teori Henderson terdiri dari 14 kebutuhan dasar manusia, salah satunya adalah kebutuhan spiritual. Penderita hipertensi sering merasa takut dan cemas akan penyakit yang diderita, takut akan ancaman komplikasi, dan takut akan tekanan darahnya yang sering tinggi atau bahkan merasa tidak bisa disembuhkan. Penderita hipertensi juga umumnya mempunyai emosi yang labil sehingga mudah marah dalam menghadapi masalah yang menimbulkan tekanan darah menjadi tinggi. Oleh karena itu intervensi keperawatan bukan saja terfokus pada aspek fisik saja, tetapi juga aspek psikis terutama spiritual.

Penyakit hipertensi telah menjadi masalah utama dalam kesehatan masyarakat yang ada di Indonesia maupun di beberapa negara yang ada di dunia. Prevalensi hipertensi di seluruh dunia, diperkirakan sekitar 15-20%. Hipertensi di Asia diperkirakan sudah mencapai 8-18% pada tahun 2002, hipertensi dijumpai pada 4.400 per 10.000 penduduk dan pada tahun 2000 sekitar 15-20% masyarakat Indonesia menderita hipertensi (Trenkwalder P et al, 2004). Hipertensi lebih banyak menyerang pada usia setengah baya pada golongan umur 45-55 tahun. Kira-kira 90-95 % orang yang menderita hipertensi dikatakan menderita hipertensi primer yang juga dikenal sebagai hipertensi essensial (Guyton and Hall, 2008). Berdasarkan survey awal yang dilakukan pada 10 penderita hipertensi primer di URJ jantung RSUD dr. Soegiri Lamongan pada bulan Januari 2011 didapatkan hasil bahwa 80% penderita mengatakan masih mengalami tekanan darah yang sulit dikontrol, terutama dalam kondisi stress dan marah. Sehingga masalah yang dapat diambil adalah kasus hipertensi yang masih tinggi dan sulit terkontrol yang membutuhkan intervensi keperawatan spiritual.

Hipertensi merupakan penyakit degeneratif dan kardiovaskuler yang sejak tahun 1993 diduga sebagai penyebab kematian nomor satu. Hipertensi akan memberi gejala yang berlanjut untuk suatu target organ seperti otak (stroke), pembuluh darah jantung (penyakit jantung koroner), otot jantung (left ventricle hypertrophy) (Applegate, 2002). Hipertensi sering kali disebut sebagai pembunuh gelap (silent killer) karena termasuk yang mematikan tanpa disertai dengan gejala-gejalanya lebih dahulu sebagai peringatan (Lanny, 2001). Hipertensi adalah faktor risiko utama untuk penyakit jantung koroner dan gangguan pembuluh darah otak yang dikenal dengan stroke. Bila tekanan darah semakin tinggi maka harapan hidup semakin turun (Lanny, 2001).

Penyakit hipertensi bisa ditangani berdasarkan teori keperawatan Virginia Henderson dan Martha E. Rogers dengan titik fokus pada aspek spiritualitas. Teori Henderson berfokus pada individu yang berdasarkan pandangannya, yaitu bahwa jasmani (body) dan rohani (mind) tidak dapat dipisahkan. Individu yang dimaksud dalam hal ini adalah klien yang merupakan central figure. Pemenuhan kebutuhan dasar individu tercermin dalam 14 komponen dari asuhan keperawatan dasar (Basic Nursing Care) yang salah satunya adalah pemenuhan kebutuhan spiritual (Henderson, 2006). Model hemodinamik Martha E. Roger menggambarkan manusia yang merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan lagi dengan lingkungannya (Rogers, 1990). Kemudian Elkins et.al, (1988) dalam Smith, (2009) mengelaborasi model tersebut dalam multidimensi spiritualitas.

Penanganan hipertensi menurut Lenny dan Danang (2008), secara garis besar dibagi menjadi 2 jenis yaitu secara farmakologis dan non farmakologis. Terapi farmakologis yang selama ini digunakan adalah obat antihipertensi. Terapi farmakologis dapat dikombinasikan dengan terapi non farmakologis yang banyak macamnya, mulai dari pengaturan pola hidup, berbagai terapi komplementer sampai intervensi spiritual yang sekarang ini banyak dikembangkan. Sehingga penatalaksanaan hipertensi bukan saja pada aspek biologis, tetapi juga aspek psikis dan spiritual.

Beberapa terapi komplementer untuk hipertensi antara lain relaksasi progresif, akupuntur, akupresur, meditasi, homeopati, refleksiologi, aromaterapi (Lenny & Danang, 2008). Salah satu terapi komplementer yang direkomendasikan oleh NCCAM (National Center of Complementary and Alternative Medicine) adalah akupuntur. Saat ini akupuntur memiliki turunan yang dikenal dengan SEFT (Spiritual Emotional Freedom Technique). Intervensi spiritual dewasa ini juga banyak dikembangkan untuk penyembuhan penyakit antara lain meditasi, shalat tahajud, doa dan dzikir. SEFT dalam hal ini dapat digolongkan sebagai terapi komplementer dan juga intervensi spiritual, karena SEFT merupakan gabungan antara teknik tapping seperti akupuntur dan doa kepasrahan. Dalam penelitian ini difokuskan pada SEFT dalam konteks keperawatan Islami.

Keperawatan SEFT (Spiritual Emotional Freedom Technique) Islami merupakan solusi yang tepat dalam menurunkan tekanan darah penderita hipertensi. Proses SEFT merupakan gabungan dari aspek biologis dan spiritualitas. Banyak penelitian terdahulu tentang akupuntur, akupresur, EFT ataupun SEFT yang mendukung dan menjelaskan bagaimana sistem energi tubuh dapat mempengaruhi kondisi fisik dan emosi. Dr. Rowe, seorang psikolog Texas University, membuktikan bahwa EFT berpengaruh terhadap penurunan stress (Zainuddin, 2005). Mulia Hakam, 2009, menjelaskan SEFT dilihat dari aspek energy psychology yang dapat menurunkan nyeri kanker leher rahim. Namun belum ada penelitian yang menjelaskan bagaimana SEFT secara Islami, mampu mempengaruhi kondisi fisik, dalam hal ini adalah tekanan darah penderita hipertensi.

Intervensi keperawatan untuk pasien hipertensi berdasarkan teori Henderson dan teori Roger menitikberatkan pada intervensi spiritual tanpa melupakan aspek yang lain dan interaksinya dengan lingkungan. Salah satunya menggunakan keperawatan SEFT Islami, dimana terdiri dari aspek biologis yaitu tapping dan aspek spiritualitas dalam langkah set-up dan tune-in. Kedua aspek tersebut akan membentuk keikhlasan dalam rangka menciptakan persepsi positif. Sinyal persepsi positif tersebut akan ditangkap dan mempengaruhi aksis ANS yang akan mengakibatkan kadar katekolamin dan adrenalin turun. Hasil akhirnya adalah terjadi penurunan tekanan darah. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk meneliti tentang Pengaruh Keperawatan Spiritual Emotional Freedom Technique (SEFT) Islami terhadap tekanan darah penderita hipertensi usia 45-59 tahun di RSUD dr. Soegiri Lamongan

METODE PENELITIAN. .

Desain penellitian menggunakan Quasi Eksperimental dengan pendekatan pretest and posttest control group. Sampel diambil dari pasien hipertensi primer yang rawat jalan di Poli Jantung RSUD dr. Soegiri Lamongan menggunakan metode non probability sampling dengan teknik consecutive sampling, berjumlah 30 pasien yang dibagi secara Random allocation menjadi kelompok perlakuan dan kontrol. Pengumpulan data menggunakan kuesioner untuk mengukur variabel intervening persepsi penerimaan diri dan spygnomanometer dan stetoskop untuk mengukur tekanan darah.

HASIL .PENELITIAN

1. Data Umum

1) Karakteristik Responden

(1) Karakteristik responden berdasarkan umur

Tabel 1. Distribusi frekuensi karakteristik responden berdasarkan umur

No.

Umur

Frekuensi

Prosentase

1.

45 49 tahun

5 orang

19%

2.

50 54 tahun

5 orang

19%

3.

55 59 tahun

16 orang

62%

Jumlah

26 orang

100%

Berdasarkan tabel 1 diatas, dapat disimpulkan bahwa sebagian besar responden berusia 55 59 tahun yaitu sebanyak 16 orang (62%) dan sebagian sama responden berusia 45 49 tahun dan 50 54 tahun yaitu sebanyak 5 orang (19%).

(2) Karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin

Tabel 2. Distribusi frekuensi karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin

No.

Jenis kelamin

Frekuensi

Prosentase

1.

Laki-laki

12 orang

46%

2.

Perempuan

14 orang

54%

Jumlah

30 orang

100%

Tabel 2 diatas menyatakan bahwa karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin didapatkan sebagian besar berjenis kelamin perempuan yaitu sebanyak 14 orang atau 54%.

(3) Karakteristik responden berdasarkan pendidikan

Tabel 3. Distribusi frekuensi karakteristik responden berdasarkan pendidikan

No.

Pendidikan

Frekuensi

Prosentase

1.

SD/sederajat

4 orang

15.4%

2.

SMP/sederajat

5 orang

19.2%

3.

SMA/sederajat

13 orang

50%

4.

Perguruan Tinggi

4 orang

15.4%

Jumlah

30 orang

100%

Berdasarkan tabel 3 diatas didapatkan bahwa karakteristik responden berdasarkan pendidikan adalah sebagian besar besar SMA/sederajat yaitu sebanyak 13 orang (50%) dan sebagian kecil berpendidikan SD/sederajat dan perguruan tinggi yaitu sebanyak 4 orang (15.4%).

(4) Karakteristik responden berdasarkan pekerjaan

Tabel 4. Distribusi frekuensi karakteristik responden berdasarkan pekerjaan

No.

Pekerjaan

Frekuensi

%

1.

Petani

3 orang

11.5%

2.

Pegawai/Karyawan

9 orang

34.6%

3.

Wiraswasta

5 orang

19.2%

4.

Lainnya (pensiun, IRT, dll)

9 orang

34.6%

Jumlah

30 orang

100%

Berdasarkan tabel 4 diatas, dapat disimpulkan bahwa hampir sebagian responden memiliki pekerjaan sebagai pegawai/karyawan yaitu 9 orang (34.6%) dan sebagian kecilnya adalah petani yaitu sebanyak 3 orang (11.5%).

(5) Karakteristik responden berdasarkan lama menderita hipertensi

Tabel 5. Distribusi frekuensi karakteristik responden berdasarkan lama menderita hipertensi

No.

Lama hipertensi

Frekuensi

Prosentase

1.

< 1 tahun

3 orang

11.5%

2.

1 3 tahun

11 orang

42.3%

3.

4 6 tahun

7 orang

27%

4.

> 6 tahun

5 orang

19.2%

Jumlah

30 orang

100%

Tabel 5 diatas menyatakan bahwa karakteristik responden berdasarkan lama menderita hipertensi didapatkan hampir sebagian responden telah menderita hipertensi selama 1-3 tahun yaitu sebanyak 11 orang (42.3%). Sedangkan sebagian kecil responden atau 3 orang (11.5%) telah menderita hipertensi selama kurang dari 1 tahun.

2. Data Khusus

1). Perbedaan persepsi penerimaan diri penderita hipertensi usia 45-59 tahun di RSUD dr. Soegiri Lamongan

Sebelum data kelompok kontrol dan perlakuan dibandingkan antara 2 kali pengukuran (pre dan post), maka perlu dilakukan uji homogenitas antara data pre dan post pada kelompok kontrol dan perlakuan. Uji homogenitas untuk data persepsi dianalisis dengan uji mann-whitney. Hasil yang didapatkan pada data pre (kelompok kontrol dan perlakuan) adalah nilai p = 0.341(p>0.05), yang artinya data homogen atau antara kelompok kontrol dan perlakuan mempunyai persepsi yang sama sebelum diberikan perlakuan. Hasil yang didapatkan pada data post antara kelompok kontrol dan perlakuan yaitu nilai p = 0.001 (p>0.05), yang artinya data heterogen atau antara kelompok kontrol dan perlakuan mempunyai persepsi yang berbeda akibat/setelah diberikan perlakuan.

(1) Perbedaan persepsi penerimaan diri pada kelompok kontrol

Nilai/skor jawaban persepsi pada kelompok kontrol dibandingkan antara 2 kali pengukuran (pre dan post) dengan uji wilcoxon. Dari hasil analisa data tersebut didapatkan nilai p = 0.874 (p > 0.05), maka berarti Ho diterima yang artinya tidak ada perbedaan persepsi penerimaan diri pada kelompok kontrol.

(2) Perbedaan persepsi penerimaan diri pada kelompok yang mendapat keperawatan SEFT Islami

Nilai/skor jawaban persepsi pada kelompok perlakuan dibandingkan antara 2 kali pengukuran (pre dan post) dengan uji wilcoxon. Dari hasil analisa data tersebut didapatkan nilai p = 0.173 (p > 0.05), maka berarti Ho diterima yang artinya tidak ada perbedaan persepsi penerimaan diri pada kelompok perlakuan.

2) Perbedaan tekanan darah penderita hipertensi usia 45-59 tahun di RSUD dr. Soegiri Lamongan

Sebelum data kelompok kontrol dan perlakuan dibandingkan antara 2 kali pengukuran (pre dan post), maka perlu dilakukan uji homogenitas antara data pre dan post pada kelompok kontrol dan perlakuan. Uji homogenitas untuk data tekanan darah dianalisis dengan uji independent t-test. Hasil yang didapatkan pada data tekanan darah systole pre antara kelompok kontrol dan perlakuan adalah nilai t-hitung = -0.929 dan nilai p = 0.362 (p>0.05), yang artinya data homogen atau antara kelompok kontrol dan perlakuan mempunyai tekanan darah systole yang sama sebelum diberikan perlakuan. Rerata tekanan darah systole pre kelompok kontrol adalah 151.54 dan kelompok perlakuan adalah 156.92.

Hasil yang didapatkan pada data tekanan darah diastole pre antara kelompok kontrol dan perlakuan adalah nilai t-hitung = -1.372 dan nilai p = 0.183 (p>0.05), yang artinya data homogen atau antara kelompok kontrol dan perlakuan mempunyai tekanan darah diastole yang sama sebelum diberikan perlakuan. Rerata tekanan darah diastole pre kelompok kontrol adalah 93.85 dan kelompok perlakuan adalah 96.92.

Hasil yang didapatkan pada data tekanan darah systole post antara kelompok kontrol dan perlakuan adalah nilai t-hitung = 3.106 dan nilai p = 0.005 (p 0.05) sehingga Ho diterima yang artinya tidak terdapat perbedaan tekanan darah diastole kelompok kontrol antara dua kali pengukuran.

(4) Perbedaan tekanan darah diastole kelompok perlakuan

Tabel 9 Hasil pengukuran tekanan darah diastole kelompok perlakuan

No.

Hasil pengukuran

Rerata

SD

1.

Diastole pre

96.82

6.304

2.

Diastole post

85.38

7.763

Selisih

11.538

6.887

Tekanan darah diastole kelompok perlakuan pada pengukuran 1 (pre) mempunyai rerata 96.82, sedangkan rerata pada pengukuran 2 (post) adalah 85.38. Rerata tekanan darah diastole kelompok perlakuan setelah kurun waktu tertentu dan diberi perlakuan intervensi keperawatan SEFT Islami mengalami penurunan sebesar 11.538.

Setelah dilakukan uji paired t-test, didapatkan nilai t = 6.040 dan nilai p = 0.000 (p < 0.05) sehingga Ho ditolak yang artinya terdapat perbedaan tekanan darah diastole kelompok perlakuan antara sebelum dan sesudah pemberian intervensi keperawatan SEFT Islami. Hal tersebut menujukkan bahwa intervensi keperawatan SEFT Islami berpengaruh terhadap penurunan tekanan darah diastole.

PEMBAHASAN . .

1. Perbedaan persepsi penerimaan diri penderita hipertensi usia 45-59 tahun yang mendapat dan tidak mendapat Keperawatan SEFT Islami di RSUD dr. Soegiri Lamongan

Berdasarkan hasil analisa data didapatkan bahwa tidak terdapat perbedaan persepsi penerimaan diri baik pada kelompok kontrol maupun perlakuan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa intervensi Keperawatan SEFT Islami tidak berpengaruh terhadap perubahan persepsi.

Persepsi timbul karena adanya respons terhadap stimulus. Stimulus yang dipersepsikan berupa keperawatan SEFT Islami yang terdiri dari tiga langkah yaitu set-up, tune-in dan tapping. Pengucapan set-up words yang berupa doa kepasrahan pada langkah Set-up terkandung cognitive therapy, sugesti diri, affirmation serta meditasi dan relaksasi (doa). Langkah tune-in mengandung self hypnosis yang mampu menghapus program bawah sadar yang menjadi akar penyebab dari emosi negatif yang kita alami (Zainudin, 2005). Sedangkan langkah tapping pada titik energi tubuh mampu menyeimbangkan aliran energi tubuh sehingga mempermudah penerimaan sugesti diri (Zainudin, 2005).

Sinyal dari intervensi keperawatan SEFT Islami diatas ditangkap oleh indra secara visual, audiotory dan tactil. Sinyal visual ditangkap oleh reseptor nervus opticus (N.II) pada mata, auditory ditangkap oleh N. vestibulocochlearis (N.VIII) pada telinga, dan sinyal tactil ditangkap oleh corpus pacini pada subkutan/otot/fascia (Potter & Perry, 2005; Dharmojono, 2009). Sinyal tersebut berjalan melewati medulla spinalis dan medulla oblongata menuju thalamus, kemudian melewati sinaps tunggal menuju ke amigdala. Sinyal kedua dari thalamus disalurkan ke neokorteks otak untuk berfikir, dianalisis dan kemudian ditentukan makna dan respon emosional. Percabangan ini memungkinkan amigdala mulai memberi respons sebelum neokorteks merespon dan mengolah informasi, sebelum otak sepenuhnya memahami dan pada akhirnya memulai respons yang telah diolah lebih dahulu. Inilah yang menyebabkan individu lebih menonjol emosionalnya daripada rasionalnya (Sholeh, 2006).

Kontribusi iman terhadap korteks amigdala pada intervensi keperawatan SEFT Islami terjadi ketika melakukan ucapan doa kepasrahan, sugesti diri dan self hypnosis yang memberikan sinyal berupa muatan nilai yang dapat dijadikan pijakan bagi neokorteks dalam mengendalikan amigdala-hipokampus. Ini dilakukan untuk melawan distorsi kognitif yang dimiliki penderita sehingga terbentuklah keikhlasan dan amigdala memberikan respons terhadap rangsangan (stimulus) dengan respon normal, persepsi yang positif, bukan respons darurat dan negatif (Sholeh, 2006).

Hipokampus dalam hal ini juga berperan dalam pembentukan persepsi positif. Hipokampus adalah tempat bagi ingatan dan penyimpanan berbagai pesan, termasuk pesan keagamaan, seperti pesan harus sabar bila tertimpa musibah/sakit, segala sesuatu itu tidak lepas dari kehendak Allah Swt, dan kehendak Allah Swt adalah keputusan terbaik. Maka, hipokampus sesuai dengan fungsinya, memberikan makna musibah sakit tersebut dengan makna yang normal dan positif. Jika hipokampus tidak pernah menyimpan pesan keagamaan, bisa jadi rangsangan tersebut oleh hipokampus diberi makna cemas, depresi atau stres dan sejumlah respons darurat lainnya (Sholeh, 2006).

Sementara itu, neokorteks prefrontal kiri mengendalikan prefrontal kanan, dimana perasaan cemas, depresi dan agresif bersarang, agar menerima rangsangan penyakit hipertensi itu dengan analisis respons kesabaran, keikhlasan, persepsi positif dan normal. Jika kedua neokorteks kiri-kanan sepakat bulat bahwa rangsangan itu diterima dengan suatu keikhlasan, kepastian keputusan itu dikirim ke hipokampus untuk dicocokkan apakah pesan keikhlasan dalam menerima cobaan penyakit hipertensi itu pernah tersimpan dalam memori hipokampus. Jika ragu-ragu, rangsangan itu berpindah-pindah dari amigdala, hipokampus dan korteks sampai akhirnya mencapai kepastian (Sholeh, 2006).

Salah satu faktor utama yang menentukan apakah suatu rangsangan atau kondisi yang tidak menyenangkan dapat menimbulkan stress atau tidak, sangat dipengaruhi oleh beberapa kemampuan individu dalam mengendalikan kondisi tersebut. Jika seseorang dapat menghayati makna ucapan doa yang terdapat pada set-up, tune-in dan tapping, orang tersebut dimungkinkan dapat mengendalikan kondisi yang dihadapi, terutama menghadapi cobaan penyakit hipertensi dengan keikhlasan. Sebaliknya, bila seseorang mengucap doa hanya di bibir saja, sebatas pada tataran ritualitas belaka bukan penghayatan spiritual, maka orang tersebut tidak akan mencapai keikhlasan dan persepsi yang positif sehingga tidak mampu mengendalikan kondisi yang menimbulkan stress (Sholeh, 2006).

Secara empiris, terdapat lima prinsip keberhasilan penerapan keperawatan SEFT Islami, antara lain yakin terhadap kekuasaan Allah Swt; khusyuk (hati dan pikiran kita hadir saat berdoa); ikhlas atau ridho menerima rasa sakit kita (baik fisik maupun emosi) dengan sepenuh hati dan tanpa mengeluh/complain; pasrah (menyerahkan apa yang terjadi nanti kepada Allah Swt); dan syukur (meskipun tertimpa musibah/cobaan tapi masih banyak hal lain yang patut disyukuri). Kelima hal tersebut apabila tidak/kurang diterapkan dalam keperawatan SEFT Islami, akan menjadi hambatan spiritual tersendiri dan hasil yang diharapkan menjadi kurang efektif (Zainuddin, 2005).

Berdasar penjelasan diatas, dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya keperawatan SEFT Islami dapat mengefektifkan coping. Coping mechanism adalah suatu mekanisme untuk mengatasi perubahan yang dihadapi atau beban yang diterima. Lipowski membagi coping dalam dua bentuk yaitu coping style dan coping strategy. Sifat dasar coping style adalah mengurangi makna suatu konsep yang dianutnya, seperti pengingkaran atau distorsi kognitif sampai pada tingkatan yang ringan terhadap suatu keadaan (Sholeh, 2006). Coping style yang terdapat pada keperawatan SEFT Islami teraplikasi dalam cognitive therapy, self hypnosis dan sugesti diri yang terkandung dalam langkah set-up, tune-in dan tapping. Sedangkan coping strategy merupakan coping yang digunakan individu secara sadar dan terarah mulai dari mengenal, mempelajari dan mengatasi sakit atau stressor yang dihadapinya. Dalam langkah tune-in, penderita diajak untuk mengenal dan mempelajari sakitnya, kemudian diatasi dengan melakukan tapping pada 9 titik tubuh. Terbentuknya mekanisme coping bisa diperoleh melalui proses belajar dalam pengertian yang luas dan relaksasi. Apabila individu mempunyai mekanisme coping yang efektif dalam menghadapi stressor, stressor tidak akan menimbulkan stress yang berakibat kesakitan/penyakit, tetapi sebaliknya, stressor justru menjadi menjadi stimulan yang mendatangkan wellness. Kemampuan coping mechanism setiap orang tergantung dari temperamen individu, persepsi serta kognisi terhadap stressor yang diterima (Sholeh, 2006).

Jadi, tidak adanya perbedaan persepsi akibat intervensi keperawatan SEFT Islami dikarenakan aplikasinya yang sebatas pada tataran ritualitas belaka, bukan penghayatan spiritual. Perubahan persepsi menuju positif akibat intervensi keperawatan SEFT Islami sangat mungkin terjadi namun memang tidak mudah dan membutuhkan waktu pembelajaran, sedangkan intervensi keperawatan SEFT Islami disini hanya diberikan satu kali dua dengan putaran saja. Kurang efektifnya intervensi ini juga dimungkinkan karena hambatan spiritual penderita, seperti kurang yakin, kurang khusyuk, kurang ikhlas, kurang pasrah dan kurang syukur. Penderita hipertensi tersebut mungkin menolak atas sugesti diri yang terdapat pada SEFT Islami atau merasa nyaman dengan kondisinya saat ini sehingga tidak mau berubah.

2. Perbedaan tekanan darah systole dan diastole penderita hipertensi usia 45-59 tahun di RSUD dr. Soegiri Lamongan

Terdapat perbedaan bermakna rerata tekanan darah systole dan diastole antara kelompok kontrol dan perlakuan. Setelah dilakuan uji paired t-test, didapatkan hasil yang signifikan baik pada tekanan darah systole dan diastole, yang artinya ada perbedaan tekanan darah systole dan diastole antara kelompok kontrol dan perlakuan.

Meskipun tidak terbukti bahwa intervensi keperawatan SEFT islami dapat mempengaruhi perubahan persepsi, namun tetap terbukti terjadi penurunan tekanan darah systole dan diastole. Hal ini dikarenakan adanya pengaruh tapping melalui jalur humoral yaitu dengan mempengaruhi perubahan neurohormonal (Dharmojono, 2009). Hormon yang mengalami perubahan adalah katekolamin dengan kadar rendah yang tidak menyebabkan vasokonstriksi sistemik dan kardiak inotropik, sehingga tekanan darah dan denyut jantung stabil (Dharmojono, 2009).

Apabila intervensi keperawatan SEFT Islami dilakukan dengan benar dan berulang, maka proses perubahan tekanan darah melalui jalur PNI. Stimulus yang diberikan dapat memblok sinyal stres dan digantikan dengan sinyal yang positif. Impuls positif tersebut akan berjalan menuju Talamus kemudian berespon melepaskan CRF dari hipotalamus, selanjutnya terjadi respon lewat aksis SAM (Simpathetic Adrenal Medullary). Respons lewat aksis SAM akan melepas katekolamin berkadar rendah dan tidak bersifat darurat Selanjutnya katekolamin masuk ke dalam sirkulasi darah mengalir ke seluruh tubuh. Katekolamin dengan kadar rendah tidak menyebabkan vasokonstriksi sistemik dan kardiak inotropik, sehingga tekanan darah dan denyut jantung stabil (Nursalam, 2008). Selain itu, katekolamin akan mempengaruhi fungsi membran sel sehingga fungsinya terganggu. Kalsium intrasel akan meningkat yang mengakibatkan kontraksi otot polos. Juga mengakibatkan peningkatan kadar Na+/H+ di ekstrasel sehingga terjadi peningkatan pH yang mengakibatkan hipertrofi vaskular. Kedua hal ini menyebabkan tahanan perifer meningkat dan timbulah hipertensi. Namun bila kadar katekolamin rendah, hal tersebut tidak akan terjadi (E. Susalit dalam Slamet Suyono, 2004).

Sinyal positif yang masuk ke hipotalamus tidak akan merangsang pengeluaran kortisol, aldosteron dan ADH. Kortisol menyebabkan peningkatan glukoneogenesis, katabolisme protein dan lemak sehingga kadar gula darah dan viskositas darah meningkat. Hal tersebut menyebabkan kontraktilitas jantung meningkat. Sedangkan aldosteron dan ADH menimbulkan peningkatan reabsorbsi air dan Na sehingga volume cairan meningkat. Ketiga hal tersebut dapat mencetuskan peningkatan tekanan darah. Sinyal positif juga masuk lewat sistem syaraf simpatis dan medula adrenal namun tidak menimbulkan peningkatan produksi epinefrin dan norepinefrin. Keduanya mampu meningkatkan kontraktilitas dan frekuensi jantung penyebab hipertensi (Patricia A Potter, 2005).

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa keperawatan SEFT Islami berpengaruh terhadap perubahan tekanan darah, meskipun tanpa melalui perubahan persepsi terlebih dahulu. Namun penurunan tekanan darah systole yang cukup drastis dalam waktu singkat (rerata 25 mmHg bahkan yang tertinggi menurun 40 mmHg), membutuhkan perhatian dan pertimbangan serius karena dapat menimbulkan hipotensi dan mengganggu pembuluh darah. Perlu dilakukan pemeriksaan penunjang, seperti nadi, respirasi dan EKG untuk memastikan tidak terjadi kondisi yang serius.

3. Kaitan Keperawatan SEFT Islami dalam Asuhan Keperawatan Spiritual

Dalam keperawatan spiritual, terdapat empat tahap proses keperawatan yang telah lazim diterapkan, yaitu :

1. Pengkajian, penggalian tentang status spiritual individu dan identifikasi kebutuhan dan diagnosa spesifik

2. Perencanaan

3. Intervensi dan implementasi

4. Evaluasi

Berikut akan dijabarkan keempat langkah dalam keperawatan spiritual tersebut:

1. Pengkajian

Seorang perawat dalam melakukan pengkajian perlu sampai pada pengkajian spiritual dan persepsi tentang penyakit yang diderita. Pengkajian spiritual itu penting karena spiritualitas seseorang akan turut mempengaruhi status kesehatannya, juga dapat memberikan informasi tentang daya mekanisme coping pasien, untuk mengetahui adanya disstres spiritual dalam menghadapi penyakit yang diderita, dan untuk memahami pasien secara holistik sehingga dapat memenuhi kebutuhannya secara holistik pula.

Model pengkajian spiritual bisa bermacam-macam, antara lain :

1) Model Rogers yang terdiri dari sembilan domain yaitu dimensi transedental, makna dan tujuan hidup, misi dalam hidup, kesucian hidup, nilai material, altruism, idealism, kesadaran akan derita dan spiritualitas bermakna

2) Howdens Spirituality Assessment Scale; berisi 28 item pertanyaan (Dossey,2000). Empat area spesifik yang terkandung didalamnya yaitu makna dan tujuan hidup; kelebihan dan kekurangan diri; hubungan dengan diri, orang lain dan lingkungan; transedental.

3) The FICA Model (Girardin, 2000)

Model ini terdiri dari empat area, yaitu keyakinan dan kepercayaan; pentingnya keyakinan dan kepercayaan tersebut; komunitas spiritual; pelayanan yang diharapkan.

4) JAREL Spiritual Well-being Scale; berisi 21 pernyataan yang dijawab berdasarkan skala mulai sangat setuju sampai dengan sangat tidak setuju (Burkhadrt,2002).

5) Spiritual Assessment Tool; model yang interaktif dan terdiri dari aspek makna dan tujuan hidup; kekuatan diri dan hubungan sesama (Dossey, 2002)

6) Qualitative Assessment Tools; instrument ini berupa pertanyaan terbuka atau cerita tentang spiritualitas pasien.

Pada penelitian ini lebih mengarah pada pengkajian spiritual menggunakan sembilan domain spiritual Rogers. Pengkajian mengenai persepsi penerimaan diri perlu pula dilakukan, dimana terdiri dari aspek ketabahan hati, harapan sembuh dan pandai mengambil hikmah atas penyakit hipertensi yang diderita.

Menurut Carpenito (1999), ada 3 diagnosa keperawatan yang termasuk dalam lingkup nilai/kepercayaan/spiritual, yaitu :

1. Distres Spiritual (aktual/resiko)

1) Definisi

Keadaan dimana individu atau kelompok mengalami atau berisiko mengalami gangguan dalam sistem keyakinan atau nilai yang memberi kekuatan, harapan, dan arti kehidupan seseorang (Tawi, 2008).

2) Batasan Karakteristik

Mayor : Mengalami suatu gangguan dalam sistem keyakinan

Minor (mungkin terdapat):

(1) Mempertanyakan makna kehidupan, kematian dan penderitaan

(2) Mempertanyakan kredibilitas terhadap sistem keyakinan

(3) Mendemonstrasikan keputusasaan atau ketidak beranian

(4) Memilih untuk tidak melakukan ritual keagamaan yang biasa dilakukan

(5) Mempunyai perasaan ambivalen (ragu) mengenai keyakinan

(6) Mengekspresikan bahwa dia tidak penya alas an untuk hidup

(7) Merasakan perasaan kekosongan spiritual

(8) Mengekspresikan perhatian, marah, dendam, ketakutan, penderitaan dan kematian

(9) Meminta bantuan spiritual terhadap suatu gangguan dalam sistem keyakinan.

(Tawi, 2008)

2. Kesejahteraan Spritual, potensial terhadap perbaikan

1) Definisi

Keberadaan individu yang mengalami penguatan kehidupan dalam berhubungan dengan kekuasaan yang lebih tinggi (setinggi yang ditetapkan individu), diri, komunitas dan lingkuingan yang memelihara dan merayakan kesatuan (Tawi, 2008).

2) Batasan Karakteristik (Tawi, 2008)

(1) Kekuatan dari dalam diri yang memelihara : rasa kesadaran; hubungan saling percaya; kekuatan yang menyatu; sumber yang sakral; kedamaian dari dalam diri.

(2) Motifasi yang tidak ada batasannya dan komitmen yang diarahkan pada nilai tertinggi dari cinta, makna, harapan, keindahan dan kebenaran.

(3) Hubungan saling percaya dengan atau hubungan yang sangat memberikan dasar untuk makna dan harapan dalam pengalaman kehidupan dan kasih sayang dalam hubungan seseorang.

(4) Mempunyai makna dan tujuan terhadap eksistensi seseorang.

2. Perencanaan

1). Distres Spiritual

Kriteria hasil, individu akan :

(1)Melanjutkan latihan spiritual yang tidak mengganggu kesehatan

(2)Mengekspresiakan pengurangan perasaan bersalah dan ansietas

(3)Mengekspresikan kepuasan dengan kondisi spiritual.

2). Resiko distres Spiritual

Kriteri hasil, individu akan :

(1)Melanjutkan praktek ritual spiritual yang bermanfaat

(2)Mengekspresikan peningkatan kenyamanan setelah bantuan

3). Kesejahteraan Spritual, potensial terhadap perbaikan

Kriteria hasil, individu akan:

(1) Mempertahankan hubungan yang sebelumnya dengan keberadaan dirinya yang lebih tinggi.

(2) Terus melaksanakan spiritual yang tidak mengakibatkan sesuatu yang buruk terhadap kesehatan

(3) Mengekspresikan keharmonisan spiritual dan kesatuan yang berkelanjutan

3. Intervensi dan implementasi

Intervensi yang direkomendasikan pada penelitian ini adalah keperawatan SEFT Islami, yang terdiri dari aspek biologi dalam langkah tapping, dan aspek spiritual yang teraplikasi dalam langkah set-up dan tune-in. Intervensi ini merupakan salah satu bentuk caring berupa latihan spiritual Islami dengan menghayati ucapan doa kepasrahan, self hypnosis dan sugesti diri sehingga dapat mengurangi perasaan bersalah dan cemas akan penyakit hipertensi dan bila dilakukan secara berkala mampu menjadi latihan pengendalian emosi bagi penderita. Selain itu, proses tapping pada 9 titik tubuh juga mampu menyeimbangkan energi tubuh dan menghasilkan perubahan hormonal yaitu katekolamin berkadar rendah. Sebagai catatan, implementasi keperawatan SEFT Islami hanya diperuntukkan pada penderita hipertensi derajat ringan sampai sedang saja dengan pemeriksaan dan pengawasan medis.

4. Evaluasi

Hasilnya adalah terjadi penurunan tekanan darah pada penderita hipertensi setelah diberikan keperawatan SEFT Islami. Selain itu, penderita dianjurkan untuk melanjutkan praktek latihan spiritual (keperawatan SEFT Islami) selama tidak mengganggu kesehatan dan dengan pelatihan terlebih dahulu, serta penderita mengekspresikan kepuasan spiritual dan mampu mengendalikan emosi .

KESIMPULAN DAN SARAN.

1. Kesimpulan

1) Persepsi penerimaan diri pada penderita hipertensi usia 45-59 tahun yang mendapat dan tidak mendapat keperawatan SEFT Islami tidak menunjukkan perbedaan

2) Tekanan darah systole dan diastole pada penderita hipertensi usia 45-59 tahun yang mendapat keperawatan SEFT Islami menunjukkan perbedaan bermakna

3) Keperawatan SEFT Islami mampu mempengaruhi penurunan tekanan darah systole dan diastole tanpa merubah persepsi pada penderita hipertensi usia 45-59 tahun di RSUD dr. Soegiri Lamongan

2. Saran

Keperawatan SEFT Islami dapat dijadikan alternatif intervensi non farmakologis untuk menurunkan tekanan darah dan bisa diterapkan oleh perawat baik di rumah sakit ataupun di komunitas asalkan dengan pemeriksaan dan pengawasan medis. Penerapan keperawatan SEFT Islami hendaknya dilakukan secara berkala untuk dapat merubah persepsi menjadi positif, hampir sama seperti latihan pengendalian emosi. Selain itu, penderita hipertensi juga bisa dimandirikan dengan pembelajaran dan penerapan keperawatan SEFT Islami untuk diri sendiri. Perlu pula dilakukan penelitian lebih lanjut tentang efek SEFT terhadap neurohormonal seseorang sehingga memperkuat penjelasan ilmiah sampai tahap biomolekuler.

. . .DAFTAR PUSTAKA . . .

Afandi, (2008). Pemikiran Ketuhanan Al-Kindi. http://digilib.uin-suka.ac.id/gdl.php?mod=browse&op=read&id=digilib-uinsuka--afandi-713. Diakses tanggal 5 Maret 2011

Akbar, (2011). Al Ghazali Sang Hujjatul Islam. . http://masmoi.wordpress.com/2010/06/15/al-ghazali-sang-hujjatul-islam/. Diakses 5 Maret 2011

Applegate WB (2002). High blood pressure treatment in the elderly. Clinics in Geriatric Medicine, 8: 103-117.

Arikunto, Suharsimi. (2006). Prosedur Penelitian, Suatu Pendekatan Teknik (Edisi revisi VI). PT. Asdi Mahasatya : Jakarta.

Ariyanto, M. Darojat. (2006). Psikoterapi Dengan Doa. SUHUF, Vol. XVIII, No. 01/Mei 2006: 3 26

Bailon, S.G. dan Maglaya, A.S, (1997). Family health Nursing: The Process. Philiphines: UP College on Nursing Diliman

Brunner & Suddarth. (2002). Buku Ajar : Keperawatan Medikal Bedah Vol 2, Jakarta, EGC.

Carol A, Miller. 2001. Nursing Care Of Older Adult. Lippincott : Philadelphia

Clerah G. Mathonsi. (2008). Stress, Coping, and Spiritual Wellbeing of a Sample of Nurses. School of Psychology, University of KwaZulu-Natal

Dharmojono. (2009). Teknik Hebat Penyembuhan dengan Akupuntur dan Moksibasi. Yogyakarta : Media Pressindo.

Doosey, Barbara Montgomery. (2008). Theory of Integral Nursing. Advances in Nursing Science Vol. 31, No. 1, pp. E52E73

Fisher, John. Brumley, David. (2008). Nurses and carers spiritual wellbeing in the workplace. Australian Journal Of Advanced Nursing. Volume 25 Number 4

Fryback, et all. Spirituality and People with Potentially Fatal Diagnoses. Nursing Forum Journal. Volume 34, No. 1, January-March, 2001.

Govier I (2000) Spiritual care in nursing: a systematic approach. Nursing Standard. 14, 17, 32-36.

Grosvenor, Dorothy. (2000). Teaching Spiritual Care To Nurses. Scottish Journal of Healthcare Chaplaincy Vol. 3. No. 2

Guibert R, Franco ED (2001). Choosing a definition of hypertension: impact on epidemiological estimates. J Hypertens.14:12751280

Gunawan, Lany. (2001). Hipertensi : Tekanan Darah Tinggi , Yogyakarta, Penerbit Kanisius

Henderson, V. (2006). The concepts of nursing. Journal of advance nursing, 53, (1), 25-31.

Hotz, Robert Lee. (2002). Brain Region May Linked to Region. The Setle Times Company.

Jalaluddin Rahmat. 2001. Psikologi Kumunikasi. PT Rosdakarya. Bandung

Joint National Committee on Prevention, Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure. The seventh report of the Joint National Committee on Prevention, Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure. Arch Intern Med. 2007;157:24132446

Kinney, Carolyn K, Rodgers, Denise M, Nash, Kathleen A, Bray Christell O. 2003. Holistic Healing for Women with Breast Cancer through a Mind, Body and Spirit Self Environment Program. Journal of Holistic Nursing. Vol 21 : 260

Koren, Mary Elaine, et.al. 2009. Nurses Work Environment and Spirituality : A descriptive study. International Journal of Caring Sciences. Vol 2 Issues 3.

Makhija (2002). Spiritual nursing. Nursing journal of India. (June, 2002).

Muhalla. (2011). Dzikir Meningkatkan Kekebalan Tubuh. http://www.prodikeperawatansmh.co.cc/2011/01/dzikir-meningkatkan-kekebalan-tubuh.html. Diakses 5 Maret 2011.

Neaton JD, Wentworth D (2002). Serum cholesterol, blood pressure, cigarette smoking, and death from coronary heart disease. Overall findings and differences by age for 316,099 white men. Arch Intern Med;152:56-64

Nursalam. (2009). Model Holistik berdasar Teori adaptasi (Roy dan PNI) sebagai Upaya Modulasi Respon Imun (Aplikasi pada Pasien HIV dan AIDS). Makalah pada seminar Nasional Keperawatan, 16 Mei 2009.

Potter dan Perry. (2005). Buku Ajar Fundamental Keperawatan: Konsep, Proses dan Praktik. Jakarta: EGC

Santrok, John W. 2002. Life Span Development: Perkembangan Masa Hidup, Edisi 5 Jilid 2. Jakarta: Erlangga

Shirley, M. H. H. (1996). Family Health Care Nursing : Theory, Practice, and Research. Philadelphia : F. A Davis Company

Sholeh M. (2000). Disertasi: Pengaruh Sholat Tahajjud terhadap Peningkatan Respon ketahanan Tubuh Imunologik, Suatu Pendekatan Psikoneuroimunologi. Surabaya.

Sholeh M. (2008). Pelatihan Shalat Tahajud: Solusi Praktis Menyembuhkan Berbagai penyakit. Penerbit Hikmah: Jakarta Selatan.

Sholeh M. (2006). Terapi Salat Tahajjud: Menyembuhkan berbagai Penyakit. Cetakan XXI. November 2006. Mizan media Utama: Bandung

Sholichatun, Yulia. (2005). Membingkai Spiritualitas Hanya Dengan Islam. Suhuf, Vol. XVII, No. 01/Mei 2005: 36-49

Silbernagl S dan Lang F (2000). Color Atlas of Pathophysiology. Thieme, New York, 210-212.

Smith, Amy Rex. (2006). Using the Synergy Model to Provide Spiritual Nursing Care in Critical Care Settings. Critical Care Nurse Vol 26, No. 4

Smith, Dorothy Woods. 2009. Theory of Spirytuality : with Rogers Model. University of Southern Maine School of Nursing

Tawi, Mirzal. (2008). Disstres spiritual. http://syehaceh.wordpress.com/2008/05/13/distress-spiritual/. Diakses tanggal 10 Juli 2011.

Taylor, Lilis & LeMone. (2002). Fundamentals of nursing: The art and science of nursing care. (3rd Ed.). Philadelphia: Lippincott.

Trenkwalder P, Ruland D, Stender M, Gebhard J, Trenkwalder C, Lydtin H, Hense HW (2004). Prevalence, awareness, treatment and control of hypertension in a population over the age of 65 years: results from the Starnberg Study on Epidemiology of Parkinsonism and Hypertension in the Elderly (STEPHY). J Hypertens.;12:709716

Wandi, (2008), Al Kindi Filosof Islam Pertama. http://mentoringku.wordpress.com/2008/09/24/al-kindi-filosof-islam-pertama/. Diakses tanggal 5 Maret 2011

Wiriatmadja, Maman S. (2010). Mengenal Dzat Allah. Http://ferrydjajaprana.multiply.com. Diakses 28 Maret 2011

Wright, Michael. (2004). Hospice care and models of spirituality. European Journal Of Palliative Care vol 11(2).

Yusriandi. (2009). Pemikiran Al Ghazali tentang Al Quran, tafsir, takwil. http://suakakata.blogspot.com/2009/07/pemikiran-al-ghazali-tentang-al-quran.html. Diakses 5 Maret 2011.

Zainudin, Ahmad Faiz. (2005). SEFT for Healing + Success, Happiness + Greatness. Jakarta : Afzan Publishing

SURYA 1Vol.02, No.XII, Agus 2012

PAGE

SURYA 14Vol.02, No.XII, Agus 2012